Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pertama kerja
Pagi itu, Arka bersiap kembali bekerja di kantor pusat setelah beberapa hari mengambil cuti. Pria tegap itu berdiri di depan cermin, merapikan kemeja dan menyesuaikan posisi jam tangannya. Sebagai seorang Lead Structural Engineer, Arka biasa mengawasi perhitungan struktur bangunan dan fasilitas minyak lepas pantai dengan tingkat presisi tanpa toleransi kesalahan.
Namun, presisi dan ketenangan Arka di dunia teknik mendadak menguap begitu menatap Nala yang sedang mengoles selai pada roti di meja makan.
"sayang, beneran kamu udah gak apa-apa ditinggal?" tanya Arka ragu, melangkah mendekat sambil memegangi bahu istrinya. "Perut bawah kamu gimana? Kalau terasa agak ganjil dikit, langsung selonjoran ya! Jangan angkat-angkat yang berat!"
"Mas Arkaaa... aku cuma masuk angin sama asam lambung kemarin, bukan habis operasi!" omel Nala gemas sambil menjejalkan sepotong roti selai ke mulut suaminya. "Lagian kan ada Bi Minah di rumah! Udah sana berangkat, nanti kamu terlambat meeting!"
Bi Minah yang sedang menyapu di area dapur ikut terkekeh pelan. "Iya, Den Arka... Tenang aja, Non Nala sama Neng Aira biar Bibi yang jaga di rumah. Den Arka fokus kerja aja."
Aira yang duduk memeluk boneka kelincinya menunjuk Papanya dengan gaya sok dewasa.
"Papa pergi kerja aja. Biar Aila sama Bibi yang jadi pengawal Mama," celoteh Aira polos.
Arka menghela napas pasrah, mencium kening Nala dan pipi Aira bergantian sebelum akhirnya melangkah keluar menuju mobilnya.
Bagi orang luar atau rekan kerjanya, sikap Arka yang super panik dan protektif ini mungkin terlihat konyol atau berlebihan. Tapi mereka tidak tahu apa yang pernah dilalui pria itu.
Selama tiga tahun penuh, Arka terpaksa terpisah dari Nala dan Aira karena tugas proyek offshore di tengah laut lepas. Tiga tahun Arka kehilangan momen emas melihat Aira belajar berjalan, mendengar celotehan pertamanya, hingga momen-momen hangat mendampingi Nala di rumah. Ia hanya bisa menatap anak dan istrinya lewat layar ponsel yang sering kali kehilangan sinyal.
Maka, saat Arka akhirnya berhasil mengajukan mutasi ke kantor pusat di darat agar bisa pulang setiap hari, rasa takut kehilangan itu menjelma menjadi kepanikan yang luar biasa. Setiap lecet, setiap ringisan sakit dari Nala, atau helaan napas Aira langsung menyalakan sirine bahaya di kepala Arka. Pria itu hanya tidak ingin kehilangan satu detik pun momen berharga bersama keluarga yang baru saja ia dekap kembali.
Pukul 10.00 WIB, di ruang rapat lantai lima kantor pusat. Suasana rapat berlangsung sangat formal. Beberapa staf teknis memaparkan dokumen analisis beban struktur di layar proyektor. Sebagai Lead Structural Engineer, keputusan Arka sangat menentukan keselamatan proyek bernilai miliaran rupiah.
Namun, ponsel Arka yang diletakkan di atas meja rapat tak berhenti bergetar pelan.
Pesan dari "Bi Minah RT": "Den Arka, Non Nala baru selesai makan bubur. Sekarang lagi duduk nonton TV sama Neng Aira."
Arka bernapas lega, jemarinya mengetik balasan secepat kilat di bawah meja.
Balasan Arka: "Bi, pastikan Nala gak angkat galon atau sapu ya. Nanti jam 11 tolong sediakan air hangat buat Nala. Kalau ada pergerakan mencurigakan, langsung telepon saya!"
Rekan kerja di sebelah Arka menyikut pelan. "Pak Arka, untuk perhitungan ketahanan beban angin di struktur bagian atas, bagaimana analisis Bapak?"
Arka buru-buru menegakkan punggungnya, mendeham berat untuk mengembalikan citra pimpinan yang tegas dan disegani. "Ah, ya. Toleransi lentusan harus tetap kita batasi di L/360 agar struktur tetap aman..."
BZZZ! BZZZ!
Ponsel Arka bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk dari Nala.
Tanpa memikirkan rapat yang sedang berlangsung, Arka refleks menyambar ponselnya. "Maaf semuanya, ada panggilan darurat terkait struktur darat," ucap Arka serius lalu melangkah cepat keluar ruang rapat.
Para staf teknis hanya saling pandang, mengagumi dedikasi sang Lead Engineer yang mereka kira sedang mengurus keadaan darurat di lapangan.
"Halo, Nala?! Kenapa?! Kamu mual lagi?! Perutnya keram?!" cecar Arka panik begitu menerima telepon di koridor kantor.
Dari seberang telepon, bukannya suara ringisan sakit, justru terdengar dengusan gemas Nala.
"Mas Arka... kamu nih bener-bener ya!" omel Nala. "Bi Minah sampai bingung mau masak gara-gara HP-nya bunyi terus! Kamu ngapain telepon Bi Minah tiap lima belas menit sekali cuma buat nanya aku lagi ngapain?!"
Arka menggaruk tengkuknya lemas. "Ya... Mas kan cuma mau memastikan kamu gak kelelahan, Sayang..."
"Aku gak mungkin kelelahan mas, aku cuma di rumah, Mas... Aku kelelahan gara-gara melayani laporan berkala kamu sama Bi Minah!" celetuk Nala gemas.
Tak lama, suara Aira terdengar merebut ponsel Mamanya.
"Papa !" panggil Aira dengan nada amat tegas dari seberang telepon.
"Iya, Aira?"
"Papa fokus kelja aja! Bi Minah aman, Mama aman, Aila aman! Nanti kalau Papa ditegur bos Papa gimana?!" omel Aira polos ala reporter cilik.
(Papa Arka kalau di kantor sok keren ngurusin bangunan gede, tapi sama Mama Nala paniknya kayak ditinggal pesawat!)
Arka menyandarkan punggungnya di dinding koridor, mengelus dadanya sambil tersenyum pasrah. Pria tegap yang disegani ratusan teknisi di proyek itu kini tak berkutik diomeli anak dan istrinya sendiri lewat telepon.
"Iya, iya... Papa fokus kerja lagi. Jaga Mama ya, anak papa yang cantik ."
"Siap, Papa!" sahut Aira ceria sebelum menutup telepon.
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga