NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Kedua di Balik Layar dan Genggaman Tangan yang Melemah

Kemenangan yang sempat berpijar terang di hadapan Profesor Hendra ternyata tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Di balik kemegahan dunia teknologi dan dunia pendidikan elite, tangan-tangan kotor kekuasaan bekerja dalam kegelapan.

Tiga hari setelah insiden di ruang kepala sekolah, ketika Juwita masih memegang secarik harapan dari cek hibah riset yang dijanjikan, sebuah panggilan telepon dari perwakilan perusahaan teknologi multinasional datang menghancurkan dunianya untuk kedua kalinya.

"Maaf, Juwita..." suara di ujung telepon terdengar ragu-ragu dan penuh tekanan. "Kami terpaksa menangguhkan pencairan dana hibah dan penandatanganan hak paten itu untuk sementara waktu. Dewan pemegang saham terbesar kami—Aditama Group—mengajukan keberatan hukum dengan alasan kepemilikan kode sumber yang masih dalam sengketa etika sekolah. Sampai waktu yang tidak ditentukan, dana tersebut dibekukan."

Ponsel di tangan Juwita terlepas begitu saja, jatuh berdebum ke lantai semen yang dingin.

Dunia seakan berputar hebat. Riko Aditama tidak tinggal diam. Ayah Kevin itu menggunakan seluruh pengaruh, saham, dan cengkeraman kapitalismenya untuk memblokir setiap jalan keluar yang terbuka bagi Juwita. Janji manis tentang masa depan cerah mendadak lenyap ditelan kegelapan birokrasi yang dikendalikan oleh uang.

Namun, hantaman paling mematikan bukanlah pada pembekuan dana tersebut, melainkan apa yang terjadi di klinik tempat ibunya dirawat.

Sore itu, langit di luar mendung kelam, seolah ikut meratapi nasib malang yang menimpa keluarga kecil itu. Begitu Juwita tiba di bangsal klinik dengan napas terengah-engah setelah berlari dari sekolah, ia mendapati suasana di ruangan ibunya sangat kacau. Dua orang petugas administrasi berdiri di samping ranjang Dara, sementara kepala perawat sedang membereskan selang infus dari tangan ibunya secara paksa.

"Tunggu! Apa yang kalian lakukan?!" jerit Juwita histeris, berlari menerobos masuk dan merentangkan tangannya di depan ranjang ibunya. "Kenapa selang infusnya dilepas?! Ibu saya belum pulih total!"

Kepala perawat itu menatap Juwita dengan pandangan dingin yang dipenuhi rasa serba salah. "Maaf, Dek Juwita. Kami mendapat instruksi mendadak dari manajemen pusat. Pemilik baru gedung klinik ini telah memutuskan kerja sama, dan seluruh pasien subsidi atau jaminan mandiri yang tertunda administrasinya harus segera dipindahkan hari ini juga. Tidak ada toleransi."

"Pemilik baru? Siapa?!" suara Juwita bergetar hebat, air matanya langsung tumpah membasahi pipinya. "Saya bisa bayar! Saya punya uangnya! Sebentar lagi..."

"Kamu tidak punya apa-apa lagi, anak manis."

Sebuah suara dingin yang sangat angkuh memotong ucapan Juwita dari ambang pintu bangsal. Kevin Aditama melangkah masuk dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana seragam mahalnya, diiringi senyuman sinis yang mencerminkan kemenangan mutlak. Di belakang Kevin, Pak Haris berdiri dengan senyum kaku.

Juwita menoleh, menatap Kevin dengan sorot mata yang menyala oleh kebencian yang teramat sangat. "Kau... Apa yang telah kau dan keluargamu perbuat?!"

Kevin tertawa kecil, melangkah mendekat tanpa rasa iba sedikit pun. "Papa gue udah beli seluruh tanah tempat klinik ini berdiri, Juwita. Dan dalam waktu lima menit, tempat ini akan diratakan atau dialihfungsikan. Lo pikir lo bisa menang lawan keluarga Aditama dengan modal angan-angan dan kecerdasan murahan itu? Lo salah besar."

Dara yang tadinya terbaring lemah perlahan membuka matanya. Mendengar keributan dan melihat putrinya menangis tersedu-sedu di hadapan anak dari musuh masa lalunya, dada Dara mendadak naik turun dengan cepat. Napas wanita paruh baya itu tersengal-sengal mengerikan.

"J-Juwita..." panggil Dara sangat parau, tangan kurusnya yang gemetar terulur meraba udara.

"Ibu!" Juwita mengabaikan Kevin, langsung melompat berlutut di samping ranjang, menggenggam erat tangan ibunya yang sedingin es. "Ibu jangan ngomong apa-apa... Juwita di sini. Juwita akan bawa Ibu pergi dari sini. Kita cari tempat lain..."

Dara menatap putrinya dengan air mata yang meleleh di sudut matanya yang cekung. Wanita itu tahu betul siapa pemuda angkuh yang berdiri di dekat pintu. Luka masa lalu yang coba ia kubur dalam-dalam kembali mengoyak hatinya.

"Nduk... anakku sayang..." bisik Dara, napasnya semakin melemah, bunyi mesin oksigen berderit pelan menandakan pasokan udara mulai menipis. "Jangan... jangan tundukkan kepalamu di depan mereka... jangan biarkan air matamu jatuh untuk orang-orang keji itu..."

"Ibu! Jangan tinggalkan Juwita! Ibu bertahanlah!" raung Juwita histeris, mendekap tubuh ibunya yang mulai kejang-kejang akibat syok yang luar biasa. Isak tangis gadis itu merobek kesunyian ruangan, sebuah jeritan kepedihan mutlak dari seorang anak yang hampir kehilangan satu-satunya tempat ia berpijak di dunia ini.

Kevin yang melihat pemandangan itu sempat merasakan secercah rasa ngeri di dadanya, namun ia menutupinya dengan kembali memasang wajah arogan. "Cepat bawa ibunya keluar! Petugas, angkat ranjangnya!"

"JANGAN SENTUH IBU SAYA!" teriak Juwita sambil berdiri, menubruk Kevin dengan sisa tenaga dan amarah yang meluap-luap hingga pemuda terkejut itu hampir kehilangan keseimbangan. Juwita berdiri di hadapan ibunya bagaikan seekor induk singa yang melindungi anaknya dari cengkeraman pemburu, meski sekujur tubuhnya bergetar hebat dan air mata membanjiri wajahnya.

"Kalian boleh ambil beasiswa itu! Kalian boleh rampas uangnya! Kalian boleh hancurkan sekolahku dan injak-injak harga diriku!" suara Juwita bergetar, parau, namun menggema penuh tekad yang tidak bisa dipatahkan oleh kematian sekalipun. "Tapi jangan pernah coba-coba menyentuh nyawa ibuku!"

Melihat sorot mata Juwita yang memancarkan api kemarahan dan ketegaran luar biasa—sorot mata yang menolak untuk bertekuk lutut di hadapan kekayaan dan kekuasaan mereka—Kevin untuk pertama kalinya menelan ludah dengan kelenjar air liur yang terasa pahit. Ada sesuatu di dalam diri gadis itu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun di dunia ini: Jiwa seorang pejuang yang tidak kenal takut.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Juwita merangkul tubuh ibunya, memapah Dara keluar dari bangsal rumah sakit di tengah hujan deras yang mulai mengguyur kota, menolak menyerah pada takdir kejam yang mencoba meremukkan hidupnya. Perang belum berakhir. Dan Juwita bersumpah di atas air matanya, ia akan bangkit kembali dari abu kehancuran ini untuk menagih keadilan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!