NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:684
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pandangan dari Dapur dan Bengkel Ukir: "Kapan Tenangnya Ini Rumah?"

Di saat Martha sedang asyik merampungkan bab-bab terakhir novelnya di teras, dan Adnan sibuk mondar-mandir merapikan galeri, suasana di area belakang Rumah Joglo Setiawan justru punya cerita lain yang gak kalah seru.

Di bawah rindangnya pohon mangga, Mbok Jum sedang duduk menumbuk bumbu dapur di atas lesung batu kecil, sementara Paklik Harjo duduk di balai-balai bambu sambil menyeruput kopi hitam panas yang mengepul. Mata kedua tetua dusun itu tidak lepas mengawasi gerak-gerik Adnan dari kejauhan.

"Hadeh, Paklik..." gerutu Mbok Jum pelan sambil berbisik, geleng-geleng kepala. "Itu Den Adnan kenapa ya semenjak kedatangan perempuan bule itu, kerjanya kok jadi sering salah tingkah sendiri? Kemarin hampir saja salah ngecat daun pintu galeri pakai warna merah muda gara-gara ngeliat Nduk Martha senyum dari teras."

Paklik Harjo terkekeh pelan, meniup kopi hitamnya sebelum menyeruputnya sedikit. "Ya wajar, Mbok. Namanya juga manten baru, apalagi perjuangannya kemarin kan berat banget. Tapi ya gitu, sejak si Anna—temannya yang kemarin sempat mampir itu—datang bikin onar sebentar, si Adnan langsung kelihatan kayak ayam sayur kepanasan."

"Ah, si Anna itu memang anak bandel dari kota!" cibir Mbok Jum sengit. "Untung aja Nduk Martha itu orangnya cerdas dan tenang. Kalau dapat perempuan yang hobi ngomel, bisa-bisa ambruk itu pendopo bukan karena utang bank, tapi karena pusing ngurusin drama rumah tangga!"

Tanpa mereka sadar, dari arah lorong samping galeri, Adnan berjalan mendekati area dapur dengan langkah cepat. Wajah pria itu tampak serius, membawa setumpuk nota kayu pesanan yang harus diperiksa. Tapi begitu melihat Mbok Jum dan Paklik Harjo sedang berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya, langkah Adnan langsung berhenti.

Adnan berdehem pelan. "Ehem... Mbok, Paklik. Ada yang salah sama laporan kayu ukir yang saya pegang?" tanya Adnan dengan nada kikuk, merasa jadi bahan gosip dua orang paling senior di rumah itu.

Paklik Harjo langsung memasang muka datar tanpa dosa, pura-pura fokus meniup kopinya. "Oh, gak ada apa-apa, Den. Cuma lagi ngomongin... itu, genting di sayap barat ada yang mau bocor kalau musim hujan nanti."

Mbok Jum malah nyengir lebar, sengaja menggoda Adnan. "Genting yang bocor apa hati njenengan yang kemarin sempat hampir copot pas didatangi Mbak Anna, Den? Hati-hati lho, jadi kepala rumah tangga itu harus kuat mental, jangan gampang keringat dingin cuma gara-gara mantan rekan kerja numpang lewat!"

Adnan mengelus tengkuknya yang mendadak gatal, senyumnya kecut. "Duh, Mbok... ya bukan begitu. Namanya juga kaget, tiba-tiba nyelonong tanpa salam," bela Adnan membela diri, membuat Mbok Jum dan Paklik Harjo malah tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, di teras depan, Martha yang tidak sengaja mendengar gelak tawa dari arah dapur melirik ke sana. Ia melihat suaminya sedang di-roasting habis-habisan oleh Mbok Jum dan Paklik Harjo. Sudut bibir Martha terangkat membentuk senyuman geli.

Ia menutup laptopnya sejenak, bangkit dari kursi, lalu berjalan menghampiri mereka sambil membawa sepiring pisang goreng hangat.

"Ada apa nih? Kok seru banget kelihatannya?" sapa Martha ramah, ikut bergabung duduk di balai-balai bambu bersama Mbok Jum dan Paklik Harjo.

Adnan langsung menghela napas lega seolah mendapat penyelamat dari interogasi terselubung dua tetua dusun itu. "Ini lho, Martha. Mbok Jum sama Paklik Harjo lagi kompak ngeledekin saya."

Mbok Jum mencolek lengan Martha pelan sambil terkekeh. "Biarin aja, Nduk. Sesekali suami njenengan ini digodain biar gak terlalu tegang mukanya. Biar tahu rasa, jadi pemimpin yayasan itu gampang, tapi ngadepin istri pintar kayak njenengan kan butuh tenaga ekstra!"

Martha tertawa lepas, merangkul lengan Adnan pelan di hadapan mereka. "Tenang saja, Mbok, Paklik. Kalau Adnan mulai aneh-aneh atau panik gak jelas lagi, biar saya sendiri yang jewer telinganya."

Suasana sore di balai-balai belakang joglo itu seketika dipenuhi tawa hangat. Jauh dari bayangan ketegangan kultural yang dulu sempat menghantui, Rumah Joglo Setiawan kini benar-benar telah menjadi rumah yang hidup, penuh canda tawa, dan kebersamaan yang tulus.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!