Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA
Sore itu, langit berubah warna menjadi jingga kemerahan yang suram, seolah meniru luka di hati Bunda. Perjalanan pulang dari pemakaman terasa jauh lebih panjang daripada saat berangkat. Setiap guncangan kecil pada sepeda motor ojek yang ia tumpangi terasa seperti pukulan di ulu hati.
Ketika akhirnya Bunda membuka pintu rumah, hening yang menyambutnya bukan sekadar ketiadaan suara. Itu adalah kehampaan fisik yang menusuk. Rumah yang biasanya dipenuhi suara deru mesin jahit, langkah kaki Yovana yang tergesa-gesa, atau celoteh ringan gadis itu tentang pekerjaannya di kafe, kini mati total.
Bunda melangkah masuk dengan kaki berat. Sepatu dilepaskan di ambang pintu, namun rasanya ia tidak benar-benar "masuk" ke dalam rumahnya sendiri. Ia merasa seperti orang asing yang menyusup ke dalam museum kenangan yang telah ditutup untuk selamanya.
Ruang depan masih sama. Mesin jahit tua itu diam membisu di sudut ruangan, jarumnya masih tertancap di sisa kain biru muda yang belum selesai dikerjakan hari Yovana meninggal. Gulungan benang berserakan, gunting kecil tergeletak di samping tumpukan kain. Semua benda itu tampak normal, padahal dunia Bunda sudah runtuh.
Bunda berjalan perlahan menuju kamar Yovana. Pintunya masih terbuka sedikit, persis seperti saat ia menemukannya pagi itu. Ia mendorong pintu lebih lebar.
Kamar itu berantakan, namun berantakan yang menyakitkan. Ada buku catatan sekolah lama yang terselip di bawah kasur, ada jepitan rambut di atas meja rias, dan ada aroma samar parfum murah yang biasa dipakai Yovana saat bekerja. Aroma itu masih menempel di udara, meski pemiliknya sudah tiada.
Bunda duduk di tepi tempat tidur Yovana. Kasur itu masih sedikit cekung, bekas tubuh anaknya yang terakhir kali berbaring di sana sebelum mengambil keputusan fatal. Bunda menyentuh seprai berwarna pink pudar itu. Dingin. Sangat dingin.
Rasa lelah yang luar biasa tiba-tiba menghantam tubuhnya. Bukan lelah fisik akibat berdiri berjam-jam di pemakaman, melainkan kelelahan jiwa yang menggerogoti setiap sel tubuhnya. Beban rahasia yang baru saja ia ketahui—bahwa selama bertahun-tahun ia tidur di samping monster yang menyiksa anak kandungnya—terasa terlalu berat untuk dipikul seorang diri.
Matanya perih. Air mata yang tadi tertahan di pemakaman kini mulai mengalir lagi, tapi tanpa suara. Hanya isakan pelan yang tercekat di tenggorokan.
"Bunda minta maaf, Yov..." bisiknya pada kekosongan kamar. "Bunda buta... Bunda benar-benar buta..."
Kepalanya mulai terasa berat. Pandangannya kabur. Rasa dingin dari seprai itu sepertinya merambat naik, memeluk tubuhnya, menariknya ke dalam kegelapan yang menenangkan. Bunda tidak berniat tidur, tetapi tubuhnya menyerah. Ia merebahkan diri di atas kasur Yovana, memeluk bantal yang masih beraroma anak gadisnya, dan membiarkan kesadaran itu hanyut.
Gelap.
Semuanya gelap gulita. Tidak ada suara hujan, tidak ada suara mesin jahit, tidak ada suara napas Bunda sendiri. Hanya keheningan absolut yang mencekam.
Kemudian, dari kejauhan, terdengar suara.
"Bunda..."
Suara itu lirih, serak, dan penuh rasa sakit. Suara yang sangat akrab, namun terdengar seolah datang dari dasar sumur yang dalam.
Bunda mencoba membuka matanya, tetapi kelopak matanya terasa ditimpa beban ton. Ia berusaha memanggil nama itu, namun suaranya tidak keluar.
"Bunda... dingin..."
Suara itu semakin dekat. Semakin jelas.
