NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 — Gerakan di Bayangan

Sebulan setelah pertempuran Jembatan Aldenwood, sesuatu yang tidak biasa mulai terjadi di sepanjang garis pertahanan Sylvaris—bukan serangan terbuka, tapi sesuatu yang lebih halus dan mengkhawatirkan.

"Ada yang aneh dengan pola serangan Ravharn belakangan ini," kata Kapten Orwin dalam briefing pagi, menunjuk pada catatan yang telah dikumpulkan selama beberapa minggu terakhir. "Serangan-serangan kecil, seolah menguji pertahanan kita, tapi tidak pernah cukup besar untuk benar-benar mengancam. Seperti mereka mencari sesuatu, bukan mencoba menembus."

Ardan memperhatikan pola itu dengan seksama, insting yang telah berkembang sejak menjadi sersan mulai bekerja. "Mungkin mereka mencari titik lemah spesifik. Atau mungkin..." Ia ragu sejenak, mempertimbangkan apakah harus mengungkapkan kecurigaannya secara terbuka.

"Atau mungkin?" desak Orwin.

"Atau mungkin mereka mencari sesuatu yang lebih spesifik daripada sekadar titik lemah pertahanan. Seseorang."

Keheningan yang berat menyelimuti ruangan. Beberapa perwira senior bertukar pandang, dan Ardan menyadari bahwa ia mungkin telah mengatakan sesuatu yang lebih dekat dengan kebenaran daripada yang ia sadari.

---

Malam itu, Elowen mengundang Ardan untuk pertemuan mendesak di luar kemah utama, jauh dari telinga yang mungkin mendengarkan.

"Aku pikir kau benar," katanya tanpa basa-basi begitu mereka bertemu. "Pengintai kami telah melaporkan sesuatu yang mengkhawatirkan—unit khusus Ravharn, berbeda dari pasukan reguler mereka, telah terlihat melakukan pengintaian yang sangat spesifik di sekitar posisi resimen kalian."

"Mengintai kami secara khusus?"

"Aku percaya begitu." Elowen menatapnya dengan kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan. "Ardan, aku pikir seseorang telah melaporkan penyelidikanmu tentang Majelis Abu kepada pihak yang salah. Aku tidak yakin apakah ini datang dari sisi Ravharn, atau dari dalam Valdren sendiri yang bekerja sama dengan mereka yang ingin penyelidikan ini dihentikan."

Dingin yang familiar menjalar di tulang punggung Ardan. "Kau pikir mereka mengincar aku?"

"Aku pikir mereka mengincar siapa pun yang tahu terlalu banyak. Dan aku khawatir kau, dan mereka yang dekat denganmu, mungkin telah menjadi target." Elowen menyerahkan sebuah gulungan kecil. "Informasi ini, dari sumber-sumber Sylvaris, mungkin bisa membantu kalian tetap waspada. Pola pergerakan yang kami amati, kemungkinan titik-titik di mana mereka mungkin mencoba sesuatu yang lebih drastis."

---

Ardan membawa informasi itu kembali ke regunya, memutuskan bahwa transparansi lebih penting daripada melindungi mereka dari kebenaran yang mungkin berbahaya.

"Jadi kita semua mungkin dalam bahaya sekarang?" tanya Bryn, suaranya campuran kekhawatiran dan kemarahan yang terkendali.

"Kemungkinan," jawab Ardan jujur. "Aku tidak ingin menyembunyikan ini dari kalian. Kalian berhak tahu risikonya."

"Apa yang bisa kita lakukan?" tanya Ilsa.

"Lebih waspada. Jangan pernah sendirian terlalu lama, terutama saat patroli malam. Perhatikan wajah-wajah asing, pola yang tidak biasa." Ardan menatap setiap anggota regunya. "Dan yang paling penting—jika sesuatu terjadi padaku, jangan berhenti mencari kebenaran. Teruskan apa yang telah kita mulai."

"Jangan bicara seperti itu," potong Tobin cepat, wajahnya tegang. "Tidak ada yang akan terjadi padamu."

"Aku berharap begitu. Tapi aku juga realistis, Tobin. Kita menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar Ravharn sekarang."

Serena, yang selama ini menjadi salah satu suara paling rasional dalam kelompok, menambahkan perspektifnya. "Ayahku selalu bilang, informasi adalah senjata paling berharga dalam politik istana. Mungkin kita perlu mulai menyimpan salinan dari semua yang telah kita temukan, di tempat yang aman, di luar jangkauan siapa pun yang mungkin ingin membungkam kita."

