Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sshhh.
Suara daging sapi wagyu yang dipanggang di atas besi panas terdengar sangat menggugah selera.
Aroma gurih dari bumbu kecap manis menyebar ke seluruh penjuru ruangan pribadi restoran tersebut.
"Rara mau daging yang potongannya paling besar Om!" teriak Rara sambil memegang garpunya tinggi-tinggi.
Bayu tertawa pelan dan meletakkan potongan daging matang itu ke atas piring kecil milik keponakan bungsunya.
"Pelan-pelan makannya Rara, nanti tersedak lagi seperti waktu makan ayam goreng kemarin," tegur Sinta mengingatkan adiknya.
Kania dan Bella sibuk berebut selada hijau untuk membungkus daging panggang mereka ala artis Korea di televisi.
"Om Bayu, tempat ini enak sekali karena kita bisa memasak sendiri di atas meja," puji Cika dengan mulut penuh daging.
"Kalau kalian suka, Om akan mengajak kalian makan di sini lagi minggu depan," balas Bayu dengan senyum yang sangat lebar.
Makan siang itu ditutup dengan tagihan sebesar dua belas juta rupiah yang dibayar santai menggunakan Blackcard oleh Bayu.
Mereka pulang ke apartemen menggunakan mobil Alphard putih yang kini sudah penuh sesak dengan tumpukan mainan mahal.
Sesampainya di apartemen, keenam gadis kecil itu langsung tepar dan tertidur pulas di atas karpet ruang tamu.
Bayu tidak tega membangunkan mereka sehingga dia hanya mengambil selimut dan menutupi tubuh mungil mereka satu per satu.
Malam harinya, suasana apartemen menjadi sangat sunyi karena anak-anak masih tertidur dengan nyenyak.
Bayu merebahkan tubuhnya di atas sofa yang sama seperti kemarin malam sambil menatap layar terang ponselnya.
Dia membuka aplikasi pesan singkat dan menatap kontak bernama Alya Nadhira selama lima menit penuh tanpa berkedip.
"Apakah aku harus mengiriminya pesan duluan sekarang untuk basa-basi?" gumam Bayu merasa sedikit ragu dan gugup.
"Tapi kalau aku tidak mulai duluan, nanti dia pikir aku pria yang tidak tertarik padanya."
Jari Bayu akhirnya mengetik sebuah pesan sapaan yang menurutnya cukup kasual dan tidak terlalu memaksa untuk dibalas.
"Malam Alya, ini Bayu, kamu belum tidur kan malam ini?" ketik Bayu lalu segera menekan tombol kirim.
Bayu meletakkan ponselnya di dada sambil memejamkan mata menunggu balasan dengan jantung berdebar sangat kencang.
Ting.
Bunyi notifikasi pesan masuk langsung membuat mata Bayu terbuka lebar seperti burung hantu.
"Malam juga Bayu, aku belum tidur kok karena aku baru saja selesai mandi air hangat."
Bayu menelan ludahnya membaca balasan itu sambil membayangkan wajah cantik Alya yang segar sehabis mandi.
"Wah pasti segar sekali ya rasanya setelah lelah bekerja seharian di kantor tadi siang."
"Lumayan Bayu, oh ya bagaimana kabar keponakan-keponakanmu yang lucu-lucu itu?" balas Alya dengan balasan yang cukup cepat.
"Mereka semua sudah tidur pulas karena kelelahan memborong mainan di mall siang tadi bersamaku."
"Wah pamannya benar-benar sangat pengertian ya sampai mau memborong mainan segala untuk mereka."
Percakapan mereka lewat pesan teks terus berlanjut membahas masa lalu saat kuliah dan hal-hal lucu yang pernah mereka alami.
Bayu bahkan menceritakan bagaimana dulu dia pernah salah masuk kelas hingga ditertawakan oleh dosen pembimbingnya.
Alya merespon dengan banyak emotikon tertawa yang membuat hati Bayu terasa semakin melayang terbang ke langit ketujuh.
"Bayu, terima kasih banyak ya kamu sudah mau menyapaku duluan hari ini."
"Jujur saja aku merasa sedikit kesepian akhir-akhir ini setelah putus dari tunanganku bulan lalu."
Membaca pesan bernada sedih itu, insting pelindung Bayu sebagai seorang pria langsung bangkit seketika.
"Kamu tidak perlu merasa kesepian lagi Alya, nomor ponselku ini akan selalu aktif dua puluh empat jam penuh untukmu."
"Kalau kamu butuh teman untuk mengobrol atau teman jalan, hubungi saja aku kapan pun kamu mau."
