Cherry adalah seorang gadis yang beruntung, ia memiliki keluarga yang hangat dan sangat menyayanginya, hidupnya seperti impian banyak gadis seusianya terlebih ia memiliki Kakak Laki laki yang selalu melindunginya Kevin, di sekolah berpacaran dengan pria paling populer sekaligus ketua OSIS Dion Prince, namun setelah kehadiran dua Pria bernama Bumi dan Langit hidupnya berubah, masa lalu yang selama ini ia cari kebenarannya perlahan mulai terungkap. Akankah Cherry berhasil mengetahui masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Mereka
Suasana di Danau Mega terpantau ramai pengunjung di sore itu.
Kevin dan team film dokumenternya yg berjumlah 7 orang tanpa Bumi masih sibuk take beberapa adegan untuk film mereka. Wajahnya tampak lelah begitupun dengan teman temannya.
"Besok aja kali di lanjut lagi?" Tanya Tasya teman satu team Kevin.
"Nanggung Tas, kalau ditunda malah suka banyak halangannya." Sahut Yuda.
"Iya udah lanjut aja, belum tentu juga besok cerah kan." Balas Kevin ikut menimpali.
Mereka semua ber 8 sepakat untuk tetap melanjutkan Syuting.
"Eh gue beli es dulu yah ke depan haus banget, pada mau gak?" Tawar Kevin kepada teamnya.
"Ditraktir gak nih Vin?" Ujar Yola iseng
"Iya aman, berarti 8 ya."
Mereka serempak mengangguk. Dan kembali sibuk mengerjakan proyek masing masing.
Kevin berjalan gontai menuju Food court yang menjual aneka makanan dan minuman, sebelum akhirnya melihat pemandangan yang membuatnya naik pitam.
Dilihatnya Dion dengan masih menggunakan seragam sekolah bersama dengan seorang perempuan berdress putih polos dan berambut blonde sedang berjalan ke arah Danau sambil berpegangan tangan mesra.
Dengan hati hati Kevin membuntuti pasangan itu, amarahnya berkobar mendapati kenyataan bahwa adik kesayangannya diselingkuhi begitu saja.
Padahal kemarin saat Dion diam diam ketemuan dengan Cherry, Kevin tak memberinya pelajaran meskipun sebenarnya ia tahu mereka ketemuan tanpa sepengetahuannya.
Ia lebih memilih untuk menutup mata dan pura pura tidak tahu sesuai saran Langit, agar Cherry tidak sedih dan merasa bersalah.
Namun dihari ini, yang ia dapati adalah pemandangan memuakan yang membuatnya sangat geram.
Dengan terang terangan di tempat umum Pria blasteran itu memamerkan kemesraan bersama gadis itu, entah ceroboh atau memang disengaja saat itu yang jelas Kevin merasa sangat marah.
Kedua tangan Kevin mengepal dan giginya gemeretak menahan emosi. Ia berusaha tetap menggunakan logikanya dengan tak langsung melabrak Dion, diam diam di potretnya pemandangan memuakan itu, sampai pada titik dimana adegan yang lebih tidak masuk akal terjadi di depannya.
Gadis blonde dan Lelaki blasteran itu berciuman tepat di tepi danau, lensa kamera Hp Kevin berhasil menangkap adegan itu, kali ini Kevin sudah tidak bisa menahan dirinya, dengan serta merta ia menghampiri Dion dan menghajarnya.
Dion tersungkur ke tanah sambil mengaduh kesakitan. Sementara Lulu terkejut dan berteriak meminta tolong.
"Bajingan lo Dion." Teriak Kevin sambil masih melayangkan pukulan ke arah wajah Dion. Dua atau tiga pukulan mendarat dengan keras ke wajah tampan milik Dion. Wajah itu tampak membengkak dan merah di beberapa sisi karena terpukul.
Dion yang juga mulai emosi balik menghajar Kevin dan mengenai wajah Kevin di sebelah pipi kiri.
Kevin makin emosi mendapati Dion yang melawan, namun saat itu sudah banyak orang yang berkumpul untuk melerai mereka.
Seorang pria dengan sigap melerai perkelahian itu, ia menarik mundur Kevin dan menenangkannya.
"Vin udah Vin" Ujar Bumi berusaha menenangkan sahabatnya. Kevin masih berusaha mendekati Dion dan masih ingin menghajarnya lagi namun Bumi dengan sekuat tenaga menahannya.
"Lo kesurupan atau apa Vin, sadar" Teriak Bumi yang kebetulan menyusul ke danau itu untuk ikut turut andil dalam proyek film kelompoknya.
Kevin dengan amarah yang masih memuncak memamerkan foto yang berhasil di jepretnya itu pada Bumi.
