NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Meja Kelas dan Bayang-Bayang Givano

Bel tanda masuk berbunyi nyaring, memecah dengung percikan gosip di koridor lantai tiga Raxenswood Academy. Para murid berhamburan memasuki kelas masing-masing. Clyrine, Zerin, dan Rebecca berjalan beriringan menuju barisan bangku di sudut belakang—tempat strategis favorit mereka agar tidak terlalu mencolok dari pandangan guru sekaligus cukup dekat dengan jendela luar.

Begitu duduk, Clyrine meletakkan tumpukan bukunya di atas meja. Beberapa buku bersampul robek akibat insiden loker pagi tadi sengaja ia sisihkan di dalam tas.

"Lo yakin nggak mau lapor guru piket soal loker tadi, Cly?" bisik Rebecca sembari mengeluarkan buku catatan dari tasnya. "Mumpung lo sekarang lagi di pihak yang 'nggak bersalah'. Kalau kita usut, si Claire bisa kena batunya."

Clyrine menggeleng pelan, menyandarkan dagunya di atas telapak tangan. "Nggak usah, Bec. Kalau kita lapor, pihak sekolah paling cuma manggil dia, terus dia pasang muka malaikat sambil nangis di depan Pak Antonio Roberto. Habis itu selesai. Gue lebih suka liat muka dia yang kesal tadi karena rencana busuknya nggak mempan ke gue."

Zerin terkekeh pelan di sampingnya. "Bener juga sih. Muka Claire pas lu senyumin tadi tuh kayak mau menelan mentah-mentah meja kelas. Priceless banget."

Obrolan santai mereka mendadak terhenti saat pintu kelas terbuka lebar. Sosok wanita paruh baya dengan setelan blazer rapi dan kacamata berbingkai tipis melangkah masuk membawa setumpuk makalah tebal. Suasana kelas yang tadinya ramai seketika senyap.

Ibu Helena Robinson, guru mata pelajaran Sastra dan Tata Negara yang dikenal paling disiplin dan galak seantero sekolah, berdiri di depan podium. Ia meletakkan tumpukan kertas itu dengan bunyi gedebuk yang cukup keras di atas meja kayu.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Ibu Helena dengan suara tegas tanpa senyum.

"Pagi, Bu..." jawab seluruh isi kelas serempak dan kurang bersemangat.

"Hari ini kita akan membahas bab baru mengenai analisis struktur kebijakan publik dan retorika sastra klasik," ujar Ibu Helena sambil menuliskan beberapa istilah asing di papan tulis putih menggunakan spidol hitam. "Sebelum saya membagikan tugas kelompok, saya mau adakan kuis mendadak untuk menguji sejauh mana kalian membaca materi minggu lalu."

Satu kelas langsung mendengus pelan. Beberapa siswa di barisan depan tampak panik membuka-buka buku catatan.

"Ibu Helena kalau bikin kuis nggak pernah ngasih aba-aba," gerutu Rebecca pelan sambil menyenggol siku Clyrine. "Mati kita, semalam kan kita nggak sempat baca bab itu."

Clyrine hanya mendengus santai. "Tenang aja, tinggal ngarang secukupnya yang penting logis."

"Jangan remehkan kuis saya, Clyrine Rexander," seru Ibu Helena tajam, seolah mendengar bisikan Clyrine dari jarak jauh. Wanita itu menatap tepat ke arah bangku belakang. "Karena suara Anda terdengar paling nyaring, silakan maju ke depan dan jawab pertanyaan pertama di papan tulis."

Zerin dan Rebecca langsung menatap Clyrine iba, sementara beberapa siswa lain menahan tawa kecil, menunggu Clyrine mempermalukan dirinya sendiri seperti biasa.

Dengan malas, Clyrine berdiri dari kursinya. Ia merapikan sedikit kemejanya, lalu melangkah ke depan kelas di bawah pengawasan puluhan pasang mata. Di barisan tengah, Claire—yang duduk bersama Genevieve—menyunggingkan senyum remeh, menunggu saudaranya itu kebingungan di depan papan tulis.

Ibu Helena menunjuk deretan persamaan dan soal analisis di papan. "Baca soalnya, lalu tuliskan kesimpulan argumennya dalam waktu satu menit."

Clyrine memandangi tulisan tangan di papan tulis.

