Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Potongan yang akhirnya menyatu
Hari itu berjalan seperti biasa di gedung perkantoran tempat Fajar menghabiskan sebagian besar waktunya. Tidak ada yang istimewa dari deru pendingin ruangan, bunyi ketukan sepatu di lantai keramik, atau dering telepon meja yang bersahut-sahutan. Semua tampak normal dan berjalan dalam ritme yang membosankan.
Tapi, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Fajar.
Pria itu duduk diam di kursi kerjanya, memutar-mutar bolpoin bermerek di antara jemarinya dengan gerakan berulang yang monoton. Pikirannya jauh melayang, meninggalkan tumpukan laporan di meja yang belum tersentuh sejak pagi. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sebuah teka-teki tak kasat mata yang terus mendesak untuk dipecahkan.
Fajar menoleh ke meja di sebelahnya, tempat Bayu sedang sibuk mengetik laporan sambil mendengarkan musik lewat earphone.
“Bay…” panggil Fajar pelan, nyaris seperti gumaman.
Bayu tidak langsung merespons karena tertutup musik. Fajar lantas mengulurkan tangan, menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
Bayu terperanjat, buru-buru melepas satu sisi earphone dari telinganya. “Ha? Ada apa, Jar? Jangan bilang printer kantor rusak lagi?”
“Bukannya printer,” Fajar menggeleng pelan, wajahnya menyiratkan keraguan yang jarang sekali diperlihatkannya. “Gue mau nanya serius.”
Melihat nada bicara Fajar yang tidak biasa, Bayu langsung merapikan duduknya, menegakkan punggung, dan menatap Fajar dengan mata menyipit penuh selidik. “Wah, jarang-jarang banget lo minta serius begini. Biasanya juga becanda mulu. Oke, silakan, tanya apa?”
Fajar menarik napas panjang, mencoba merangkai kata-kata yang tepat agar tidak terdengar konyol. Ia menatap ujung bolpoinnya lagi sebelum kembali mengangkat muka menatap Bayu.
“Kalau ada orang… yang tiba-tiba berubah sikap, sering banget nyariin lo, mendadak rajin nanya-nanya soal urusan percintaan… itu artinya apa, ya?” tanya Fajar hati-hati.
Tanpa perlu berpikir dua kali atau membuang waktu sedetik pun, Bayu langsung menjawab dengan yakin, “Ya jelas, dia suka sama lo.”
Mendengar jawaban yang terlalu blak-blakan itu, Fajar langsung mendelik dan menatapnya tajam. “…gak mungkin lah, ngaco lo.”
Bayu menghela napas panjang, tampak gemas sendiri dengan sikap penyangkalan sahabatnya itu. Ia bersidekap dada sambil menatap Fajar tidak percaya. “Lo tuh kenapa sih, Jar? Selalu aja milih jawaban yang paling jauh dari kenyataan, padahal buktinya sudah terpampang nyata di depan mata.”
Belum sempat Fajar melontarkan bantahan atas ucapan Bayu, suara ketukan pintu menyentak perhatian mereka berdua.
Tok, tok, tok.
Sinta, sekretaris kantor yang terkenal cekatan dan disiplin, muncul di balik pintu dengan raut wajah kaku tanpa senyum. Ia melangkah mendekati meja Fajar.
“Pak Fajar,” panggil Sinta dengan nada formal. “Bu Direktur memanggil Anda sekarang ke ruangannya.”
Fajar menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Setiap kali mendapat panggilan langsung ke ruangan sang direktur—Kirana—ia selalu merasa seperti terdakwa yang hendak disidang atas kesalahan fatal.
“Sekarang banget, Mbak Sinta?” tanya Fajar memastikan, berharap ada sedikit waktu tambahan untuk bernapas.
“Iya, sekarang. Beliau sedang menunggu,” jawab Sinta singkat, padat, dan jelas.
Saat Fajar berdiri dari kursinya dan bersiap melangkah keluar bilik kubikalnya, Bayu membisikkan sesuatu dengan suara pelan namun terdengar sangat tajam di telinga Fajar.
