NovelToon NovelToon
OVERRATED

OVERRATED

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.

Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.

Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Pukul tiga sore.

Parrie duduk di perpustakaan utama kampus yang sunyi. Kartu nama milik Julian Vance tergeletak di samping buku catatannya. Pikiran Parrie terpecah menjadi dua bagian yang menyiksa.

Di satu sisi, Julian menawarkan jalan keluar. Jika Julian adalah ketua bantuan hukum kampus, mungkin pria itu bisa membantu Parrie menghapus video-video rekaman saat mereka bersama secara legal tanpa harus melibatkan skandal besar.

Namun di sisi lain, peringatan staf administrasi agar menjauhi Julian terus terngiang sebagai sinyal bahaya. Dan yang paling menakutkan dari segalanya... jarum jam terus bergulir mendekati pukul empat sore.

Ancaman Kaetos bukanlah gertakan sambal. Parrie tahu betul betapa dingin dan teganya pria Ashford itu jika keinginannya dilawan. Jika video-video mereka itu sampai disebarkan di server kampus, bukan hanya beasiswanya yang akan dicabut detik itu juga, namun sisa harga dirinya dan nama mendiang ibunya akan terinjak-injak sampai tak berbekas.

Parrie memejamkan mata rapat-rapat. Air mata keputusasaan kembali menggenang di pelupuk matanya.

Ia melirik jam dinding perpustakaan.

03:45 PM.

Dengan tubuh yang terasa berat dan hati yang hancur berkeping-keping, Parrie perlahan membereskan barang-barangnya. Ia memasukkan kartu nama Julian ke dalam saku sweaternya, lalu melangkah keluar dari perpustakaan menuju satu tempat yang paling ingin ia hindari di semesta ini: Gedung Rektorat.

Langkah kaki Parrie terasa terseok-seok menyusuri lorong-lorong megah yang dingin. Bayangan masa lalu yang kelam berhembus kencang, merobek ingatan yang berusaha ia kubur dalam-dalam.

Enam bulan yang lalu...

"Ah..." Desahan lembut lolos dari bibir Parrie di tengah remang malam apartemen pribadi Kaetos Ashford. Pengingat akan dinginnya dunia seolah lelap di luar jendela kaca yang memantulkan gemerlap New York.

"Jangan perlakukan aku seperti ini, Kaetos..."

"Bukankah syaratmu adalah memperlakukanmu dengan lembut? Aku berusaha menepati persyaratanmu, Honey," bisik Kaetos pelan.

Napas hangatnya mengusap leher Parrie saat penyatuan kesekian kalinya di atas ranjang yang empuk itu.

Dalam desahan dan kehangatan dekapan pria itu, Parrie yang tak berdaya menatap manik mata Kaetos dengan pelupuk mata yang basah. "Aku jalangmu... kumohon, perlakukan aku sebagaimana seorang jalang, Kae... Aku khawatir... aku khawatir aku akan jatuh hati pada perlakuanmu. Apa boleh?"

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Parrie, dipenuhi kerapuhan yang membuncah.

Berbulan-bulan menjadi wanita penghangat ranjang pria Ashford, berada di bawah bayang-bayang pesona pria itu, Parrie akhirnya memberanikan diri meminta izin atas perasaan yang tumbuh liar di dadanya.

Diperlakukan dengan begitu lembut, dipanggil dengan sebutan sayang, dan dihangatkan oleh penyatuan yang terasa bagai curahan cinta membakar dinding pertahanannya.

Parrie berharap lebih pada hubungan kontrak mereka. Ia tahu ia tidak tahu diri. Ia telah berani mencintai majikannya sendiri, padahal sejak awal Kaetos sudah memperingatkannya dengan tegas: Jangan pernah jatuh cinta, aku tidak suka hubungan yang rumit.

Namun malam itu, kehangatan itu runtuh total.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Parrie, meretakkan keheningan kamar. Wajah Parrie terlempar ke samping, rasa panas menyengat bercampur perih seketika menjalar.

"Kau sungguh lancang!" bentak Kaetos dengan tatapan mata murka yang sangat dingin. "Aku sudah katakan sejak awal, aku tidak ingin hubungan yang rumit!"

DEG!

Sejak malam penamparan itu, semua ilusi indah yang dirajut Parrie hancur berkeping-keping. Pria yang semula bersikap hangat berubah menjadi sosok iblis tanpa belas kasihan.

Perlakuan lembutnya hanya tersisa di atas ranjang sebagai bentuk pelepasan gairah semata, sementara di luar itu, kata-kata manis berganti menjadi cacian, hinaan, dan sebutan 'jalang' yang dilemparkan tanpa perasaan.

Jika bukan karena memikirkan biaya pengobatan sang ibu yang kritis di rumah sakit, Parrie sudah lama melarikan diri dan mengakhiri semua kegilaan ini.

Puncaknya terjadi pada malam terakhir mereka bersama. Saat Kaetos sedang tertidur lelap, Parrie yang tak sengaja mengotak-atik laptop pribadi pria itu mendapati ratusan berkas video tersembunyi.

