Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — BERTEMU LAGI
BAB 8 —BERTEMU LAGI
Beifeng Yao kembali menyusuri bukit-bukit berkabut.
Ia berjalan perlahan sambil menyentuh batang pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan.
Embun masih menempel di daun-daunnya.
“Masih terasa embun... basah.”
Ia memperhatikan ujung jarinya.
“Hmm... memang berubah. Tidak seperti dulu.”
Feng Yao kembali berjalan kecil menyusuri bukit.
Namun beberapa saat kemudian
Ia menangkap sebuah bayangan di antara kabut.
Langkah Feng Yao terhenti, sosok itu terasa familiar.Sangat familiar.
Feng Yao menyipitkan mata.
“Siapa itu?”
Ia memperhatikan lebih lama.
Sosok tersebut tampak seperti sedang terluka.
Satu tangannya memegang dada, sementara napasnya terdengar berat.
“Azazil...?”
Feng Yao langsung terkejut.
“Apa itu Azazil?”
Ia mengernyit.
“Kenapa dia ada di bumi?”
Feng Yao kembali memperhatikan sosok itu.
“Bukannya dia komandan Pasukan Langit?”
Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Tunggu...”
Feng Yao mempersempit pandangannya.
“Sepertinya ada yang tidak beres.”
Ia perlahan berjalan mendekati sosok tersebut.
Semakin dekat, wajah itu semakin jelas.
Feng Yao langsung terdiam.
Benar,itu Azazil. Namun ada sesuatu yang berbeda.
Tubuhnya terlihat jauh lebih lemah dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.Tidak Ada sayap.
Beberapa bagian bahkan terlihat rusak.
Feng Yao menatapnya dengan heran.
“Kenapa dia jadi seperti itu?”
Ia semakin penasaran.
Tanpa berpikir panjang, Feng Yao mendekat.
“Aku harus menanyakannya.”
Ia melangkah melewati kabut.
Namun sebelum sempat berbicara
Azazil tiba-tiba menoleh.
Matanya langsung tertuju kepada Feng Yao.
Keduanya saling menatap.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Azazil tampak terkejut.
“...Utara?”
Feng Yao mengedip.
Kemudian wajahnya langsung berubah cerah.
“Azazil!”
Ia berlari kecil menghampirinya.
“Kau kenapa?”
Azazil hanya menatapnya.
Seolah tidak percaya bahwa setelah sekian lama...
orang yang paling ia kenal akhirnya kembali berdiri di hadapannya.
Feng Yao berjalan perlahan-lahan.
Ia sengaja memperkecil langkahnya agar tidak mengagetkan Azazil.
Namun baru beberapa langkah
“Utara...”
Suara Azazil terdengar lemah.
Feng Yao langsung berhenti.
“Kenapa kau mengendap-endap seperti pencuri makanan?”
Feng Yao terkesiap.
“Kau... dengar langkahku?”
Azazil tersenyum tipis.
Senyumnya terlihat getir. “Kau pikir aku penjagamu yang bodoh itu?”
Feng Yao langsung mengerutkan kening. “Jangan menghina Penjaga.”
Azazil tertawa tanpa suara.Kemudian ia kembali memegang dadanya.
Feng Yao semakin penasaran.
Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapan Azazil.
Namun begitu melihat wajahnya dari dekat
Feng Yao terdiam, matanya membesar.
“Azazil...”
Tangannya perlahan terangkat.
“Kau... kau kenapa?”
Feng Yao memperhatikan wajah Azazil.
Ada sesuatu yang benar-benar berbeda.
Wajahnya berubah.
Dan di kepalanya...
terlihat sepasang tanduk, Feng Yao semakin terkejut. “Wajahmu...”
Ia menatap tanduk itu.
“Tanduk?”
Azazil hanya memejamkan mata.
Seolah sudah terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya.
“Ya.”
Feng Yao masih menatapnya.
“Sejak kapan kau punya tanduk?”
Azazil membuka mata perlahan.
“Sejak aku dibuang.”
Feng Yao mengerutkan kening “Dibuang?”
Azazil mengangguk.
“Dari Langit.”
“Dibuang...?” Feng Yao menatapnya tidak percaya.
“Apa maksudmu dibuang?”
Azazil tersenyum sinis.
“Azazil...”
Ia masih enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Katakan.”
“Tidak, Utara.”
“Azazil...”
Feng Yao semakin mendesak.
Tangannya bahkan menekan bahu Azazil.
“Ayo, katakan.”
Azazil menghela napas panjang.“Aahhh...”
Ia akhirnya menyerah. “Baiklah.”
Azazil menatap Feng Yao dengan tatapan lelah.“Kau selalu saja mendesakku.”
Feng Yao masih menatapnya tajam. “Jadi?”
Azazil mengalihkan pandangan. “Ini gara-gara makhluk fana itu.”
“Makhluk fana?”
Feng Yao kembali mengerutkan kening, mencoba memahami, informasi yang baru ia dengar dari Azazil.
Azazil mendesis pelan.
“Ya. Semua ini... gara-gara manusia.”