Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : HADIAH YANG PALING BERARTI
Hari ulang tahun Laura akhirnya tiba.
Sejak membuka mata pagi itu, Laura sudah tahu bahwa hari tersebut mungkin tidak akan berbeda dari hari-hari biasanya. Tidak ada suara ibunya mengetuk pintu untuk mengucapkan selamat ulang tahun, tidak ada ayahnya yang datang membawa hadiah, bahkan Dinda pun sepertinya tidak mengingat hari istimewa itu.
Laura hanya berbaring beberapa saat sambil menatap langit-langit kamar. Ada sedikit harapan di dalam hatinya, tetapi ia buru-buru menekannya. Ia tidak ingin berharap terlalu tinggi dan kembali kecewa seperti sebelumnya.
"Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri," gumamnya sambil tersenyum tipis.
Laura kemudian bangun dan bersiap untuk pergi ke kampus. Namun, sebelum mengambil tas, matanya tertuju pada sebuah kotak besar yang berada di atas meja. Kotak itu adalah hadiah dari Kakek Arthur beberapa hari lalu.
dia mendekatinya dan membuka kembali kotak tersebut. Gaun yang diberikan Kakeknya masih tersimpan dengan rapi di dalamnya. Laura mengeluarkannya perlahan, lalu membentangkannya di depan tubuh.
Gaun itu begitu indah.
Laura tidak tahu berapa harganya, tetapi dari bahan dan desainnya saja ia bisa melihat bahwa gaun tersebut bukan pakaian biasa. Terlebih lagi, gaun itu diberikan oleh satu-satunya orang yang selalu mengingatnya.
Laura membawanya ke depan cermin dan mencoba mengenakannya.
Beberapa saat kemudian, dia hanya berdiri sambil memandangi pantulan dirinya sendiri.
Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya."Bagaimana kalau aku pakai hari ini?"
Biasanya Laura tidak terlalu memedulikan pakaian. Ia lebih sering mengenakan pakaian sederhana ketika pergi ke kampus. Namun hari ini berbeda. Ia ingin memakai sesuatu yang diberikan Kakeknya dengan penuh kasih sayang.
Setelah merapikan rambut dan memberikan sedikit riasan pada wajahnya, Laura kembali berdiri di depan cermin.dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Bukan karena penampilannya berubah drastis, melainkan karena untuk pertama kalinya ia melihat dirinya sebagai seorang wanita muda yang terlihat anggun dan cantik.
Laura menyentuh kain gaun tersebut dengan lembut. Ia teringat perkataan Kakek Arthur ketika memberikan gaun itu.
Kakek ingin melihatmu tersenyum matanya mulai berkaca-kaca.Namun sebelum air matanya jatuh, ponsel di atas meja berdering.
Laura segera mengambilnya. Ketika melihat nama yang muncul di layar, senyum di wajahnya langsung mengembang.
"Kakek."
Laura mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Kek."
"Selamat ulang tahun, cucu Kakek."
Mendengar suara hangat Arthur dari seberang telepon, hati Laura terasa jauh lebih ringan. Ia tersenyum sambil kembali melihat pantulan dirinya di cermin.
"Terima kasih, Kek. Kakek masih ingat."
"Mana mungkin Kakek lupa ulang tahun cucu kesayangan Kakek? Bagaimana dengan hadiahnya? Sudah dipakai?"
Laura tertawa kecil. "Sudah. Sekarang Laura bahkan sedang memakainya."
"Wah, berarti pilihan Kakek tidak salah. Cocok, kan?"
"Cocok banget. Laura suka sekali."
"Kakek memang memilihnya khusus untukmu."
Laura terdiam sejenak. Entah mengapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat. Ia menundukkan kepala sambil memainkan ujung gaunnya.
"Kenapa Kakek selalu baik sama Laura?"
Arthur terdiam beberapa detik sebelum menjawab dengan suara lembut, "Karena kamu cucu Kakek. Apa itu belum cukup menjadi alasan?"
Laura tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca."Kadang Laura merasa seperti tidak punya siapa-siapa."
