Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 16
... masa depan kalian."
Kalimat itu terucap dengan nada yang begitu tenang namun mengintimidasi, meresap ke dalam benak setiap tabib dan peracik obat yang bersujud. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani memandang remeh sang Permaisuri lagi.
"Hamba sekalian mematuhi perintah Yang Mulia Permaisuri!" seru puluhan tabib secara serempak, menundukkan kepala penuh rasa hormat dan patuh.
Anran membalikkan tubuhnya, melangkah anggun memasuki aula utama Balai Pengobatan Kerajaan. Kain gaun merah keemasannya melambai indah seiring langkah kakinya yang penuh wibawa. Tabib Zhou dan Lian bergegas mengikutinya di belakang dengan sikap penuh ketakzim.
Dalam beberapa jam berikutnya, Anran memimpin perombakan total di Balai Pengobatan. Dengan ketajaman ilmu medis dan sistem manajemen modern dari abad ke-21, ia menyusun ulang protokol penyimpanan obat-obatan terlarang. Setiap bahan beracun seperti Bunga Malam Biru dan Akar Salju kini diwajibkan menggunakan sistem pencatatan ganda serta segel khusus yang hanya bisa dibuka dengan persetujuan pribadi dari Anran dan Tabib Zhou.
Para tabib muda yang menyaksikan cara kerja Anran dibuat terkagum-kagum. Cara sang Permaisuri menganalisis jenis obat, mengenali racun dari baunya, hingga mengatur efisiensi kerja di balai pengobatan begitu presisi, seolah-olah beliau adalah master medis tingkat tertinggi.
Malam pun perlahan turun menyelimuti Istana Kerajaan Great Yan. Pendar rembulan keemasan menyinari atap-atap genteng Istana Fengyi yang kini tampak megah dan makmur kembali.
Anran baru saja selesai membasuh wajah dan mengganti pakaiannya dengan gaun sutra santai berwarna merah muda keemasan ketika Lian melangkah masuk dengan napas sedikit terengah-engah.
"Yang Mulia Permaisuri!" bisik Lian dengan wajah berbinar bercampur cemas. "Yang Mulia Kaisar Tian... sedang menuju ke Istana Fengyi! Beliau tidak membawa rombongan besar, hanya didampingi oleh Kasim Zhao!"
Anran yang sedang menyisir rambut hitamnya di depan cermin tembaga menghentikan jemarinya sejenak. Senyum tipis yang penuh pesona terukir di bibirnya yang kemerahan.
"Kaisar Tian datang sendiri?" gumam Anran halus. "Rupanya sang penguasa tidak sabar untuk melihat langsung hasil kerja Permaisurinya."
Tak berapa lama, pintu kayu berukir Istana Fengyi terdorong terbuka pelan. Kaisar Tian melangkah masuk. Jubah kebesaran naga hitam yang biasa ia kenakan telah berganti dengan gaun sutra santai berwarna biru gelap bersulam benang perak, mempertegas ketampanan dan wujud tegap tubuhnya.
Anran bangkit dari kursinya, membungkuk anggun memberi hormat. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar."
Kaisar Tian tidak langsung menyuruhnya berdiri. Sepasang mata elangnya menatap Anran dari ujung rambut hingga ujung gaunnya. Di bawah pendar cahaya lilin yang hangat, wajah Anran tampak begitu cantik memikat, memancarkan aura kecerdasan yang membuat dada sang kaisar bergetar ganjil.
"Berdirilah, Anran," suara Kaisar Tian bergaung rendah, begitu hangat dan berbeda dari intonasi dingin yang biasa ia gunakan di depan para menteri.
Anran menegakkan tubuhnya, menyambut tatapan Kaisar Tian tanpa sedikit pun canggung. "Apakah ada hal mendesak hingga Yang Mulia berkenan mengunjungi kediaman Hamba di larut malam seperti ini?"
Kaisar Tian melangkah mendekati meja teh, mendudukkan tubuh tegapnya di atas kursi kayu jati. "Kasim Zhao telah melaporkan seluruh perombakan yang kau lakukan di Balai Pengobatan Kerajaan hari ini. Kau memecat Tabib Kepala Lin dan menata ulang seluruh sistem medis dalam waktu