NovelToon NovelToon
Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam
Popularitas:30.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.

Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.

Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.

Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zemima 15

Pagi datang membawa semburat sinar matahari yang menembus celah gorden ruang makan. Suara denting sendok dan aroma harum nasi goreng seafood buatan Mbak Mirna mengisi udara, menciptakan atmosfer rumah tangga yang begitu hangat dan normal, sebuah kontras yang menyengat bagi dada Zemima yang masih terasa dingin.

Arsyad sudah rapi dengan kemeja biru muda yang disetrika licin, rambutnya klimis basah setelah mandi segar. Wajah kusam dan letih semalam seolah menguap begitu saja, digantikan oleh senyum hangat khas seorang suami penyayang.

"Makasih ya, Sayang, semalam udah dibantuin rapihin koper," ujar Arsyad lembut. Ia meraih jemari Zemima di atas meja, mengelusnya pelan sebelum mengecup punggung tangan istrinya itu dengan mesra.

"Mas beneran terharu pas bangun pagi, baju-baju kotor Mas udah bersihin, kemeja udah dipisah. Kamu selalu jadi istri yang serba perhatian."

Zemima mempertahankan senyum tipisnya, senyuman anggun yang telah ia poles rapi sejak terbangun pukul enam pagi tadi. Ia menarik tangannya secara halus untuk menuangkan teh hangat ke cangkir Arsyad.

"Sudah kewajiban aku, Mas. Apalagi Mas kan kerja keras di luar sana," balas Zemima dengan nada suara yang tenang, tak menyiratkan sedikit pun gejolak di dalam dadanya.

Arsyad menyuap nasi gorengnya dengan lahap, tampak menikmati sarapannya tanpa beban.

"Apalagi minggu-minggu ini, Dek. Proyek cabang di Surabaya benar-benar bikin pusing. Kliennya rewel, vendornya sering mepet deadline. Tapi demi kita, demi masa depan rumah tangga kita, Mas jamin semuanya bakal sepadan. Karena setelah poyek ini berhasil, Mas juga akan dipromosikan menjadi pimpinan cabang,"

Zemima menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap suaminya dengan tatapan polos penuh perhatian.

"Memangnya proyeknya belum tuntas juga ya, Mas? Perasaan sudah hampir empat bulan ini Mas bolak-balik terus ke luar kota. Sampai-sampai kalau dihitung-hitung, waktu Mas di rumah bisa dihitung jari. Dan waktu kita berdua juga bahkan hampir tidak ada. Mas juga sulit sekali di hubungu. Apalagi kalau malam yang seharusnya Mas sudah istirahat kan?"

Gerakan sendok Arsyad mendadak terhenti sejenak di udara, hanya sepersekian detik, sebuah jeda mikroskopis yang tak akan ditangkap oleh mata orang biasa, namun terlihat sangat jelas bagi Zemima yang menyimaknya dengan penuh curiga.

Arsyad tersenyum manis, lalu melanjutkan suapannya. "Namanya juga proyek pionir, Dek. Empat bulan itu tergolong cepat, lho. Pengawasan konstruksi dan perizinan dari dinas setempat itu rumit banget. Kalau Mas lepas tangan dikit aja, bisa rugi miliaran..."

"Oh, begitu..." Zemima mengangguk-angguk paham. Ia meraih cangkir tehnya, menyesapnya perlahan sebelum kembali bersuara.

"Empat bulan ya, Mas... Lama juga. Sampai-sampai aku kadang bingung, Mas sibuk banget di sana, tapi kok proyeknya seperti nggak ada habisnya. Bikin aku mikir, apa Mas nggak kangen sama rumah?"

"Ya ampun, Dek! Kok ngomongnya gitu?" Arsyad tertawa kecil, mengacak rambut Zemima dengan gemas, sebuah tindakan penuh kasih sayang yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Zemima selama ini.

"Mas itu di sana kerja banting tulang, tidur cuma tiga jam sehari, demi siapa lagi kalau bukan demi kamu? Beneran, tiap malam di hotel Mas cuma bisa ngeliatin foto kamu."

Zemima tersenyum tipis. "Masa, sih? Tapi Mas kelihatan tetap sehat dan makin rapi. Malah kemarin aku dengar dari ibu..." Zemima sengaja memotong kalimatnya, menggantungkan umpan di tengah udara.

Alis Arsyad bertaut halus.

"Ibu? Ibu ngomong apa?"

"Kemarin aku sempat mampir ke rumah ibu sebentar untuk antar uang bulanan dan makanan yang kebetulan berlebih dari kantor aku," ujar Zemima santai seraya mengambil selembar roti tawar.

Mata Arsyad seketika melebar. Ia memperbaiki posisi duduknya, tubuhnya mendadak agak tegang.

"Kamu... ke rumah Ibu? Kemarin? Kok nggak cerita sama Mas, Sayang?"

"Iya, Mas. Kenapa? Muka Mas kok kaget gitu? Memangnya aku nggak boleh ya tiba-tiba ke rumah ibu. Lagian setelah kejadian ibu sakit itu, aku memang merasa hidup damai karena kedua saudara Mas tak membuat ulah. Aku hanya menengok ibu saja sih, sudah hampir tiga bulan aku nggak ketemu ibu," tanya Zemima dengan raut polos yang dibuat-buat.

"Nggak... nggak kaget," sahut Arsyad cepat, membasahi bibirnya yang mendadak kering.

"Mas cuma... cuma heran aja, kok kamu nggak cerita semalam? Terus, Ibu bilang apa?"