"Jangan pernah berpikir seperti itu," jawab Arthur. "Kamu masih punya Kakek. Selama Kakek masih ada, kamu tidak sendirian."
Laura cepat-cepat mengusap sudut matanya. "Iya, Kek."
"Dan dengarkan Kakek baik-baik. Jangan pernah mengukur harga dirimu dari bagaimana orang lain memperlakukanmu. Kalau ada orang yang tidak menghargaimu, bukan berarti kamu tidak berharga."
Air mata Laura akhirnya jatuh dia buru-buru membalikkan tubuh agar tidak melihat wajahnya sendiri di cermin.
"Laura tidak menangis, kok."
Arthur terkekeh dari seberang telepon. "Kakek tidak bilang kamu menangis."
Laura tertawa kecil di tengah air matanya. "Kakek menyebalkan."
"Nah, begitu lebih baik. Kakek lebih suka mendengar kamu tertawa."
Percakapan mereka berlangsung cukup lama hingga akhirnya Arthur mengatakan bahwa ia akan datang sore nanti.
"Jangan pergi ke mana-mana dulu. Kakek mau makan malam denganmu."
Laura langsung mengangguk meskipun Arthur tidak bisa melihatnya.
"Baik, Kek. Laura tunggu."
Setelah panggilan berakhir, Laura menatap layar ponselnya beberapa saat. Hari ulang tahunnya mungkin tidak dirayakan oleh seluruh keluarga, tetapi setidaknya ada seseorang yang mengingatnya.
Dan bagi Laura, itu sudah cukup,Siang harinya, Laura pulang lebih cepat dari kampus. Begitu memasuki rumah, dia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga.
"Adrian bilang akhir pekan ini keluarganya akan datang. Kita harus mempersiapkan semuanya dari sekarang."
Suara Helena terdengar bersemangat.
Laura yang baru saja melepas sepatunya berhenti sejenak. Ia tidak bermaksud menguping, tetapi pembicaraan mengenai Dinda dan Adrian sudah menjadi sesuatu yang biasa terdengar di rumah itu.
"Kalau begitu, kita harus memastikan semuanya berjalan sempurna," ujar Dinda.
Laura menarik napas pelan lalu berjalan melewati ruang keluarga.Hari ini adalah ulang tahunnya.Namun tidak ada seorang pun yang membicarakan hal tersebut.dia baru beberapa langkah ketika suara Dinda memanggilnya.
"Laura."
Laura berhenti dan menoleh ke arah dinda sudah berdiri sambil memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya berhenti cukup lama pada gaun yang dikenakan Laura.
"Gaun itu baru?"
Laura mengangguk. "Iya. Kakek yang memberikannya."
Dinda mendekat beberapa langkah. "Untuk apa?"
"Untuk ulang tahunku."
Dinda terdiam sebentar. Tatapannya kembali mengamati gaun tersebut."Bagus sekali."
Laura tidak terlalu memperhatikan perubahan ekspresi adiknya. Ia hanya tersenyum tipis."Terima kasih."
Kemudian ia berjalan menuju kamarnya.
Dinda masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti Laura sampai pintu kamar tertutup.
Helena yang sejak tadi memperhatikan putrinya kemudian bertanya, "Kenapa kamu melihatnya seperti itu?"
Dinda segera mengalihkan pandangan dan tersenyum."Tidak apa-apa, Bu. Aku cuma merasa gaunnya cantik."
Helena tidak mempermasalahkannya dan kembali melanjutkan pembicaraan tentang rencana pertunangan Dinda dan Adrian.
Sementara itu, Laura sudah berada di kamarnya dan sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di ruang keluarga.
Sore hari, suara mobil berhenti di halaman rumah.Laura yang sedang membaca buku langsung mengetahui siapa yang datang.
"Kakek."
dia segera keluar dari kamar dan berlari kecil menuju ruang depan.Arthur baru saja masuk ketika Laura menghampirinya.
"Kakek!"
Arthur tersenyum lebar melihat cucunya. "Wah, cucu Kakek semakin cantik saja."
Laura tersipu sambil tertawa. "Kakek baru datang sudah memujiku."
