Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Harga Sebuah Tamparan
Sari datang ke rumah Ratna dua hari setelah pesan itu.
Ia tidak datang sendirian.
Seorang perempuan muda ikut bersamanya, mungkin anaknya, mungkin keponakan. Perempuan itu menunggu di luar pagar dengan wajah masam, sementara Sari berdiri di teras Ratna memakai gamis cokelat dan kerudung krem. Wajahnya dipoles rapi, tetapi matanya merah seperti kurang tidur.
Ratna sedang menjemur kain lap di halaman belakang ketika bel berbunyi.
Ia membuka pintu depan dan tidak terkejut.
"Masuk?"
Sari menatap ruang tamu. "Tidak perlu. Saya cuma sebentar."
"Kalau begitu bicara."
Sari menggenggam tasnya. "Saya dengar Pak Arman memberi Ibu perhiasan."
Ratna bersandar di kusen pintu.
"Kamu datang untuk mendata isi rumahku?"
"Saya datang untuk mengingatkan. Jangan merasa paling suci. Kamu menggugat Bang Bambang karena saya, tapi kamu sendiri menerima perhatian laki-laki lain."
"Aku tidak pernah bilang aku suci."
"Tapi kamu membuat semua orang melihat saya seperti perempuan hina."
Ratna menatapnya. "Kamu butuh bantuanku untuk terlihat hina?"
Wajah Sari memerah.
Perempuan muda di luar pagar menoleh tajam.
Sari menurunkan suara. "Bu Ratna, jangan memancing. Saya datang baik-baik."
"Kamu datang menuduhku di rumahku."
"Saya datang meminta keadilan."
Ratna hampir tertawa. "Keadilan untuk siapa?"
Sari membuka tas dan mengeluarkan map kecil.
"Rumah yang Bang Bambang belikan untuk saya sudah mau dibatalkan. Uang muka sebagian hangus. Saya tidak punya tempat tinggal tetap. Nama saya rusak. Semua orang menyalahkan saya. Sementara Ibu dapat rumah dari laki-laki kaya."
"Aku menyewa rumah ini."
"Orang tidak peduli itu sewa atau hadiah. Mereka lihat Pak Arman di belakang Ibu."
"Itu masalah mereka."
"Itu juga masalah saya!"
Suara Sari meninggi.
Ratna menatap jalan. Beberapa tetangga mulai keluar. Bu Rini tentu saja muncul paling cepat, berpura-pura menyiram tanaman yang tidak butuh air.
Ratna membuka pintu lebih lebar.
"Kalau mau bicara keras, masuk. Jangan memberi tontonan gratis."
Sari ragu, lalu masuk. Perempuan muda di luar pagar tetap menunggu.
Di ruang tamu, Sari tidak duduk.
"Saya ingin Ibu mencabut tuntutan soal rumah."
Ratna menatapnya.
"Apa?"
"Rumah itu memang atas nama saya. Bang Bambang memberikannya dengan sukarela. Jangan masukkan saya ke urusan harta bersama kalian."
"Uang yang dipakai uang pernikahan kami."
"Itu urusan kamu dan Bang Bambang. Saya menerima karena dia memberi."
"Maka kamu ikut menikmati hasil pengkhianatan."
Sari menggigit bibir. "Kalau Ibu terus menyeret saya, saya juga bisa bicara."
"Bicara apa?"
Sari menatapnya tajam. "Tentang Pak Arman. Tentang rumah ini. Tentang perhiasan. Tentang laki-laki kaya yang datang sebelum cerai putus. Saya bisa buat orang bertanya apakah Ibu benar-benar korban atau hanya mencari alasan untuk pindah ke laki-laki lebih kaya."
Ratna diam.
Ancaman itu akhirnya keluar jelas.
"Kamu mengancamku?"
"Saya melindungi diri."
"Dengan memfitnah?"
"Dengan menceritakan apa yang orang lihat."
Ratna duduk di kursi. Ia menunjuk kursi di depannya.
"Duduk."
Sari tidak bergerak.
"Duduk, Sari. Kakimu gemetar."
Sari tersentak, tetapi akhirnya duduk.
Ratna mengambil ponsel dan meletakkannya di meja, layar menghadap atas.
"Aku merekam?"
Sari pucat.
Ratna berkata, "Belum. Tapi kalau kamu lanjut mengancam, aku mulai."
"Bu Ratna..."
"Dengar. Aku tidak mengejar rumahmu karena aku ingin kamu tidur di jalan. Aku mengejar karena uang itu bagian dari harta bersama. Kalau nanti secara hukum diputuskan uang itu hak Bambang untuk diberikan padamu, silakan. Tapi kalau bukan, kamu harus mengembalikan."
"Saya tidak punya uang."
"Itu bukan alasanku untuk diam."
Sari menunduk.
Untuk beberapa detik, ia tampak lelah. Bukan Sari yang menantang di rumah makan, bukan Sari yang menangis di depan keluarga, melainkan perempuan tua yang sama takutnya dengan Ratna, hanya saja memilih jalan yang melukai orang lain.
"Saya sudah menunggu dia lama," kata Sari pelan.
"Aku tahu."
"Kalau rumah itu batal, saya dapat apa?"
"Mungkin pelajaran bahwa janji laki-laki beristri tidak bisa dijadikan sertifikat."
Sari menatap Ratna, matanya kembali menyala.
"Ibu kejam."
"Aku terlambat kejam."
Sari berdiri. "Kalau begitu jangan salahkan saya kalau orang-orang tahu soal Pak Arman."
Ratna juga berdiri.
"Silakan."
