Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Langit membalikkan badannya dengan anggun. Rambut panjangnya berayun seiring dengan langkah kakinya yang mantap meninggalkan ruangan suite tersebut.
Ia berjalan menyusuri koridor hotel dengan kepala tegak, membiarkan kotak beludru hadiah jam tangan tadi tertinggal di atas meja lobi suite sebagai tanda sedekah terakhirnya untuk sang mantan kekasih.
Saat melangkah keluar dari lobi hotel menuju mobilnya yang sudah menunggu, angin malam Jakarta menerpa wajahnya.
Tidak ada setetes pun air mata yang jatuh di pipi Langit Prita Dewanta.
Fokusnya kini telah kembali sepenuhnya pada satu hal.
Besok pagi adalah peluncuran proyek Starlight. Dunia akan melihatnya bersinar di puncak karier, sendirian, tanpa beban dari pria parasit yang tidak tahu diri.
Langit masuk ke dalam mobil, menutup pintu, dan berkata pada sopirnya, "Jalan. Kita kembali ke kantor."
*
*
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Jakarta, membiaskan warna jingga kemerahan yang memantul di dinding kaca ruang kerja Langit Prita Dewanta.
Langit bahkan belum sempat memejamkan mata barang satu jam pun.
Gaun formal yang ia kenakan semalam masih melekat di tubuhnya, kini tampak sedikit kusut, senada dengan suasana hatinya yang membeku.
Namun, belum sempat otaknya memproses rasa perih akibat pengkhianatan Galang dan Sarah, keheningan pagi itu pecah oleh dering telepon darurat yang melengking nyaring.
Layar ponselnya berkedip merah, menampilkan nama Prasetyo, Kepala Teknis Lapangan Proyek Starlight.
Jantung Langit mencelos. Pras tidak akan pernah meneleponnya sepagi ini, langsung ke jalur pribadi, kecuali jika langit benar-benar runtuh.
"Langit di sini. Ada apa, Pras?" suara Langit terdengar serak namun mencoba tetap tenang.
"Bu Langit, kita, kita dalam masalah besar," suara Prasetyo di seberang sana bergetar hebat, dipenuhi kepanikan yang teramat sangat.
"Sistem data pusat Proyek Starlight diretas total sejak pukul tiga pagi tadi. Keamanan berlapis kita dijebol dari dalam, yang lebih buruk, seluruh salinan data penting kabarnya sudah jatuh ke tangan pesaing utama kita"
Langit seketika berdiri dari kursi kebesarannya. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya menguap begitu saja, digantikan oleh sengatan adrenalin yang dingin.
"Bagaimana bisa? Keamanan kita menggunakan sistem militer, Pras! Siapa yang memiliki akses masuk?" Tanya Langit.
"Seseorang menggunakan akun akses internal dengan otoritas tingkat tinggi, Bu. Akun yang memegang kunci kendali utama" Pram men jeda kalimatnya dengan napas memburu.
"Akun milik Sekretaris Pribadi Anda, Sarah" Lanjutnya.
Petir rasanya menyambar tepat di atas kepala Langit.
Potongan-potongan kejadian semalam langsung berputar di benaknya.
Galang yang mendadak mendekati Sarah, ucapan Galang tentang 'menguasai aset Dewanta Group', dan betapa mudahnya Sarah menyerah saat dipecat semalam.
Itu bukan sekadar perselingkuhan biasa. Itu adalah konspirasi yang dirancang dengan matang untuk menghancurkannya di titik tertinggi kariernya.
Galang dan Sarah telah memanfaatkan kesibukannya untuk mencuri mahakarya terbesarnya.
Belum sempat Langit membalas ucapan Bram, ponsel di tangannya bergetar tanpa henti, rentetan notifikasi berita bisnis masuk bertubi-tubi.
“Breaking News, Cetak Biru Proyek Starlight Bocor, Masa Depan Dewanta Group Dipertanyakan!” salah satu berita yang masuk pertama kali di lihat oleh langit dengan jantung yang berdegup kencang.
“Skandal Kebocoran Data Terbesar: Investor Asing Proyek Starlight Tarik Diri Massal!” sungguh hal yang membuat Langit seakan tidak bisa bernafas dengan normal.
Kepunahan massal para investor telah dimulai. Kepanikan menyebar seperti virus di pasar global. Ini darurat, ini berbahaya, dan saat ini Langit benar-benar tak percaya.