Alangkah terkejutnya Parrie ketika menyadari bahwa video-video itu adalah rekaman kebersamaan mereka selama Lima bulan terakhir.

Dengan jemari gemetar dan air mata yang menetes, Parrie memeriksa setiap sudut ruangan apartemen itu. Hatinya hancur berkeping-keping saat menemukan kamera-kamera kecil tersembunyi terpasang rapi di setiap sudut kamar, bahkan di dalam kamar mandi.

Saat Kaetos terbangun dan Parrie menanyakan alasannya dengan raungan keputusasaan, jawaban yang keluar dari bibir pria itu begitu menyayat jiwa.

"Mungkin bisa ku jual?" sahut Kaetos datar tanpa rasa bersalah.

Untuk apa orang kaya raya seperti Kaetos menjual rekaman hina seperti itu?

Betapa dirinya di mata Kaetos hanyalah sebuah barang murah yang bisa dipermainkan sesuka hati.

Malam itu juga, Parrie mengemas barang-barangnya dan melangkah pergi melintasi dinginnya malam, meninggalkan apartemen itu selamanya.

Namun, derita Parrie tidak berhenti di situ.

Malam yang sama, saat ia bergegas tiba di rumah sakit dengan sisa kebanggaan dirinya yang hancur untuk menjenguk sang ibu, dokter menyampaikan kabar duka: sang ibu telah menghembuskan napas terakhirnya beberapa menit sebelum Parrie sampai.

Dunia Parrie runtuh tak berbekas.

Lamunan pahit itu terhenti seketika. Parrie tersentak saat langkah kakinya baru saja menapaki lorong lantai atas Gedung Rektorat yang sepi. Sosok tegap dengan aura intimidasi yang pekat sudah berdiri di dekat pintu kayu jati yang tebal.

"Jauhi Julian!" suara dingin dan familiar itu langsung menyambutnya. Kaetos menatapnya lurus, berdiri dengan kedua tangan bertengger di saku celana kainnya.

Parrie menahan napasnya, mengusir bayangan pahit di kepalanya lalu menatap Kaetos dengan pandangan lelah. "Kenapa? Dan sudah kubilang, kita tidak memiliki urusan apapun lagi!"

"Kubilang jauhi! Apa kau tidak mengerti?!" suara Kaetos naik satu oktaf, menggema tajam di lorong sunyi itu. Matanya menyipit penuh amarah yang tertahan.

"Kenapa?" tentang Parrie, memberanikan diri menatap mata pria itu tanpa rasa takut lagi. "Dia dari Fakultas Hukum. Apa kau takut? Apa kau takut dia bisa membantuku menuntutmu atas rekaman-rekaman itu?"

Kaetos terkekeh rendah—sebuah kekehan sinis yang terkesan mengejek kebodohan Parrie. Ia melangkah mendekat, lalu menunjuk saku sweater Parrie yang menyembunyikan botol air mineral dari Julian.

"Kau boleh membawa air minum pemberiannya itu ke laboratorium kampus sekarang juga," bisik Kaetos tajam, "agar kau tahu kenapa aku menyuruhmu untuk menjauhi Julian."

deg.

Parrie tertegun. Matanya membelalak kaget. "Air minum...?"

"Mahasiswi baru yang bodoh dan tidak punya otak sepertimu pasti akan berakhir terkapar di ranjang pria asing jika saja kau meminum air yang sudah diberi obat bius itu," ujar Kaetos dengan nada dingin yang menusuk.

Parrie meremas kain sweaternya. Kebencian dan kebingungan bergulat hebat di dalam dadanya. "Apa... apa aku harus percaya pada bajingan sepertimu?"

Kaetos tidak membantah. Pria itu menyunggingkan senyum getir. "Ya. Aku memang bajingan."

"Kau juga brengsek!" seru Parrie dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang memerah.

"Tidak. Aku tidak pernah jadi brengsek," jawab Kaetos datar. "Aku selalu jujur padamu sejak awal."

"Jujur?" Parrie tertawa hampa, suara tawa yang sarat akan penderitaan mendalam. "Kau menyebut tindakan merekam tubuhku secara diam-diam sebagai bentuk kejujuran? Kau memanfaatkan keadaanku! Kau mempermainkan hidupku saat aku sedang berada di titik terendah!"

"Dan kita sama-sama menikmati setiap detiknya, Parrie!" potong Kaetos, suaranya dipenuhi frustrasi yang jarang ia perlihatkan. "Kau lupa bagaimana kau mendesah di pelukanku? Kau lupa bagaimana kau tertawa saat aku ceroboh membeli k**d*m rasa jeruk yang sangat membakar kulit itu? Kau lupa semua kegilaan Lima bulan kita?!"

Wajah Parrie memucat mendengar ingatan gila itu terlempar kembali ke udara.

Malam konyol di mana Kaetos yang sok tahu salah membeli pengaman rasa jeruk hingga mereka berdua harus membasuh diri di bawah kran air dingin sambil tertawa terbahak-bahak.

Dulu, malam itu terasa begitu indah dan hangat. Tapi kini, ingatan itu tak lebih dari racun yang menggerogoti jiwanya.

