Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gangguan dari tak nampak ...
Atmosfer di dalam Ruang Kesehatan Santri (UKS) mendadak membeku. Setiap sudut ruangan seolah tersedot ke dalam ruang hampa yang dingin dan menyesakkan.
Pekikan Nazwa membuat pergelangan tangan Ukhti Maya yang sedang merapikan selimut Aira seketika kaku. Ukhti Inggit reflek melangkah mundur satu tapak, membelalakkan mata menatap lurus ke arah jendela yang tirainya baru saja berdesir tipis.
Ustadzah Nurul—yang baru saja mengantongi ponselnya usai menelepon orang tua Aira—berbalik cepat. Wajah beliau yang tadinya mencoba tetap tenang, kini memperlihatkan lipatan kening yang begitu dalam. Beliau melangkah mendekati sisi ranjang Aira dengan gerakan cepat namun tetap terukur.
Ustadzah Nurul mengepalkan tangannya pelan, menguasai getaran di dadanya sebelum melangkah makin dekat ke ranjang tempat Aira terbaring. Beliau menepuk pelan bahu Ukhti Maya dan Ukhti Inggit untuk menenangkan ketegangan mereka, lalu tatapannya tertuju lurus pada Aira yang masih menatapnya dengan mata sayu penuh rasa takut.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Ustadzah Nurul mendaratkan telapak tangannya di dahi Aira, mengusap pelan pelipis santri kecil itu yang masih dibasahi keringat dingin.
"Aira... dengarkan Ustadzah ya, Ndek," ucap Ustadzah Nurul dengan nada suara yang sengaja dibuat begitu hangat dan tenang, menjadi jangkar di tengah badai kepanikan di ruangan itu. "Tadi Ustadzah sudah tersambung langsung dengan Ayah dan Ibu di rumah. Ustadzah sudah ceritakan semuanya..."
Aira mengedipkan matanya yang basah, bibirnya yang pecah-pecah bergetar tipis. "I-Ibu... Ibu bilang apa, Ustadzah...?"
"Ibu sama Ayah pesan agar Aira tidak perlu takut," lanjut Ustadzah Nurul sambil tersenyum tulus, mencoba mengalirkan kekuatan pada Aira. "Ibu bilang, Ibu selalu mendoakan Aira dari rumah. Dan Ustadzah sudah jelaskan ke Bapak dan Ibu kalau Aira sekarang sedang demam tinggi, tapi sudah ada di ruang UKS dan dalam penanganan penuh kami."
Nazwa yang duduk di samping Aira memajukan badannya, mendengarkan setiap kalimat Ustadzah Nurul dengan tumpuan napas yang lega.
"Ustadzah juga sudah janji sama orang tuamu," sambung Ustadzah Nurul, beralih menatap Ukhti Maya dan Ukhti Inggit sejenak sebelum kembali menatap Aira. "Kami akan terus observasi kondisi Aira di sini. Obat penurun panas dan kompresnya sudah masuk. Nanti, kalau sampai siang ini demamnya masih belum turun juga atau ada keluhan lain, Ustadzah akan segera menelepon Bapak dan Ibu lagi untuk langkah selanjutnya."
"Iya, Ustadzah..." bisik Aira sangat lirih, dadanya terasa agak renggang mendengarkan kabar dari orang tuanya.
"Nah, sekarang tugas Aira cuma satu: pejamkan mata, perbanyak istighfar, dan istirahat," pinta Ustadzah Nurul lembut seraya menarik selimut tipis hingga menutupi dada Aira. "Percaya sama Ustadzah, tidak ada apa-apa di luar sana. Semua yang Aira lihat tadi cuma karena suhu tubuh Aira sedang melonjak tinggi. Sekarang, biarkan obatnya bekerja ya?"
Ukhti Maya dan Ukhti Inggit bernapas lega mendengarkan penjelasan tegas namun menenangkan dari kepala asrama mereka. Atmosfer mencekam di ruang UKS perlahan mereda, terolesi oleh kehangatan perhatian seorang guru.
-----
" dia kenapa masih disitu ...." lirih Aira Dengan mata setengah sadar .
"Mana, aira? Jangan panik dulu," bisik Ukhti Maya, suaranya gemetar parah meski ia berusaha menahan diri. Matanya mengikuti arah telunjuk Aira yang gemetaran menunjuk ke balik kaca jendela UKS.
Aira tidak menjawab dengan kata-kata yang jelas. Napasnya memburu, naik turun secara tidak teratur membuat dada ringkihnya kempot-kempot. Air mata dingin mengalir deras dari sudut matanya yang merah dan membara akibat demam.
