Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Keluarga Baru Untuk Ivy
Sore harinya, setelah selesai membuat kue bersama nenek Veronica, Ivy duduk di taman belakang rumah bersama kakek James dan nenek Veronica.
Taman itu sangat indah, berbagai bunga tumbuh di sepanjang jalan setapak, sementara sebuah gazebo kecil berdiri di dekat kolam.
Ivy duduk di antara kakek James dan nenek Veronica sambil menikmati teh hangat.
Edgar sebenarnya juga berada di sana, namun seperti biasa keberadaannya hampir tidak diperhatikan.
"Jadi, Ivy," kata James sambil tersenyum, "ceritakan tentang dirimu."
Ivy sedikit terkejut.
"Tentang saya?"
"Ya, granpa ingin tahu semuanya." ucap kakek James sambil menyeruput tehnya.
nenek Veronica mengangguk.
"Apa yang kau sukai, apa yang tidak kau sukai, apa yang membuatmu bahagia." tambah nenek Veronica.
Ivy terdiam, pertanyaan itu terdengar sederhana, namun tidak ada seorang pun yang pernah bertanya kepadanya seperti itu. Sejak kecil orang tuanya bahkan tidak pernah tau, apa yang benar-benar Ivy sukai. Karena sejak kecil dia selalu di suruh untuk menyukai apapun yang Evelyn sukai, bagi kedua orang tuanya apa yang Ivy sukai itu tidaklah penting. Bahkan saat Ivy alergi terhadap seafood, ibunya justru menyajikan makanan berbahan dasar seafood. Saat Ivy tidak mau memakannya, dia justru di marahi oleh ibunya dan mengatakan jika Ivy terlalu pilih-pilih makanan. Ibunya selalu ingat makanan kesukaan evelyn tapi tidak pernah ingat makanan kesukaannya. Setiap hari dari sarapan hingga makan malam, di meja makan mereka hanya tersaji makanan favorit evelyn, makanan favorit kakaknya jaxon juga makanan favorit kedua orang tuanya, tidak ada satupun makanan favoritnya. Entah mereka tidak tau atau memang dirinya tidaklah sepenting itu untuk mereka. Pernah Ivy berpikir jika mungkin dia bukanlah anak kandung kedua orang tuanya, sampai akhirnya dia nekat melakukan tes DNA tapi sayangnya hasilnya menujukan jika dia benar-benar anak kandung kedua orang tuanya. Ivy terkadang suka merasa miris, dengan takdir hidupnya selama ini. Dia hanya menginginkan cinta dan kasih sayang, itu saja.
Itulah sebabnya saat nenek Veronica dan kakek James bertanya seperti itu padanya, Ivy merasa sangat terharu.
"Aku..." Ivy tersenyum kecil. "Aku suka membaca."
"Bagus!" James langsung tertarik. "Buku apa?"
"Novel."
"Romantis?"
Ivy mengangguk malu-malu.
nenek Veronica tertawa.
"Kalau begitu kau cocok dengan Edgar."
Edgar yang sedang minum teh hampir tersedak.
"Granma!"
James tertawa.
"Kenapa? Memang benar."
Ivy menundukkan wajahnya karena malu.
nenek Veronica kemudian bertanya lagi.
"Selain membaca?"
"Aku suka memasak." Ujar Ivy lembut.
"Membuat kue?" Tanya nenek Veronica.
"Ya." Jawab Ivy sambil mengangguk kecil.
nenek Veronica langsung memegang tangan Ivy.
"Kalau begitu kau harus sering datang, kita bisa membuat kue bersama." ujar nenek Veronica.
"Tentu." jawab Ivy bahagia.
"Ada lagi?" Tanya nenek Veronica.
"Aku alergi seafood, jika memakannya kulit ku akan terasa sangat gatal dan akan muncul ruam. Lebih parah aku bisa mengalami pusing dan lemas juga sesak napas." Ujar Ivy.
"Tapi semalam kau memakan ikan." Ujar nenek Veronica panik, saat mengingat jika semalam ivy telah memakan ikan.
"Aku tidak alergi pada semua seafood, hanya beberapa saja. Seperti kepiting, gurita, dan kerang saja. Sedangkan untuk ikan, cumi-cumi, udang dan lobster aku masih bisa memakannya." Ujar Ivy menjelaskan.
nenek Veronica mengangguk mengerti.
"Syukurlah, nenek mengerti. Nenek akan mengingat hal itu dengan baik, jadi kalau kau ke sini nenek akan meminta koki untuk tidak memasak hidangan itu." Ujar nenek Veronica.
Ivy tersenyum, dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan perhatian seperti ini dari orang lain. Sedangkan keluarganya sendiri tidak pernah melakukan itu untuknya, itulah sebabnya dia berubah menjadi anak yang sangat haus akan cinta selama ini.
kakek James tersenyum melihat interaksi keduanya. Kemudian dia menatap Ivy dengan lebih serius.
"Ivy."
"Ya, Granpa?"
"Edgar memang bukan orang yang pandai menunjukkan perasaannya."
Edgar langsung menatap kakeknya.
"Granpa..."
kakek James mengabaikannya.
"Tapi dia sangat keras kepala kalau sudah menyayangi seseorang."
Ivy melirik Edgar.
Pria itu langsung mengalihkan pandangan.