Tiba-tiba, kegelapan itu tersibak oleh cahaya putih pucat yang menyilaukan. Bunda mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah ruangan yang familiar. Itu adalah kamar Yovana. Namun, semuanya tampak berbeda. Dinding-dindingnya berlumut, catnya mengelupas, dan udara di dalamnya terasa sedingin es.
Di sudut kamar, sesosok figur duduk memunggungi Bunda.
Sosok itu mengenakan baju yang sama dengan yang dikenakan Yovana saat ditemukan tewas pagi itu. Kemeja putih polos yang kini ternoda bercak-bercak merah gelap di bagian lengan. Rok hitam yang kusut.
"Yov?" panggil Bunda, suaranya bergetar hebat.
Sosok itu perlahan menoleh.
Jantung Bunda seakan berhenti berdetak.
Wajah itu adalah wajah Yovana. Tapi bukan Yovana yang ceria, bukan Yovana yang menutupi kesedihan dengan senyum tipis. Wajah itu pucat pasi, hampir transparan, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya yang kosong. Bibirnya biru karena kedinginan, dan matanya... matanya tidak memantulkan cahaya apa pun. Hanya dua lubang hitam yang menatap lurus ke arah Bunda dengan tatapan tuduhan yang menyayat hati.
"Yovana..." Bunda menangis, mencoba mendekat. "Nak, Maafkan Bunda..."
Namun, setiap kali Bunda mencoba melangkah, jarak antara mereka tidak pernah berkurang. Yovana tetap duduk di sana, diam, sambil menggigil hebat.
"Dingin, Bunda..." ucap Yovana lagi, kali ini suaranya bergema di seluruh ruangan, seolah berasal dari segala arah. "Kenapa Bunda tidak tahu? Kenapa Bunda membiarkanku sendirian?"
"Aku tidak tahu, Yov! Aku sumpah aku tidak tahu!" teriak Bunda putus asa, air matanya mengalir deras di dunia mimpi itu. "Kalau aku tahu, aku akan bunuh dia! Aku akan bunuh Zain!"
Mendengar nama itu, ekspresi Yovana berubah. Dari kosong menjadi sedih yang amat sangat. Ia menggeleng pelan.
"Sudah terlalu lambat, Bunda," bisik Yovana. "Tubuhku sudah dingin. Jiwaku sudah hancur. Kamu tidak bisa memperbaiki apa yang sudah retak menjadi debu."
Yovana mengangkat tangannya yang pucat. Di pergelangan tangannya, luka sayatan itu terlihat menganga, darah segar terus menetes ke lantai, membentuk genangan yang semakin luas.
"Tidak! Aku akan temani kamu!" Bunda berteriak, mencoba menerobos genangan darah itu untuk memeluk anaknya.
Tapi tubuhnya tembus pandang. Tangannya melewati tubuh Yovana tanpa bisa menyentuh. Yovana tersenyum tipis, senyum yang paling menyakitkan yang pernah Bunda lihat. Senyum pasrah.
"Jangan tinggalkan aku, Yov! Tolong!"
"Bunda..."
Suara itu menghilang. Cahaya putih padam. Gelap kembali menyelimuti.
Dan di tengah kegelapan itu, terdengar tawa rendah. Tawa laki-laki. Tawa Zain. Tawa yang mengejek, puas, dan penuh kemenangan.
"BUNDA!"
Bunda tersentak bangun dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin, meski udara sore itu sejuk. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga terasa nyeri di dada.
Ia duduk tegak di tepi kasur Yovana, matanya membelalak panik, mencari-cari sosok anaknya.
Kamar itu kosong.
Hanya ada debu yang menari-nari di sinar matahari sore yang masuk lewat jendela. Tidak ada Yovana. Tidak ada darah. Tidak ada tawa Zain.
Hanya hening.
Bunda memegang dadanya, mencoba menenangkan napasnya yang masih memburu. Mimpi itu terasa begitu nyata. Rasa dingin yang dirasakan Yovana seolah masih menempel di kulitnya. Air mata Yovana seolah masih basah di pipinya.
Perlahan, Bunda menundukkan kepala. Bahunya berguncang. Ia tidak menangis karena sedih lagi. Ia menangis karena kemarahan yang mendidih.
Mimpi itu bukan sekadar halusinasi akibat rasa bersalah. Itu adalah pesan. Pesan dari Yovana yang tidak bisa istirahat tenang karena Lelaki yang merusak hidupnya masih bebas.