NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - KRISIS API DARAH

"Dia adalah suamiku sekarang." Kirana memperkenalkan Rangga kepada ibunya dengan singkat dan santai, lalu berkata sambil tersenyum, "Untuk sisanya, nanti saja kita bicarakan. Ayo, orang-orang di luar sudah menunggu, mari kita atur jalannya upacara pernikahan ini terlebih dahulu." Rasa gugup yang menguasainya tadi hilang seketika begitu pengesahan itu diterimanya, digantikan oleh kelegaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ratih menatap penuh keheranan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, tetapi putrinya tampaknya tidak ingin membahasnya lebih dalam saat ini. Ia hanya bisa menelan setiap pertanyaan yang menyesakkan dadanya.

Dan para tamu di balai jamuan yang sudah menunggu lama memang benar-benar tidak bisa lagi diabaikan.

Kirana menggenggam tangan Rangga dan berjalan menuju balai jamuan, tetapi tiba-tiba ia merasakan telapak tangan di genggamannya itu sangat panas.

Ia menoleh dan bertanya, "Rangga, kenapa kau?"

"Panas sekali... aku ingin mengeluarkan ekorku..." Suara Rangga terdengar sedikit memelas, dan tangannya menggapai-gapai hendak menarik kerah bajunya yang terasa sesak dan tidak nyaman. Butiran keringat halus mulai membasahi dahinya.

Danendra bukanlah manusia naga, sehingga busana yang disiapkan untuknya tidak dirancang khusus untuk manusia naga seperti Rangga.

Karena itulah Kirana meminta Rangga untuk menyembunyikan ekornya terlebih dahulu, sebab jika tidak, busana itu tidak akan bisa dikenakannya dengan baik.

Ia berkata dengan sabar kepada Rangga, "Bersabarlah sebentar, upacara pernikahan ini akan segera selesai. Setelah itu, kakak akan mengantarmu beristirahat."

Ratih sangat penasaran dengan menantu yang muncul begitu saja di hadapannya ini, seolah jatuh dari langit tanpa aba-aba. Ia mengamati setiap gerak-gerik pemuda itu, berusaha menebak dari keluarga mana asalnya dan mengapa ia bisa sampai ke sini.

Ia mengamati penampilan Rangga, dan tiba-tiba alisnya menunduk, "Rara, apakah dia sudah masuk dalam tahap Masa Api Darah?"

"Masa Api Darah?"

Hanya manusia naga yang mengalami Masa Api Darah, karena manusia naga adalah salah satu fenomena kemunculan kembali darah kuno yang sangat langka. Di keluarga Wijaya, hanya kakak tertua Kirana, Pandhu, yang merupakan manusia naga. Saat ini, Pandhu sedang duduk di tahun ketiga Akademi Militer Kekaisaran, dan kemunculannya sendiri sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh keluarga.

Setelah seorang manusia naga menginjak dewasa, ia akan mengalami Masa Api Darah setiap tahun, dan lamanya masa itu bisa berbeda-beda setiap kali.

Setiap kali memasuki Masa Api Darah, manusia naga itu akan menjadi tidak stabil emosinya, mudah merasa tidak aman, bahkan sering kali berubah menjadi sangat cengeng. Setelah masa itu berakhir, ingatan selama masa tersebut akan menjadi kabur dan tidak jelas, seolah tidak pernah terjadi sama sekali.

Manusia naga yang sudah memiliki pasangan dapat meminta bantuan pasangannya untuk meredakan Masa Api Darah tersebut.

Adapun manusia naga yang belum memiliki pasangan biasanya mengonsumsi Ramu Sejiwa, atau menahannya dengan paksa, yang nantinya akan merusak kekuatan spiritual maupun kesehatan fisik mereka.

Ratih berkata dengan penuh keyakinan, "Saat kakakmu sedang dalam Masa Api Darah, perilakunya sangat mirip dengan pemuda ini. Apa dia tidak membawa ramu khususnya?" Suaranya pelan, tetapi penuh kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

Kirana menoleh untuk melihat Rangga. Ujung mata Rangga tampak memerah, dan tangannya menggenggam tangan Kirana dengan kuat, seolah takut gadis itu akan menghilang begitu saja dari sisinya.

