NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Ujian Terberat Sang CEO

Pintu kamar tidur utama tertutup rapat, memisahkan Arka dari aroma lavender dan kehangatan ruang tengah yang mendadak terasa berbahaya bagi ketenangan jiwanya.

Pria itu menyandarkan punggungnya perlahan pada daun pintu, membiarkan matanya terpejam sejenak sambil menarik napas dalam-dalam. Udara di dalam kamar terasa dingin, kontras dengan panas yang tiba-tiba menjalar di dadanya sejak sentuhan sekilas di atas kertas denah tadi.

“Gila. Ini benar-benar sudah gila,” gumamnya pelan pada keheningan kamarnya sendiri.

Selama bertahun-tahun hidup dalam keteraturan, memegang kendali penuh atas perusahaan, dan terbiasa memimpin jalannya rapat-rapat korporat dengan kepala dingin, Arka tidak pernah menyangka bahwa dirinya bisa begitu mudah kehilangan keseimbangan hanya karena seseorang yang mendadak menjadi istri sahnya di atas kertas.

Ingatan tentang bagaimana ia tanpa sadar memanggil nama Naya di depan Doni kembali berkelebat. Ucapan Doni siang tadi terasa seperti kutukan yang perlahan menjadi kenyataan.

“Sialan si Doni. Kenapa juga omongannya harus bener?” rutuk Arka lirih, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangan.

Ia melangkah gontai ke arah jendela kamar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota di luar sana. Bayangan dirinya sendiri terpantul samar di kaca jendela, seorang pria mapan dengan jas setengah berantakan, dasi yang sudah longgar, dan mata yang menyiratkan kebingungan asing.

Biasanya, jam-jam malam seperti ini dihabiskannya dengan menatap layar tablet untuk memantau laporan keuangan atau membaca dokumen investasi penutup hari.

Namun malam ini, konsentrasinya benar-benar buyar.

“Kalau Pak Arka lapar, tinggal dipanaskan sebentar di microwave...”

Suara itu kembali berputar di kepalanya, memicu rasa hangat yang aneh di dalam dada. Selama ini, rumah bagi Arka hanyalah tempat singgah yang sunyi, sebuah kotak beton mewah untuk tidur sebelum kembali bekerja. Tidak ada sapaan, tidak ada perhatian, apalagi masakan rumahan yang disiapkan dengan sisa-sisa kepedulian.

Dan kini, kehadiran Naya dalam satu atap, bahkan dalam satu kamar, perlahan-lahan merusak benteng pertahanan yang telah ia bangun rapat-rapat selama bertahun-tahun.

Arka mendengus pelan, lalu berbalik dari jendela. Ia memutuskan untuk melepaskan jasnya yang terasa kian menyesakkan, menggantinya dengan kaus longgar berwarna hitam dan celana rumahan yang nyaman.

Saat ia berbalik, matanya tanpa sengaja melirik ke sisi lain ranjang king size mereka yang tampak rapi. Tempat tidur itu, yang biasanya terasa dingin dan netral, malam ini mendadak terasa sarat dengan kehadiran Naya.

Tok. Tok.

Dua ketukan pelan di pintu kamar mandi dalam membuat Arka seketika mematung.

Jantungnya, yang baru saja sedikit melambat, mendadak kembali berdegup kencang saat melihat Naya keluar dari area walk-in closet/kamar mandi dengan balutan piyama tidur yang longgar, rambut basah yang baru saja diusap handuk kecil, serta aroma lavender yang semakin menguar nyata.

“Pak Arka?” sapa Naya lembut, sedikit terkejut mendapati Arka masih berdiri tegak di dekat ranjang dengan tatapan lurus ke arahnya.

“Saya sudah membereskan dokumen di meja makan tadi. Saya juga sudah memanaskan seporsi sup dan ayam panggangnya di dapur, takutnya keburu dingin. Silakan kalau mau dimakan.”

Naya menunduk sopan sejenak, lalu berjalan menuju sisi ranjang bagiannya untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, sama sekali tidak menyadari badai kekacauan yang tengah berkecamuk di kepala pria di hadapannya.

Keheningan malam langsung terasa begitu menyesakkan bagi Arka. Berada di ruang yang sama, dalam jarak sedekat ini, dengan wanita yang memenuhi isi kepalanya sepanjang hari, benar-benar ujian terberat bagi sang CEO dingin.

Tanpa berkata apa-apa, Arka melangkah melewati Naya dengan langkah kaku, berniat keluar sebentar ke dapur demi menghindari debar jantungnya yang makin tak terkendali.

Di atas meja makan minimalis, sebuah mangkuk keramik berisi sup sayur hangat yang mengepulkan uap tipis tertata rapi. Di sampingnya, sehelai catatan kecil tertempel di atas serbet bersih.

Jangan lupa dihabiskan ya, Pak. Biar tenaganya pulih buat besok.

Arka terpaku membaca tulisan tangan yang rapi itu. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyuman kecil, senyuman tulus pertama yang ia lepaskan setelah sekian lama hidup dalam dinginnya dunia korporat.

Ia lantas menarik kursi, duduk di bawah temaram lampu gantung dapur, dan mulai menyendok sup buatan Naya. Rasanya hangat, pas di lidah, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rasa sepi di rumah itu seolah menguap begitu saja digantikan oleh debar asing yang tinggal menghitung hari untuk meledak.

“Ternyata benar kata Doni,” bisik Arka pelan pada dirinya sendiri sambil menatap mangkuk sup di depannya, membayangkan ia harus kembali satu kamar dengan wanita itu malam ini. “Gue tamat.”

*

*

Mangkuk kosong di atas meja makan menjadi saksi bisu bagaimana Arka menghabiskan makanannya tanpa sisa.

Setelah mencuci mangkuk tersebut dengan gerakan canggung, sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan sendiri selama bertahun-tahun, pria itu menarik napas panjang. Kakinya terasa berat saat harus melangkah kembali ke kamar utama, tempat di mana "badai" sesungguhnya sedang menunggunya.

Begitu ia membuka pintu, aroma lavender langsung menyergap indra penciumannya.

Naya sudah berbaring di sisi kanan ranjang dengan selimut menutupi setengah tubuhnya. Lampu tidur di atas nakas sebelah kiri telah diredupkan, memancarkan cahaya temaram kekuningan yang menciptakan atmosfer intim sekaligus membuat Arka mendadak kehilangan akal sehatnya.

“Sial, kenapa suasananya jadi kayak gini?” batin Arka, berdiri kaku di dekat pintu dengan tangan mengepal di sisi celana.

Merasa ada pergerakan, Naya perlahan mengerjap dan menoleh ke arah pintu. Matanya yang sayu karena kantuk beradu pandang dengan Arka yang masih berdiri mematung.

“Eh, Pak Arka... baru selesai makan?” tanya Naya dengan suara serak khas orang yang hampir tidur. Wanita itu bergerak sedikit, berniat bangun untuk duduk.

“Ah, iya. Sudah,” jawab Arka agak terlalu cepat, membuat nada suaranya terdengar kaku dan tegang. Ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura merapikan ujung jam tangan di pergelangan tangannya, meski ia tidak sedang memakai jam apa pun saat itu.

Naya mengerjap pelan, tampak bingung melihat tingkah bos sekaligus suami dadakannya yang terlihat salah tingkah itu.

“Kenapa, Pak? Ada yang kurang enak makanannya?”

“Tidak. Enak kok. Pas,” potong Arka cepat, lalu dengan langkah kikuk berjalan memutari sisi ranjang bagiannya.

Ini adalah malam kesekian mereka berbagi kamar, tapi entah mengapa malam ini rasanya berbeda. Jarak antara sisi tempat tidurnya dan Naya terasa begitu dekat, seolah selimut yang membentang di antara mereka adalah garis batas antara dunia nyata dan zona bahaya.

Arka perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia sengaja berbaring telentang kaku, menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan tangan bersedekap di dada. Ia berusaha memasang ekspresi paling dingin dan berwibawa yang biasa ia tunjukkan di ruang rapat, berharap itu bisa menutupi debar jantungnya yang menggila.

Namun, usaha itu sia-sia saat ia bisa mendengar suara helaan napas teratur dari sebelah kanannya.

Naya, yang mengira suaminya sudah ingin beristirahat, mematikan lampu nakas di sisinya dan mengubah posisi miring menghadap ke arah berlawanan.

Tanpa sengaja, dalam keremangan malam, Arka melirik ke samping.

Wajah Naya terlihat begitu damai dalam tidur lelapnya. Helaan napas wanita itu terdengar sangat dekat. Di bawah pencahayaan minim, garis wajah Naya tampak lembut, dan ingatan tentang sentuhan tak sengaja di denah rumah tadi siang kembali membakar permukaan kulit Arka.

“Tarik napas, Arka. Lu CEO perusahaan multinasional, bukan remaja belasan tahun yang baru kenal perempuan,” rutuk Arka dalam hati seraya memejamkan mata erat-erat dan memaksa dirinya untuk segera tidur.

–tbc–

1
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Kecewa Arka tahu ada guling mati di ranjangnya 🤣🤣
sunaryati jarum
Semoga acara yang kau tangani sukses,Naya.
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): amiiiiin......
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
paha oh paha 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): terbayang-bayang paha mulus ya😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Makin lemes Arka ,emak suka
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 tidak bisa tidur,balas saja Naya seolah guling juga,impas
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😂😂😂😂😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Yakin benengmu tetep kokoh Nak Arka.
sunaryati jarum
Bener tuh kata Doni
sunaryati jarum
Mengapa gengsi Arka,emak sumpahin kau memanggilku perjanjian dan bucin pada istri kontrakmu 😂😂😂
sunaryati jarum
Benar dugaan emak ,kamu itu sarjana yang hanya kurang beruntung.Kamu beruntung punya sahabat yang tepat buat melaksanakan tantangan Oma Soraya.Semogs berhasil Dera,dan melebihi ekspektasi mereka yang meremehkan kamu
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 bagaimana cara membuktikan Arka, jika burungmu bisa terbang?
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ya dikeluarin dari sangkarnya atuh kak🤭🤭🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Pilihan mendadak pada Naya ternyata tepat ,dia cerdas mungkin sarjana juga,cuma nasib yang kurang beruntung
Maseni Maseni
saatnya menunggu arka tersiksa dengan perasaannya sendiri.... sementara naya B aja dan enjoy dgn kerjaanya yg baru

buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): oke😉👌🏻
total 1 replies
Rian Moontero
mampir ah😄👍
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): thank you🙏
total 1 replies
Tiara Bella
kasian sekali km Naya.....Arka jangan galak² Napa km....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!