Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — PERSAINGAN PEDAGANG DAN ANCAMAN KOTA
Matahari pagi menyiramkan cahaya kuning hangat di atas halaman toko grosir kami.
Truk-truk raksasa milik pedagang grosir dari luar kota berderet mengantre di tepi jalanan tanah.
Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk masih saja tercium dari balik karung beras.
Aku berdiri di balik meja kasir kayu, melayani transaksi pembayaran dengan tangan kiri.
Kerah kemeja leher tinggiku tetap terancing rapat, menyembunyikan sisik hitam gaib di leher.
Sreeek!
Suara pintu pagar besi truk luar kota dibuka kasar oleh rombongan pedagang besar kota.
Di samping Pak Suroso, berdiri seorang pria tua berjanggut panjang yang mengenakan sarung hitam.
Pria tua itu bernama Ki Suko, praktisi spiritual kawakan yang sengaja dibawa Pak Suroso dari kota.
“Selamat pagi, Pak Suroso, selamat datang di toko grosir kami,” sapaku tersenum ramah.
“Saya mau memborong beras dua puluh ton dan minyak goreng dua ratus dus hari ini, Surya,” kata Pak Suroso.
“Semua barang pesanan Bapak sudah kami siapkan rapi di gudang samping,” jawabku mencatat nota.
Mata pria tua itu terbelalak lebar, memandangi sekeliling bangunan toko kami dengan raut tegang.
Ki Suko menarik napas dalam-dalam, lalu terbatuk-batuk kecil menahan rasa mual yang hebat.
“Ada apa dengan Anda, Ki Suko? Kenapa raut wajah Anda mendadak pucat begitu?” tanya Pak Suroso.
“Pak Suroso... batalkan rencana pembelian barang di toko grosir ini sekarang juga!” jerit Ki Suko panik.
“Kenapa saya harus membatalkan borongan barang murah di toko Surya ini, Ki Suko?” tanya Pak Suroso.
“Toko grosir ini diselimuti oleh aura hitam pesugihan yang sangat pekat!” tegas Ki Suko.
“Seluruh karung beras dan minyak di toko ini berbau tanah kuburan dan darah!” lanjutnya gemetar.
Darahku mendadak terasa berhenti mengalir mendengarkan penuturan jujur dari pria tua berjanggut tersebut.
Ningsih yang berdiri di balik pintu kamar memekik kaget sambil memeluk tubuh Dedek dengan takut.
“Jangan sembarangan menuduh hal gaib di toko saya, Ki Suko,” potongku berusaha bersikap tegar.
Ki Suko melangkah dua pijakan mendekati meja kasir, memandangi kerah kemeja tinggiku secara tajam.
Batu akik di jemari tangan Ki Suko mendadak bergetar keras dan mengeluarkan pendar cahaya merah.
“Kamu tidak bisa membohongi mata batin saya, Surya!” gertak Ki Suko dengan nada suara tinggi.
“Aura iblis penunggu makam keramat di atas bukit sana telah menggulung ragamu!” tegasnya.
“Kerah kemeja tinggimu itu menyembunyikan sisik hitam bangkai yang merambat di lehermu!” tambah Ki Suko.
Mereka saling berbisik curiga, memandangi kerah kemeja leher tinggiku dengan rasa takut tebal.
“Apakah benar toko grosir Surya ini memakai ilmu pesugihan iblis, Pak Suroso?” bisik pedagang.
Pak Suroso memandangi wajahku dengan pandangan mata yang sangat heran dan menaruh rasa curiga tebal.
“Apakah ucapan Ki Suko ini benar, Surya?” tanya Pak Suroso dengan suara berat.
“Apakah kamu benar-benar memakai syarat pesugihan iblis buat melariskan barang daganganmu?” cecarnya.
“Itu semua fitnah jahat dari pesaing bisnis saya, Pak Suroso!” jawabku berbohong membela diri.
Ki Suko maju satu langkah, mengacungkan tongkat kayunya tepat ke arah dada dan leher kemejaku.