“Ingat ya, Jar,” bisik Bayu penuh penekanan. “Kalau hari ini lo masih gak sadar juga… gue resmi resign dari pertemanan kita karena capek ngadepin kepekaan lo yang setara nol besar.”
Fajar tidak sempat membalas ancaman ngawur itu. Dengan langkah berat, ia berjalan menyusuri koridor menuju ruang direktur yang terletak di ujung lantai. Begitu tiba di depan pintu kayu jati berukuran besar itu, Fajar menarik napas dalam-dalam, mengetuk pintu dua kali, lalu memutarnya perlahan.
Suasana di dalam ruangan itu terasa hening, sunyi, dan eksklusif seperti biasa.
Dan lagi—hanya ada mereka berdua di dalam ruangan yang luas ini.
“Duduk,” titah Kirana dingin namun tegas, tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di hadapannya.
“Iya, Bu…” jawab Fajar patuh, lalu mendudukkan diri di kursi empuk tepat di seberang meja kerja Kirana.
Biasanya, pada detik-detik seperti ini, Fajar akan langsung menunduk, sibuk merapikan kemejanya, atau merasa salah tingkah karena takut ditegur masalah pekerjaan. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Fajar tidak langsung bicara, ia tidak buru-buru menunduk.
Ia… mengamati.
Untuk pertama kalinya, Fajar benar-benar memperhatikan wanita di hadapannya dengan saksama, jauh lebih dalam dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Di balik meja kerjanya yang rapi, Kirana tampak membuka selembar file penting. Namun, ada yang ganjil. Wanita itu membuka lembaran demi lembaran kertas, tetapi matanya sama sekali tidak fokus membaca tulisan di sana. Ada kegelisahan tertahan di balik garis wajahnya yang biasanya selalu tenang dan sempurna.
Sesampainya pada suatu detik, Kirana melirik ke arah Fajar.
Cepat sekali. Hanya sepersekian detik. Seperti seorang anak kecil yang takut tertangkap basah sedang mengawasi seseorang.
Dan apesnya, di saat yang bersamaan, mata Fajar dan Kirana justru beradu pandang secara langsung.
Deg!
Kirana langsung terperanjat kecil, buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke arah tumpukan kertas di meja, seolah-olah kertas putih polos itu adalah hal paling menarik di dunia.
Fajar membeku di tempat duduknya. Jantungnya bergemuruh hebat di balik rongga dada.
Dalam hati, pikiran Fajar mendadak berputar kencang. Tunggu sebentar…
Ia mulai merajut kembali memori-memori kecil yang selama ini ia abaikan begitu saja:
Bagaimana cara Kirana memperhatikannya diam-diam saat rapat besar.
Bagaimana nada suara wanita itu mendadak melunak dan berubah drastis setiap kali berbicara empat mata dengannya.
Rentetan pertanyaan tak biasa tentang arti sebuah perasaan dan definisi cinta.
Dan… surat itu. Surat cinta nyasar yang sempat membuat heboh beberapa waktu lalu.
Detik itu juga, irama jantung Fajar berdetak semakin cepat, menggema di telinganya sendiri.
Duk… duk… duk… duk…
Suasana di dalam ruangan mendadak terasa begitu senyap, hingga suara detak jam dinding pun terdengar jelas. Kirana berdehem pelan, mencoba menetralkan situasi sebelum akhirnya membuka suara.
“Pak Fajar,” panggil Kirana dengan suara yang sedikit bergetar halus.
“Iya, Bu?” jawab Fajar tercekat.
“Soal surat yang kemarin…” Kirana menggantungkan kalimatnya.
“Iya?”
“Kalau seandainya… perasaan yang ada di dalam sana sudah sangat jelas dan tidak bisa disangkal lagi…” Kirana berhenti sejenak, menelan ludahnya, seperti sedang mengerahkan seluruh keberanian yang ia miliki. “…apa perasaan itu harus langsung diungkapkan kepada orangnya?”
Deg!
Pertanyaan itu menghantam telak di dada Fajar. Kali ini, Fajar menatap manik mata wanita itu lurus-lurus tanpa keraguan sedikit pun. Tirai kebingungan yang selama ini menutupi matanya mendadak tersingkap lebar.