Wajah Bumi seketika merah padam, kali itu ia tanpa fikir panjang iapun menghampiri Dion dan menamparnya dengan sangat keras, membuat bibir Dion pecah dan berdarah.
"Anjing lo, berani lo nyakitin Cherry." Teriak Bumi dengan tatapan mata tajam penuh amarah.
Kali itu Yuda bersama teman teman satu team Kevin dan Bumi sampai ke tempat itu dan melerai mereka.
Dion termangu, ia masih belum bisa mencerna kejadian itu, dengan Kevin yang memukulnya ia merasa wajar, namun Bumi yang ia kenal sangat Chill dan tak pernah ikut campur urusan oranglain, mengapa kali ini turut campur atas masalahnya.
"Heh Udah, ngapain pada berantem disini" Teriak Yola panik. Terlebih mereka semua satu sekolah, kalau berita ini tersebar bisa bisa semua turut mendapat hukuman di sekolah.
"Udah udah, jangan pada berantem, bisa kan di obrolin baik baik." Ucap Tasya ikut mendinginkan suasana.
Bumi yang masih emosi, tampak berusaha untuk menghantam wajah Dion dengan pukulannya, namun sebuah tangan yg bukan milik Dion menangkis pukulan itu.
"Langit." Teriak Bumi geram "Ngapain lo nge lindung in dia?"
Langit tersenyum sinis "Siapa yang lindung in dia?" Ucapnya dingin.
Dengan serta merta ia menarik kerah baju Dion dan mencekik leher lelaki blasteran itu sambil melotot dan bergumam "Berani nyakitin Cherry, tandanya lo berani pasang bendera perang buat gue Dion, bajingan lo, brengsek."
Dion yang saat itu merasa terpojok berusaha melepaskan cekikan itu namun sangat sulit karena Langit sudah seperti orang kesurupan, tenaganya sangat besar membuat Dion sampai tak bisa bergerak.
"Tolong, tolong lepasin." Ujar Lulu sambil menangis dan memohon. "Tolong semuanya tolong." Pintanya kepada semua orang yang berkerumun di danau itu.
Akhirnya beberapa pria yang ada disitu dengan gerakan cepat menangkap tubuh Langit untuk melepaskan Dion dari cengkraman nya.
Langit melepaskan jari jemarinya dari leher Dion, wajahnya terlihat sangat marah.
Dion akhirnya bisa bernafas ia terbatuk dan terduduk sambil memegang lehernya kesakitan.
"Dion....." Ujar Lulu menghampirinya walau sambil masih ketakutan. Ia sangat khawatir dengan keadaan Dion saat itu. Iapun merasa geram mendapati ketiga laki laki freak dihadapannya menghajar Dion demi perempuan bernama Cherry itu.
"Kenapa kalian lakuin ini ke Dion Hah?" Teriaknya kepada ketiga lelaki itu.
Ketiga lelaki itu tak ada satupun yang menjawab, mereka hanya diam namun masih dalam posisi menahan emosi masing masing.
"Gue gak akan lepasin kalian, liat aja kalian bakal gue laporin ke polisi." Ancam Lulu dengan suara yang bergetar.
Langit tersenyum sinis pada gadis itu "Laporin aja." Ucapnya datar.
"Gue gak takut sama kalian, kalian semua bakal nanggung akibatnya udah nyakitin cowok gue." Ancam Lulu lagi.
"Silahkan lo atur laporan itu, gue udah gak sabar." Ujar Bumi tenang, kali itu ia sudah bisa mengurai emosinya.
Lulu keheranan mendapati 3 pria itu tampak tak merasa bersalah dengan perbuatan mereka mengeroyok Dion.
Ia yang merupakan nona muda kaya raya di kota Nirwana merasa sangat terhina di perlakukan seperti itu oleh mereka.
Bumi maju ke hadapan Dion dan Lulu kemudian berkata "Lo fikir bajingan ini berani laporin kita hah? Lo tanya sama dia, apa dia bener mau laporin kita." Tantang Bumi penuh dendam.
"Dion kita harus laporin mereka Dion." Kata Lulu mendesak pria kesayangannya itu.
Dion hanya diam tak menjawab desakan Lulu, membuat Lulu sangat tidak sabar dengan sikap Dion.
"Dion kamu takut apa sih" Bentaknya kesal.
Dion bangkit kemudian berjalan meninggalkan kerumunan itu begitupun dengan Lulu yang ditinggalkannya begitu saja.
"Dion" Panggil Lulu mengejarnya.
"Pengecut" Ejek Langit saat Dion lewat di dekatnya.
Dion tetap diam, tangannya mengepal menahan emosi, namun akal sehatnya berkata untuk tak memperkeruh suasana itu, dibandingkan harus membawa masalah itu ke Polisi, kali ini ia justru berharap bahwa bisa memutar waktu. Seandainya saja ia bisa tegas pada Lulu, dan juga jujur dengan hatinya.
