NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Langit Prita Dewanta berdiri di dekat dinding kaca setinggi langit-langit yang menghadap langsung ke lanskap megah kota Jakarta.

Di usianya yang baru menginjak tiga puluh dua tahun, ia telah berada di puncak karier tertinggi sebagai CEO Dewanta Group.

Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya.

Di ruang rapat utama yang kedap suara itu, seluruh jajaran direksi dan investor asing duduk dengan takzim, menunggu keputusan final dari sang nakhoda.

"Proyek Starlight bukan sekadar ekspansi bisnis," suara Langit terdengar tenang namun bergaung penuh wibawa ke seluruh penjuru ruangan.

"Ini adalah masa depan energi terbarukan kita. Ladang panel surya terintegrasi dan turbin angin lepas pantai yang kita bangun akan menyuplai tiga puluh persen kebutuhan listrik domestik dalam lima tahun ke depan. Semua sistem siap, izin regulasi sudah seratus persen rampung, dan pasar siap menyambut kita besok pagi."

Ketukan jemari Langit di atas meja marmer menjadi penutup presentasi yang sempurna.

Layar holografis di belakangnya menampilkan grafik proyeksi keuntungan dan dampak lingkungan yang memukau.

Proyek Starlight adalah proyek energi terbesar yang pernah dikerjakan oleh perusahaannya.

Sebuah mahakarya yang mengukuhkan posisi Langit sebagai pengusaha paling berpengaruh tahun ini.

Rapat akhir itu ditutup dengan gemuruh tepuk tangan dan jabat tangan penuh hormat dari para taipan bisnis.

Selesai sudah. Tugas besarnya untuk korporasi telah tuntas sebelum ia mengambil cuti panjang.

Sambil berjalan kembali ke ruang kerjanya, senyum tipis terukir di wajah tegas Langit. Pikirannya beralih pada agenda pribadinya malam ini. Pernikahannya dengan Galang Bharata tinggal dua minggu lagi.

Segala persiapan pesta mewah yang akan dihadiri relasi bisnis tingkat tinggi itu sudah sempurna.

Namun, karena kesibukan masing-masing, mereka jarang bertemu dalam seminggu terakhir.

Galang, yang merupakan seorang arsitek lanskap ternama, saat ini sedang menginap di sebuah hotel mewah di pusat kota untuk menyelesaikan proyek resort terbarunya.

Langit melirik jam tangan Cartier di pergelangan tangannya. Pukul delapan malam. Ia memutuskan untuk memberikan kejutan manis.

Tanpa mengabari pria itu terlebih dahulu, ia meminta sopir pribadinya mengarahkan mobil menuju hotel tempat Galang menginap.

Di kursi belakang, Langit menggenggam sebuah kotak beludru kecil berisi jam tangan edisi terbatas yang sudah lama diincar Galang, sebagai hadiah pranikah sekaligus perayaan atas suksesnya proyek Starlight.

Sesampainya di hotel bintang lima tersebut, Langit melangkah anggun melewati lobi.

Resepsionis yang mengenali wajah sang CEO langsung menyapanya dengan hormat dan memberikan akses kartu kamar Presidential Suite tempat Galang menginap tanpa curiga.

Langit berjalan menyusuri koridor berkarpet tebal dengan hati yang berdebar ringan, membayangkan wajah terkejut sekaligus bahagia dari calon suaminya.

Pintu suite mewah itu terbuka dengan bunyi klik halus saat Langit menempelkan kartu akses.

Koridor dalam ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya temaram dari arah ruang tengah.

Langit melangkah tanpa suara, berniat mengejutkan Galang dari belakang. Namun, langkah kakinya mendadak lumpuh seketika saat pendengarannya menangkap suara-suara yang sangat familier.

Suara tawa manja seorang wanita berpadu dengan bisikan berat seorang pria.

Langit berjalan perlahan mendekati ambang pintu ruang tengah yang setengah terbuka menuju balkon.

Di atas sofa beludru luas, siluet dua orang tengah berpelukan mesra begitu jelas tertangkap netra.

Jantung Langit serasa dihantam godam godar saat mengenali punggung kokoh pria berkaus hitam.

Itu Galang, dan wanita yang sedang duduk di pangkuannya, dengan kancing kemeja yang sudah setengah terbuka, adalah Sarah, sekretaris pribadi Langit sendiri.

Wanita yang selama ini ia percayai untuk mengurus seluruh jadwal hidupnya, termasuk detail pernikahan mereka.

"Kamu yakin Langit gak akan curiga kalau kita sering ketemu seminggu ini?" bisik Sarah seraya mengalungkan lengannya ke leher Galang, jemarinya mempermainkan rambut pria itu.