"Itu masa lalu, Kaetos! Itu penderitaan yang kau.beli dengan uangmu!" pangkas Parrie, suaranya parau menahan tangis.

"Tidak! Kau yang merusak hubungan kita dengan berani mencintaiku, sialan!" bentak Kaetos tajam, menekankan setiap kata seolah kesalahan terbesar di semesta ini terletak pada perasaan Parrie. "Kau melanggar batasan yang sudah ku buat!"

Dada Parrie naik turun menahan guncangan emosi yang luar biasa hebat. Kata-kata Kaetos terasa bagaikan sembilu yang menyayat hatinya hingga hancur berkeping-keping.

"Kenapa, Kae...?" bisik Parrie dengan suara yang pecah. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.

"Kenapa? Apa... apa karena aku gadis miskin? Apa karena aku anak haram yang tidak punya arti di mata dunia ini? Itulah kenapa... itulah kenapa aku terlihat tidak pantas untuk mencintaimu?"

Suasana di lorong itu mendadak hening mencengkeram. Pertanyaan yang jujur dan menyayat hati itu menggantung rapuh di udara.

Kaetos mematung.

Untuk pertama kalinya, kilatan percaya diri di mata pria angkuh itu goyah. Tatapan matanya yang tajam mendadak meredup, memperlihatkan konflik batin yang begitu dalam dan rumit. Ia menatap air mata yang membasahi wajah Parrie, menatap tubuh gadis itu yang gemetar hebat karena luka yang ia ciptakan sendiri.

Bukannya menjawab, bukannya memberikan kepastian atau pelukan menghangatkan seperti dulu, Kaetos justru mengambil langkah mundur. Pria itu memalingkan wajahnya, menghindari tatapan hancur milik Parrie.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kaetos memutarkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi menjauh.

"Jawab aku, brengsek!" teriak Parrie dengan sisa kekuatan di tenggorokannya yang menyakitkan.

Langkahnya terhuyung mengejar punggung tegap Kaetos. "Jawab aku! Katakan padaku!"

Kaetos terus melangkah tanpa menoleh kembali, melintasi lorong dingin yang kian merenggangkan jarak di antara mereka.

Rasa sakit, kehampaan, dan cinta yang mati-matian ia tekan akhirnya meledak tak terkendali di dalam dada Parrie.

Di tengah lorong rektorat yang sepi dan megah itu, Parrie berlutut terjerembap di atas lantai dingin, menangis histeris sambil memanggil punggung pria yang telah menghancurkan hidupnya.

"Aku mencintaimu, sialan!" jerit Parrie pecah, suaranya menggema pilu menyapu dinding-dinding batu yang kaku. "Hingga hari ini... aku masih mencintaimu, Kae! Jalangmu ini mencintaimu!"

Namun, punggung tegap itu terus berlalu, menghilang di balik belokan lorong tanpa pernah berbalik, meninggalkan Parrie yang terisak sendirian di dalam puing-puing keputusasaan.

...----------------...

Jangan lupa tinggalkan jejak komentarnya.

1
Yusry Ajay
nambah lagi Thor 🤗🤗🤗
Yusry Ajay
up... lagi kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap🤭
total 1 replies
Debu Nakal
baru 2 ya thor hari ni. masih dtunggu lho 😅
Rosdianah 🌷: sabarrr🤣
total 1 replies
safaana
good job parrie aku mendukungmu
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
safaana
kenapa informasi kehidupan parrie gak ketahuan ya sama asford
safaana
menyesal sudah tak berlaku lagi parrie,,lagi2 kejujuran adalah kuncinya,kenapa gak dari dulu jujurnya
Rosdianah 🌷: mereka kurang komunikasi
total 1 replies
Yusry Ajay
sedih🥺🥺🥺 lihat kaetos Thor 🥺🥺
Rosdianah 🌷: author minta maaf 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
paling sad ini dr semua cerita keluarga ashford😭
Rosdianah 🌷: huhuh🥲
total 1 replies
Debu Nakal
hatiku terbolak balik
Rosdianah 🌷: Wehh🤭
total 1 replies
Debu Nakal
jgn up besok lah
Debu Nakal
kabar duka ini
Nita Nita
😄😄😄😄😄 ga bisa berkata2 🤭
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤣
total 1 replies
Nita Nita
hazel up dong kak
Rosdianah 🌷: eh bentar kak, masih tahap revisi 🤭🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih Thor uda up bnyk 2🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: Sama2 Kak🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
lope sekebon thor buat up nya😍
Rosdianah 🌷: happy reading 🫶
total 1 replies
Nita Nita
wesss mantap 🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
untuk kali ini nglunjak thor,up lagi dong 🤭
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Nita Nita
ko kaya mafia gadungan ,,, masa info cma sepotong2 😣
Rosdianah 🌷: ngakak 🤣
total 1 replies
Debu Nakal
jari masih pengin scroll trs thor 😅
Yusry Ajay: hu.... nikah koq serem Thor 😶😶😶
total 2 replies
Vtree Bona
Gimana nasibnya parie kak Thor 😭
Rosdianah 🌷: Ada ditangannya author 😭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!