NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:40.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekaman Kebenaran yang Kelam

Bab 24: Rekaman Kebenaran yang Kelam

Matahari di atas gang sempit itu tidak pernah bersinar dengan megah; ia hanya mengirimkan hawa panas yang membekap, mematangkan bau busuk sampah dan comberan yang menguap di sela-sela jalan semen yang retak. Di dalam kamar kontrakan, Ningsih berbaring bagai seonggok daging tak bernyawa. Matanya bengkak, tatapannya kosong menatap langit-langit tripleks. Ratapannya telah habis, menyisakan desah napas kering yang sesekali terdengar seperti rintihan binatang yang sedang sekarat.

Reza berdiri di ambang pintu yang miring, menatap ibunya dengan rasa muak yang bercampur dengan kebas yang teramat sangat. Di dalam kepalanya, suara bisikan tentang pengkhianatan Andi terus berdengung, berputar bagai lalat yang mengitari bangkai.

"Ibu," panggil Reza, suaranya parau dan dingin. "Aku akan keluar sebentar."

Tak ada jawaban dari kasur apek itu. Ningsih bahkan tidak mengerdipkan matanya. Kehilangan emasnya telah merenggut jiwa terakhir dari sang mantan sosialita Menteng.

Reza melangkah keluar, menutup pintu plastik yang berderit kasar. Kakinya yang beralaskan sandal jepit murah membawanya menyusuri gang yang becek. Ia berhenti di depan sebuah warung kelontong kecil milik Pak Joko—satu-satunya bangunan di gang itu yang memiliki dinding batako kokoh dan berlantai keramik putih murah.

Di bawah atap seng warung tersebut, terpasang sebuah kamera pengawas digital kecil yang lensa bulatnya menatap dingin ke arah jalanan semen. Kamera itu adalah satu-satunya teknologi pertahanan yang dipasang Pak Joko setelah beberapa tabung gas melon miliknya hilang bulan lalu.

Reza menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Menghadapi tetangga di tempat kumuh ini dengan status sebagai orang yang kehilangan barang berharga adalah hal yang sangat merendahkan harga dirinya. Namun, amarah yang membakar di dadanya mengalahkan rasa malu yang tersisa.

"Pak Joko..." sapa Reza, suaranya dipaksa selembut mungkin, senyum palsu yang kaku tersungging di wajahnya yang tirus.

Pak Joko, seorang pria paruh baya berkaos singlet yang sedang menghitung tumpukan uang ribuan lecek, mendongak. Matanya menyipit menatap Reza dari balik kacamatanya yang berdebu. "Oh, Mas Reza. Ada apa pagi-pagi begini? Mau beli beras lagi? Tapi maaf, yang kemarin belum lunas, ya."

Kalimat itu menghantam dada Reza bagai kerikil tajam. Ia mengepalkan tangannya di balik saku celana yang usang. "Bukan, Pak. Saya... saya kehilangan sesuatu yang sangat penting di dalam kontrakan kemarin malam."

"Kehilangan apa?" tanya Pak Joko, nadanya mendadak berubah menjadi curiga. Di lingkungan miskin seperti ini, tuduhan pencurian adalah perkara sensitif yang bisa memicu perang antar-tetangga.

"Dompet dan beberapa dokumen penting," dusta Reza cepat, mencoba menghindari kerumunan yang mungkin berkumpul jika ia menyebut kata 'emas'. "Saya hanya ingin memeriksa... apakah ada orang asing yang masuk atau keluar dari kontrakan saya kemarin malam. Saya lihat warung Pak Joko punya kamera pengawas yang mengarah tepat ke arah pintu saya."

Pak Joko menatap lensa kamera kecil di bawah sengnya, lalu mengembuskan napas panjang. "Yah, kalau cuma melihat rekaman boleh saja. Tapi saya tidak mau ada keributan di sini, ya. Mari masuk."

Reza mengikuti langkah Pak Joko masuk ke dalam ruang tengah rumahnya yang sempit dan pengap oleh aroma kopi sasetan. Di sudut ruangan, sebuah monitor komputer tabung yang tua menampilkan gambar hitam-putih dari kamera luar yang beresolusi rendah. Gambar itu bergoyang halus oleh embusan angin luar, menampilkan gang sempit yang sunyi.

"Jam berapa kejadiannya?" tanya Pak Joko, jemarinya yang tebal mulai memutar roda tetikus.

"Kemarin malam, antara pukul sepuluh hingga tengah malam," jawab Reza, matanya melekat erat pada layar monitor, tidak berani berkedip bahkan untuk satu detik pun.

Layar monitor itu mulai berputar mundur. Angka digital berwarna hijau di sudut kanan bawah bergerak cepat, memutar waktu kembali ke kegelapan malam kemarin. Jam menunjukkan pukul 22.15. Gang tampak sunyi, hanya diterangi oleh seberkas cahaya redup dari lampu jalanan yang bergoyang.

Lalu, pada pukul 22.40, sebuah siluet tubuh muncul dari balik pintu kontrakan Reza.

Jantung Reza mendadak berdegup kencang hingga dadanya terasa sakit. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke monitor, wajahnya nyaris menyentuh kaca layar yang berdebu.