Otaknya berputar cepat. Meskipun ia sering dijuluki pembuat onar dan tidak tertarik pada pelajaran formal, Clyrine sebenarnya memiliki daya tangkap yang luar biasa—sesuatu yang selama ini jarang ia tunjukkan karena malas. Mengingat kembali beberapa intonasi kalimat dan pola logika yang sempat ia baca sekilas tadi malam, jemarinya meraih spidol.

Ia menuliskan poin-poin analisis dengan tulisan tangan yang tegas dan terstruktur rapi, diakhiri dengan kesimpulan singkat yang sangat padat arti.

Setelah selesai, Clyrine meletakkan spidol kembali dan berbalik menghadap guru. "Sudah, Bu."

Ibu Helena mengerutkan dahi, mendekati papan tulis untuk membaca jawaban Clyrine. Seketika itu juga, raut wajah galak sang guru melunak. Ia menatap tulisan itu, lalu beralih menatap Clyrine dengan tatapan penuh penilaian.

"Hm... argumen yang sangat tajam dan tidak biasa untuk anak seusia kamu, Clyrine," puji Ibu Helena di luar dugaan. "Struktur logikanya tepat sasaran. Kamu boleh kembali duduk."

Seisi kelas mendadak bisik-bisik keheranan. Claire di barisan depan mematung, senyum remehnya lenyap digantikan kerutan di dahi. Bagaimana mungkin seorang Clyrine Rexander menjawab soal sulit tanpa persiapan?

Clyrine hanya melempar senyum tipis tanpa ekspresi pada Claire saat ia melangkah kembali ke bangkunya.

"Gila, Cly! Sejak kapan lo selihai itu?" bisik Rebecca takjub begitu Clyrine duduk. "Lo kerasukan rumus apa semalem?"

"Gue cuma pakai logika," balas Clyrine singkat, meski dalam hatinya ia sedikit bersyukur karena bayangan wajah Damien yang menyuruhnya fokus belajar sempat terlintas di kepalanya sebelum ia menjawab soal tadi.

Waktu istirahat tiba. Bel berbunyi nyaring menandakan seluruh siswa berhak keluar kelas untuk mengisi perut atau sekadar melepas penat.

Kantin utama Raxenswood Academy tampak sangat padat dan bising. Aroma makanan bertebaran di setiap sudut meja panjang marmer.

Clyrine, Zerin, dan Rebecca baru saja mendapatkan nampan makanan mereka ketika suara riuh rendah mendadak terdengar dari arah pintu masuk utama kantin. Para siswi bergidik kegirangan, merapikan rambut, dan berbisik-bisik heboh.

"Eh, lihat! Givano masuk kantin!"

“Ganteng banget ya ampun, pengen pingsan gue!”

Sosok yang menjadi pusat perhatian itu adalah Givano Alexander, senior tingkat akhir yang diidolakan seantero kampus. Givano dikenal bukan hanya karena wajahnya yang rupawan bak pangeran negeri dongeng dengan rambut hitam legam dan mata tajam, tetapi juga karena posisinya sebagai ketua dewan siswa sekaligus kapten tim basket sekolah. Ia adalah lambang kesempurnaan di Raxenswood Academy—kebalikan total dari citra Clyrine.

Di samping Givano, tampak Claire berjalan mendampingi dengan senyum paling manis yang ia miliki, dikelilingi oleh Genevieve dan Victoria. Kehadiran mereka berdua seolah memancarkan aura pasangan paling berkuasa di sekolah itu.

"Dih, mulai lagi ratu drama tebar pesona," komentar Zerin sinis sambil menusuk sosis di piringnya. "Gak bosen apa ya tiap hari nempel terus sama Givano?"

"Biarin aja, pantesan mereka klop," sahut Rebecca.

"Sama-sama muka dua."

Clyrine tidak berkomentar. Ia memilih duduk di meja sudut kantin, mulai menyuap makanannya tanpa peduli pada keributan di tengah ruangan. Namun, takdir rupanya suka menguji kesabaran. Langkah kaki Givano dan Claire justru mengarah ke meja tempat Clyrine dan sahabatnya duduk.

"Hai, Clyrine," sapa Givano ramah dengan suara baritonnya yang lembut. Ia berdiri di dekat meja mereka, sementara Claire berdiri di sisinya dengan tangan melingkar manja di lengan Givano.

"Lagi makan siang ya?" lanjut Givano sopan.

Sebagai ketua osis, ia selalu berusaha bersikap netral dan merangkul semua murid—bahkan pada siswi yang dikenal paling bermasalah seperti Clyrine.