“Buka kain balutan kemeja leher tinggiku ini sekarang kalau kamu memang tidak bersalah!” tantang Ki Suko.
“Buka kemejamu di depan semua pembeli ini sekarang juga!” serunya lagi mendorong warga.
Ningsih berlari keluar dari dalam rumah panggung, berdiri di sampingku dengan air mata deras.
“Tolong jangan menghina suami saya di toko kami sendiri, Pak!” jerit Ningsih membela histeris.
“Suami saya bekerja keras siang dan malam demi memberi makan keluarga kami!” amuk Ningsih.
Brak!
Suara gertakan meja kasir kayu mendadak mengejutkan seluruh kerumunan pedagang di halaman toko.
Ujang melangkah masuk ke dalam teras toko dengan raut wajah sangat garang dan mata merah.
Di belakang Ujang, lima pemuda kekar perkampungan berdiri membisu membawa kayu pemukul dan sabit.
“Siapa yang berani membuat keributan dan menuduh pemilik toko grosir kami di sini?” gertak Ujang.
“Saya yang bicara tentang kebenaran gaib di toko pesugihan ini!” sahut Ki Suko tidak kalah.
Ujang mendekati Ki Suko, menatap mata praktisi spiritual kota itu dengan pandangan ancaman dingin.
“Pergi meninggalkan desa ini sekarang juga bersama saudagarmu sebelum raga kalian hancur!” ancam Ujang.
“Jangan pernah berani mengusik ketenangan toko grosir Surya kalau kalian masih sayang nyawa!” gertaknya.
Pak Suroso yang melihat kehadiran pemuda perkampungan mendadak menjadi gentar dan cemas akan keselamatan.
“Sudahlah, Ki Suko, kita batalkan saja transaksi belanja di toko ini hari ini,” ajak Pak Suroso.
“Mari kita pulang kembali ke kota sekarang sebelum terjadi kerusuhan fisik,” sambung Pak Suroso panik.
Ki Suko menatapku dengan pandangan mata yang sangat tajam, penuh peringatan spiritual yang dalam.
“Kamu mungkin bisa mengusir saya hari ini, Surya,” bisik Ki Suko dengan suara bergetar dingin.
“Tapi iblis penunggu makam itu tidak akan pernah membiarkan ragamu selamat utuh!” lanjutnya.
Pak Suroso dan Ki Suko bergegas berjalan melangkah menuju mobil kontainer mereka di tepi jalanan.
Mesin kontainer raksasa itu meraung keras saat kendaraan itu berbalik meninggalkan pemukiman desa kami.
Para pedagang kecil yang menyaksikan keributan itu perlahan-lahan membubarkan diri dengan takut tebal.
Halaman toko grosir kami yang semula dipadati pembeli mendadak berubah menjadi sangat sepi.
Ningsih terduduk lemas di atas kursi kayu toko, menangis terisak-isak di atas meja kasir.
“Mas... rahasia sisik hitammu sudah mulai tercium oleh praktisi spiritual kota,” rintih Ningsih pasrah.
“Sebentar lagi seluruh warga desa akan tahu kalau toko grosir kita memakai uang pesugihan,” sambungnya.
Aku merangkul bahu Ningsih memakai tangan kiri, berusaha menguatkan batin istriku yang hancur.
“Tenangkan dirimu, Ningsih, selama kita diam dan bersabar, kabar burung itu akan meredup,” bujukku.
“Surya! Kedatangan Ki Suko tadi pagi adalah ancaman spiritual yang sangat berbahaya!” bisik Ujang.
“Ki Suko sengaja dikirim oleh pedagang grosir kota buat menghancurkan tuah tokomu!” lanjutnya.
“Apakah penunggu Makam Keramat Panjang tahu tentang ancaman praktisi spiritual kota itu, Jang?” tanyaku.
“Simbah baru saja memberitahuku kalau penunggu makam sangat murka pada Ki Suko!” jawab Ujang.
“Mahluk gaib itu menuntut sajen benteng keselamatan baru buat membentengi toko grosirmu!” tambah Ujang.
Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penegasan syarat baru yang disampaikan oleh Ujang.
“Sajen benteng keselamatan apa lagi yang dituntut oleh penunggu makam itu, Jang?” tanyaku pasrah.
“Malam Jumat Kliwon depan kamu wajib membawa sajen sembelihan dua ekor kambing hitam!” tegas Ujang.
“Dua ekor kambing hitam mulus?” tanyaku dengan suara yang tercekat di balik tenggorokan.
“Iya, Mas! Sajen dua ekor kambing hitam itu adalah pemagaran gaib buat menghancurkan ancaman!”
“Di mana aku bisa mendapatkan dua ekor kambing hitam mulus dalam waktu singkat, Jang?” tanyaku panik.
“Simbah sudah menyiapkan dua ekor kambing hitam itu di rumahnya di dalam hutan bambu, Mas,” jawab Ujang.
“Kamu cuma perlu menyerahkan uang dua puluh juta rupiah buat biaya pembelian dua kambing,” tambahnya.
“Apakah uang hasil penjualan toko grosir ini boleh dipakai buat membayar dua kambing itu, Jang?” tanyaku.
“Ingat baik-baik, jangan pernah mencoba menunda atau membatalkan sajen pemagaran gaib ini!” ancam Ujang.
“Kalau kamu alpa... benteng tokomu hancur dan sisik hitam di lehermu menelan mukamu!” ancamnya keras.
Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan ancaman Ujang.
“Baiklah, Jang, aku pasti akan menyerahkan uang dua puluh juta rupiah itu sore ini,” janji pasrahku.
“Baguslah kalau kamu paham, siapkan uangnya dan temui Simbah sore ini di hutan bambu!” pesan Ujang.
Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik melangkah jalan menuju kendaraan sepeda motornya.
Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.
Siang harinya, Dedek pulang sekolah dengan melompat-lompat gembira membawa kertas hasil ujian menggambar.
“Bapak! Lihat gambar rumah panggung kita dapat nilai seratus dari ibu guru!” seru Dedek gembira.
“Anak pintar... Bapak bangga sekali sama kamu, sayang,” puji ku merangkulnya dengan tangan kiri.
“Sama-sama, sayang, yang penting Dedek rajin belajar dan selalu patuh pada Ibu,” jawabku lembut.
Dedek tersenum lebar gembira, lalu berlari masuk ke dalam kamar tidur buat berganti pakaian sekolah.
Aku memandangi kepolosan wajah anak kandungku dengan derai air mata keharuan yang ditahan erat.
Demi keselamatan dan kebahagiaan anak inilah, aku rela menanggung seluruh siksaan gaib di raga.
Aku membawa kantong goni berisi dua puluh juta rupiah tunai hasil penjualan toko grosir kami.
Suara raungan mesin motor tua saya memecah keheningan hutan bambu yang gelap dan sangat lembap.
Setibanya di halaman rumah panggung Simbah, aroma bau kemenyan dan melati busuk menyengat pekat.
Simbah duduk bersila di atas lantai kayu teras rumah panggungnya, menghisap rokok klembak menyan.
“Kamu datang membawa uang dua puluh juta rupiah buat sajen dua kambing hitam itu, Surya?” tanya Simbah.
Suara bicara Simbah terdengar sangat serak berat, bagaikan gesekan dua batu nisan tua di pekuburan.
“Saya datang membawa uang dua puluh juta rupiah utuh buat biaya dua kambing, Mbah,” sahutku.
Aku menyerahkan kantong goni berisi tumpukan uang kertas merah ke atas lantai kayu teras.
Simbah merogoh tumpukan uang kertas dingin itu dengan jemarinya yang keriput dan berkuku hitam.
“Uang hasil tuah Makam Keramat Panjang ini sangat melimpah memadati tokomu, Surya,” kata Simbah.
“Tapi praktisi spiritual kota tadi pagi mencoba mengusik ketenangan rumahku kan?” tebak Simbah.
Aku terperanjat kaget, tidak sanggup membantah tebakan tepat yang keluar dari bibir Simbah.