"Kak tidak bisa mengingat siapa nama Kak sendiri, apalagi mengingat untuk membawa ramu khusus."

Kirana segera berkata, "Bu, tolong ambilkan ramu khusus milik Kak Pandhu untukku. Aku akan menyelesaikan upacara pernikahan ini terlebih dahulu, dan begitu selesai, aku akan langsung memberikannya padanya." Ia menguatkan genggaman tangannya pada Rangga, seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Sudah terpaksa begitu. Begitu pula adanya." Ratih menghela napas panjang, "Hari ini benar-benar hari yang tidak biasa, dan sepertinya ada banyak kejutan yang harus kami hadapi satu demi satu."

Sementara Kirana dan Rangga berjalan menuju balai jamuan, Bawono dipersilakan naik ke panggung dengan wajah yang sangat tidak enak. Setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa beban yang jauh melebihi apa yang bisa ia pikul.

Sampai saat itu, Danendra belum juga kembali, dan pernikahan ini sepertinya memang sudah hancur.

Bawono merasa bahwa putrinya telah mempermalukan seluruh keluarganya di depan semua orang!

Baru Pandhu, putra sulungnya, yang berbisik dengan suara pelan, "Ayah, hari ini ada orang-orang penting dari Provinsi Kedaton. Ayah tidak boleh marah, Kakek juga masih menonton dari kursi tamu!"

Kakek keluarga Wijaya, Kakek keluarga Prasaja, serta beberapa pejabat tinggi dari Provinsi Kedaton duduk di barisan paling depan.

Mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kedudukan, dan hingga saat ini mereka masih terlihat tenang, sesekali berbincang-bincang dengan suara pelan.

Namun jumlah orang yang hadir hari ini sangat banyak.

Setelah menunggu begitu lama tanpa upacara dimulai, sudah ada beberapa orang yang mulai berbisik-bisik.

"Kudengar Danendra masih berada di Provinsi Segara, jauh dari tempat acara ini digelar."

"Wajah keluarga Wijaya akan sangat dipermalukan hari ini. Kau tahu, orang-orang dari seluruh provinsi hadir di sini."

"Kudengar dalam lebih dari satu jam, putri keluarga Wijaya itu akan genap berusia dua puluh tahun. Jika ia tidak menikah, ia akan dijodohkan secara acak dengan seorang pria yang tidak ia kenal sama sekali!"

"Entah apakah nanti akan jatuh kepadaku, hahaha."

"Menurutmu? Dia itu anak yang sakit-sakitan. Bukankah dulu ia terbaring di dalam Peti Kaca Rembulan selama beberapa tahun? Entahlah, apakah ia masih bisa memiliki keturunan..." Bisikan itu terdengar semakin lama semakin jelas, menyebar dari satu meja ke meja lainnya.

"Sungguh, mereka ini bisa saja membicarakan apa saja."

Di sisi keluarga Prasaja, raut wajah mereka pun berbeda-beda. Ibu Prasaja sudah tidak bisa duduk dengan tenang, kedua tangannya meremas-remas kipas yang ia pegang sepanjang malam.

Bagaimana jika keluarga Wijaya justru menjadi musuh mereka karena pernikahan ini?

Daniati berkata dengan sangat tenang, "Jangan khawatir. Kirana sangat mencintai kakakku. Bahkan jika ia menikah dengan orang lain, ia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bercerai, lalu terus mengejar kakakku!"

Ibu Prasaja mengerutkan kening, "Perceraian itu tidak semudah itu. Bagaimana kalau ia tidak bisa bercerai?"

Daniati mencibir sambil menikmati, "Kalau begitu, salahkan Kirana saja karena nasibnya kurang beruntung." Ucapannya terdengar ringan, padahal setiap kata itu penuh dengan kebencian yang tersimpan rapi bertahun-tahun.

Mendengar semua kata-kata itu, wajah Bawono semakin gelap. Ia bisa merasakan telinganya panas oleh setiap bisikan yang menyebut nama keluarganya dengan nada meremehkan.

Ia menarik napas dalam-dalam, menahan api amarah di dadanya, memaksakan senyum di wajahnya, dan baru saja hendak berbicara untuk mengakhiri kekacauan ini ketika ia melihat pintu balai tiba-tiba terbuka lebar.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!