Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Sembilan Guntur
Lei Zhen bergerak lebih dulu, tak menunggu aba-aba juri sepenuhnya selesai diucapkan—sebuah kilatan biru menyilaukan meluncur dari posisinya, begitu cepat hingga sebagian besar penonton di tribun hanya melihat garis cahaya samar melintas di udara.
Lin Mu sudah menduga hal itu. Dengan mata terpejam sebagian, mengandalkan kepekaan qi yang telah lama ia latih, ia mengangkat pecahan Penakluk Fajar tepat pada posisi yang diperlukan, menangkis serangan pertama itu dengan percikan bunga api dan gelegar suara yang menggetarkan seluruh arena.
"Reaksimu cepat," Lei Zhen berkata, melompat mundur sejenak sebelum melanjutkan serangannya, kali ini dengan rangkaian tebasan yang jauh lebih kompleks—Jurus Petir Sembilan Guntur, teknik warisan Tetua Agung Puncak Kilat yang legendaris karena kemampuannya menggabungkan sembilan arah serangan berbeda dalam satu rangkaian gerakan tak terputus.
Setiap tebasan membawa gelegar kecil menyerupai petir asli, menciptakan kilatan cahaya yang membuat mata biasa kesulitan mengikuti pergerakannya. Lin Mu bertahan dengan kombinasi tangkisan dan langkah menghindar yang dihitung sangat presisi, namun untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, ia merasakan tekanan sungguhan—bukan sekadar perbedaan realm seperti melawan Zhao Feng dulu, melainkan pertemuan antara dua pemahaman mendalam tentang seni bertarung yang sama-sama telah ditempa dengan serius.
Tebasan keenam berhasil menggores lengan kiri Lin Mu, darah segar menetes membasahi kainnya. Tebasan kedelapan nyaris mengenai sisi tubuhnya jika saja ia tidak memutar badan tepat pada detik terakhir.
Tribun bergemuruh, tak percaya menyaksikan pertarungan paling intens sepanjang turnamen tahun itu.
"Kau memang sepadan dengan reputasimu," Lin Mu berkata, terengah sedikit namun matanya tetap tenang, bahkan sedikit dipenuhi kegembiraan yang jarang ia rasakan. "Sudah lama aku tidak menghadapi lawan yang memaksaku bertarung sepenuh hati seperti ini."
"Perasaan yang sama," Lei Zhen menjawab, senyumnya kini kehilangan nada meremehkan sepenuhnya, digantikan rasa hormat murni antar sesama petarung sejati. "Tapi aku belum menunjukkan kemampuan penuhku, Lin Mu."
Ia melangkah mundur, mengumpulkan qi dalam jumlah besar ke seluruh tubuhnya, aura petir yang mengelilinginya kini berubah jauh lebih pekat, kilatan-kilatan kecil mulai menyambar acak di sekitar kakinya seperti badai yang siap meletus.
Jurus andalannya, Lin Mu menyadari, merasakan tekanan qi yang meningkat drastis dari lawannya. Ia menyimpannya untuk momen seperti ini.
Lin Mu menggenggam pecahan Penakluk Fajar erat-erat, memejamkan mata sejenak. Ia tahu betul, menghadapi jurus semacam itu dengan pertahanan biasa hanya akan menghabiskan sisa qi-nya tanpa hasil berarti. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar pertahanan—ia membutuhkan pemahaman.
Mengingat kembali Prinsip Pedang Tanpa Bentuk yang telah ia pelajari selama berbulan-bulan dari Xuan Bo—filosofi yang pada dasarnya adalah rumusannya sendiri berabad-abad lalu—Lin Mu menyadari sesuatu tentang jurus Lei Zhen: sekuat apa pun kilatan petir itu, ia tetap harus mengikuti hukum dasar aliran energi, mencari jalur dengan resistansi paling rendah menuju sasarannya.
Jika ia bisa menciptakan jalur resistansi yang lebih rendah selain dirinya sendiri...