Perasaan tak nyaman mulai merasukinya ia sadar sebentar lagi kisahnya dengan Cherry mau tak mau akan usai. Egonya luntur, ternyata saat ini ia merasakan perasaan takut kehilangan dan menyesal. "Cherry maafin aku" Gumamnya dengan penuh penyesalan.
***
Di rumah Dion
"Dion kenapa kamu babak belur kayak gini honey?" Tanya Mami Dion sangat Khawatir.
Dion hanya diam, namun Lulu mulai membuka mulutnya "Dion di keroyok Tante."
"Siapa yang berani sentuh anak lelaki Mami satu satunya ini, ayo kita lapor polisi." Tangan Mami sibuk mengoleskan obat oles pada anak kesayangannya.
Lulu mengangguk "Ayo Di, bener kata Tante, kita harus lapor polisi."
"Langit, Bumi sama Kevin
yang pukul aku mi." Ucap Dion sambil masih meringis kesakitan, menerima obat oles.
Mendengar nama Langit dan Bumi wajah Mami Dion berubah kaget. "Kok bisa, setau Mami mereka berdua itu anak anak yang baik."
"Salah Dion mi, Dion yang buat emosi mereka." Ujar Dion.
Maminya mengangguk paham, "Dion jangan sampai berita ini terdengar di telinga Papi ya sayang." Pintanya.
Dion mengangguk "Iya mi"
"Tapi Tante, Dion kan gak salah Tante kenapa dia harus ngalah." Ujar Lulu tak terima "Terus apa hubungannya mereka sama om tan?"
Mami Dion menarik nafas panjang "Lu kali ini Tante mohon kamu jangan ikut campur ya, kalau kamu pengen Dion baik baik aja lebih baik mulai sekarang jaga sikap kalian." Ujar Mami mengingatkan.
"Tapi Tante, Lulu gak bisa lihat Dion disakiti gitu tan."
"Lulu Ayo ikut ngobrol sama Tante di atas." Mami Dion menarik tangan gadis itu untuk ikut dengannya ke lantai 2, meninggalkan Dion yang kali itu tampak sangat lemas dan lemah.
Setibanya dilantai 2, Mami membuka pembicaraan serius dengan Lulu.
"Lu kamu pernah denger kan, soalnya Bapak Wijaya?"
Lulu mengangguk, setaunya Bapak Wijaya itu adalah orangtua angkat Papinya Dion, dulu saat kecil keluarga Edward bangkrut, lalu anak anak mereka di adopsi oleh beberapa orang kaya raya di negara mereka, dan kebetulan Edward diadopsi oleh Bapak Wijaya.
"Mungkin kalau bukan karena kebaikan Pak Wijaya, Papi Dion gak akan bisa menjadi pengusaha sukses seperti sekarang." Ujar Mami lagi.
"Lulu masih belum paham Tante apa hubungannya dengan kejadian tadi?"
"Langit dan Bumi adalah Cucu Pak Wijaya Lu, mereka juga sepupu tirinya Dion."
Lulu membuka mulutnya kaget "Hah" ucapnya.
"Kamu anak pintar Lu, Kamu pasti paham betul posisi Dion dan Tante saat ini, kalau Papinya Dion tau entah apa yang akan dilakukannya ke Dion, terlebih Tante sangat tau kalau Langit dan Bumi bukan tipe yang akan menyerang orang tanpa alasan, mereka anak anak terdidik dan punya reputasi yang harus di jaga baik baik, gak mungkin mereka bertindak gegabah dan sembarangan."
Lulu tertunduk lemas Ia teringat dulu Papinya pun pernah bercerita tentang Keluarga Wijaya, keluarga terpandang yang bahkan negara mereka pun bergantung secara ekonomi pada perusahaan perusahaan milik mereka.
Grup Wijaya adalah grup multinasional yang bergerak di berbagai bidang, ada manufaktur, kontruksi, perhotelan, pertambangan dan batu bara, industri kreatif, bahkan sekarang sedang merajai industri elektronik dan AI.
Keluarga Lulu dan Dion memang bukan juga orang biasa namun jika dibandingkan dengan Bumi dan Langit, maka mereka bukan tandingannya.
"Tante maafin Lulu ya, mungkin saat ini Lulu udah buat masalah bagi Dion." Ujarnya menyesal.
"Gak apa apa sayang, ini pelajaran penting untuk kamu, semoga setelah ini kamu dan Dion bisa jadi lebih dewasa lagi."
"Makasih Tante, Lulu akan selalu inget nasehat Tante, sepertinya Lulu harus pulang secepatnya, biar Dion gak kena masalah yang lebih besar."
Mami Dion mengangguk tanda setuju.
Itu tiap satu bulan, gonta-ganti terus dong?!
Ya Salaam... 🗿🗿🗿