Siluet itu melangkah keluar dengan perlahan, sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi dari pintu plastik yang miring. Sosok itu mengenakan kemeja koko putih bersih—pakaian yang sangat ia kenal. Cahaya lampu jalan yang kuning pucat sempat menerpa wajahnya saat ia menatap ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada mata yang memandang.

Itu Andi.

Keponakan saleh yang selalu melafalkan ayat-ayat suci dengan nada teduh. Keponakan kesayangan yang selalu dielu-elukan ibunya sebagai tiang moral keluarga mereka.

Di dalam rekaman video yang bisu dan dingin itu, Andi tampak merogoh saku celananya. Jemarinya menarik keluar sebuah benda kecil berwarna gelap yang lemas—kantong beludru hitam milik Ningsih yang berisi dua gelang emas dan sebuah cincin bermata kecubung.

Andi tidak terlihat terburu-buru. Di bawah cahaya lampu jalanan yang temaram, ia justru sempat tersenyum—seulas senyuman yang begitu mengerikan di mata Reza. Senyum puas seorang predator yang berhasil mengelabui mangsanya yang bodoh. Ia menimang-nimang kantong beludru itu di telapak tangannya sejenak, memasukkannya kembali ke dalam saku celananya yang dalam, lalu melangkah pergi dengan santai, menghilang di balik tikungan kegelapan gang.

"Lho, itu kan keponakanmu yang sering pakai baju koko itu, kan?" celetuk Pak Joko, suaranya terdengar kaget sekaligus penuh selidik. "Siapa namanya... Andi, ya? Yang kemarin pamit mau belikan obat untuk ibumu?"

Dunia di sekeliling Reza mendadak runtuh untuk yang kesekian kalinya, namun kali ini keruntuhannya tidak menyisakan ruang bagi penyangkalan apa pun. Rekaman digital itu adalah hakim yang dingin, yang memamerkan kebenaran tanpa basa-basi atau belas kasihan.

Andi...

Napas Reza memburu, tenggorokannya mendadak terasa tersumbat oleh amarah yang membakar ulu hatinya hingga memicu rasa mual yang hebat. Seluruh tubuhnya gemetar liar. Air mata kemarahan dan kehinaan yang mendalam mulai menggenang di pelupuk matanya yang cekung.

Bagaimana bisa?

Mereka telah membuang Naya—wanita yang selama tiga tahun melayani mereka dengan ketulusan yang murni tanpa pernah mengeluh, wanita yang menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri mahkota Atmadja Group demi sebuah pengabdian istri—hanya karena fitnah tanpa bukti yang dilemparkan oleh Andi. Dan di saat yang sama, mereka memelihara dan mengagungkan seekor serigala berbulu domba yang kini telah menguliti mereka hingga telanjang bulat tanpa sisa.

Paralel karma ini begitu kejam dan presisi hingga membuat Reza merasa ingin mati seketika. Untuk menuduh Naya dulu, mereka tidak memerlukan bukti; mereka hanya butuh prasangka buruk kelas sosial dan kesombongan yang buta. Namun kini, alam semesta menyuguhkan bukti visual yang tak terbantahkan tentang siapa pencuri yang sesungguhnya di hadapan wajahnya yang kotor oleh debu jalanan.

"Mas Reza? Kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Joko, menepuk bahu Reza yang kaku bagai batu karang yang dihantam badai.

Reza tidak menjawab. Ia berbalik arah tanpa mengucapkan terima kasih, melangkah keluar dari rumah Pak Joko dengan langkah kaki yang gontai bagai mayat hidup yang ditarik dari dalam kubur.

Hawa panas siang hari di luar langsung membakar kulit lehernya, namun di dalam dada Reza, hanya ada hawa dingin yang mematikan. Ia menatap pintu kontrakan plastiknya yang miring di kejauhan. Di dalam sana, ibunya sedang meratapi kehilangan yang ia kira dilakukan oleh orang luar.

Reza mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit akibat tikaman kebenaran yang baru saja merobek jantungnya. Topeng-topeng kesalehan Andi telah hancur dalam rekaman hitam-putih berdurasi beberapa detik tersebut, menyisakan puing-puing penyesalan yang kini mulai membakar habis sisa-sisa kewarasan Reza Adijaya.

1
Punkpunk 234
baru mulai ikutan baca.. udah ikut esmosi ..🤭
Iis Istiyani
suka.. tdk bertele-tele ceritanya
Pardjan Yono
mantab cerita ini , author keren tanpa basa basi, sayang nya selama penyamaran tanpa ada komunikasi ke perusahaan secara visual
Hartini Donk
makin runyam dan membagongkan.diulang ulang teross....rasanya mau kbor ini...
A.R
ceritanx keren,lngsung sat set,,biasanx ada pelakornx klau ini ngk ada cuma berurusan sama mantan suami dan mantan mertua 👍
A.R
seharusnya panggil KK atau Abang jgn paman kn keponakan emaknx
falea sezi
suka novel sat set gini g menye🤭
Margaretha Yenny
kalau panggil ningsih bibi, panggil reza ya abang atau kakak dong bukan paman, kan reza anak nya ningsih bukan suami nya nibgsih
Punkpunk 234: naa kaann.. jadi amburadul 😆..
total 1 replies
Thewie
novel tercepat dan terseru yg aku baca🙏
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!