Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 — Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Kebahagiaan pertunangan mereka menyebar cepat di kalangan dunia mafia Italia, sebuah simbol kuat dari rekonsiliasi antara dua keluarga yang dulunya bermusuhan karena dosa generasi sebelumnya. Tapi tidak semua orang menyambut berita itu dengan sukacita yang sama.
Di sebuah lokasi tersembunyi di perbatasan Rusia-Ukraina, Katarina Volkov menerima kabar pertunangan itu dengan kemarahan yang membara. Kematian Enzo, kegagalan rencana mereka merebut pelabuhan Milan, dan sekarang pernikahan yang akan menyatukan kekuatan keluarga Moretti dengan sisa-sisa reputasi keluarga Conti — semuanya terasa seperti penghinaan bertubi-tubi terhadap ambisi keluarga Russo yang telah lama terpendam.
"Mereka pikir mereka bisa merayakan kemenangan mereka dengan tenang," desisnya pada saudara laki-lakinya, Dimitri Volkov, yang kini memimpin sisa-sisa keluarga Russo setelah kegagalan operasi di Milan. "Setelah membunuh sekutu kita, menghancurkan rencana kita, mereka pikir semuanya sudah berakhir."
"Apa yang kau usulkan?" tanya Dimitri, matanya berkilat penuh minat mendengar nada dendam dalam suara saudarinya.
"Pernikahan mereka," jawab Katarina dengan senyum dingin yang mengerikan, "akan menjadi kesempatan sempurna untuk membalas dendam kita sekaligus. Bayangkan, Dimitri — hari paling bahagia dalam hidup mereka, berubah menjadi hari paling gelap yang pernah dikenal dunia mafia Italia."
Di Milan, tidak menyadari badai yang mulai terbentuk di kejauhan, Yao dan Gerald sibuk merencanakan pernikahan mereka dengan bantuan Sofia yang akhirnya bisa menikmati kebahagiaan tulus setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan dan pelarian.
"Ferdinand akan sangat bangga padamu," kata Sofia suatu sore, membantu Yao memilih desain gaun pengantin dari katalog yang dikirim seorang perancang busana ternama Milan. "Kau berhasil membalaskan dendamnya dengan caramu sendiri — bukan dengan lebih banyak darah, tapi dengan mengungkap kebenaran dan menemukan cinta sejati di tengah kekacauan itu."
"Aku berharap dia bisa melihat ini," bisik Yao, matanya berkaca-kaca mengingat ayahnya yang tidak pernah sempat menyaksikan dirinya tumbuh dewasa. "Aku berharap dia tahu bahwa pengorbanannya tidak sia-sia."
Sofia memeluknya erat. "Dia tahu, Yao. Di mana pun dia sekarang, dia tahu."
Mereka menghabiskan sore itu memilih detail-detail kecil pernikahan — jenis bunga yang akan menghiasi altar, musik yang akan dimainkan saat Yao berjalan menyusuri lorong, warna-warna yang akan mendominasi dekorasi. Setiap keputusan kecil itu terasa seperti terapi bagi Yao, sebuah cara untuk membangun kembali identitas yang telah lama hilang di balik topeng-topeng yang ia kenakan selama bertahun-tahun.
"Bagaimana dengan undangan untuk keluarga triad ibumu?" tanya Sofia tiba-tiba, pertanyaan yang mengejutkan Yao karena topik itu jarang mereka bicarakan.
"Aku tidak tahu bagaimana menghubungi mereka, bahkan jika aku ingin," jawab Yao jujur. "Ibu memutuskan seluruh kontak dengan mereka sebelum aku lahir. Aku bahkan tidak tahu nama keluarga besarnya."
Sofia mengangguk pelan, meski matanya menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya ia ungkapkan — sebuah rahasia kecil yang akan menjadi relevan jauh di masa depan.
Marco, yang tidak pernah benar-benar berhenti memantau ancaman potensial terhadap keluarga Moretti meski krisis besar telah mereda, mulai mendeteksi pola aktivitas mencurigakan dari jaringan komunikasi yang terhubung dengan sisa-sisa keluarga Russo.
"Ada peningkatan komunikasi terenkripsi antara beberapa anggota keluarga Russo yang tersisa dan beberapa kontak tidak dikenal di Eropa Timur," laporannya pada Gerald suatu pagi, wajahnya serius meski mereka sedang berada di tengah persiapan pernikahan yang meriah. "Aku tidak punya bukti konkret tentang apa yang mereka rencanakan, tapi nalurinya mengatakan kita harus waspada."
"Kau pikir mereka akan mencoba sesuatu selama pernikahan?" tanya Gerald, alisnya berkerut khawatir.
"Aku tidak yakin," jawab Marco jujur. "Tapi mengingat kematian Enzo dan kegagalan rencana mereka merebut pelabuhan, aku tidak akan terkejut jika mereka mencari cara untuk membalas dendam pada momen yang paling menyakitkan secara simbolis."
Gerald menghela napas panjang, merasakan beban kekhawatiran baru menambah tekanan pada apa yang seharusnya menjadi periode paling bahagia dalam hidupnya. "Tingkatkan keamanan untuk pernikahan," perintahnya tegas. "Tapi jangan sampai Yao tahu tentang kekhawatiran ini. Dia sudah cukup menderita karena ancaman dan bahaya selama berbulan-bulan terakhir. Aku ingin dia menikmati hari pernikahannya tanpa bayang-bayang ketakutan."
Keputusan untuk menyembunyikan kekhawatiran itu dari Yao, meski dimaksudkan dengan niat baik untuk melindunginya, menjadi benih kesalahan yang akan berakibat fatal dalam beberapa minggu mendatang.
Sementara persiapan pernikahan terus berlanjut dengan kemeriahan yang semakin membesar — undangan dikirim ke seluruh koneksi penting dunia mafia Eropa, dekorasi mewah dipersiapkan di kebun anggur keluarga, dan gaun pengantin Yao akhirnya selesai dijahit dengan detail yang memukau — ancaman tersembunyi dari Katarina dan Dimitri Volkov terus berkembang di balik layar, menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Marco menghabiskan malam-malamnya menganalisis setiap potongan informasi yang berhasil ia kumpulkan, mencoba memetakan pola pergerakan sisa-sisa keluarga Russo tanpa menimbulkan kecurigaan yang bisa mempercepat rencana mereka. Ia menambah jumlah penjaga tanpa mencolok, memastikan setiap sudut kebun anggur dan mansion diawasi ketat, sambil tetap menjaga suasana perayaan agar tidak terganggu.
"Aku berharap aku salah tentang semua ini," gumamnya suatu malam, menatap layar-layar pemantau yang menampilkan berbagai sudut properti Moretti. "Aku berharap ini hanya kekhawatiran seorang pria yang sudah terlalu lama hidup dalam dunia penuh curiga."
Tapi jauh di dalam hatinya, insting yang telah menyelamatkan nyawanya berkali-kali selama bertahun-tahun bekerja sebagai informan dan mata-mata terus berbisik bahwa badai yang sesungguhnya belum sepenuhnya berlalu.