Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harmoni Palsu
Lana berdiri dengan gaunnya tampak manis tapi tetap berkesan dewasa dan pantas. Ayahnya pasti sudah menyiapkan dananya dengan sepenuh hati.
Keylana Reinhardt berambut hitam pekat, Saat Julian menyentuhnya, itu lembut dan licin seperti aliran air. Rambutnya lurus memanjang. Memiliki mata biru dalam seperti kedalaman laut yang menghanyutkan.
Kulitnya pada awalnya putih pucat seperti yang diingat Julian tapi seiring Lana yang senang berkeliaran, warnanya sedikit lebih gelap di bagian yang terpapar matahari namun tidak mengurangi kecantikan kulitnya sedikitpun.
Julian terus memperhatikannya sambil minum sampanye. Pada akhirnya mata mereka bertemu.
Julian meletakkan gelasnya ke nampan yang dibawa pelayan yang lewat, matanya terus menatapnya saat menuruni tangga ke arah Lana yang sudah memalingkan pandangan.
"Julian, Pesta yang meriah."
"Senang bertemu anda..."
Sosialita mengerumuninya saat sampai di ujung tangga.
Julian menjawab singkat dan mudah sambil bergerak ke arah Lana berada. Sementara itu, Sieg membawa Lana yang berada di lengannya ke arah Julian.
"Julian, Terimakasih atas undangannya." Suara Sieg yang jelas membuat beberapa fokus beralih padanya.
Julian melihat Seig lalu dengan langkah halus dia membelah kerumunan dan menjabat tangan pria yang lebih muda itu. Matanya melihat Lana lagi yang sedang melihat pertukaran itu.
"Senang kau datang."
"Nah, Temui tunanganmu."
Sieg dengan pengertian mendorong pinggang Lana dengan lembut ke arah Julian yang langsung disambut oleh Julian dengan melingkarkan tangan di pinggangnya, mendekatkan tubuh mereka hingga saling menempel.
"Hai Lana," Julian menunduk menyapa gadis jutek itu. Bibirnya menyapu rambutnya yang berbau harum lembut.
"Selamat untuk kakek, Herr Donnersmarck."
Sieg mengangkat alis dengan geli, memutar sampanye di tangannya.
"Ayah dan Ibu dalam perjalanan. Mungkin segera tiba." Sieg meneguk sampanye miliknya.
"Begitu," Julian tampak acuh terhadap informasi itu, dia mengulurkan gelas sampanye ramping ke tangan Lana.
Julian menuntun Lana lebih menepi dari tengah ballroom. Gadis itu tetap cair, Di acara sosial mereka harus tampak harmonis walau sebenarnya itu sepenuhnya salah.
"Julian, Akhirnya membawa gadis cantik ini?" Para sosialita laki-laki dan perempuan mendekat,
Dia adalah seorang wanita paruh baya yang tampak tersenyum melihat Lana.
"Madam Lora. Ini tunangan saya, Keylana Reinhardt."
Wanita itu berbinar.
"Senang bertemu anda, bu. Anda memukau."
"Terimakasih, Sayang." Wanita itu tampak nyaman. "Reinhardt? Anda dari keluarga yang luar biasa."
"Putri Raynor Reinhardt. Dia anak ketiganya." Julian menjelaskan. "Dan Lana," Julian melirik Lana. "Beliau adalah Madam Lora Andersson, Kakek berteman dengan mereka sejak ayah saya kecil."
"Putri Raynor?! Saya bahkan tidak tahu bahwa salah satu anaknya perempuan. Kamu jarang terlihat." Lora menjabat tangan Lana.
"Begitulah, Bu. Saya mungkin baru masuk ke dalam lingkaran sosial." Lana tersenyum
"Tidak apa-apa, kamu ramah sekali. Dan cantik."
"Saya juga tidak tahu bahwa Pak Raynor punya Putri. Saya hanya mengenal putra sulungnya." Seorang pria menyahut sambil memutar gelasnya.
"Lihatlah Julian, Akhirnya menetap dengan seorang gadis cantik." komentar Pria lainnya dengan cukup keras hingga tamu-tamu di dekatnya dapat mendengarnya. Istrinya mengangguk setuju.
"Dia akan menjadi tambahan yang bagus untuk lingkaran kita."
Julian melirik Lana yang tersenyum, Cantik dan Mudah dalam keramahan.
"Keylana Fokus pada studi, Tuan dan Nyonya. Kesempatan bertemu dengannya akan sangat langka."
Julian membawa sedikit nada angkuh dan bangga, Lengannya masih melingkari Lana.
"Apakah kau merasa nyaman? ingin pindah?"
Julian berbisik di dekat telinga. Lana menggeleng, sedikit tidak nyaman dengan keintiman di tengah acara.
Julian menyeringai kecil. "Jangan khawatir, Kita harus terlihat Harmonis bukan?"
Di seberang Ruangan, Melalui celah kerumunan yang melingkari mereka, Lana bisa melihat Nyonya dan Tuan besar Donnersmarck sedang berbisik satu sama lain. Nyonya Johanna berbisik pada Tuan Edwin dengan senyum pengertian. Mata mereka melihat Keylana dan Julian. Pasangan itu adalah Wali Julian.