Semua potongan teka-teki yang berserakan itu—akhirnya menyatu sempurna.
Fajar membuka mulutnya, lalu bergumam pelan, nyaris tanpa suara. “Ini… sebenarnya bukan tentang orang lain, ya…”
Kirana terdiam kaku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Kedua tangan di atas pangkuannya mengepal erat.
“…maksud Anda apa, Pak Fajar?” tanya Kirana, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya sebagai seorang atasan, meski suaranya mulai menyiratkan kepanikan.
Fajar tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun. Ia menatap atasan sekaligus wanita di depannya dengan tatapan penuh kejelasan.
“Ini tentang… Ibu, kan?” tanya Fajar dengan suara yang amat tenang namun penuh kepastian.
Ruangan itu langsung dilanda keheningan yang absolut. Sunyi total. Tidak ada suara ketikan, tidak ada desau angin AC, seolah dunia di luar sana berhenti berputar demi menyaksikan kejujuran yang pecah di ruangan ini.
Kirana tidak bisa lagi lari. Wanita itu perlahan membuka genggaman tangannya, lalu meremas jemarinya sendiri di atas meja. Untuk pertama kalinya selama ia memegang jabatan tinggi di perusahaan ini, pertahanan dinginnya runtuh. Ia tidak bisa menghindar lagi.
“…iya,” jawab Kirana pelan.
Sangat pelan. Nyaris seperti bisikan angin. Tapi di telinga Fajar, jawaban itu terdengar sangat jelas, menghantam kesadarannya telak-telak.
Jantung Fajar terasa berhenti berdetak untuk sesaat.
“….jadi, selama ini…” Fajar menggantungkan kalimatnya, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Kirana mendongak, memberanikan diri menatap mata Fajar kembali. Kali ini, tidak ada lagi topeng direktur yang angkuh atau batasan profesionalisme yang kaku.
“Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya,” aku Kirana, jujur tanpa filter.
Tidak ada kata “direktur” yang disematkan. Tidak ada nada bicara formal yang kaku. Hanya ada dua manusia yang saling membuka diri, berbicara dengan ketulusan yang murni.
“Aku bahkan tidak tahu apa nama perasaan ini… sampai akhirnya aku membaca surat itu,” lanjut Kirana dengan suara lirih.
Fajar menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya berdengung hebat. “Tapi… surat itu kan… sebenarnya bukan untuk Ibu…”
Kirana tersenyum kecil. Senyuman tipis yang justru terlihat sangat rapuh sekaligus menawan di mata Fajar.
“Aku tahu,” kata Kirana lembut. “…tapi meskipun itu bukan untukku, aku tetap merasakannya. Perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa bisa dicegah.”
Fajar menundukkan kepalanya sejenak. Kedua tangannya di atas meja sedikit bergemetar. Seluruh logika kaku yang biasa ia pakai di kantor mendadak menguap begitu saja, dikalahkan oleh gelombang kehangatan yang tiba-tiba menyerbu dadanya.
“Jadi… semua perhatian, semua perubahan sikap yang Ibu lakukan selama ini…” Fajar mendongak pelan.
Kirana mengangguk kecil. “Karena kamu.”
Deg!
Kali ini, hantaman itu bukan sekadar rasa kaget karena sebuah rahasia terbongkar. Tapi hantaman rasa haru yang benar-benar telak mengenai sasaran.
Fajar spontan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan sebelah tangan, merasa frustasi sekaligus geli pada kebodohannya sendiri.
“Pantesan…” desis Fajar pelan. “Pantesan selama ini gue ngerasa aneh terus tiap ada di dekat Ibu…”
Ia kemudian tertawa kecil, menertawakan betapa lambatnya proses berpikir yang ia miliki selama berbulan-bulan ini.
Kirana mengernyitkan dahi, bingung bercampur cemas melihat reaksi Fajar. “Kenapa tertawa? Ada yang salah?”