Galang terkekeh, mengecup pundak Sarah dengan intim. "Langit itu terlalu sibuk dengan proyek Starlight-nya. Di kepalanya cuma ada bisnis, uang, dan Dewanta Group. Dia gak punya waktu untuk memikirkan hal-hal detail seperti ini, nikmati saja fasilitas hotel ini, sayang. Begitu aku resmi menikah dengannya, semua aset Dewanta juga akan jadi bagian dari hidupku, dan kita bisa lebih bebas."

Mendengar kalimat itu, ruang di sekitar Langit seolah berputar. Rasa sakit yang tajam menghunjam dadanya, namun dalam hitungan detik, rasa sakit itu menguap, digantikan oleh hawa dingin yang membekukan seluruh emosinya.

Logika bisnisnya yang tajam langsung mengambil alih kendali diri.

Sebagai seorang CEO yang terbiasa menghadapi krisis di ruang sidang, Langit tahu persis apa yang harus ia lakukan.

Marah-marah, menangis, atau membuat keributan di hotel ini hanya akan menjadi santapan empuk media esok hari.

Skandal pribadi menjelang peluncuran proyek Starlight bisa mengacaukan harga saham perusahaannya.

Ia tidak akan membiarkan dua parasit ini merusak apa yang telah ia bangun dengan darah dan air mata.

Dengan ketenangan yang mengerikan, Langit melangkah masuk ke dalam ruangan.

Suara ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai marmer yang tidak tertutup karpet langsung memecah keintiman menjijikkan di depan sana.

Galang dan Sarah tersentak hebat.

Wajah mereka memucat seketika, seolah-olah baru saja melihat malaikat maut berdiri di hadapan mereka.

Sarah langsung melompat turun dari pangkuan Galang, berusaha merapikan kemejanya dengan tangan gemetar.

"La-Langit? Kamu, kok bisa di sini?" suara Galang terbata-bata, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Pria itu berdiri, melangkah mendekat dengan tangan teracung, mencoba mencari alasan.

"Ini, ini gak seperti yang kamu lihat. Sarah cuma mengantarkan berkas, berkas pernikahan kita—"

"Cukup, Galang," potong Langit. Suaranya tidak melengking, tidak ada air mata, hanya ada nada datar yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara di dalam ruangan.

Langit menatap Sarah yang kini menunduk dalam, gemetar ketakutan.

"Sarah, besok pagi jam tujuh, surat pemecatanmu sudah ada di meja HRD. Semua hakmu dicabut karena pelanggaran kode etik berat. Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di seluruh area Dewanta Group jika kamu masih ingin punya karier di negara ini."

Sarah hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya mulai luruh, namun ia terlalu takut untuk bersuara di depan wanita yang memegang kendali penuh atas industri tersebut.

Langit kemudian mengalihkan pandangan matanya yang setajam elang kepada pria yang beberapa menit lalu masih berstatus sebagai calon suaminya.

Tatapan mata Langit kosong, memandang Galang seolah-olah pria itu hanyalah seonggok sampah yang tidak sengaja terinjak di jalanan.

"Langit, tolong dengarkan aku dulu. Kita tinggal dua minggu lagi menikah! Undangan sudah disebar, semua kolega bisnismu, keluargaku, kita gak bisa membatalkan ini begitu saja karena salah paham!"

Galang mulai panik, menyadari bahwa seluruh kehidupan mewah yang diimpikannya terancam sirna dalam sekejap.

Langit tersenyum sinis. "Salah paham? Aku mungkin sibuk dengan bisnis, Galang, tapi aku tidak buta dan tidak bodoh. Pernikahan kita?"

Langit menjeda kalimatnya, tangan kirinya bergerak ke jemari manisnya sendiri.

Dengan satu gerakan tenang namun tegas, ia menarik cincin pertunangan bermata berlian tiga karat yang melingkar di sana.

Langit mengangkat cincin itu sebentar, lalu dengan santai melemparkannya ke dada Galang.

Cincin itu memantul di kain kaus Galang sebelum akhirnya terjatuh dan berdenting pelan di atas lantai marmer, bergulir ke bawah sofa.

"Detik ini juga, pernikahan kita batal," ucap Langit dengan penekanan di setiap kata.

"Besok pagi, tim humas Dewanta Group akan merilis pernyataan resmi bahwa pernikahan dibatalkan secara baik-baik karena ketidakcocokan visi. Tidak akan ada nama Sarah, tidak akan ada cerita perselingkuhan ini di media. Aku menjaga nama baik perusahaanku, bukan namamu."