"Nggak banyak, sih. Cuma cerita-cerita biasa," Zemima mengoleskan selai stroberi ke rotinya dengan gerakan anggun dan sangat tenang.

"Ibu pamer kalau sekarang jatah bulanan dari Mas naik jadi Tiga Puluh Lima Juta. Terus di garasi juga ada SUV baru dan motor matic besar yang baru turun dari dealer. Kata Ibu, itu semua hadiah dari Mas untuk keluarga."

Uhuk!

Arsyad tersedak teh hangat yang baru saja ia teguk. Ia terbatuk-batuk kecil, buru-buru meraih tisu dan menyapu bibirnya. Wajahnya yang semula segar kini berubah agak pucat. Padahal Zemima hanya memancig saja, dia masih curiga dengan keberadaan mobil, motor dan wanita hamil di rumah mertuanya itu.

"Mas kenapa? Minumnya pelan-pelan dong," ujar Zemima lembut, menyodorkan segelas air putih.

"I... itu... Ibu suka berlebihan kalau cerita, Dek," alibi Arsyad dengan suara sedikit serak. Jemarinya meremas tisu di tangannya.

"Mobil sama motor itu... itu bukan punya Mas kok! Itu punya teman kantor Mas yang dititip di garasi Ibu karena rumahnya lagi direnovasi. Kalau soal uang bulanan... ya ampun, mana mungkin Mas kasih Ibu tiga puluh lima juta? Kartu kredit dan rekening Mas kan semuanya dipegang kamu, gaji Mas dipotong cicilan. Ibu cuma bercanda itu, pamer ke tetangga supaya kelihatan kaya."

"Oh... cuma titipan teman?" Zemima mengangguk-angguk, seolah menelan mentah-mentah alibi tersebut.

"Iya! Beneran titipan!" tegas Arsyad, mencoba meyakinkan Zemima dengan tatapan mata yang dipaksa mantap.

"Terus... kalau wanita muda yang tinggal di sana siapa, Mas? Aku kok nggak pernah tahu ada wanita di rumah ibu, katanya Mas juga tahu kok keberadaan dia. Tapi Mas nggak pernah cerita sama aku... Kalau mas tahu, artinya selama ini di tengah kesibukan Mas di Surabaya itu, Mas selalu ke rumah ibu tanpa ngajak aku?" tanya Zemima menyambar lurus, tanpa jeda, tanpa nada tinggi. Ucapannya begitu tenang namun membuat Arsyad gemetar.

Suasana di ruang makan seketika membeku. Suara denting jam di dinding mendadak terdengar begitu nyaring. Wajah Arsyad berubah pasi. Senyum manisnya meluntur total.

"Wa... wanita muda? Wanita muda siapa? Mas nggak pernah tahu, ibu pasti mengada-ngada. Lagian kan kamu tahu sendiri, selama beberapa bulan Mas sibuk banget. Bahkan buat ketemu kamu saja sulit, mana mungkin Mas malah ada waktu ke rumah ibu?!"

1
Ma Em
Arsyad meskipun kamu jual semua mobil dan emas ibumu dan gundikmu kamu tdk bisa menutupi semua kebohongan kamu Arsyad karena namamu sdh cacat apalagi sama Zemima Arsyad sdh tdk bisa di maafkan karena kebohongan nya yg selingkuh dan juga memakai uang perusahaan untuk selalu menuruti semua kemauan gundik mu Arsyad .
Ambu Rinddiany Thea
gondoool kabeh asrsaaaaaad soook ..
Fitria Syafei
kk cantik mantaf 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
nely_48
menggembel berjamaah ga tuh Arsyad family
nely_48
goong nya blm berbunyi
ryuka
ada yg kebakaran jenggot 🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
sukurin kamu arsyaaddd
Ilfa Yarni
panik2 deh lo haha
Ilfa Yarni
aduh Lama amat meledaknya thor
Ambu Rinddiany Thea
maaak pliis bisaa ga langsung ke hari senin aja 🤭
Fitria Syafei: KK cantik pinisirin 😊 KK cantik mantaf 🥰 kereen 🥰
total 1 replies
Ila Latifah
masuk penkara, puas deh. tu keluarga dan si dina gigit jari. apalagi nanti kalau tahu zemima sebagai pemilik saham tertinggi.
Ma Em
Arsyad kamu berani berbuat hrs berani bertanggung jawab jadi lelaki itu hrs gentle jgn cemen , sdh waktunya hdp mu hancur akibat selalu menuruti gaya Hedon ibu saudara serta jalang mu akhirnya Arsyad tersangka kasus penggelapan uang proyek dan nominal nya tdk sedikit itu , biar si Arsyad cepat bercerai dgn Zemima agar Arsyad bisa merasakan penyesalan dan hdp nya tersiksa .
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Arieee
mampus🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Fitria Syafei
Stukuriiin Arsyad 😏 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
mama
kapoooookkkk🤣,boleh lah nambah up lgi kak🤭
arniya
cari penyakit sendiri ....
ryuka
nikmati lah kehancuran mu arsyaddd
Sri Angga
mampus kau Arsyad,,disaat istrimu mulai bebenah diri sekarang saat ny kehancuran mu.berat SM gundik & klrga mu.disaat kamu terpuruk tidak ada yg mau nolong.
nely_48
kasian sekali km Arsyad,, senang² n foya-foya nya cuma 3bln az eh d penjara sendirian 20th loh, blm nanti d ceraikan oleh zemima,, keluarga n dina menggembel
nely_48
mampus kau Arsyad,, korupsi mu akan ketauan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!