Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB LIMA BELAS
## Bab 15: Selisih yang Tidak Bisa Kuabaikan
Sebagai supervisor keuangan, aku sudah terlatih untuk peka terhadap angka-angka yang tidak wajar—kebiasaan profesional yang, tanpa kusadari, perlahan mulai merambah ke ranah pribadi rumah tanggaku sendiri. Senin pagi itu, saat sedang menyusun anggaran bulanan rumah tangga di sela waktu istirahat kantor, aku menemukan sesuatu yang membuatku berhenti sejenak, mengernyitkan dahi.
Total pengeluaran bulan ini, setelah kucocokkan dengan mutasi rekening bersama, ternyata memiliki selisih yang cukup signifikan—sekitar tiga juta rupiah yang tidak bisa kutelusuri jelas keperluannya. Aku membuka aplikasi mobile banking, memeriksa satu per satu transaksi keluar bulan ini, mencoba mencocokkan dengan catatan pengeluaran yang biasa kubuat.
Beberapa transaksi tercatat dengan keterangan "tarik tunai" dalam jumlah yang cukup sering, tanpa detail lebih lanjut soal peruntukannya. Aku mencoba mengingat-ingat, apakah aku pernah membicarakan kebutuhan mendadak dengan Bayu yang mengharuskan penarikan tunai sebesar itu, namun tidak ada satu pun yang bisa kuingat dengan jelas.
*Mungkin memang buat kebutuhan proyek dia,* pikirku, mencoba mencari penjelasan logis seperti yang selalu berhasil menenangkan kecurigaan-kecurigaan kecilku sebelumnya. Tapi kali ini, entah kenapa, penjelasan sederhana itu tidak sepenuhnya berhasil meredakan rasa penasaran yang mulai tumbuh lebih kuat dari biasanya.
---
Siang harinya, saat makan siang bersama Rina di kantin kantor, aku sedikit menyinggung soal kejanggalan itu, meski masih dengan nada yang cukup santai.
"Rin, menurut kamu wajar nggak sih kalau ada pengeluaran rutin tarik tunai yang lumayan gede tiap bulan, tapi nggak jelas keperluannya buat apa?" tanyaku, mencoba mendapatkan perspektif dari orang lain.
Rina berpikir sejenak sambil mengunyah makanannya. "Tergantung sih, Bu. Kalau emang ada penjelasan logis, ya wajar-wajar aja. Tapi kalau nggak jelas dan berulang terus, itu yang biasanya perlu diwaspadai."
"Iya juga sih," aku mengangguk, mempertimbangkan kata-kata Rina.
"Ini soal rekening rumah tangga Ibu ya?" tanya Rina, cukup peka menangkap arah pembicaraan.
Aku tersenyum kecil, sedikit malu mengakui bahwa aku sedang membicarakan urusan pribadi rumah tanggaku sendiri di kantor. "Iya, Rin. Tapi mungkin emang cuma kebiasaan kerjaan aja jadi keterusan sampe ke rumah, jadi kelewat teliti."
"Nggak apa-apa, Bu. Teliti itu bagus kok, apalagi soal keuangan. Coba aja ditanyain baik-baik ke suami Ibu, siapa tahu emang ada penjelasan yang masuk akal," saran Rina, memberikan pendapat yang cukup masuk akal.
Aku mengangguk, menyimpan saran itu dalam hati, berniat untuk menanyakannya pada Bayu malam nanti dengan cara yang tidak terkesan menuduh atau mencurigai secara berlebihan.
---
Malam harinya, setelah makan malam, aku memutuskan untuk membicarakan hal itu pada Bayu, meski dengan hati-hati memilih kata-kata agar tidak terdengar seperti interogasi.
"Mas, aku tadi sempet cek-cek pengeluaran bulan ini, kok ada beberapa tarik tunai yang lumayan sering ya. Itu buat apa aja?" tanyaku, mencoba terdengar santai.
Bayu terdiam sejenak, tangannya berhenti menyendok makanan. "Oh, itu... buat kebutuhan operasional proyek, Yu. Kadang aku harus bayar tukang atau beli material kecil-kecilan pake uang tunai, soalnya beberapa vendor kecil nggak nerima transfer."