"Ide bagus," kata Ardan. "Kael, bisakah kau menemukan cara untuk mengenkripsi atau menyembunyikan catatan kita? Sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh kita?"

"Aku bisa mencoba," jawab Kael, matanya berkilat dengan tantangan baru. "Ayahku dulu mengajariku beberapa kode sederhana untuk berburu, menandai jalur tanpa memberi tahu pemburu lain. Mungkin bisa kuadaptasi."

---

Beberapa hari kemudian, kekhawatiran mereka terbukti memiliki dasar yang nyata. Selama patroli malam rutin, Farin dan seorang rekrut baru hampir diserang oleh sekelompok kecil penyerang tak dikenal, bukan seragam Ravharn yang biasa, tapi pakaian gelap tanpa lambang yang jelas.

"Mereka menyerang dengan presisi yang aneh," lapor Farin setelah kembali dengan luka gores di lengannya, tapi selamat berkat kewaspadaan ekstra yang telah mereka terapkan. "Seperti mereka tahu persis rute patroli kami. Dan ketika mereka menyadari kami sudah siap, mereka langsung mundur, tidak mencoba mempertahankan posisi seperti prajurit biasa."

"Pembunuh bayaran," gumam Orwin ketika mendengar laporan itu, wajahnya semakin serius. "Bukan taktik militer standar Ravharn."

Malam itu, keamanan di sekitar kemah Resimen Ketiga diperketat secara signifikan, dan Ardan tidak bisa mengabaikan kenyataan pahit bahwa penyelidikannya, betapapun hati-hati ia mencobanya, telah menempatkan dirinya dan orang-orang yang ia cintai dalam bahaya yang semakin nyata.

Ia menatap sabit tua, pedang Halric, dan liontin Elowen yang tersimpan bersama, mempertimbangkan berat dari jalan yang telah ia pilih. Mundur bukan lagi pilihan—terlalu banyak yang telah mereka ketahui, terlalu banyak yang telah dipertaruhkan.

Yang tersisa hanyalah maju dengan lebih hati-hati, lebih waspada, dan dengan tekad yang semakin mengeras bahwa kebenaran, betapapun berbahayanya untuk dicari, harus pada akhirnya terungkap.

---

Tiga malam setelah serangan terhadap Farin, Ardan sendiri menjadi target.

Ia sedang dalam perjalanan kembali ke tendanya setelah pertemuan larut malam dengan Orwin, berjalan sendirian di jalur yang biasanya sepi di dalam kemah. Insting yang telah ia kembangkan sejak Sungai Aldis—kesadaran akan sekitarnya yang telah menyelamatkan nyawanya berkali-kali—membuatnya merasakan sesuatu yang tidak beres sebelum ia benar-benar melihatnya.

Bayangan bergerak di sudut matanya, terlalu cepat dan terlalu senyap untuk prajurit biasa.

Ardan berputar tepat saat sebuah pisau melesat ke arah tempat kepalanya berada sepersekian detik sebelumnya, menancap di batang pohon di belakangnya dengan suara tajam.

"Siapa di sana?!" Ia menarik pedang Halric, matanya menyapu kegelapan.

Dua sosok berpakaian gelap muncul dari bayangan, gerakan mereka terlatih dan mematikan, jauh berbeda dari prajurit reguler mana pun yang pernah Ardan hadapi. Tidak ada seragam, tidak ada lambang, hanya kain hitam yang menutupi wajah mereka sepenuhnya.

"Sersan Ardan," kata salah satu dari mereka, suaranya teredam oleh kain penutup wajah, aksen yang sulit Ardan tempatkan. "Kau seharusnya berhenti bertanya ketika diberi kesempatan."

"Siapa yang mengirim kalian?"

Tidak ada jawaban selain serangan cepat yang memaksa Ardan mundur, pedangnya baru saja berhasil menangkis serangan pertama.

---

Pertarungan itu berbeda dari apa pun yang pernah Ardan alami di medan perang terbuka. Kedua penyerang ini bergerak dengan presisi seorang pembunuh terlatih, bukan prajurit yang mengandalkan kekuatan dan jumlah. Setiap serangan mereka terarah, mematikan, dirancang untuk membunuh secepat mungkin.

Ardan mengandalkan setiap pelajaran yang telah ia kumpulkan—dari Brogan, dari Halric, dari pengalaman pahit di garis depan—untuk bertahan hidup. Ia menangkis, menghindar, mencari celah dalam serangan mereka yang tampak sempurna.

