AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 SALSA MASUK SD - AKU JADI IBU TIRI YANG DIWISUDA
Tiga tahun telah berlalu sejak toko daster kayu dua kali satu meter di depan kontrakan cat hijau enam ratus ribu sebulan itu berdiri. Kini kalender menunjukkan Juli dua ribu tiga puluh satu. Aisyah yang dulu lahir dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar Jombang pada lima belas Oktober dua ribu dua puluh enam, kini sudah berusia empat tahun sembilan bulan. Salsa yang dulu empat tahun lima bulan di TK A, kini sudah berusia tujuh tahun lima bulan dan hari ini adalah hari pertama masuk SD Negeri 1 Jombang Kota, sekolah negeri favorit di depan alun-alun kota.
Pagi ini jam lima pagi, kontrakan cat hijau nomor empat yang kini sudah tujuh ratus ribu sebulan karena harga naik lagi, sudah rame seperti pasar pagi. Bukan rame ibu-ibu kontrakan sebelah yang dulu bisik-bisik melaporkan aku ke Pak Lurah kontrakan karena hamil tanpa buku nikah KUA, tapi rame keluarga besar Wonorejo yang datang naik tiga angkot carteran Pak Karim untuk mengantar Salsa masuk SD pertama kali.
Mbah Sarti yang kini sudah tujuh puluh enam tahun, jalan pakai tongkat bambu dua, keriputnya makin banyak, matanya sudah rabun harus pakai kacamata tebal, tapi masih semangat datang jam lima pagi dari Wonorejo membawa tas kain batik isi nasi tumpeng kecil, ayam goreng dua potong, dan telur rebus tiga butir untuk bekal Salsa masuk SD. Mbah Sarti yang dulu tujuh tahun lalu mengusirku dari Wonorejo karena hamil duluan dengan membawa tiga ibu PKK dan sapu lidi, yang dulu membanting panci alumunium sampai penyok ketika mendengar aku nikah siri dengan Arga tanpa izin, yang dulu mengatakan di mata desa aku masih perawan hamil haram, kini adalah buyut yang paling bangga melihat Salsa masuk SD. Mbah Sarti yang dulu tidak tahu Salsa adalah cucu kandungnya sendiri anak Arga dan Mira, kini memeluk Salsa erat sambil menangis.
Pak Karim dan Bu Minah juga datang lengkap dengan baju batik terbaik. Pak Karim yang tujuh tahun lalu menjemputku dari rumah bocor Mbah Wiryo di kebun karet dengan gerobak sapi karena takut kutukan Kembang Kantil yang membunuh Mira dua tahun sebelumnya, yang dulu menjadi wali kedua ketika Mbah Sarti menolak menjadi wali nikah siriku, kini sudah berusia enam puluh lima tahun, rambutnya sudah putih semua, tapi masih kuat mengayuh becak di Jombang kota. Bu Minah yang tujuh tahun lalu menitipkan Salsa kepadaku dengan alasan mau ke pasar Jombang padahal sebenarnya menitipkan cucu kandungnya sendiri karena tidak sanggup merawatnya setelah Mira meninggal pendarahan di rumah bocor, kini sudah lima puluh delapan tahun, masih dengan rantang besar ciri khasnya berisi opor ayam kampung dan sayur lodeh untuk tumpengan Salsa.
Arga, suamiku sah KUA yang dulu hanyalah kuli bangunan kaos oblong hitam tangan kasar karena nyadap karet, yang kemudian menjadi satpam puskesmas gaji dua juta, lalu kepala satpam gaji dua juta lima ratus ribu, kini sudah berusia tiga puluh dua tahun dan sudah menjadi petugas keamanan senior di Puskesmas besar Jombang dengan gaji tiga juta plus tunjangan. Seragam satpam coklatnya kini sudah ada dua stel, peci hitamnya masih sama seperti ketika akad KUA Jumat jam sembilan pagi di KUA Jombang lima tahun lalu, sepatunya sudah mengkilap. Arga yang dulu tidak tahu Salsa adalah anak kandungnya sendiri dengan Mira selama dua tahun, yang baru tahu setelah Bu Minah mengaku ketika aku pindah ke kontrakan cat hijau, kini adalah Bapak yang paling bangga. Pagi ini Arga sudah bangun jam empat pagi untuk menyetrika seragam SD merah putih Salsa yang baru dibeli dari hasil jualan daster kayu.
