DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: BENANG DI KAWAT PAGAR
Deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar melaju perlahan dan berhenti tepat di depan halaman rumah.
Sinar matahari pagi hari Senin tanggal enam belas Oktober menyinari permukaan teras depan.
Hawa sejuk lereng gunung berubah ketika angin pagi berembus dari arah perbukitan selatan.
Suara burung gereja yang berkicau di dahan pohon mangga tua terdengar tenang di tengah suasana pagi.
Bripka Haryono turun dari sepeda motor bersama seorang petugas penyidik Polsek yang membawa koper besi berisi peralatan sampel.
Pak RT dan Pak Wo melangkah mendampingi kedua petugas kepolisian tersebut menuju teras depan rumah kami.
Aku segera membukakan pintu pagar besi depan untuk menyambut kedatangan petugas kepolisian dan pengurus warga.
"Selamat pagi, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras depan.
"Selamat pagi, Pak Bripka, Pak RT, Pak Wo. Dherek pinarak lenggah teng teras rumiyin, Pak," sambutku ramah.
"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Tadi pagi Pak RT melaporkan ada temuan serat goni di kawat pagar nggih?" tanya Bripka Haryono.
"Inggih, Pak Bripka. Tadi pagi pukul enam kami melihat serat goni tersangkut di kawat kait pagar kayu sebelah," terangku.
"Mari kita periksa lokasi kawat kait pagar kayu pekarangan sebelah itu bersama-sama sekarang, Pak Bripka," ajak Pak Wo.
Bripka Haryono, petugas penyidik, Pak RT, dan Pak Wo berjalan menuju pagar kayu pekarangan sebelah barat.
Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, melangkah pelan di ubin semen koridor samping luar rumah kami.
Petugas penyidik Polsek mendekati kawat kait pagar kayu pekarangan sebelah yang berjarak lima meter dari dinding luar.
Di pilinan kawat besi yang kusam, sehelai serat goni basah terbungkus kerak tanah merah kering tersangkut kencang.
Serat goni itu membiaskan warna cokelat kusam dengan lapisan kerak tanah merah yang mengering kaku.
Petugas penyidik berjongkok, mengarahkan kamera dokumentasi ke kawat kait pagar kayu luar tersebut.
Clek! Clek!
Lampu kilat kamera penyidik menyala dua kali, memotret serat goni berkerak tanah yang menempel di kawat.
Petugas penyidik mengamankan serat goni dan mengikis sampel tanah merah menggunakan kuret stainless steel ke dalam wadah plastik.
"Serat goni niki teksturnya kasar dan terbungkus tanah merah berpasir pekat," terang petugas penyidik.
"Kandungan pasir gunung dan warna merah pada kerak niki serupa dengan sampel tanah dari lorong gua," tambah penyidik.
"Apakah serat goni niki menunjukkan ada bagian karung basah yang sempat tersangkut di kawat pagar, Pak?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Posisi lilitan serat goni niki menunjukkan seperti ada muatan berkerak tanah yang terseret melewati kawat," jawab penyidik.
Bripka Haryono mencatat penjelasan teknis petugas penyidik pada formulir olah TKP.
Raut wajah Bripka Haryono tampak makin sigap di bawah sinar matahari pagi yang kian hangat.
"Hasil sampel serat goni dan kerak tanah niki bakal langsung kami bawa ke laboratorium Polsek," kata Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget atas penanganan dan pemeriksaan cepat dari tim Polsek, Pak Bripka," balasku lega menyimak penjelasan.
"Lalu pripun perkembangan tim penyisiran di kawasan lorong dalam gua kapur pagi niki, Pak Bripka?" tanyaku mengejar kabar.
"Tim gabungan Polsek, Polres, dan petugas Perhutani pagi niki sudah menembus lorong dalam gua," terang Bripka Haryono.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekatku seketika menahan napas mendengarkan penjelasan resmi Bripka Haryono.
"Apakah tim penyisiran menemukan barang bukti baru di lorong dalam gua kapur itu, Pak Bripka?" tanya Dini.
"Petugas bersama petugas Perhutani menemukan gumpalan tanah merah basah dan bekas serakan sabut kelapa," jawab Bripka Haryono.
"Bekas serakan sabut kelapa itu ditemukan di celah tebing batu atas yang mengarah ke puncak bukit," tambah Bripka Haryono.
"Berarti pergerakan Rian makin terdesak naik ke tebing batu atas puncak bukit nggih, Pak Bripka?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Tim penyisiran sekarang mendirikan pos penjagaan tambahan di celah tebing atas bukit," jawab Bripka Haryono.