Salah satu penyerang mencoba menyerang dari belakang sementara yang lain menyerang dari depan, taktik jepit yang hampir berhasil jika Ardan tidak mendengar suara langkah kaki yang nyaris tak terdengar di belakangnya di detik terakhir.

Ia berputar, menggunakan momentum tubuhnya untuk menghindari serangan dari belakang sambil secara bersamaan menangkis serangan dari depan, gerakan yang lebih mengandalkan insting daripada teknik yang diajarkan secara formal.

"BANTUAN!" teriaknya, menyadari bahwa ia membutuhkan lebih dari sekadar keterampilannya sendiri untuk bertahan melawan dua pembunuh terlatih sekaligus.

Teriakannya terdengar, dan dalam hitungan detik, suara langkah kaki berlari mendekat dari berbagai arah—penjaga yang telah diperketat sejak serangan terhadap Farin.

Menyadari bahwa mereka akan segera tertangkap, kedua penyerang itu mundur dengan cepat, menghilang ke dalam kegelapan hutan sekitar kemah sebelum bala bantuan benar-benar tiba, meninggalkan Ardan berdiri sendirian, napas terengah-engah, dengan luka gores di lengan dan sisi tubuhnya, tapi hidup.

---

"Kau baik-baik saja?" Tobin adalah yang pertama mencapainya, wajahnya pucat oleh ketakutan, diikuti Kael dan beberapa prajurit lain yang mendengar teriakan.

"Aku baik-baik saja," jawab Ardan, meski suaranya sedikit bergetar dari adrenalin yang masih mengalir deras. "Mereka tahu namaku. Mereka mengincar aku secara spesifik."

Kapten Orwin, yang segera dipanggil, tiba beberapa menit kemudian, wajahnya campuran kekhawatiran dan kemarahan yang terkendali.

"Ini konfirmasi bahwa kecurigaan kita benar," katanya setelah mendengar laporan lengkap Ardan. "Seseorang di tingkat yang sangat tinggi menginginkanmu diam, Sersan. Diam secara permanen."

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Orwin terdiam untuk waktu yang lama, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. "Aku akan meningkatkan keamanan di sekitarmu secara signifikan. Tapi lebih dari itu, aku pikir sudah waktunya untuk melaporkan ini langsung ke jenderal, bukan hanya melalui saluran normal yang mungkin telah disusupi."

"Jenderal Roderic?"

"Ya. Aku telah mendengar bahwa ia adalah salah satu dari sedikit perwira senior yang belum tersentuh oleh korupsi yang mungkin telah menyebar melalui pangkat-pangkat lebih tinggi. Jika ada seseorang yang bisa dipercaya dengan informasi ini, itu dia."

---

Malam itu, dengan keamanan tambahan mengelilingi tenda mereka, regu Ardan berkumpul dalam suasana yang jauh lebih tegang daripada biasanya.

"Kita hampir kehilangan Sersan kita," gumam Aldous, salah satu rekrut baru, wajahnya masih menunjukkan syok dari kejadian malam itu. "Ini benar-benar terjadi. Bukan hanya cerita."

"Ini benar-benar terjadi," konfirmasi Serena, wajahnya keras dengan tekad. "Dan itu berarti kita berada di jalur yang benar. Mereka tidak akan mencoba membunuh Ardan jika kita tidak mendekati sesuatu yang penting."

"Itu bukan penghiburan yang menenangkan," gumam Ress, yang meski masih berduka atas Davo, telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lambat namun stabil dalam beberapa minggu terakhir.

Ardan menatap regunya, orang-orang yang telah menjadi keluarga baginya sejak Karhold, dan merasakan beban tanggung jawab yang baru—bukan hanya melindungi mereka dari musuh di medan perang, tapi sekarang juga dari musuh yang tersembunyi, yang bahkan lebih berbahaya karena tidak terlihat.

"Aku tidak akan menyalahkan siapa pun jika kalian ingin mundur dari penyelidikan ini," katanya akhirnya. "Risikonya sudah menjadi sangat nyata malam ini."

Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengangkat tangan untuk mundur. Sebaliknya, tekad di mata mereka semakin mengeras, seolah percobaan pembunuhan itu, alih-alih menakuti mereka, justru mengonfirmasi bahwa apa yang mereka cari benar-benar layak untuk terus diperjuangkan.

"Kita sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang," kata Kael, mengucapkan apa yang tampaknya menjadi pemikiran seluruh regu. "Kita akan menyelesaikan ini, bersama-sama, apa pun risikonya."

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!