"I-itu... Ustadzah..." rintih Aira, suaranya pecah, tercekik oleh ketakutan luar biasa. "Di bawah pohon itu... Dia berdiri... Dia pakai baju... kaya pernah Aira lihat..."
Nazwa makin erat meremas jemari Aira yang keringat dingin, menyembunyikan separuh wajahnya di balik bahu teman sekamarnya itu. "Ustadzah... tadi gordennya gerak sendiri... Padahal pintu sama jendela rapat semua, nggak ada angin sama sekali!"
"Sudah, Nazwa! Istighfar, Nak! Jangan memprovokasi suasana!" tegur Ustadzah Nurul dengan nada tegas, namun penuh kehati-hatian.
Ustadzah Nurul memegang kedua pipi Aira yang terasa seperti bara api, memaksa mata santri kecil itu untuk menatap lurus ke arah wajahnya, mengalihkan fokus dari jendela yang mencekam.
"Aira... Dengar suara Ustadzah," ucap Ustadzah Nurul lembut namun begitu menekan. "Tatap mata Ustadzah. Tidak ada siapa-siapa di luar sana. Sekolah sedang berlangsung, lapangan dan taman sepi. Yang kamu lihat itu cuma bayangan."
"Tapi Ustadzah... dia benar-benar ada..." bisik Aira, dadanya berombak. "Dia nggak bergerak... cuma melotot ke arah Aira..."
Ustadzah Nurul menghela napas panjang, lalu mengusap kening Aira dengan kain kompres hangat secara perlahan. Beliau menatap Ukhti Maya dan Ukhti Inggit yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi.
"Dengar Ustadzah baik-baik, semuanya," ujar Ustadzah Nurul, suaranya diposisikan sangat rasional dan tenang untuk meredam histeria yang mulai merayap di ruangan itu. "Suhu tubuh Aira ini tadi tembus lebih dari 39,5 derajat. Secara medis, ketika demam setinggi ini menghantam tubuh anak seusia Aira, saraf otaknya mengalami tekanan hebat. Halusinasi penglihatan dan pendengaran itu sangat umum terjadi."
Ustadzah Nurul memandangi Aira dengan tatapan penuh kehangatan seorang ibu.
"Waktu kita demam tinggi, memori di otak kita teracak, Aira. Bayangan dahan pohon yang bergoyag kena sinar matahari, atau bahkan pakaian yang tergantung di luar, bisa ditangkap oleh otakmu sebagai sosok manusia. Apalagi perasaanmu sedang cemas dan kangen rumah... Pikiranmu sendiri yang akhirnya menciptakan bayangan-bayangan itu."
Ukhti Maya menelan ludah yang terasa sekeras batu. "T-tapi Ustadzah... bagaimana dengan tirai yang bergerak tadi?"
"Itu karena celah ventilasi di atas pintu," potong Ustadzah Nurul cepat tanpa ragu. "Sirkulasi udara di UKS ini bertekanan. Kalau pintu koridor di luar dibuka orang, dorongan udaranya masuk lewat atas dan menggoyangkan tirai. Tolong, jangan dikait-kaitkan dengan hal gaib atau prasangka yang tidak-tidak. Kita ini orang beriman, ada Allah yang menjaga tempat ini."
Penjelasan Ustadzah Nurul terasa sangat logis, runtut, dan menenangkan. Nazwa perlahan menghembuskan napas lega, menyapu air mata di pipinya. Ukhti Inggit pun mengangguk-angguk pelan, mencoba menerima alasan medis tersebut.
Namun... di atas ranjang... Aira hanya diam mematung.
Matanya masih menatap lurus ke arah langit-langit UKS yang serba putih. Logika Ustadzah Nurul memang masuk akal... sangat masuk akal.
Tapi hatinya menjerit keras.
Aira tahu bedanya bayangan pohon dengan sosok yang bernapas. Aira tahu bedanya ilusi demam dengan sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan dingin... tatapan yang seolah mengenalnya dengan sangat baik.
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar dari pintu luar UKS.
Semua orang di dalam ruangan itu mendadak menghentikan napas seketika. Suasana rasional yang baru saja dibangun Ustadzah Nurul mendadak kembali hancur berkeping-keping oleh rasa tegang yang menjalar cepat.
Ketukan itu begitu pelan, teratur, namun terdengar sangat berat di tengah keheningan pagi.
"S-siapa...?" bisik Ukhti Inggit dengan tegas,matanya tertuju kaku pada gagang pintu kayu yang perlahan... mulai bergerak turun dari luar.