"Jadi..." kakek James melanjutkan, "jangan takut untuk mengatakan apa yang kau rasakan kepadanya."
Ivy tersenyum.
"Baik, Granpa."
nenek Veronica kemudian menambahkan.
"Dan kalau Edgar membuatmu menangis, datanglah kepadaku."
Edgar langsung mengangkat kepala.
"Granma!"
"Aku akan memukulnya dengan tongkat."
"Granma!"
kakek James tertawa sampai bahunya berguncang, Ivy pun ikut tertawa. Edgar hanya bisa menghela napas, sepertinya setelah Ivy datang, posisi Edgar di rumah ini benar-benar turun drastis.
Malam semakin larut.
Setelah makan malam, Ivy berdiri di dekat pintu sambil mengenakan mantelnya.
"Terima kasih untuk hari ini, Granma, Granpa." Kata Ivy tulus.
nenek Veronica langsung memeluk Ivy.
"Kau tidak perlu berterima kasih." ucap nenek Veronica sambil mengelus punggung Ivy lembut.
kakek James ikut mendekat.
"Datanglah lagi lain kali, kami akan selalu menunggumu." Ucap kakek James sambil mengelus kepala Ivy, sebelum Ivy datang dia sudah mencari tau semua tentang Ivy bahkan masa lalu Ivy dan kakek James sudah tau segalanya. Mulai dari perlakuan orang tua Ivy pada Ivy, perlakuan mantan suami Ivy, perlakuan mantan mertua Ivy. Dulu Ivy memang pernah melakukan kesalahan dengan merebut tunangan kembarannya, tapi Ivy melakukan itu karena berpikir jika dia akan bahagia jika bersama Mateo tapi ternyata dugaannya salah. Menurut kakek james, sebenarnya Ivy adalah anak yang baik dan tulus, dia juga adalah istri yang baik karena walaupun Mateo tidak pernah memperlakukan dia dengan baik, Ivy selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Mateo, Ivy juga adalah sosok ibu yang baik untuk putrinya dan itu sudah cukup untuk Ivy lulus menjadi calon cucu menantu untuknya dan Veronica.
Ivy mengangguk.
"Aku pasti datang."
nenek Veronica kemudian memegang kedua tangan Ivy.
"Besok datang lagi ya."
Ivy tersenyum.
"Besok?"
"Ya, kita masih punya banyak resep kue yang belum dibuat."
Ivy tertawa.
"Baiklah."
Edgar berdiri di belakang Ivy sambil tersenyum.
"Kalau begitu kami pulang dulu."
James mengangguk.
"Baik."
Namun sebelum Edgar sempat melangkah, kakek James memanggilnya.
"Edgar."
"Ya?"
"Jaga Ivy baik-baik."
Edgar tersenyum.
"Tentu."
nenek Veronica langsung menyela.
"Dan jangan membuatnya menangis."
Edgar menghela napas.
"Aku tahu."
kakek James menatap cucunya cukup lama.
"Dia sudah banyak mengalami hal buruk dalam hidupnya."
Senyum Edgar perlahan menghilang.
"Aku tahu."
"Kalau kau benar-benar mencintainya, jangan pernah membuatnya merasa bahwa dia tidak berharga." peringat kakek James.
Edgar menatap Ivy yang sedang berbicara dengan nenek Veronica.
Tatapannya menjadi lembut.
"Aku tidak akan pernah melakukan itu."
kakek James mengangguk puas.
"Bagus."
Edgar kemudian menggenggam tangan Ivy.
"Ayo."
Ivy tersenyum dan mengikuti Edgar menuju mobil.
Sebelum masuk, Ivy menoleh sekali lagi.
"Selamat malam, Granma, Granpa."
"Selamat malam, sayang!"
Mobil kemudian perlahan meninggalkan halaman rumah. Di dalam mobil, Ivy bersandar di kursinya.
Edgar meliriknya.
"Kau bahagia?"
Ivy tersenyum.
"Sangat." Ucap Ivy.
"Bagus." Kata Edgar.
Ivy menoleh kepadanya.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena membawaku bertemu mereka."
Edgar tersenyum.
"Mereka memang sudah ingin bertemu denganmu sejak lama."
Ivy terdiam.
Kemudian dia berkata pelan,
"Aku tidak menyangka mereka akan menerimaku seperti itu."
Edgar menggenggam tangan Ivy.
"Mereka tidak hanya menerimamu."
Ivy menatapnya.
"Mereka sudah menganggapmu sebagai cucu mereka."
Mata Ivy sedikit berkaca-kaca, Edgar mempererat genggamannya.
"Dan suatu hari nanti..."
Dia berhenti sejenak.
"Aku ingin kau tidak hanya menjadi cucu kesayangan mereka."
Ivy menatap Edgar dengan bingung.
"Jadi apa?"
Edgar tersenyum.
"Menjadi istriku."
Wajah Ivy langsung memerah.
"Edgar!"
Edgar tertawa kecil.
Namun di dalam hatinya, dia sudah membayangkan masa depan itu.
Sebuah rumah.
Ivy di sisinya.
Dan mungkin suatu hari nanti, suara anak-anak memenuhi rumah mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Edgar benar-benar merasa bahwa masa depan bukan sesuatu yang harus dia takuti.
Karena sekarang, dia memiliki seseorang yang ingin dia ajak berjalan bersamanya sampai akhir.
Bersambung