NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Pesan Ketulusan yang Meracuni

​Musim berganti, namun hujan sepertinya enggan pergi dari hidup Clara.

​Tetesan air mengetuk kaca jendela kamar kosnya yang retak, menciptakan ritme monoton yang mengiris sepi. Clara duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding yang catnya sudah mulai mengelupas. Di tangannya, ada secangkir air hangat. Ia sudah berhenti minum teh atau kopi. Semua uangnya harus dihemat untuk membeli makanan sederhana.

​Perut Clara sudah membesar. Kehamilannya memasuki bulan-bulan yang semakin menyita fisik. Pekerjaannya sebagai pelayan toko pakaian terpaksa ia tinggalkan setelah ia dua kali jatuh pingsan karena kekurangan gizi dan tekanan darah yang terlalu rendah. Pemilik toko tidak ingin mengambil risiko, sehingga Clara diberhentikan dengan pesangon yang hanya cukup untuk membayar sewa kamar sebulan.

​Ia sebatang kara. Sendirian.

​Setiap kali ia mengelus perutnya, ada rasa sayang yang tulus untuk Maya, namun diiringi dengan rasa takut yang mencekik. Bagaimana ia akan membayar biaya persalinan? Bagaimana ia akan membelikan Maya popok, susu, pakaian?

​Di tengah lamunannya yang gelap, layar ponsel retaknya yang tergeletak di lantai tiba-tiba menyala. Ada nada dering pesan masuk.

​Clara meliriknya sekilas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat melihat nama pengirim di layar.

​Vera.

​Clara memejamkan matanya rapat-rapat. Selama berbulan-bulan, Vera tidak tahu bahwa Clara hamil. Vera hanya tahu bahwa Clara mengasingkan diri setelah pembatalan pertunangan itu. Dan entah dari mana datangnya keberanian atau mungkin sekadar ketidaktahuan yang naif, Vera belakangan ini mulai sering mengiriminya pesan.

​Bukan pesan makian atau permusuhan. Melainkan pesan-pesan "persahabatan" yang terdengar begitu tulus, yang menempatkan Vera sebagai pemenang yang berbaik hati ingin merangkul teman lamanya yang kalah.

​Clara menarik napas panjang, lalu membuka pesan itu.

​Vera: Clara, kau sedang apa? Hujan turun sangat deras di sini. Aku harap kau baik-baik saja dan sehat.

​Clara menatap teks itu dengan dada yang terasa sesak. Ketulusan itu. Perhatian itu. Justru itulah racun paling mematikan bagi Clara. Jika Vera menghubunginya untuk mengejek atau menghina, Clara bisa merespons dengan kemarahan. Namun, Vera bertingkah seolah ia adalah wanita suci yang peduli, mengabaikan fakta bahwa ia adalah pencuri yang merusak hidup Clara.

​Belum sempat Clara membalas atau memutuskan untuk mengabaikannya pesan kedua masuk. Diikuti oleh sebuah foto.

​Vera: Hari ini aku dan Daniel baru saja selesai mendekorasi kamar Elena. Aku tidak sabar menunggunya lahir.

​Clara mengeklik foto itu.

​Layar kecilnya menampilkan sebuah kamar bayi yang sangat luas dan mewah. Dindingnya dicat dengan warna pastel yang lembut. Sebuah boks bayi dari kayu jati putih berdiri anggun di tengah ruangan, dilengkapi kelambu berenda yang sangat indah. Ada lemari besar yang setengah terbuka, memperlihatkan deretan pakaian bayi bermerek, puluhan pasang sepatu mungil, dan tumpukan mainan edukatif yang mahal. Di sudut ruangan, terdapat kursi goyang berbahan beludru untuk ibu menyusui.

​Itu bukan sekadar kamar. Itu adalah istana untuk seorang putri kecil.

​Clara perlahan menurunkan ponselnya.

​Ia memutar kepalanya, melihat ke sekeliling kamarnya sendiri. Ruangan seluas tiga kali tiga meter. Sebuah kasur tipis tanpa dipan tergelatak di lantai. Sudut ruangan diisi oleh kompor gas kecil dan ember cucian. Tidak ada boks bayi. Tidak ada lemari pakaian. Ia hanya memiliki satu kantong plastik kecil berisi tiga helai baju bayi berwarna putih polos yang ia beli dari pasar loak, yang baunya masih menyengat meski sudah dicuci berkali-kali.

​Perbandingan itu menampar wajah Clara dengan sangat brutal.

