NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Sangkar Emas

Pewaris Dalam Sangkar Emas

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.

​Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.

​Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

****

Bau lembap tanah dan aroma kulit tua yang mengendap puluhan tahun memenuhi udara dingin di ruang disiplin bawah tanah Mansion Elard. Ruangan kedap suara yang terletak di balik dinding tebal sayap barat itu terisolasi sepenuhnya dari dunia luar, hanya diterangi oleh pendar lampu dinding bernuansa kuning temaram yang merayap di atas lantai marmer hitam.

Di tengah ruangan, Kenzo berlutut kaku di atas marmer yang sedingin es. Kemeja abu-abu yang ia kenakan siang tadi kini tergeletak di lantai, meninggalkan tubuh bagian atasnya bertelanjang dada. Bahunya yang kokoh membentang kaku, sementara dadanya naik turun tak teratur menahan napas yang terasa sesak. Kedua tangannya mencengkeram erat besi pembatas dinding yang bertaut di lantai, menahan berat tubuhnya yang bergetar tipis.

Di hadapannya, Kakek Hendra duduk di atas kursi roda dengan wajah yang membeku bagaikan batu nisan. Di samping pria tua itu, Ayah Bramantyo berdiri tegap, menggenggam seutas pecut kulit hitam tebal berujung simpul baja—senjata tradisi kelam dinasti Elard yang telah membekas di tubuh Kenzo sejak ia masih kecil.

"Buka matamu, Kenzo!" bentak Bramantyo dengan suara bariton yang menggema keras di dalam ruang kedap suara tersebut. "Tatap wajah kakekmu dan ulangi lagi kata-kata pembangkanganmu di rumah sakit siang tadi!"

Kenzo perlahan mengangkat kepalanya. Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan menyapu dahi yang dipenuhi peluh dingin. Sorot matanya memerah, berkilat penuh kegelapan dan keberanian mutlak yang tak tergoyahkan.

"Saya... tidak akan pernah membiarkan kalian menyentuh Alana lagi," ujar Kenzo dengan suara berat, dalam, dan sarat akan penekanan dingin. "Saya menolak menceraikannya. Dan anak perempuan di dalam rahimnya... adalah putri kandung saya yang akan saya lindungi dengan seluruh taruhan hidup saya."

Brak!

Kakek Hendra menghantamkan tongkat peraknya ke lantai marmer dengan murka yang tak tertahankan.

"Dasar anak tidak tahu diri!" raung Kakek Hendra, matanya membelalak lebar memancarkan amarah yang membakar. "Kamu bertingkah bagaikan pria lemah yang dibutakan oleh cewek dari keluarga Adhijaya itu! Kamu mengorbankan martabat keluarga, menantang dewan direksi, dan sekarang kamu rela menerima anak perempuan yang tidak ada gunanya bagi takhta Elard Corp?!"

"Anak saya bukan komoditas bisnis, Kakek!" balas Kenzo dengan bentakan keras yang menggetarkan dinding ruangan. "Dia adalah darah daging saya! Laki-laki atau perempuan, saya yang memilih untuk membesarkannya!"

Bramantyo menyipitkan matanya tajam, rahangnya mengeras rapat. "Kamu sudah lupa siapa yang membentukmu menjadi CEO penguasa kota ini, Kenzo? Kamu lupa dari mana kekuasaan dan nama besar yang kamu sandang itu berasal?! Jika kamu bertindak lembek seperti ini demi seorang wanita, kamu tidak layak memegang takhta Elard!"

"Kalau begitu, cabut jabatan saya!" tantang Kenzo tanpa kedipan panik, matanya menatap lurus mata ayahnya. "Ambil seluruh saham saya! Lempar saya keluar dari dinasti sialan ini! Tapi jangan pernah bermimpi kalian bisa memisahkan saya dari Alana dan calon anak saya!"

Kata-kata pembangkangan total itu menjadi sulut terakhir yang membakar habis sisa kesabaran sang patriarch.

Kakek Hendra memberi isyarat dingin dengan lambaian tangannya. "Cambuk dia, Bramantyo. Ingatkan anak ini bagaimana rasa sakit mendidik seorang penguasa."

Bramantyo melangkah satu tingkat ke belakang. Otot tangannya menegang saat ia mengayunkan pecut kulit tebal itu ke udara.

Crasssh!

Suara tebasan pecut yang membelah udara beradu dahsyat dengan kulit punggung Kenzo.

Sabetan keras bermata besi itu mengoyak permukaan kulit mulus Kenzo dari pundak kanan hingga pinggang kirinya. Jalur merah membara seketika menyeruak, disusul oleh lelehan darah hangat yang merembes keluar dan menetes ke atas lantai marmer putih.

Tubuh tegap Kenzo tersentak hebat. Rahangnya mengatup amat rapat hingga gigi-giginya bergemertak keras, sementara jemari tangannya mencengkeram besi pembatas begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

Namun, tidak ada jeritan. Tidak ada raungan keputusasaan yang keluar dari tenggorokan sang CEO.

"Ulangi ucapanmu, Kenzo!" bentak Bramantyo seraya mengangkat kembali pecutnya. "Katakan kalau kamu akan menceraikan wanita itu dan menyerahkan hak asuh anak perempuan itu kepada keluarga!"

Kenzo memejamkan matanya rapat-rapat, menahan sensasi terbakar yang merobek saraf-saraf punggungnya.

Crasssh!

Cambukan kedua menghantam tepat di atas luka pertama, mengoyak jaringan kulit kian dalam. Darah segar menyembur tipis, membasahi lantai marmer yang dingin.

"Saya... tidak... akan... pernah..." bisik Kenzo dengan suara yang tertahan di balik selipan giginya.

Di balik pekatnya rasa sakit fisik yang membakar punggungnya, ingatan Kenzo mendadak terlempar mundur ke masa lalu—ke belasan tahun silam di ruangan yang sama.

Ia mengingat sosok dirinya saat masih berusia sepuluh tahun. Seorang anak kecil yang gemetar ketakutan di sudut ruangan ini, menangis histeris ketika pecut yang sama menghantam punggung kecilnya hanya karena ia meraih peringkat kedua di sekolah. Ia mengingat bagaimana kakek dan ayahnya mengajarkannya bahwa emosi adalah kelemahan, bahwa cinta adalah racun, dan bahwa manusia lain hanyalah bidak yang harus dikuasai atau dihancurkan.

Sepanjang hidupnya, Kenzo dibentuk menjadi monster dingin berhati es melalui cambukan dan manipulasi psikologis yang tak berkesudahan. Dan ia telah menjadi monster itu—monster yang akhirnya tega menghancurkan hidup Alana, menindas jiwanya, dan menjadikannya tumbal dalam permainan kontrak bisnis mereka.

Crasssh!

Cambukan ketiga melayang tajam, merobek pundak kirinya.

Nghhh...!

Kenzo mengerang rendah, dadanya menempel kaku pada marmer dingin. Punggungnya kini nampak bagaikan kanvas merah bercak darah yang menyiksa penglihatan.

Namun di tengah siksaan fisik yang amat biadab itu, sebuah pemahaman baru justru merayap terang di dalam benak Kenzo.

Hukuman cambuk masa kecilnya dulu adalah hukuman yang menanamkan rasa takut dan kepatuhan kaku. Tapi malam ini... cambukan ini adalah bentuk penebusan dosanya. Setiap sabetan yang mengoyak kulitnya terasa bagaikan pembaptisan darah untuk membilas dosa-dosa kejamnya pada Alana.

Biarkan punggungku berdarah, batin Kenzo mencengkeram lantai marmer kian erat, membayangkan wajah pucat Alana yang tertidur lelap di kamar utama lantai atas. Biarkan rasa sakit ini menguliti tubuhku... asal rasa sakit itu tidak menyentuh Alana dan putri kecilku sedikit pun.

"Bramantyo, teruskan sampai dia berlutut memohon!" perintah Kakek Hendra dingin tanpa belas kasihan sedikit pun melihat cucu kandungnya bersimbah darah.

Crasssh!

Crasssh!

Crasssh!

Bunyi tebasan pecut bergema beruntun memecah keheningan ruang bawah tanah. Lima, delapan, sepuluh cambukan terus menghantam punggung Kenzo tanpa ampun. Kemeja putih yang tergeletak di lantai kini terciprat noda darah merah pekat. Keringat dingin bercampur air mata penyesalan menetes dari ujung dagu Kenzo, membasahi marmer hitam di bawah wajahnya.

Bramantyo menghentikan ayunan tangannya, napasnya memburu lelah. Pria paruh baya itu menatap punggung putranya yang telah hancur bercak darah dengan tatapan yang sedikit bergetar.

Di tengah keheningan yang tebal, Kenzo perlahan menggerakkan lengannya. Dengan sisa kekuatan dari tubuhnya yang gemetar hebat, pria tegap itu mendorong dadanya terangkat dari lantai. Ia menegakkan punggungnya yang hancur, menatap Kakek Hendra dan ayahnya dengan sorot mata yang kian tajam, kian pekat, dan benar-benar tak terobohkan.

Darah segar mengalir deras dari punggungnya, menetes teratur ke lantai marmer.

Tetes... tetes... tetes...

"Sudah... selesai... Kakek?" tanya Kenzo dengan suara parau bercampur napas yang berat, menyunggingkan senyuman tipis yang amat mengerikan.

Kakek Hendra tersentak kaku di atas kursi rodanya. Pria tua itu membelalak lebar, merasa terancam dan ketakutan melihat aura ketabahan mutlak yang memancar dari mata cucunya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dinasti Elard, cambukan pecut ruang disiplin gagal mematahkan jiwa seorang penerus.

"Kamu... kamu benar-benar gila, Kenzo..." cicit Kakek Hendra dengan suara gemetar menahan amarah yang berubah menjadi rasa cemas.

Kenzo bertumpu pada lututnya, berdiri perlahan-lahan meski tubuhnya berguncang menahan kejang otot yang membakar. Ia meraih kemejanya yang bernoda darah dari lantai, menyampirkannya secara longgar di bahunya tanpa berniat mengenakannya untuk menutup luka.

Kenzo menatap Kakek Hendra dan ayahnya untuk terakhir kali.

"Hukuman kalian... sudah saya terima," ujar Kenzo dengan suara bariton yang amat dalam dan tegas. "Tapi mulai detik ini... jika ada satu orang pun dari keluarga ini yang mencoba menyentuh Alana, mencampuri urusan kehamilannya, atau memaksanya menandatangani berkas perceraian... saya bersumpah akan meratakan Elard Corp hingga tak tersisa satu saham pun di pasar bursa."

Tanpa menunggu balasan dari dua pria yang mematung kaku itu, Kenzo membalikkan badannya secara perlahan. Dengan langkah tegap meski sedikit terseret menahan perih yang menyayat, Kenzo melangkah keluar meninggalkan ruang bawah tanah yang dingin, menaiki anak tangga menuju kamar utama tempat istrinya beristirahat.

Pukul tiga pagi.

Pintu kamar utama Mansion Elard terdorong terbuka secara perlahan tanpa menimbulkan suara.

Suasana kamar masih dibalut kegelapan yang sepi, hanya diterangi oleh pendar keemasan dari lampu tidur di atas nakas. Hujan gerimis di luar jendela telah mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Alana terbaring miring di atas tempat tidur king-size, dibungkus selimut tebal. Matanya masih terpejam pelan, meski napasnya yang tidak teratur menandakan bahwa wanita itu sebenarnya belum sepenuhnya tertidur nyenyak.

Langkah kaki yang lambat dan gemetar merayap mendekati sisi tempat tidur.

Kenzo berdiri kaku di samping kasur. Wajahnya yang tampan tampak begitu pucat pasi, peluh dingin membasahi pelipisnya, sementara kemeja abu-abu yang tersampir di pundaknya terkoyak dan bertebaran bercak darah merah pekat yang masih basah. Setiap tarikan napasnya terasa bagaikan belati yang menusuk dada dan punggungnya.

Kenzo menatap sosok Alana yang terbaring kaku. Pria tegap itu perlahan menurunkan tubuhnya, menjatuhkan kedua lututnya berlutut di lantai marmer dingin di samping tempat tidur Alana.

Dengan jemari yang bergetar hebat dan dipenuhi rasa takut akan menyakiti, Kenzo mengulurkan tangannya yang hangat. Ia menempelkan punggung tangannya dengan amat lembut ke pipi porselen Alana yang dingin.

"Alana..." bisik Kenzo sangat parau, suaranya pecah oleh gabungan rasa sakit fisik dan keputusasaan batin yang dalam. "Aku pulang..."

Alana perlahan membuka matanya.

Iris mata redup milik Alana bertubrukan langsung dengan mata Kenzo yang memerah basah oleh air mata. Dan pada detik berikutnya, pandangan mata Alana meluncur turun—menangkap aroma amis darah yang menyengat serta gaun kemeja bersimbah darah yang melilit tubuh suaminya.

Bersambung...

1
imel
makasih buat cerita kerennya😍
Mia Camelia
puas 😊 akhirnya happy ending.
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
Gita ayu Puspitasari
cerita Lukas sama Kalila dong kak
Anonim
crazy up thor
merry
mereka Alana dan kenzo bnr bnr membangun rumh tangga yg manis tnp ada kebohongan,, keegoisan dan sm sm berjuang dan berakhir indah,,,
Heresnanaa_: 😚❤️❤️🫶
total 1 replies
merry
asal Damai, tenang saling suport mky mslh berat pun terasa ringan,,, kejayaan di kejar gk bkln hbs di msa tua yg plg penting menikmati msa tua dengan tenang
aku
penisirin sama mantan kluarga alana tor kyk mana 😖
aku
oke, bikin pengalaman, baca novel mending malam aja 😌😌 gk siang2 gini 😭😭😭
Heresnanaa_: kenapa kak ?😭
total 1 replies
merry
ya tamat hrs ya jgn dulu🤭🤭🤭soalnya blm liat aki aki itu nyesel ap lg ank ken kembar cwo lg blm liat lila yg polos lucu gemes pintar ngoceh gt,,, blm minta maaf sm Alana jg atas perbuatan y,, blm lg di mutiara itu blm tau x gmn dulu Alana yg dijual orgtua ya
Gita ayu Puspitasari
ada extra part ga kak, trs kbr kakek Kenzo gmn
merry
akhirnya bhgia mrk tnp di gangu sm aki aki,, moga al hamil lg ank cwo 🤭🤭🤭
guest1053527528
Akhirx thor semoga bahagia selalu dan sukses thor mereka
merry
pengen suatu saat di Muti Muti itu tau kenyataan pahit bhwa al tdk seperti pikiran picik ya klo untuk orgtua kn dh tau y krn mrk tukang bhong,, moga Helena ksh tau
merry
syukur bgtt y tu nenk sihir dh sdr trs aku aku gk gangguin usha mrk justru tnp kenzo perusahaan kebanggaan mrk mulai runtuh, gantian tu aki aki yg sujud sm ken dan al
Mia Camelia
kapan lahirannya thor🤭🤭🤭
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣
guest1053527528
ngitundoong hehehe
Mia Camelia
suka banget ngliat mereka berdua bahagia😍😍😍
Heresnanaa_: kann, author aja happ kaliii🤭😚
total 1 replies
merry
moga berkembang kue y Alana dan pyn tko kua jg,,
merry
yg plg penting komunikasi semua mslh yg terasa berat pun psti jdi ringan,, cm takut dech ush klian tu atau al y bkln diganggu sm aki aki tua bangka dan nenek lampir,, cb pindah ajj keluar kota gt alana
Gita ayu Puspitasari
tambah dong kak🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!