Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 30 - Setelah Jesselyn Ditemukan
Malam bergulir semakin larut dalam keheningan, setelah pintu kamar Davion dibanting keras pria itu mengurung diri di dalam tanpa keluar lagi.
Aluna hanya mampu duduk terpaku di sofa ruang tengah dengan tubuh membeku. Televisi di depannya masih menyala tanpa suara, menampilkan gambar-gambar yang sama sekali tidak ia lihat. Pandangannya terus tertuju pada pintu kamar Davion yang tertutup rapat, menunggu dengan harapan kecil bahwa mungkin beberapa menit lagi Davion akan keluar.
Mungkin pria itu hanya sedang lelah karena pekerjaan, mungkin setelah emosinya reda mereka bisa bicara.
Namun menit demi menit berlalu, satu jam berganti dua jam. Hingga akhirnya rasa kantuk menyeret tubuh Aluna yang lelah dan hati yang terlalu penat untuk terus terjaga. Dengan masih memeluk bantal kecil di dadanya, Aluna tertidur meringkuk di sofa.
Pagi datang dan Aluna terbangun dengan tubuh pegal dan leher kaku. Napasnya tercekat sesaat ketika mengingat apa yang terjadi semalam. Refleks, pandangannya langsung tertuju pada pintu kamar Davion.
Dan ternyata masih tertutup juga. Tidak ada tanda-tanda pria itu keluar semalaman.
Tatapan Aluna perlahan meredup. Dengan langkah pelan, ia bangkit dari sofa dan mulai menjalankan rutinitas paginya seperti biasa.
Menyiapkan sarapan untuk Davion seolah tak ada yang berubah. Seolah semalam bukan malam di mana suaminya mengabaikannya seperti orang asing.
Sebelum pergi Aluna menulis catatan kecil dan meletakkannya di samping piring Davion.
'Hari ini aku ada pertemuan pianis di Grand Arcadia Hotel. Aku mungkin pulang agak sore. Sarapanmu jangan lupa dimakan.'
Tulisan itu sederhana saja, sama seperti hari-hari sebelumnya. Sama seperti seorang istri biasa yang menuliskan pesan untuk suaminya.
Setelah menatap catatan itu beberapa detik, Aluna menarik napas panjang lalu mengambil tasnya dan pergi.
Hari ini ia menghadiri pertemuan besar komunitas musisi klasik dan para pianis profesional. Sebuah acara formal yang mempertemukan banyak pengajar, performer, hingga pemilik institusi seni dari berbagai tempat. Tempat seperti inilah yang Aluna butuhkan sekarang.
Karena diam-diam sejak beberapa minggu terakhir, Aluna mulai memikirkan masa depannya sendiri.
Ia harus mulai membangun koneksi. Mulai mencari jalan untuk hidupnya sendiri.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aluna sadar bahwa ia tak bisa terus hidup bergantung pada siapa pun. Tidak pada keluarga Myles, tidak pula pada Davion.
Jika suatu hari nanti ia benar-benar harus pergi dari semuanya setidaknya ia tidak akan pergi dengan tangan kosong.
Di ballroom hotel yang luas dan nampak elegan, Aluna berdiri di antara banyak wajah yang familiar. Senyuman dan sapaan hangat datang dari berbagai arah saat orang-orang mengenalinya.
“Aluna, sudah lama sekali tidak melihat mu.”
“Kamu makin cantik sekarang, astaga!”
“Kudengar kamu sudah menikah dengan pewaris keluarga Harold? Benarkah?”
Aluna tersenyum kecil sambil menyalami mereka satu per satu. “Iya,” jawabnya pelan.
“Bagaimana kehidupan rumah tanggamu? Pasti sangat bahagia, ya?”
Pertanyaan itu membuat senyumnya membeku sepersekian detik. Namun hanya sepersekian detik. Setelah itu Aluna kembali tersenyum manis seperti biasanya, senyum yang sangat terlatih untuk menutupi semua luka di dalam dada.
“Sangat menyenangkan,” jawab Aluna.
Beberapa orang langsung berseru iri.
“Ya ampun, beruntung sekali!”
“Menikah dengan pria tampan, kaya, dan mapan seperti Davion Harold. Kamu benar-benar hidup dalam dongeng.”