“Apakah praktisi spiritual kota itu bisa merusak pemagaran gaib toko saya, Mbah?” tanyaku gemetar.
Simbah terkekeh pelan, sebuah tawa serak mengerikan yang mengeluarkan asap menyan dari mulutnya.
“Dukun kota itu tidak ada apa-apa dibanding kekuatan penunggu Makam Keramat Panjang!” kata Simbah.
“Selama kamu rajin membawa sajen dua ekor kambing hitam, tokomu tidak akan tersentuh!” tegasnya.
Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penegasan syarat gaib dari mulut juru kunci tua itu.
“Tugasmu Jumat Kliwon depan adalah menyembelih dua ekor kambing hitam itu di atas nisan!” perintah Simbah.
“Bawalah sepuluh liter minyak mawar segar dan sembelih dua kambing itu tepat tengah malam!” tambahnya.
“Kalau kamu alpa satu detik saja... benteng tokomu hancur dan mukamu tertutup sisik!” ancam Simbah.
Aku menundukkan kepala dalam-dalam, menerima takdir pahit yang kini telah mencengkeram ragaku.
“Saya janji akan datang menuntaskan penyembelihan dua kambing hitam itu Jumat Kliwon depan, Mbah,” pasrahku.
“Baguslah kalau kamu paham, pulanglah sekarang sebelum kegelapan hutan menelan jiwamu!” perintah Simbah.
Aku berdiri melangkah turun meniti tangga kayu rumah panggung Simbah dengan tubuh gemetar lemas.
Aku memacu sepeda motor tua menyusuri jalanan tanah hutan bambu menuju rumah panggung kami.
Sesampainya di rumah, aku memarkir motor di bawah pohon mangga dan melangkah masuk ke teras.
Ningsih sedang duduk di atas tikar pandan ruang tengah sambil melipat pakaian bersih Dedek.
Istriku memandangi kedatanganku dengan mata yang sembap, menyimpan duka spiritual yang amat dalam.
“Mas... apakah kamu baru saja pergi menyerahkan uang sajen dua kambing pada Simbah?” tanya Ningsih.
“Iya, Ningsih, aku baru saja menyerahkan uang biaya sajen dua kambing hitam buat Jumat Kliwon,” jawabku.
“Sampai kapan kita harus terus membuang uang puluhan juta rupiah buat iblis itu, Mas?” rintih Ningsih.
“Sampai ragaku hancur menjadi tanah, Ningsih... demi keselamatan kalian berdua,” jawabku jujur terisak.
Ningsih memeluk erat tubuhku, menangis histeris di atas dadaku dengan kepasrahan yang teramat sangat.
Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan tekad yang makin terpatri bulat.
Malam harinya, angin dingin bertiup sangat kencang menggoyangkan pelepah pohon pisang di samping rumah.
Gumpalan awan hitam pekat menutup rapat pendar sinar rembulan di atas atap rumah panggung kami.
Dedek dan Ningsih telah tertidur lelap di dalam kamar tidur dengan lampu minyak yang dimatikan.
Aku duduk sendirian di atas kursi kayu teras depan, mengusap kerah kemeja leher tinggiku.
Di dalam kegelapan malam, sisik hitam di leher kanan saya memancarkan pendar cahaya kebiruan redup.
Aroma bau tanah kuburan basah dan kamboja busuk menguar pekat dari pori-pori sisik hitam di leherku.
Rasa nyeri membekukan menusuk-nusuk persendian leherku, seolah ada jarum-jarum es yang menancap abadi.
Suara bisikan gaib mendesis halus mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga kiriku.
“Jumat Kliwon... dua kambing hitammu sudah menunggu di nisanku, Surya...” bisik suara gaib itu.
“Sembelih leher dua kambing itu... atau benteng tokomu kuhancurkan malam nanti...” ancam suara itu.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggenggam erat telapak tangan kananku hingga terasa sakit.
Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah merayap masuk membungkus jiwaku.
Hari Jumat Kliwon pemagaran gaib dua ekor kambing hitam di puncak bukit kini tinggal menghitung hari.
***