Balasan dari Alya selanjutnya membuat Bayu tidak bisa berhenti tersenyum sampai giginya terasa kering terkena angin.
"Terima kasih banyak Bayu, kamu memang pria yang sangat baik sejak dulu kita kuliah."
"Selamat tidur ya paman yang baik hati, sampai jumpa lagi besok atau kapan-kapan."
"Selamat tidur juga bidadari kampus, mimpi indah ya malam ini."
Bayu memeluk ponselnya dengan erat lalu berguling-guling kecil di atas sofa saking senangnya mendapatkan respon positif.
"Sistem, sepertinya aku tidak butuh misimu untuk mendapatkan Alya karena pesona alami wajahku saja sudah cukup."
[Sistem menyarankan Tuan untuk tidak terlalu percaya diri sebelum cincin resmi melingkar di jari target.]
Bayu mendengus pelan mendengar balasan sistem yang sangat jujur namun merusak suasana hatinya itu.
"Dasar sistem tidak tahu diuntung, diam saja kau di sana dan jangan ganggu tidur indahku malam ini."
Pagi harinya Bayu terbangun lebih awal dari biasanya dengan semangat yang menyala-nyala di dalam dadanya.
Hari ini adalah hari Senin yang berarti dia harus kembali ke kantor PT Cipta Kreasi untuk membuat perhitungan dengan atasannya.
Bayu mandi dan berdandan dengan sangat rapi menggunakan kemeja hitam mahal yang baru dia beli kemarin di mall.
Dia menyisir rambutnya ke belakang menggunakan pomade agar terlihat lebih segar, rapi, dan berwibawa layaknya bos besar.
Sinta terbangun dan mengucek matanya melihat penampilan pamannya yang sangat berbeda dan harum pagi ini.
"Om Bayu mau pergi bekerja ke kantor atau mau pergi kencan dengan Tante Alya?" goda Sinta sambil menguap lebar.
"Om mau ke kantor Sinta, hari ini Om harus menyelesaikan urusan penting dengan bos botak yang menyebalkan itu."
"Tolong jaga adik-adikmu di rumah ya, uang jajan kalian sudah Om siapkan banyak di atas meja televisi."
"Baik Om Bayu, tenang saja mereka semua akan aman bersamaku di sini."
"Tapi Om jangan pulang terlalu larut ya malam ini, nanti Rara pasti menangis mencari Om lagi."
Bayu mengangguk setuju dan mengusap puncak kepala Sinta dengan lembut sebelum melangkah keluar dari apartemen.
Dia berjalan menuju area parkir dan langsung menghampiri Lamborghini Aventador hitam miliknya yang mengkilap.
Bip bip.
Lampu mobil sport itu menyala terang menyambut kedatangan sang pemilik yang sudah siap membuat kekacauan hari ini.
Bayu masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya yang langsung berderum dengan sangat garang memecah keheningan.
Brummm.
Suara knalpot mobil sport itu membuat beberapa tetangga apartemen melongok dari jendela mereka karena merasa sangat kaget.
Bayu menginjak pedal gas dan mobil itu melesat cepat membelah jalanan pagi kota Jakarta yang mulai padat merayap.
Banyak pengendara lain yang sengaja memberi jalan karena takut menyenggol mobil yang harganya belasan miliar tersebut.
Bayu sangat menikmati setiap detik perjalanannya sambil mendengarkan musik jazz dari audio mobil yang sangat jernih dan mahal.
"Hari ini aku akan memberikan kejutan kecil untuk Pak Yono dan semua penjilat di kantor pemeras keringat itu."
Gedung perkantoran PT Cipta Kreasi terletak di kawasan elit Sudirman yang dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit.
Kantor Bayu berada di lantai lima belas namun area parkirnya terletak di halaman depan gedung besar tersebut.
Biasanya Bayu hanya memarkirkan motor bebek tuanya di area parkir belakang yang panas, sempit, dan bau.
Namun hari ini dia langsung mengarahkan mobil Lamborghini-nya menuju area parkir VIP tepat di dekat lobi utama.
Ciiit.
Bayu mengerem mobilnya dengan mulus tepat di sebelah mobil sedan pabrikan Jepang berwarna silver milik Pak Yono.
Seorang satpam paruh baya bernama Pak Joko segera berlari menghampiri mobil Bayu dengan wajah sangat panik.
"Maaf Tuan, parkiran ini khusus untuk jajaran direksi dan tamu VIP perusahaan kami saja," tegur Pak Joko sambil mengetuk kaca mobil.
Bayu tersenyum lalu menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela mobilnya secara perlahan.