"Langit, kamu gak bisa egois begini! Pikirkan reputasi keluargaku!"

Galang mencoba meraih lengan Langit, namun Langit mundur satu langkah dengan sigap, menatap tangan Galang dengan pandangan jijik.

"Jika kamu atau keluargamu mencoba membantah pernyataan humasku, atau mencoba membuat drama di media," Langit mendekat, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa melalui tatapan matanya,

"aku pastikan seluruh kontrak proyek arsitekturmu di kota ini diputus secara serentak besok siang. Aku punya kekuatan untuk menghapus namamu dari industri ini dalam waktu dua puluh empat jam, Galang Bharata. Jangan uji batas kesabaranku."

Galang tertegun, mulutnya terkunci rapat. Ia tahu persis bahwa ancaman Langit bukanlah gertakan sambal. Wanita di hadapannya adalah penguasa bisnis yang kejam jika dikhianati.

Langit membalikkan badannya dengan anggun. Rambut panjangnya berayun seiring dengan langkah kakinya yang mantap meninggalkan ruangan suite tersebut.

Ia berjalan menyusuri koridor hotel dengan kepala tegak, membiarkan kotak beludru hadiah jam tangan tadi tertinggal di atas meja lobi suite sebagai tanda sedekah terakhirnya untuk sang mantan kekasih.

Saat melangkah keluar dari lobi hotel menuju mobilnya yang sudah menunggu, angin malam Jakarta menerpa wajahnya.

Tidak ada setetes pun air mata yang jatuh di pipi Langit Prita Dewanta.

Fokusnya kini telah kembali sepenuhnya pada satu hal.

Besok pagi adalah peluncuran proyek Starlight. Dunia akan melihatnya bersinar di puncak karier, sendirian, tanpa beban dari pria parasit yang tidak tahu diri.

Langit masuk ke dalam mobil, menutup pintu, dan berkata pada sopirnya, "Jalan. Kita kembali ke kantor."

Yang sudah mampir, jangan lupa komennya ya, LIKE dan Hadiahnya juga dong.

1
Siti Aisah
semoga mereka berdua kebablasan cinlok🤣🤣😜
Sinho: Amin, makasih komennya kak
total 1 replies
Siti Aisah
curiga deh sm bumi??? sindiran nya kenak banget 😁
Siti Aisah
lanjut aku baca maraton ni kak author soalny makin keseni makin penasaran bumi""😜
Siti Aisah
ternyata langit masih punya kakek kukira cuman punya paman satu"nya yg jahat🤭
Siti Aisah
semoga itu langit ''karena hawatir takut bumi di apa"in🤭
Siti Aisah
thor kata kumah bumi ceo menyamar deh soalnya biarpun dia bercanda kata"nya ada benernya hehe
Siti Aisah
ngelucu trus bang bumi biar langit ceria selalu😁
Siti Aisah
dasar bumi bisa aja bikin orang senyum " lanjutkan...
Siti Aisah
bumi mah bisa"nya bikin anak perawan merona dan dedekan😜
Siti Aisah
thor katakumah ya kayanya ci bumi ini pria yg punya pengaruh deh bukan tukang bengkel biasa... pasti cuman lgi menyamar🤣🤣
Siti Aisah
benerkah yang di cerita kan bumi tetang hidupnya se menyedihkan itu, atau hanya cerita karangan untuk menghibur langit supaya bisa terus tertawa dan tersenyum, hanya author yg tahu penasaran ih🤭
Siti Aisah
aku jdi ikut gila tersenyum sendiri😜lanjut thor
Siti Aisah
udah makan garam asin nya hidup ni mah bumi, jdi udah mental baja dan besi, seru thor jdi tertawa sendiri sekalian sedih🤗🥲
Siti Aisah
pokoknya langit tebayang" ga bisa bobo🤣🤣
Siti Aisah
langit 'bumi pura" menjadi nyata 😁
Siti Aisah
apa bumi adalah mafia thor bikin penasaran aja??
Siti Aisah
macho pastinya ci bumi, pokonya bumi bukan tukang bengkel biasa iyakan ...pasti ada kejutan dri author
Siti Aisah
pasti ada rahasia bumi yg di sembunyikan, bumi bukan orang biasakan thor??? mungkin asal tebak😜
Siti Aisah
wah untung bumi tidak mempersulit langit, ayo semangat langit hancurkan paman mu dan sekutunya, seperti bumi bukan montir biasa yakan thor🤗
Mundri Astuti
dah jadi beneran aja langit sama bumi, bumi ke nya bisa ngimbangin dan ngga keberatan 🤭
Sinho: makasih komennya kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!