Aluna tertawa kecil bersama mereka, ikut tersenyum seolah semua yang mereka katakan benar. Padahal hanya dia yang tahu bahwa dongeng itu sesungguhnya lebih mirip kandang emas.
Sementara itu di Harold Kingdom, Davion tengah duduk di ruang kerjanya saat Haris masuk membawa laporan kegiatan Aluna hari ini. Awalnya Davion tak terlalu tertarik, namun begitu mendengar nama istrinya disebut, ia tetap mengambil berkas itu dan membacanya.
“Pertemuan pianis?” gumamnya datar.
Haris mengangguk. “Ya, Tuan. Menurut informasi yang saya terima, Nyonya sedang membangun relasi profesional. Bahkan ada pembicaraan bahwa beliau berencana membuka sekolah musik sendiri suatu hari nanti.”
Davion yang tadinya hanya membaca santai mendadak menyipitkan mata. “Membuka sekolah musik?” ulangnya.
Entah kenapa dadanya langsung dipenuhi rasa sinis. Pikirannya segera melompat pada satu kemungkinan yang menurutnya sangat jelas.
Bahwa wanita itu pasti akan memanfaatkannya lagi.
Davion kemudian melempar laporan itu ke meja dengan kasar.
Sore hari setelah acara selesai, Aluna baru saja hendak pulang saat ponselnya bergetar. Nama Sarah muncul di layar.
Perasaan tak enak langsung muncul dalam dada Aluna. “Hallo, Ma?”
“Datang ke rumah sekarang.” Suara Sarah terdengar dingin dan tegas, tanpa basa-basi.
“Ada hal penting yang harus kamu tahu," ucap Sarah lagi. Telepon langsung ditutup sebelum Aluna sempat menjawab.
Dan seperti biasa Aluna tetap datang.
Begitu sampai di rumah keluarga Myles, suasana rumah terasa tegang. Sarah sudah duduk di ruang keluarga bersama Pieter dan Vincent. Wajah ketiganya tampak serius, membuat perasaan Aluna semakin tak tenang.
Apalagi kemarin mereka baru bersitegang masalah Davion.
“Ada apa?” tanya Aluna pelan setelah ia berdiri di depan mereka.
Sarah menatapnya tajam sebelum akhirnya berkata, “Kami menemukan petunjuk baru tentang Jesselyn.”
Deg! Mata Aluna langsung melebar. “Apa?”
Sarah mengangguk dan matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu tahu sendiri, selama ini mama dan papa tidak pernah berhenti berusaha untuk mencari Jesselyn, dan yang yang kamu butuhkan sangat banyak Aluna."
Aluna tergugu, sejujurnya dia pun mengetahui tentang hal ini. Namun masih tak menyangka jika dampaknya akan begitu besar. Sampai membuat perusahaan nyaris tumbang.
Lalu Vincent melanjutkan dengan nada dingin, “Dan sekarang semua uang keluarga sudah hampir habis. Banyak dana kami selama ini dipakai untuk mencari Jesselyn.”
Pieter juga maju satu langkah dan menatap Aluna penuh tekanan. “Karena itu, kami butuh bantuan Davion.”
Wajah Aluna langsung memucat detik itu juga, tak henti-hentinya semua orang meletakkan beban di pundaknya. Kemarin hanya masalah balas Budi dan perusahaan, kini menyangkut tentang perjuangan untuk menemukan Jesselyn.
Aluna seperti tak diizinkan untuk menolak.
“Pa_”
“Kalau kamu benar-benar menganggap kami keluargamu, buat Davion membantu sekarang juga.”
Aluna menelan ludah dengan susah payah. “Aku sudah bilang sebelumnya... Davion tidak mau membantu tanpa syarat_”
“MAKA BUAT DIA MAU!” bentak Sarah begitu keras hingga Aluna refleks tersentak.
“Setalah Jesselyn ditemukan, terserah kamu mau melakukan apa," putus Sarah kemudian.
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.
gw bisa callingin psk ..davion, kalau lo gk bisa tahan, mau lo?
davion bilek....mau lah, dah lama juga gk main😌
Biarkan Aluna menjemput kebahagiaannya dgn pria lain yg baik, yg menghargainya..