Clyrine mendongak, menatap Givano sekilas sebelum mengunyah makanannya pelan.

"Keliatannya gimana? Lagi main puzzle?" jawab Clyrine datar tanpa beban.

Zerin dan Rebecca berusaha menahan tawa mendengar jawaban sarkas itu.

Wajah Givano sedikit menegang, namun ia tetap tersenyum sabar. "Ah, kamu ini... Oh ya, aku dengar dari Claire kalau minggu lalu kamu sempat bikin masalah lagi di koridor. Clyrine, kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke aku atau pihak sekolah. Jangan diselesaikan pakai kekerasan."

Mendengar itu, mata Clyrine menyipit tajam. Ia meletakkan garpunya di atas piring dengan bunyi berdenting pelan. Jadi, Claire sudah mencuci otak Givano dengan versi cerita sepihaknya.

Sebelum Clyrine sempat melontarkan balasan pedas, Claire mendahului dengan nada sok lembut nan prihatin. "Udah, Givan... jangan dimarahin.

Kamu tahu sendiri kan Clyrine gimana sifatnya.

Yang penting sekarang dia udah dapat bimbingan... kan kemarin dia dijemput sama cowok dewasa yang bukan anggota keluarga kita."

Claire sengaja menekankan kalimat 'cowok dewasa yang bukan anggota keluarga kita' dengan nada penuh implikasi licik, mencoba memancing rasa penasaran Givano sekaligus mencoreng nama baik Clyrine di hadapan sang ketua osis.

Beberapa meja di sekitar mereka mulai menoleh, tertarik mendengar gosip panas itu.

Givano menautkan alisnya, menatap Clyrine dengan tatapan menyelidik. "Cowok dewasa? Maksud kamu apa, Claire?"

Clyrine mengepalkan tangannya di bawah meja. Amarahnya mulai mendidih, bukan karena ia takut, tetapi karena kelicikan Claire benar-benar sudah di luar batas. Gadis itu berniat mempermalukannya di depan umum lewat asumsi murahan.

Namun, tepat saat Clyrine hendak berdiri dan menyemprot wajah sok suci Claire dengan kata-kata tajam, sebuah suara berat yang dingin tiba-tiba memecah kebisingan kantin dari arah pintu masuk.

"Ada masalah apa di sini sampai kerumunan orang ngumpul kayak nonton sirkus?"

Suara itu begitu tenang, namun berwibawa dan penuh dominasi. Seluruh kepala di kantin serentak menoleh ke sumber suara.

Degup jantung Clyrine mendadak berpacu lebih cepat saat ia melihat siapa yang baru saja melangkah masuk melewati pintu kantin.

Damien Lysander Vance.

Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Di usianya yang menginjak 21 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa semester akhir jurusan bisnis, kehadiran Damien di area SMA elit The London Academy of Arts & Sciences memancarkan aura dewasa yang langsung mengintimidasi seluruh isi ruangan.

Alaric Rexander tampak berjalan di belakang Damien dengan raut wajah heran, baru saja keluar dari area parkir kampus.

Claire dan Givano sama-sama menoleh kaget. Mata Claire membelalak lebar tatkala menyadari siapa pria yang baru saja datang.

Damien melangkah pasti membelah kerumunan murid, hingga akhirnya ia berdiri tepat di samping meja Clyrine. Netra gelapnya menatap tajam ke arah Givano dan Claire bergantian, sebelum akhirnya mendarat lembut pada wajah Clyrine.

"Gue baru selesai urusan di kampus sebelah," ucap Damien tenang, suaranya terdengar jelas di seluruh kantin yang mendadak hening seketika. Ia menatap Claire dengan tatapan dingin tanpa ampun. "Dan gue dengar ada yang nyebut-nyebut nama gue sambil nyebar asumsi murahan di sini."

Suasana kantin makin membeku. Claire menelan ludahnya susah payah, wajah pucat pasi mendadak menghiasi paras cantiknya yang biasa dipuji orang.

Givano pun tampak salah tingkah berhadapan langsung dengan aura mengintimidasi dari Damien.

Clyrine mendongak, menatap Damien dengan binar mata tak percaya. Pria itu datang di saat yang paling tepat—bukan sekadar sebagai pelindung di balik bayangan, melainkan berdiri tepat di hadapannya tanpa keraguan sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!