"Sembilan Guntur Penakluk Langit!" Lei Zhen berseru, melepaskan seluruh kekuatan yang telah ia kumpulkan—sembilan kilatan petir raksasa meledak dari tubuhnya secara bersamaan, melesat dari sembilan arah berbeda menuju Lin Mu dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan mata biasa untuk mengikutinya.
Lin Mu menancapkan pecahan Penakluk Fajar ke tanah arena tepat di depannya, menyalurkan seluruh qi yang tersisa ke dalam logam pusaka itu, membangkitkan kembali cahaya keemasan yang pernah muncul saat melawan Mo Yin—namun kali ini bukan untuk menyerang, melainkan menciptakan sebuah titik penarik qi sementara, memanfaatkan sifat alami petir yang selalu mencari jalur konduktor terbaik untuk mengalir.
Sembilan kilatan petir itu, alih-alih menghantam tubuh Lin Mu secara langsung, tertarik menuju pecahan pedang yang tertancap di tanah, berkumpul dan meledak dalam satu titik cahaya menyilaukan yang menerangi seluruh arena selama beberapa detik, disusul suara gemuruh dahsyat yang menggetarkan seluruh lembah.
Ketika cahaya itu memudar, Lin Mu masih berdiri, meski tubuhnya bergetar hebat menahan sisa-sisa energi petir yang masih menjalar di sekujur lengannya yang memegang pedang, asap tipis mengepul dari kain jubahnya yang sedikit terbakar di beberapa bagian.
Lei Zhen berdiri terpaku di seberangnya, qi-nya hampir sepenuhnya terkuras habis setelah melepaskan jurus pamungkas itu, matanya melebar tak percaya menyaksikan seluruh kekuatannya berhasil dialihkan sepenuhnya tanpa menyentuh lawannya sama sekali.
"Bagaimana..." ia berbisik, kakinya mulai goyah karena kelelahan ekstrem.
Lin Mu melangkah maju, meski tubuhnya sendiri terasa seperti terbakar dari dalam, mendekati Lei Zhen yang kini berlutut kehabisan tenaga. Ia mengangkat pecahan Penakluk Fajar, menempelkan ujungnya lembut di bahu lawannya—bukan tebasan, melainkan gestur formal tanda pertandingan berakhir.
"Pertarungan ini seri dalam kekuatan," Lin Mu berkata, suaranya masih sedikit bergetar menahan rasa sakit, "tapi kau kehabisan qi lebih dulu. Aku menang berdasarkan aturan, bukan berdasarkan siapa yang lebih kuat sesungguhnya hari ini."
Juri pertandingan segera mengumumkan hasil resmi, disambut gemuruh sorak sorai luar biasa dari seluruh tribun—pertandingan yang akan dikenang selama bertahun-tahun sebagai salah satu duel paling epik dalam sejarah Pertemuan Tiga Sekte.
Lei Zhen, meski kalah, tersenyum tulus saat Lin Mu membantunya berdiri. "Kau benar. Hari ini, keberuntungan dan strategi memihakmu. Tapi aku tidak menyesal kalah dari lawan seperti ini." Ia mengulurkan tangannya. "Aku berharap kita bisa bertarung lagi suatu hari, bukan sebagai lawan turnamen, melainkan sebagai sesama yang saling memahami jalan pedang masing-masing."
Lin Mu menerima uluran tangan itu dengan hangat. "Aku akan menantikannya, Lei Zhen."
Malam itu, terbaring lelah namun puas di paviliun peristirahatannya, Lin Mu merenungkan pertarungan yang baru saja ia lalui—bukan sekadar kemenangan biasa, melainkan pengingat bahwa dunia ini masih menyimpan banyak jiwa-jiwa berbakat yang layak dihormati, bukan hanya sekadar rintangan untuk dilewati dalam pencariannya akan kebenaran masa lalu.
Mungkin, pikirnya sebelum akhirnya tertidur lelap karena kelelahan.
semngat thor/Determined/