Julian yang sedang berbicara menyadari pandangan Lana dan tersenyum tipis.
"Lihat? Kita berhasil terlihat damai tanpa drama kucing-kucingan."
"Semua orang melihat kita."
"Bukan hanya melihat. Mereka juga merekam kita." Julian tersenyum tipis.
"Kau bercanda? Tidak ada Kamera seharusnya." Lana memandang sekitar, mencari.
"Tidak, Maksudku merekam kita dalam ingatan mereka. Pasangan."
Julian meletakkan Gelas dari tangan Lana dan meletakkannya ke meja di dekat mereka.
"Julian tampak seperti kakak yang baik. Ini disebut keberhasilan, Sayang." Johanna pada suaminya di seberang ruangan. "Aku bisa melihatnya, dia tidak memperlakukan Lana kita seperti piala, Melainkan berlian."
Joanna Memeluk lengan Edwin erat membayangkan pemandangan yang mereka impikan.
"Aku juga berharap ini sebuah kemajuan. Harus ku akui untuk pasangan yang diatur, Perkembangan mereka sangat pesat." Tuan Edwin memperhatikan.
Tangan Julian membawa tangan Lana ke arahnya, Mencium punggung tangannya dengan mata terkunci pada matanya.
"Julian...." Lana berbisik geram karena malu, wajahnya sedikit memerah.
Para tamu di sekitarnya tampak tersenyum atau tertawa kecil melihat kemesraan sementara Johanna menepuk - nepuk lengan suaminya tak percaya.
Beberapa tokoh terkemuka lainnya mulai mendekati mereka, menyadari adanya peluang untuk menjalin jaringan dengan salah satu Pengusaha yang berkembang pesat di Eropa yang kini secara publik terkait dengan Reinhardt.
"Terimakasih sudah datang, Silahkan nikmati malam ini."
Tanpa menunggu persetujuan atau protes Lana, Julian Tiba-tiba menarik tangan Lana dan membawa Lana menjauh dari Kerumunan. Julian kerumunan dengan langkah otoritas menuju balkon di lantai dua.
Julian menarik kursi untuk Lana. Mendudukkan Lana dengan nyaman.
"Bagaimana menurutmu? Orang - orang mungkin mengira kita akan menikah bulan depan." Julian mencondongkan wajahnya pada Lana, menopang tangannya di meja depannya.
"Bagaimana menurutku? Menurutku kau membuat keributan berlebihan. Kau tau kita bukan remaja puber yang pamer." Lana menyilangkan tangan sambil bersandar di kursi.
"Bukankah itu yang kamu suka?"
"Bukan."
"Tapi kau selalu menontonnya di drama bodoh itu."
Julian mencondongkan lebih dekat, hidung mereka bersentuhan. Walaupun menjengkelkan, ternyata pria itu teliti terhadap hal kecil seperti film yang ditontonnya.
"Itu berbeda, Drama adalah drama."
"Pembohong. Aku pernah melihatmu menangis karena film."
"Film memang dibuat untuk i—"
"Sstt, Pembangkang." Julian mengangkat dagu Lana untuk menyambut bibirnya yang turun.
Di bawah, Christoper berjalan melewati kerumunan setelah berbincang sangat lama, mendekati lingkaran keluarga inti.
"Dimana Julian? Mengapa aku belum melihatnya."
Edwin menarik sebuah kursi agar pria tua itu duduk.
"Dia pergi bersama Keylana untuk mencari udara segar, Ayah."
"Bersama Keylana, Sudah berapa lama?" tanyanya dengan penuh minat.
"Begitu Keylana terlihat, Julian langsung memburunya, Ayah." Johanna Tertawa kecil di balik jarinya.
"Nantikan saja, Ayah. Kau akan segera memiliki buyut."
Ucap Edwin datar sambil menyesap minumannya, Christoper menginjak kaki pria itu tiba-tiba (walau tidak sakit)
"Buyut? Jangan memberiku harapan palsu. aku tau kalian cuma mau menghiburku. Jangankan buyut, menikah saja banyak sekali alasannya. Dasar pemuda zaman sekarang." Gerutunya mengibaskan tangan.
Johanna masih terkekeh di balik jarinya. Christoper sudah di titik muak dengan Julian. Bukan pertama kalinya ia bertunangan. Tunangan pertama memilih pergi sedangkan yang kedua dibatalkan mendadak secara sepihak oleh Julian ketika pernikahan sudah akan digelar dalam tiga bulan. Julian juga sudah diberi kesempatan untuk memilih sendiri tapi tak pernah membawa pulang gadis baik-baik.
Sekarang adalah Keylana, Christoper sangat menyayanginya dan jika Julian menolaknya lagi pria itu mungkin akan memasangkannya dengan Kucing.
Udara balkon yang sebelumnya dingin menjadi panas. Julian menjebak Lana dengan tubuhnya di kursi. Bibir mereka terhubung, Lidah Julian menggedor masuk untuk meraba setiap inci anatomi mulut Lana.