Langit menyalakan layar monitor besar di dinding ruangannya, menampilkan grafik pergerakan saham Dewanta Group (DWNT).
Kurva berwarna merah itu menukik tajam ke bawah, terjun bebas hingga menyentuh batas minimal hanya dalam waktu tiga puluh menit sejak pasar pra-pembukaan dimulai.
Miliaran rupiah aset perusahaannya menguap dalam hitungan menit, tangan langit semakin gemetar.
Tak lama kemudian, Pintu ruang kerjanya tiba-tiba didobrak tanpa ketukan.
Hendra Dewanta, paman Langit sekaligus perwakilan dari Dewan Komisaris, melangkah masuk dengan wajah merah padam karena amarah, diikuti oleh beberapa anggota dewan lainnya.
"Langit! Apa-apaan ini?!" bentak Hendra sambil melemparkan seonggok tablet digital ke atas meja kerja Langit.
"Proyek kebanggaanmu, proyek yang katamu akan membawa kita ke pasar global, sekarang menjadi rongsokan tak berharga!, nilai saham kita hancur! Investor dari Eropa baru saja meneleponku, mereka membatalkan komitmen pendanaan senilai lima triliun rupiah!" Teriaknya marah.
Langit menarik napas dalam-dalam, mengunci emosinya rapat-rapat di dalam kotak besi di benaknya.
"Paman Hendra, tenanglah, ini adalah serangan siber yang terencana. Saya sudah meminta tim IT forensik untuk_"
"Tenang kamu bilang?!" potong Hendra dengan suara menggelegar.
"Data itu bocor melalui akun sekretaris pribadimu, Sarah! Wanita yang kamu bawa masuk ke ring satu perusahaan tanpa persetujuan penuh dewan! Ini bukan sekadar serangan luar, Langit. Ini adalah kelalaian fatal dari menajemenmu! Kamu terlalu sibuk mengurus rencana pernikahan megahmu dengan arsitek itu sampai menutup mata pada keamanan aset paling berharga perusahaan!"
Tuduhan itu menghantam Langit tepat di ulu hati, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Ia mengepalkan tangannya di balik meja, menyembunyikan getaran amarah dan kekecewaan yang bergejolak.
"Pernikahan itu sudah dibatalkan," jawab Langit dengan nada suara yang teramat dingin dan tajam.
"Dan saya pastikan, siapapun yang berada di balik pengkhianatan ini akan membusuk di penjara." Lanjut langit, dengan dendam kesumat yang ada di dadanya saat ini.
Hendra tertawa sinis, tidak peduli dengan urusan asmara keponakannya.
"Sudah terlambat untuk retorika, Langit, kepercayaan pasar sudah runtuh, Pagi ini, seluruh anggota Dewan Komisaris telah mengadakan rapat darurat, kami menilai kamu telah gagal dan lalai dalam menjaga stabilitas serta aset strategis Dewanta Group."
Hendra melangkah lebih dekat, menatap Langit dengan pandangan mengintimidasi.
"Atas nama Dewan Komisaris, aku menyampaikan desakan resmi, kamu harus mundur dari jabatan CEO hari ini juga, kita butuh wajah baru untuk menenangkan investor, atau perusahaan ini akan bangkrut sebelum senja." Tatapan Hendra begitu tajam, berusaha mengintimidasi mangsanya.
Ruangan itu mendadak menjadi begitu sunyi. Langit menatap satu per satu wajah para komisaris yang berdiri di belakang pamannya.
Mereka yang semalam bertepuk tangan paling keras atas keberhasilan Proyek Starlight, kini menjadi orang pertama yang memegang pisau untuk menusuk punggungnya.
"Kalian benar-benar hebat!, disaat aku terpuruk dan membutuhkan support kalian, malah pisau belati yang kalian berikan?" Ucap langit tanpa meminta jawaban dari orang-orang yang memojokkannya sekarang.
Posisinya yang semalam berada di puncak dunia, kini terancam runtuh ke dasar jurang terdalam.
Namun, Langit Prita Dewanta bukanlah wanita yang mudah menyerah pada badai.
Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke mata pamannya dengan binar keyakinan yang mengerikan.
Perang baru saja dimulai.
Yuhuuu, yang sudah tegang yuk mana komennya, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.