"Memangnya salah? Gaun itu memang cocok sekali untukmu."
Arthur kemudian memberikan sebuah kotak kecil kepada Laura.
Laura menerimanya dengan bingung. "Ini apa lagi, Kek?"
"Buka saja."
Laura membuka kotak tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin kecil berbentuk bunga.
Matanya langsung berbinar.
"Kakek..."
"Hadiah kedua," kata Arthur sambil tersenyum. "Kakek tahu ini bukan sesuatu yang terlalu mewah, tapi Kakek ingin kamu memilikinya."
Laura menggeleng cepat. "Kakek tidak perlu memberikan sebanyak ini."
"Kalau Kakek mau memberikannya, berarti kamu tidak boleh menolak."
Laura akhirnya tertawa kecil. "Baiklah."
Arthur kemudian mengambil kalung tersebut dan memasangkannya di leher Laura.
"Sudah. Cantik."
Laura menyentuh liontin itu sambil melihat pantulan dirinya di cermin ruang keluarga.
Gaun pemberian Kakek, kalung pemberian Kakek, dan senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.
Untuk sesaat, Laura merasa dirinya benar-benar bahagia.
Arthur kemudian mengajaknya duduk."Kuliahmu bagaimana?"
"Baik, Kek."
Arthur memperhatikan wajah Laura beberapa saat. "Benarkah? Jangan hanya mengatakan baik kalau sebenarnya ada masalah."
dia teringat semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Masalah dengan keluarganya, pekerjaannya, bahkan perpisahannya dengan sang pacar.
Namun ia tidak ingin membuat Kakeknya khawatir, terutama di hari ulang tahunnya.
"Laura baik-baik saja, Kek. Jangan khawatir."
Arthur tahu cucunya sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi ia tidak memaksanya untuk bercerita.
"Kalau begitu, malam ini Kakek yang menemanimu makan."
Laura tersenyum. "Iya."
Malam itu, Laura makan bersama Arthur. Tidak ada pesta besar, tidak ada dekorasi mewah, dan tidak ada banyak orang.
Hanya ada seorang kakek dan cucunya yang duduk berhadapan sambil menikmati makan malam sederhana.
Namun bagi Laura, malam itu jauh lebih berharga daripada pesta ulang tahun mana pun dan setelah selesai makan, Arthur menggenggam tangan Laura.
"Laura, jangan takut dengan masa depan."
Laura menatapnya dengan sedikit bingung. "Kenapa Kakek bilang begitu?"
"Karena Kakek tahu hidupmu tidak selalu mudah."
Arthur tersenyum lembut. "Suatu hari nanti, kamu akan bertemu seseorang yang benar-benar menghargaimu. Seseorang yang tidak akan membuatmu merasa harus meminta-minta hanya untuk mendapatkan kasih sayang."
Laura tertawa kecil. "Kakek seperti sedang meramal saja."
"Mungkin saja."
"Kalau orang itu tidak datang bagaimana?"
Arthur menggeleng pelan. "Dia akan datang. Kamu hanya perlu bersabar."
Laura tidak tahu mengapa, tetapi perkataan itu membuat hatinya terasa hangat.
Setelah Arthur pulang malam itu, Laura kembali ke kamarnya. Ia melepas kalung pemberian Kakek dan menyimpannya dengan hati-hati di dalam kotak kecil.
Kemudian ia kembali memandangi gaun yang masih dikenakannya.
Hari ini mungkin bukan ulang tahun yang sempurna.Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Laura merasa dirinya benar-benar berharga.
Laura tersenyum sebelum akhirnya merebahkan diri di tempat tidur.Tanpa Laura sadari, dari balik pintu yang sedikit terbuka, Dinda berdiri sambil memperhatikan gaun tersebut.
Tatapan Dinda tidak lagi sama seperti sebelumnya.ada rasa iri yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Laura terlalu bahagia untuk menyadarinya.
dia tidak tahu bahwa hadiah paling berharga yang diberikan Kakek Arthur kepadanya akan segera menjadi sasaran kebencian Dinda.
Dan keesokan harinya, gaun itu tidak akan lagi berada dalam keadaan yang sama.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