​Ponselnya bergetar lagi.

​Vera: Daniel bahkan membelikan Elena sebuah kalung emas kecil berinisial E hari ini. Dia sangat memanjakan bayi ini. Kadang aku merasa dia lebih mencintai Elena daripada aku, hahaha.

​Setiap kata yang diketik Vera seolah menjadi pisau tak kasatmata yang menusuk perlahan ke ulu hati Clara. Memutar dan merobeknya dari dalam.

​Daniel sangat memanjakan bayi ini.

​Clara menunduk, melihat perutnya sendiri. Di dalam sana, berbaring saudara seayah dari bayi yang sedang dimanjakan Daniel. Maya. Anak yang bahkan belum lahir namun sudah ditakdirkan untuk hidup dalam kemiskinan dan kedinginan. Ayahnya sedang membeli kalung emas untuk anak perempuan lain, sementara ibunya sedang menahan lapar meminum air putih hangat di lantai yang kotor.

​Air mata Clara jatuh menetes di atas layar ponselnya, mengaburkan teks pesan Vera.

​"Maya..." bisik Clara dengan suara yang sangat parau, jemarinya bergetar saat mengelus perutnya. "Lihatlah... ayahmu sedang menyiapkan istana untuk anaknya yang lain."

​Clara memukul dadanya sendiri yang terasa begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Ia menangis tanpa suara, isakannya tertahan di tenggorokan, menciptakan rasa sakit yang mencekik.

​Kenapa dunia ini begitu tidak adil? Kenapa pengkhianat dan pencuri diberikan segala kebahagiaan, kemewahan, dan rasa aman? Kenapa wanita yang merusak hidup orang lain bisa tersenyum lebar di pelukan pria kaya, sementara ia yang setia dan jujur harus dibuang ke dasar jurang penderitaan?

​Ponselnya kembali menyala. Satu pesan terakhir dari Vera.

​Vera: Clara... aku tahu aku bersalah padamu. Tapi aku sangat merindukanmu. Kalau kau butuh uang atau bantuan apa pun, tolong katakan padaku. Kita teman dan selalu begitu.

​Clara membaca kalimat itu berulang kali.

​Kita teman dan selalu begitu.

​Tawa hampa keluar dari bibir Clara, memecah kesunyian kamar. Ia tertawa sambil menangis, air mata membasahi wajahnya yang kurus. Vera merasa dirinya sangat mulia dengan menawarkan bantuan uang. Vera merasa telah membersihkan dosa-dosanya dengan melemparkan koin belas kasihan kepada teman miskin yang tunangannya telah ia rebut.

​Ketulusan Vera adalah sebuah penghinaan mutlak.

​Itu adalah bukti bahwa Vera memandang Clara sebagai makhluk menyedihkan yang tidak berdaya, yang bisa dibeli harga dirinya dengan kata-kata manis dan tawaran bantuan finansial.

​Clara menghapus air matanya dengan kasar. Tatapan matanya yang semula penuh kesedihan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sangat dingin, kelam, dan mematikan. Hati nuraninya yang rapuh sedang dihancurkan malam ini, digantikan oleh cangkang kebencian yang mengeras.

​"Kau merasa hidupmu sudah sempurna, Vera?" bisik Clara pada kegelapan kamarnya, matanya menatap tajam ke depan seolah Vera berdiri di sana.

​Ia memegang perutnya dengan kedua tangan. Genggamannya tidak lagi dipenuhi ketakutan, melainkan sebuah sumpah yang sangat kejam.

​"Kau pikir anakmu akan menikmati semua kemewahan itu? Kau pikir anakmu akan memakai kalung emas itu dan tidur di boks jati yang indah itu?"

​Clara tersenyum. Senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.

​"Tidak, Vera. Istana itu... pakaian mahal itu... kasih sayang Daniel... semuanya akan menjadi milik Maya. Kau yang merebut masa depanku, dan sebagai bayarannya, aku akan merebut darah dagingmu untuk merasakan neraka yang kau ciptakan untukku."

​Malam itu, diiringi suara hujan dan dering pesan dari sahabat yang mengkhianatinya, niat murni seorang ibu yang ingin membesarkan anaknya dengan baik telah mati. Clara tidak lagi sekadar ingin bertahan hidup. Ia ingin mengubah takdir. Ia akan memastikan bahwa anak dari musuhnya lah yang akan hidup menderita memanggilnya ibu, dan anak kandungnya sendirilah yang akan tidur di atas sutra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!