Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pengumuman di Pagi Hari
Pagi itu, seluruh santri dikumpulkan di halaman utama, lebih cepat dari jadwal biasa. Matahari baru saja naik, sinarnya masih lembut, dan embun di rumput belum sepenuhnya kering. Tapi tidak ada yang memperhatikan keindahan pagi itu. Semua wajah menunduk tegang, saling berbisik menebak-nebak apa yang akan disampaikan.
Kiai Wahid berdiri di depan, mengenakan jubah putihnya yang biasa, tapi kali ini wajahnya tampak lebih tua dari biasanya, seperti semalam ia menanggung beban yang tidak bisa dibagi.
"Assalamualaikum, anak-anakku semua," katanya, suaranya menggema di halaman yang sunyi.
"Waalaikumsalam," jawab serempak, meski nadanya lebih pelan dari biasa.
"Saya tidak akan berbasa-basi, karena keadaan tidak mengizinkan kita untuk itu." Kiai menarik napas panjang. "Tadi malam, kabar sampai kepada saya bahwa Belanda telah melancarkan serangan militer di beberapa wilayah Jawa. Ini bukan lagi ancaman yang mungkin terjadi. Ini sudah terjadi."
Bisik-bisik meletus di antara para santri, cepat dipadamkan oleh tatapan tegas Kiai.
"Saya paham ini menakutkan. Saya sendiri takut. Tapi ketakutan tidak boleh membuat kita lupa bersyukur bahwa kita masih diberi waktu untuk bersiap." Kiai memandang berkeliling, matanya menyapu setiap wajah santri yang menunduk khawatir. "Mulai hari ini, kita akan bersiap untuk mengungsi ke arah pegunungan, ke Dusun Karangtengah, tempat yang lebih aman dari jalur yang mungkin dilewati pasukan Belanda."
"Kapan, Kiai?" tanya seorang santri senior dari barisan depan.
"Secepatnya. Mungkin dua atau tiga hari lagi, tergantung persiapan. Barang-barang penting sudah mulai kita kemas. Yang paling utama adalah membawa kitab-kitab dasar, bahan makanan kering, dan obat-obatan seadanya." Kiai berhenti sejenak. "Untuk santriwati, insyaallah akan berjalan bersama rombongan, dijaga oleh Bu Nyai dan beberapa ustazah. Aturan-aturan pondok tetap berlaku selama perjalanan, meski keadaan akan lebih sulit dari biasanya."
Zaki berdiri di antara para santri putra, matanya mencari sekilas ke arah barisan santriwati di seberang halaman, terpisah oleh jarak yang biasa. Ia melihat Nafisah berdiri di antara teman-temannya, wajahnya pucat tapi tegak, mendengarkan dengan seksama.
"Saya tahu ini berat," lanjut Kiai, suaranya melembut. "Tapi ingatlah, Al-Hikmah ini bukan sekadar bangunan. Al-Hikmah ini ada di dalam hati kalian, di dalam ilmu yang sudah kalian pelajari. Ke mana pun kita pergi, selama kita masih bisa mengaji, masih bisa saling menjaga, pondok ini tetap hidup."
Kata-kata itu menetap di udara, dan beberapa santri mengusap mata mereka diam-diam. Kiai menutup dengan doa singkat, memohon perlindungan dan kekuatan, dan barisan pun bubar dengan langkah yang lebih berat dari biasanya.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam kesibukan yang tidak pernah Zaki bayangkan sebelumnya. Seluruh pondok berubah menjadi sarang lebah yang sibuk: mengemas kitab-kitab penting, membungkus beras dan bahan makanan kering, memperbaiki sandal dan alas kaki untuk perjalanan jauh, serta menyiapkan obat-obatan seadanya dari tanaman herbal yang biasa ditanam di kebun belakang.
Zaki dan Darto bertugas mengangkut barang-barang berat ke titik kumpul di depan gapura, tempat semua bawaan akan diperiksa sebelum keberangkatan.
"Kang, kamu bawa apa saja?" tanya Darto sambil mengikat karung berisi kitab-kitab kecil.
"Kitab hafalan, dua sarung, dan..." Zaki merogoh saku bajunya, memastikan kitab tipis bersampul cokelat itu masih ada di sana, "...ini."
Darto melirik sekilas dan tersenyum tipis. "Bawa terus, Kang. Itu lebih berharga dari emas buatmu."
Zaki tidak membantah.
Di sela-sela kesibukan, ia sempat berpapasan sekilas dengan Nafisah di dekat gudang, ketika mereka berdua sama-sama mengangkut karung beras ke titik kumpul yang berbeda. Mereka tidak sempat bicara panjang, hanya bertukar pandang dan anggukan singkat, tapi itu cukup untuk membuat dada Zaki terasa sedikit lebih ringan di tengah kesibukan yang melelahkan.
Malam sebelum keberangkatan, Zaki duduk sendirian di teras asrama, memandangi tembok tinggi yang selama berbulan-bulan menjadi saksi bisu segala perasaannya. Besok, tembok itu tidak lagi relevan. Mereka semua akan berjalan bersama, dalam satu rombongan besar, menghadapi ketidakpastian yang sama.
Ia membuka kitab tipisnya, membuka halaman terakhir, membaca ulang tulisan-tulisan yang sudah menjadi begitu familiar baginya. Lalu, dengan pensil yang sudah mulai tumpul, ia menulis satu baris terakhir sebelum keberangkatan:
"Apa pun yang terjadi besok, terima kasih sudah membuat pondok ini terasa seperti rumah kedua. Saya akan menjaga kitab ini, dan menjaga harapan ini, sampai kita sama-sama sampai di tempat yang aman."
Ia menutup kitab itu, memeluknya sebentar, lalu menengadah ke langit malam yang dipenuhi bintang, seolah mencari jawaban dari langit yang sama yang menaungi mereka semua, entah di sisi tembok yang mana.
Dari kejauhan, ia mendengar suara isak tertahan, samar-samar, dari arah asrama putri. Ia tidak tahu siapa yang menangis malam itu, tapi ia berdoa, sungguh-sungguh, agar apa pun yang menanti mereka di jalan menuju pegunungan, mereka semua bisa melewatinya dengan selamat.
Bagian pertama dari perjalanan hidupnya di Al-Hikmah, masa-masa tenang sebelum badai, resmi berakhir malam itu. Dan esok pagi, sebuah babak baru akan dimulai, satu yang tidak seorang pun di antara mereka benar-benar siap hadapi.