"Kami juga minta warga Linmas gang tetap siaga menjaga lingkungan selama pos ronda malam berjalan," pesan Bripka Haryono.
"Pasti, Pak Bripka. Kulo dan seluruh anggota Linmas warga siap bersiaga penuh keliling gang sepanjang malam niki," sahut Pak Wo mantap.
"Matur nuwun sanget atas kerja keras Bripka Haryono dan seluruh tim kepolisian," ucapku mengangguk hormat.
Bripka Haryono dan petugas penyidik merapikan koper peralatan sampel, lalu berjalan menuju kendaraan dinas di depan.
Bunyi klip besi koper penyidik terdengar saat koper itu terkatup rapat di udara pagi.
Pak RT dan Pak Wo mengantar keberangkatan dua petugas kepolisian tersebut sampai ke pintu pagar besi depan.
Deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar menjauh, meninggalkan keheningan pagi di halaman rumah kami.
Aku memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh setelah mengantar kepulangan pengurus warga.
Pukul sebelas siang lewat empat puluh menit, hawa hangat matahari menyinari permukaan teras depan.
Langit siang membiaskan warna biru cerah di atas atap rumah-rumah warga perkampungan kami yang tenang.
Aroma asap kayu bakar dari dapur warga sekitar berembus tipis menyatu bersama angin siang.
Dini dan Ranti membantuku merapikan meja makan ruang tengah untuk makan siang keluarga sederhana.
Mangkuk porselen berisi sayur bening kelor hangat dan tempe goreng tersaji di atas meja kayu.
Uap gurih sayur bening membumbung halus di udara dapur, memberikan suasana hangat di dalam rumah.
Dini menyendokkan nasi hangat dan sayur kelor ke piringku dengan gerakan lembut dan sangat telaten.
Ranti menata cangkir teh hangat di sebelah piring nasi, lalu duduk di bangku kayu.
"Bu... kalau tim polisi sudah jaga tebing atas bukit, Rian mboten bisa turun nggih?" bisik Ranti cemas.
"Iya, Ran. Petugas polisi dan petugas Perhutani menjaga sangat ketat seluruh celah tebing atas itu," jawabku menenangkan.
"Syukurlah... Pak Wo dan warga Linmas juga siaga keliling ronda malam nggih, Bu?" ujar Dini menyendokkan nasi hangat.
"Inggih, Din. Pengamanan dari warga gang kita hari niki pancen sangat ketat, teratur, dan sangat tanggap," balasku mengusap bahunya.
"Ibu merasa jauh lebih tenang karena polisi dan Linmas bekerja cepat menangani serat goni di pagar," tambahku tersenyum.
"Inggih, Bu. Ranti juga merasa jauh lebih aman kalau banyak warga Linmas yang keliling ronda di gang," sahut Ranti tersenyum.
Kami bertiga menikmati makan siang bersama dalam ketenangan meja makan keluarga kami yang hangat.
Pukul satu siang lewat dua puluh menit, Pak Wo melangkah masuk ke halaman teras depan rumah kami.
Langkah kaki seksi keamanan warga itu terdengar teratur menapak lantai ubin teras depan.
Pak Wo mengenakan pakaian seragam linmas cokelat tua, membawa papan jepit laporan ronda warga.
Aku segera membukakan pintu depan untuk menyambut kedatangan seksi keamanan warga perkampungan kami.
Selot besi kuningan kuputar dua kali dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian.
"Selamat siang, Bu Sari," sapa Pak Wo menganggukkan kepala di ambang pintu teras.
"Selamat siang, Pak Wo. Wonten kabar punapa dari petugas ronda Linmas siang niki, Pak?" tanyaku menyambut sopan.
"Kulo mau menyampaikan bahwa koordinasi pos ronda siang niki berjalan sangat aman dan tertib," terang Pak Wo.
Pak Wo menyerahkan lembar jadwal piket ronda malam Linmas yang baru diperbarui oleh Pak RT.
"Matur nuwun sanget, Pak Wo. Kertas jadwal ronda niki bakal kulo tempel di dinding dapur," balasku menerima lembar.
"Oh inggih, Bu Sari... tadi waktu kulo kontrol di gapura kayu pintu gang, kulo lihat ada bekas gesekan," ungkap Pak Wo cermat.
"Bekas gesekan apa di gapura pintu gang, Pak Wo?" tanya Dini yang berdiri di sampingku seketika menyimak.
"Di tiang kayu gapura pintu masuk gang, lima belas meter dari batas rumah Bu Sari," terang Pak Wo.
"Bekas gesekan kusam bercampur kerak tanah merah kaku itu menempel di tiang kayu gapura," lanjut Pak Wo.