Sari tidak menduga jawaban itu.
"Apa?"
"Silakan bicara. Katakan Pak Arman menolongku saat dijambret. Katakan dia datang ke klinik sebagai pasien. Katakan aku menyewa rumah dari perusahaan keluarganya dengan kontrak. Katakan dia memberiku bros yang bahkan belum kupakai. Setelah itu aku akan menunjukkan pesan ancamanmu, bukti rumah atas namamu, kuitansi makam, dan chat sepuluh tahun dengan suamiku."
Wajah Sari berubah semakin pucat.
"Kamu pikir orang akan tetap melihat kita sama?"
Sari menggenggam tasnya.
Ratna melangkah mendekat.
"Aku tidak takut orang membicarakanku lagi, Sari. Aku sudah dibicarakan saat diam. Bedanya sekarang aku punya bukti."
Sari berkata dengan suara bergetar, "Kamu menghancurkan hidup saya."
Sesuatu dalam Ratna putus.
Ia mengangkat tangan.
Tamparan itu tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat Sari terhuyung dan memegang pipinya.
Di luar, Bu Rini berseru tertahan.
Perempuan muda di pagar langsung berlari masuk. "Ibu!"
Ratna menurunkan tangan. Telapak tangannya panas.
Ia tidak merasa bangga. Tetapi ia juga tidak menyesal.
Sari menatapnya dengan mata terbelalak. "Kamu menampar saya?"
Ratna berkata pelan, "Itu untuk kalimat barusan. Hidupmu tidak kuhancurkan. Kamu yang menyerahkan hidupmu pada laki-laki pengecut, lalu menyalahkan istrinya."
Perempuan muda itu memeluk Sari. "Ayo pulang, Bu."
Sari masih menatap Ratna dengan air mata marah.
"Saya bisa lapor polisi."
"Silakan. Aku akan jelaskan kenapa kamu datang mengancamku. Di rumahku. Dengan saksi tetangga yang dari tadi menguping."
Bu Rini di luar langsung pura-pura melihat langit.
Pak Mahmud muncul di pagar. "Bu Sari, sebaiknya pulang dulu. Biar tidak makin panjang."
Sari tampak ingin melawan, tetapi perempuan muda itu menariknya.
Sebelum pergi, Sari berkata, "Bang Bambang tidak akan memaafkan ini."
Ratna menatapnya.
"Aku tidak sedang mencari maaf dari Bambang."
Sari pergi dengan langkah tersandung.
Setelah pagar tertutup, Bu Rini masuk tanpa diundang.
"Bu Dokter..."
"Jangan."
"Saya cuma mau bilang..."
"Jangan juga."
Bu Rini menutup mulutnya dengan dua tangan, tetapi matanya bersinar seperti baru menyaksikan episode puncak sinetron.
Pak Mahmud berdiri di teras. "Bu Ratna, apa perlu saya panggil siapa-siapa?"
"Tidak, Pak. Terima kasih."
Ratna masuk ke rumah, menutup pintu, lalu duduk di sofa.
Tangannya masih panas.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arman.
Arman: Bu Rini mengirim pesan panik. Ibu baik-baik saja?
Ratna menatap layar.
Ia bisa membayangkan Bu Rini mengetik dengan jari gemetar sekaligus bersemangat.
Ratna membalas:
Ratna: Saya baru menampar Sari.
Balasan Arman lama tidak datang.
Lalu akhirnya:
Arman: Apakah tangan Ibu sakit?
Ratna menatap pesan itu.
Lalu, untuk pertama kalinya setelah menampar seseorang, ia tertawa.
Tawanya kecil, lelah, tetapi nyata.
Ia membalas:
Ratna: Sedikit.
Arman: Kompres dingin. Dan lain kali, pastikan ada saksi.
Ratna membaca pesan itu dua kali.
Di luar, tetangga masih berbisik. Sari mungkin sedang menangis. Bambang pasti akan segera tahu. Masalah belum selesai.
Tetapi Ratna duduk di rumahnya sendiri, memegang ponsel, dengan tangan yang panas dan hati yang tidak lagi membeku.
Harga sebuah tamparan mungkin mahal.
Namun harga diam selama puluhan tahun jauh lebih mahal.
Malam itu, Ratna mengompres tangannya seperti saran Arman.
Ia duduk di ruang tamu, hanya ditemani suara kipas angin baru yang dibeli Melati. Rumah itu belum lengkap, tetapi mulai punya bunyi sendiri. Bunyi yang tidak mengingatkannya pada rumah lama.
Bu Rini mengirim pesan:
Bu Rini: Saya tidak bilang ke siapa-siapa.
Lima detik kemudian:
Bu Rini: Tapi orang-orang sudah tahu sendiri.
Ratna tertawa kecil dan membalas:
Ratna: Tentu.
Tak lama kemudian, Raka menelepon.
"Bu, benar Ibu menampar Sari?"
"Benar."
Di seberang, Raka diam beberapa detik.
"Tangan Ibu sakit?"
Ratna melihat kompres dingin di tangannya.
"Sedikit."
"Bagus."
"Bagus?"
"Maksudku, bagus Ibu yang menampar. Kalau aku yang ada di sana, urusannya bisa lebih panjang."
Ratna menghela napas. "Jangan bangga pada kekerasan."
"Aku bangga Ibu membela diri."
Setelah telepon ditutup, Ratna menyandarkan kepala ke sofa.
Membela diri ternyata melelahkan.
Namun lelah itu berbeda dari lelah karena diam.
Lelah yang ini punya rasa hangat, seperti otot yang baru dipakai berjalan setelah lama terikat.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan