"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Terhebat Pertama 33.
Suara derit pintu besi loker nomor 14 yang berkarat selalu menjadi penanda bahwa hari Senin yang melelahkan telah dimulai.
Timy melemparkan tas ranselnya ke lantai koridor tanpa peduli, lalu menyugar rambutnya yang sedikit berantakan karena angin pagi.
Matanya yang mengantuk mendadak menangkap sesuatu yang asing di antara tumpukan jersey basket bau keringat dan buku paket Matematika wajibnya.
Sebuah amplop cokelat tebal. Terlipat dua, sengaja diselipkan di posisi yang paling mencolok.
Timy mengernyit. Dahinya berlipat. "Surat cinta model apa lagi ini?" gumamnya ketus. Sebagai salah satu cowok yang cukup disorot di SMA Veteran, mendapat surat misterius bukanlah hal aneh. Namun, amplop ini terlalu tebal dan berat untuk sekadar berisi curahan hati seorang siswi yang mengaguminya.
Dia menarik amplop itu keluar. Lem perekatnya sudah terbuka.
Timy merogoh isinya dan menarik selembar kertas putih berlogo rumah sakit swasta terkemuka di Jakarta. Di bagian atas kertas itu, tercetak tebal,
SURAT KETERANGAN MEDIS & EVALUASI PSIKOLOGIS.
Nama pasien yang tertera di sana membuat jantung Timy seperti berhenti berdetak seketika.
Kanaya Aurelista.
Timy menelan ludah yang mendadak terasa sekering pasir.
Matanya bergerak cepat menyusuri baris demi baris istilah medis yang rumit, hingga pandangannya terpaku pada poin kesimpulan di bagian bawah.
Kertas itu ditandatangani oleh seorang dokter spesialis kedokteran jiwa dan seorang psikolog klinis.
...menyatakan bahwa per tanggal lima belas Oktober tahun lalu, pasien atas nama Kanaya Aurelista telah menyelesaikan seluruh rangkaian terapi pasca-trauma (PTSD) dengan hasil sangat baik. Pasien dinyatakan pulih total, stabil secara emosional, dan mampu beraktivitas normal tanpa ketergantungan obat maupun pendampingan khusus.
Tanggal satu tahun lalu.
Otak Timy mendadak macet. Jari-jarinya yang memegang kertas mulai bergetar hebat.
Satu tahun lalu? Berarti, jauh sebelum awal semester ini dimulai—bahkan sebelum Naya pindah ke SMA Veteran dan masuk ke kehidupannya lagi—gadis itu sudah sembuh. Dia sudah pulih total.
Lalu, apa arti dari semua tangisan ketakutan Naya di gudang sekolah akhir-akhir ini? Apa arti dari serangan panik Naya di parkiran yang membuat Timy harus meninggalkan janjinya pada Nawang? Apa arti dari seluruh sikap rapuh, ketergantungan, dan tatapan penuh trauma yang Naya tunjukkan di depan Timy selama ini hingga membuat Timy merasa bertanggung jawab penuh atas hidup gadis itu?
"Nggak... nggak mungkin," bisik Timy, suaranya tercekat di tenggorokan.
Dia buru-buru membalikkan badannya, celingukan menatap koridor dekat laboratorium biologi yang mulai ramai oleh langkah kaki murid-murid. Matanya menyisir liar setiap wajah yang lewat. Siapa? Siapa yang meletakkan amplop ini di lokernya?
Dia melihat cowok-cowok kelas sebelah yang sedang tertawa, siswi-siswi yang berjalan sambil bergosip, dan beberapa anak yang berlari terburu-buru takut terlambat upacara.
Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada petunjuk. Siapapun yang menaruh ini, dia tahu persis rahasia terbesar yang selama ini disembunyikan dari Timy.
Timy menyandarkan punggungnya pada pintu loker yang dingin. Kertas di tangannya perlahan berkerut karena cengkeramannya yang terlalu kuat.
Dunia di sekeliling Timy mendadak sunyi, meski koridor itu sangat bising.
Di dalam kepalanya, sebuah kenyataan pahit menghantamnya, menghancurkan seluruh fondasi waras yang dia miliki. Logika yang selama ini dia matikan demi sebuah rasa bersalah, kini dipaksa menyala dengan sangat terang, membakar habis seluruh pembelaan diri yang tersisa.
Naya membohonginya. Naya memanfaatkannya.
Dan yang paling menghancurkan adalah... demi kebohongan itu, Timy telah meruntuhkan semesta nya sendiri.
Dengan bodohnya, dengan keyakinan buta bahwa Naya adalah gadis rapuh yang bisa nekat mengakhiri hidup jika dia tinggalkan, Timy melepaskan tangan Nawang. Dia memilih berbalik, pergi menjemput Naya yang meneleponnya sambil menangis histeris mengaku ketakutan di kamar. Timy memilih mengorbankan Nawang.
Dia mengakhiri hubungan satu tahun mereka demi menyelamatkan seseorang yang dia kira sedang tenggelam.
Ternyata, orang itu tidak sedang tenggelam. Orang itu sedang berdiri di tepian, menonton Timy menghancurkan dirinya sendiri sambil tersenyum.
"Gue... gue udah ngelakuin apa?" suara Timy bergetar, kini air mata kemarahan dan penyesalan yang teramat sangat mulai menggenang di pelupuk matanya.
Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya hingga dia kesulitan bernapas.
Timy mencengkeram seragam sekolahnya sendiri yang rapi.
Segala pengorbanannya, keputusasaannya membela Naya di depan teman-temannya, dan keputusannya untuk menyakiti hati Nawang—gadis yang benar-benar tulus mencintainya—ternyata didasarkan pada sebuah sandiwara medis yang sudah kedaluwarsa. Dia telah membuang permata demi sebuah kepalsuan.
Nawang telah pergi dari hidupnya. Kursi di sebelah mejanya kini kosong dari tawa gadis itu.
Semua karena Timy merasa menjadi pahlawan untuk trauma yang sebenarnya sudah sembuh satu tahun yang lalu.
Timy tertawa lirih, sebuah tawa sarkastik yang ditujukan untuk kebodohannya sendiri.
Air matanya luruh satu tetes, membasahi kertas medis di tangannya. Dia merasa seperti orang paling tolol di seluruh jagat raya. Dunianya runtuh, rata dengan tanah, dan dia sendiri yang memegang sekop untuk menggali kubur bagi kebahagiaannya bersama Nawang.
Bel upacara bendera berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah.
Murid-murid mulai berlarian menuju lapangan. Namun Timy tetap bergeming di depan loker 14. Dengan tatapan kosong dan hati yang hancur berkeping-keping, dia melipat kembali kertas itu, memasukkannya ke saku celana, lalu berjalan berlawanan arah dari kerumunan dengan langkah gontai.
Dia harus mencari tahu siapa yang menaruh amplop ini.
Tapi jauh di atas itu, dia tahu, tidak ada lagi yang bisa dia perbaiki dari hatinya yang sudah telanjur mati kutu, dan hati Nawang yang sudah telanjur dia patahkan dengan kejam.
......................
...****************...
Tbc,