"Apakah bekas gesekan tanah merah itu masih agak kaku dan berpasir kasar, Pak Wo?" tanya Dini mengejar detail.
"Inggih, Mbak Dini. Gesekannya tampak baru dan teksturnya mirip dengan rontokan tanah bukit," jawab Pak Wo.
"Pak Wo sudah mengabarkan temuan gesekan di gapura itu ke Bripka Haryono mboten?" tanyaku.
"Sampun, Bu Sari. Tadi kulo langsung telepon Bripka Haryono dan foto gesekannya sudah kulo kirim," jawab Pak Wo.
"Bripka Haryono menyampaikan instruksi apa, Pak Wo?" tanya Ranti cemas memegang lengan kakaknya.
"Bripka Haryono minta tiang gapura itu dijaga dan tim penyidik bakal cek lokasi sore niki," terang Pak Wo.
"Pak Wo dan anggota Linmas juga bakal terus siaga mengawasi jalur luar gang niki," tambah Pak Wo mantap.
"Matur nuwun sanget atas kesigapan Pak Wo dan warga Linmas dalam menjaga keamanan lingkungan," balasku lega.
"Sami-sami, Bu Sari. Tolong pintu teras tetap terkunci rapat dan jangan menggeser ganjal pintu," pesan Pak Wo.
Pak Wo merapikan papan jepit Laporan Linmas, lalu melangkah meninggalkan teras rumah menuju jalan gang.
Aku dan Dini segera memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh dari dalam.
Bunyi denting besi kunci mengunci rapat pintu teras depan rumah kami.
Kertas jadwal piket Linmas dari Pak Wo itu kutaruh rapi di atas meja kayu teras sebagai pengingat.
Kami bertiga berjalan menuju koridor samping, menatap ganjal kayu jati yang tertancap kokoh di bawah pintu.
Sinar matahari siang menyusup dari balik celah ventilasi atas, menerangi tiang besi selokan koridor luar.
Garis kuning pita pengaman Polsek terikat kencang di tiang besi selokan luar yang terlihat dari balik jendela.
Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, menatap dinding semen lorong samping yang hening.
Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.
Pukul delapan malam lewat dua puluh menit, suasana jalan gang depan rumah kami terdengar ramai.
Suara langkah kaki warga Linmas dan ketukan kentungan kayu ronda malam terdengar teratur di kejauhan.
Tung... tung... tung...
Bunyi kentungan kayu ronda malam itu bergema halus, menandai kesiapsiagaan warga menjaga lingkungan gang.
Aku, Dini, dan Ranti duduk tenang di sofa ruang tengah sembari mendengarkan ketukan kentungan luar.
Lampu ruang tengah dan koridor samping kubiarkan menyala terang untuk menerangi setiap sudut rumah.
Pukul sembilan malam lewat lima belas menit, suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu teras depan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan tangan di daun pintu kayu depan membuat kami bertiga berdiri dari sofa kayu.
Aku melangkah mendekati pintu depan tanpa menggeser kunci selot besi bagian atas pintu teras.
"Sinten teng luar?" tanyaku penuh kewaspadaan dari balik daun pintu kayu yang tertutup rapat.
"Kulo, Bu Sari... Pak RT bersama Pak Wo," sahut suara Pak RT dengan nada tenang dari luar teras.
Aku menghela napas lega, segera memutar anak kunci kuningan dan menggeser selot besi dua kali.
Kreeek...
Daun pintu kayu terbuka perlahan, memperlihatkan Pak RT dan Pak Wo yang berdiri rapi di teras depan.
Pak Wo mengenakan seragam linmas cokelat tua, memegang lampu senter besar di tangan kirinya.
Pak RT membawa lembar papan jepit catatan ronda warga di bawah sinar lampu teras yang terang.
"Selamat malam, Pak RT, Pak Wo. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku ramah membukakan pintu.
"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Kami cuma mampir sebentar mau menyampaikan kabar perkembangan ronda," ujar Pak RT ramah.
Pak RT dan Pak Wo mendudukkan diri di kursi rotan teras depan rumah kami.
Dini keluar membawa dua gelas air teh hangat, meletakkannya perlahan di atas meja kayu teras.
"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ucap Pak Wo tersenyum tipis menerima gelas dari Dini.
"Pak RT, wonten kabar baru dari tim penyisiran bukit malam niki nggih?" tanyaku mengejar informasi.
"Inggih, Bu Sari. Tadi pukul delapan malam Bripka Haryono memberi kabar lewat telepon ke pos ronda," terang Pak RT.
"Petugas pos penjagaan di tebing atas menemukan barang bukti baru di celah bebatuan tebing," ungkap Pak RT cermat.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekat pintu teras seketika menyimak dengan cermat penjelasan Pak RT.