Fajar menatap wanita itu dengan sorot mata yang dipenuhi kelembutan baru. “Gue tuh… bego banget ya, Bu?”
“Kenapa berkata begitu?” tanya Kirana heran.
“Karena baru sadar sekarang. Padahal tanda-tandanya sudah jelas banget dari dulu,” jawab Fajar jujur, membuat rona merah tipis seketika menjalar di pipi Kirana yang pucat.
Suasana kembali dilanda hening. Namun, hening kali ini sama sekali tidak kaku atau mencekam. Hening yang tercipta terasa begitu hangat, nyaman, dan seolah memeluk erat siapa pun yang berada di dalam ruangan tersebut.
Kirana mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan yang sejak tadi mengusik benaknya.
“Kalau kamu sendiri… bagaimana?” tanya Kirana pelan, suaranya menyiratkan debar ketidakpastian.
Fajar terdiam sejenak. Pertanyaan itu… adalah pertanyaan paling sulit sekaligus paling jujur yang harus ia jawab dalam hidupnya sejauh ini.
Ia lantas menarik memori ke belakang, mengingat kembali seluruh perjalanan interaksi mereka:
Awalnya ia merasa takut dan terintimidasi oleh ketegasan Kirana.
Lalu berubah menjadi rasa bingung karena sikap aneh sang atasan.
Kemudian perlahan-lahan bergeser menjadi rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan.
Dan sekarang—detik ini juga—jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena debar asmara yang tak terbendung.
Fajar menarik napas panjang, tersenyum kecil. Senyuman tulus yang membuat wajahnya tampak jauh lebih memesona di mata Kirana.
“Jujur ya, Bu…” kata Fajar memulai kalimatnya.
Kirana mengangguk pelan, menunggu.
“Awalnya… saya jujur merasa takut sama Ibu. Galak, perfeksionis, dan selalu bikin salah tingkah,” aku Fajar blak-blakan.
Kirana sempat tertegun mendengar kejujuran itu, namun ia tidak memotongnya.
“Tapi sekarang…” Fajar melanjutkan, suaranya berubah semakin lembut. Kirana bisa melihat ketulusan terpancar dari sorot mata pemuda di depannya itu. “…saya malah jadi sering mikirin Ibu di luar jam kantor.”
Mata Kirana sedikit membesar, terkejut mendengar pengakuan yang begitu berani dan langsung pada intinya. “…benarkah?” tanyanya memastikan, seolah takut ini hanya ilusi.
Fajar mengangguk mantap. “Iya. Benar.”
Mendengar jawaban itu, ketegangan yang selama ini menyelimuti pundak Kirana seolah luruh seketika. Sebuah senyuman selebar-lebarnya terbit di wajah wanita itu, membuatnya tampak jauh lebih muda dan memukau.
Fajar perlahan bangkit berdiri dari kursi kerjanya. Ia merapikan ujung kemejanya sebentar, lalu menatap Kirana dengan binar jenaka di matanya.
“Kayaknya… saya harus nulis satu surat lagi,” ucap Fajar dengan nada setengah bercanda namun bersungguh-sungguh.
Kirana mendongak, menatap Fajar dengan dahi berkerut penasaran. “Untuk siapa lagi?”
Fajar tersenyum lebar, senyuman yang membuat jantung Kirana kembali bergemuruh hebat.
“Kali ini… dijamin gak akan salah kirim lagi, Bu,” jawab Fajar penuh percaya diri.
Kirana ikut tersenyum kecil, merasa beban berat yang selama ini menghimpit dadanya akhirnya terangkat sepenuhnya. Suasana di ruangan direktur itu kini terasa jauh lebih terang dari sebelumnya.
“Baguslah,” balas Kirana lembut. “Karena kalau sampai salah kirim lagi, saya pastikan hukuman kantor untukmu akan jauh lebih berat.”
Dan di bawah temaram lampu ruangan kantor sore itu, babak baru dalam hubungan mereka resmi dimulai—bukan lagi sebagai atasan dan bawahan yang dibatasi aturan kaku, melainkan dua orang yang akhirnya menemukan potongan hati yang selama ini mereka cari.