"Oh gitu. Tapi itu kan seharusnya diganti sama kantor ya, Mas? Kok jadi kepake terus dari rekening kita?" tanyaku lagi, mencoba menggali lebih dalam tanpa terkesan menuduh.
"Iya, biasanya direimburse, tapi prosesnya suka lama, jadi sementara aku talangin dulu pake uang kita," jawab Bayu, penjelasan yang terdengar cukup masuk akal, meski entah kenapa kali ini aku merasa ada sedikit ketidaknyamanan dalam nada suaranya, sesuatu yang berbeda dari penjelasan-penjelasan serupa yang pernah ia berikan sebelumnya.
"Ya udah deh, tapi lain kali kasih tau detailnya ya, Mas. Biar aku bisa catat dengan rapi juga di pembukuan rumah tangga kita," kataku, mencoba menutup topik itu dengan nada yang tidak terlalu memberatkan.
"Iya, Yu. Maaf ya kalau bikin kamu bingung," jawab Bayu, tersenyum meski senyum itu tampak sedikit lebih kaku dari biasanya.
---
Setelah percakapan itu, aku merasa sedikit lebih tenang, meski rasa penasaran yang sempat muncul belum sepenuhnya hilang. Aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa penjelasan Bayu cukup masuk akal, mengingat memang lumrah bagi pekerja lapangan untuk kadang harus menalangi kebutuhan operasional dengan uang pribadi sebelum direimburse oleh perusahaan.
Namun, jauh di dalam hati, ada sebagian kecil dari diriku yang mulai bertanya-tanya—kenapa belakangan ini semakin banyak hal kecil yang harus kutanyakan, semakin banyak penjelasan yang harus dicari, padahal selama tiga tahun awal pernikahan kami, aku hampir tidak pernah merasa perlu mempertanyakan hal-hal semacam ini.
Malam itu, sambil membereskan piring makan malam, aku sempat melirik Bayu yang duduk di ruang tamu, menggulir ponselnya dengan ekspresi yang tampak sedikit lebih tegang dari biasanya. Aku tidak tahu persis apa yang membuatnya begitu, namun ada semacam firasat kecil yang mulai tumbuh dalam diriku—firasat yang belum cukup kuat untuk kusebut sebagai kecurigaan serius, namun juga tidak bisa sepenuhnya kuabaikan begitu saja.
---
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk lebih teliti lagi mencatat setiap pengeluaran rumah tangga kami, membuat spreadsheet khusus yang memisahkan kategori-kategori pengeluaran dengan lebih detail—kebiasaan profesional yang, kali ini, kubawa pulang ke rumah dengan tujuan yang, jujur saja, mulai bergeser dari sekadar manajemen keuangan biasa menjadi semacam usaha diam-diam untuk memahami pola pengeluaran yang selama ini luput dari perhatianku.
Aku tidak menceritakan hal ini pada Bayu, memilih untuk melakukannya secara diam-diam, sekadar untuk memuaskan rasa penasaran pribadi tanpa perlu membuatnya merasa tidak dipercaya. Toh, pikirku waktu itu, ini hanya soal ketelitian biasa, bukan berarti aku benar-benar mencurigai suamiku sendiri melakukan sesuatu yang tidak baik.
Namun, tanpa kusadari, spreadsheet kecil yang mulai kususun malam itu akan menjadi salah satu alat penting yang, dalam beberapa waktu ke depan, membantu mempercepat proses terbongkarnya kebenaran yang selama ini tersembunyi rapat-rapat—sebuah kebenaran yang, meski belum sepenuhnya terlihat jelas bentuknya, sudah mulai meninggalkan jejak-jejak kecil yang, jika terus dikumpulkan dan dianalisis dengan teliti, cepat atau lambat akan membentuk gambaran utuh yang tidak bisa lagi diabaikan atau dijelaskan dengan alasan-alasan sederhana seperti yang selama ini berhasil menenangkan kecurigaanku.
---
*Bersambung ke Bab 16*