"Barang bukti apa yang berhasil ditemukan petugas pos penjagaan di celah bebatuan tebing itu, Pak RT?" tanya Dini penasaran.
"Petugas menemukan serpihan sabut kelapa kering dan gumpalan tanah merah yang menempel kencang," jawab Pak RT.
"Serpihan sabut kelapa itu bernoda tanah merah yang teksturnya sangat mirip dengan tanah merah pada bekas gesekan di gapura," tambah Pak RT.
"Berarti Rian memang bergerak makin tinggi melewati celah bebatuan tebing itu nggih, Pak RT?" tanya Pak Wo menyimak.
"Inggih, Pak Wo. Bripka Haryono memastikan penyisiran gabungan bakal berlanjut besok pagi di tebing puncak," jawab Pak RT.
Aku mengangguk-angguk pelan, mencerna informasi resmi kepolisian yang disampaikan Pak RT di teras depan.
Penemuan serpihan sabut kelapa di tebing puncak membuat penyisiran kepolisian semakin terarah.
"Matur nuwun sanget atas informasi resminya dari Polsek, Pak RT. Kami bertiga merasa sangat tenang mendengar seluruh perkembangan niki," sahutku lega.
"Sami-sami, Bu Sari. Kami warga Linmas bakal terus keliling menjaga gang sampai fajar," pesan Pak Wo mantap.
"Pasti, Pak Wo. Tolong kalau ada hal mencurigakan sekecil apa pun langsung beri tahu kami nggih," balasku mengangguk.
Pak RT dan Pak Wo berpamitan, lalu melangkah keluar menyusuri jalan gang yang diterangi lampu ronda.
Aku dan Dini segera masuk ke dalam ruang tengah, memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh.
Pukul sepuluh malam lewat tiga puluh menit, hawa dingin malam makin pekat menembus celah ventilasi.
Aku, Dini, dan Ranti bersiap untuk tidur di kamar tidur utama demi menjaga keselamatan bersama.
Ganjal kursi kayu jati dipasang kencang di belakang pintu kamar utama setelah kunci kuningan diputar dua kali.
Di atas tempat tidur kamar utama, Dini dan Ranti berbaring merapat di bawah selimut tebal.
Suara langkah kaki warga Linmas yang sesekali melintas di jalan gang luar memberikan rasa aman.
"Bu... kalau serpihan sabut kelapa sudah ditemukan di tebing puncak, Rian pasti makin terdesak nggih?" bisik Ranti berbaring.
"Iya, Ran. Besok pagi tim gabungan polisi bakal menyisir seluruh tebing puncak bersama petugas Perhutani," jawabku pelan.
"Ibu bangga sama kalian berdua yang selalu tenang dan saling menguatkan di rumah," tambahku memegang tangan mereka.
"Inggih, Bu. Kami berdua di rumah juga bakal tetap sangat disiplin mengunci seluruh pintu rapat-rapat," janji Dini mengangguk.
Kami bertiga membaca doa bersama dalam bisikan lembut sebelum memejamkan mata di kamar tidur utama.
Keheningan malam Selasa menyelimuti perkampungan gang kami dengan hawa dingin lereng gunung yang tenang.
Cahaya fajar hari Selasa tanggal tujuh belas Oktober membias perlahan menembus kaca jendela kamar.
Suara burung gereja berkicau riuh di dahan pohon mangga tua, menyambut fajar hangat yang damai.
Pukul enam pagi, aku memutar anak kunci kuningan kamar utama dan melangkah keluar menuju koridor samping.
Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, memandangi pintu samping yang masih tertutup ganjal kayu jati.
Ganjal kayu jati tebal di bawah pintu samping masih tertancap kokoh dan terkunci selot dari dalam.
Aku mendekati jendela kayu koridor samping, mengintip melalui celah kaca ke arah engsel terali ventilasi luar.
Garis kuning pita pengaman Polsek masih terikat kencang di tiang besi selokan koridor luar.
Di lekukan engsel besi terali ventilasi luar, serpihan sabut kelapa kering tersangkut tipis.
Serpihan sabut kelapa itu terbungkus kerak tanah merah basah yang menempel kencang di besi engsel.
"Bu... coba lihat di engsel besi terali ventilasi luar itu, ada serpihan sabut kelapa tersangkut!" bisik Dini menunjuk.
"Inggih, Din. Serpihan sabut kelapa berkerak tanah merah itu tersangkut kencang di engsel besi," sahutku menatap cermat.
Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, memandangi serpihan sabut kelapa di engsel.
Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.
---