Aku, Kirana, yang tujuh tahun lalu diasingkan karena hamil duluan, yang tidur di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah lembab atap bocor tiga titik bilik bambu bolong bau kemenyan kutukan Kembang Kantil, yang diusir warung Bu Lasmi, yang pagar bambunya didobrak Rendo yang melempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar, yang diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA hanya kertas HVS tipis nikah siri, yang melahirkan Aisyah dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar Jombang dengan takut mati pendarahan seperti Mira, kini sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Bukan lagi gadis kurus pucat kurang gizi makan telur dibagi dua, tapi sudah menjadi juragan daster yang memiliki toko kayu dua kali satu meter di depan kontrakan cat hijau tujuh ratus ribu sebulan, memiliki lapak kedua di Pasar Legi Jombang, omzet sehari lima ratus ribu, untung dua ratus lima puluh ribu, memiliki dua karyawan jaga toko, memiliki tabungan di celengan ayam tanah liat yang kini sudah celengan besi besar.
Salsa sendiri, bintang utama hari ini, bangun jam lima pagi tanpa dibangunkan. Salsa yang dulu bayi dua tahun yang aku kira anak yatim tetangga, yang ternyata anak kandung Arga dan Mira almarhumah, yang dulu aku rawat dengan telur dadar satu butir dibagi dua, yang dulu memanggilku Ibu titipan, yang dulu takut kepada Mbah Sarti yang membawa sapu lidi, kini sudah menjadi gadis kecil tujuh tahun lima bulan tinggi seratus dua puluh centi, rambut hitam panjang dikepang dua, kulit putih bersih, mata besar seperti Mira, hidung mancung seperti Arga. Seragam SD merah putih baru, rok merah di bawah lutut, baju putih lengan pendek, dasi merah, topi SD merah, sepatu hitam baru mengkilap, tas ransel pink besar bergambar kuda poni yang dulu dari TK A masih dipakai tapi sudah dicuci bersih, dan bekal tumpeng kecil buatan Mbah Sarti.
Jam enam pagi kami berangkat ke SD Negeri 1 Jombang Kota jalan kaki berombongan delapan orang, karena jarak kontrakan ke SD hanya sepuluh menit jalan kaki. Di depan kami bawa tumpeng kecil, di belakang kami bawa payung karena musim hujan. Sepanjang jalan sepuluh menit itu, ibu-ibu kontrakan yang dulu melaporkan aku ke Pak Lurah karena hamil tanpa buku nikah, kini ikut mengantar Salsa sambil membawa kue lapis dan bubur kacang hijau.
Sampai di SD Negeri 1 Jombang Kota jam enam tiga puluh pagi, halaman sekolah sudah rame ratusan anak baru dan orang tua. Ada panggung kecil dengan tulisan besar SELAMAT DATANG SISWA BARU KELAS 1 SD NEGERI 1 JOMBANG KOTA TAHUN AJARAN 2031/2032.
Pak Kepala Sekolah umur lima puluh lima pakai batik, naik ke panggung dan memanggil satu per satu siswa baru untuk perkenalan.
Ketika nama Salsa Humaira Karim dipanggil, Salsa naik ke panggung dengan langkah tegap, tidak takut sama sekali, berbeda dengan aku tujuh tahun lalu yang selalu takut ketika dipanggil Bu Tati dan tiga ibu PKK.
"Salsa Humaira Karim, anak dari Bapak Arga dan Ibu Kirana, alamat kontrakan cat hijau nomor empat Jombang Kota, cita-cita menjadi dokter agar bisa menolong Ibu yang dulu pernah hampir meninggal pendarahan seperti Ibu Mira," kata Salsa dengan suara lantang dan jelas melalui mic.
Satu halaman sekolah yang berisi ratusan orang tua diam mendengarkan, lalu tepuk tangan meriah. Aku yang di bawah panggung, yang dulu diasingkan karena hamil duluan dan dianggap aib desa Wonorejo, kini menangis keras mendengar Salsa menyebut namaku sebagai Ibu Kirana, bukan Ibu titipan, bukan Ibu tiri, tapi Ibu Kirana.
Mbah Sarti yang di sebelahku, tujuh puluh enam tahun tongkat bambu dua kacamata tebal, juga menangis keras sambil memegang foto Mira almarhumah kecil di dalam dompetnya.
"Mira, lihat Nduk, anakmu Salsa sudah masuk SD Negeri favorit, Nduk, sudah pintar, sudah berani, sudah punya Ibu baru Kirana yang baik, Nduk, maafkan Mbah dulu pernah mengusir kamu juga, Nduk," bisik Mbah Sarti pelan sambil mengelus foto Mira.
Arga yang di sebelahku seragam satpam kepala, juga menangis, untuk pertama kalinya menangis di depan umum setelah lima tahun tidak menangis sejak Aisyah lahir.
Bu Minah dan Pak Karim juga menangis sambil memeluk tumpeng kecil.
Setelah perkenalan, Salsa turun dari panggung dan langsung berlari memelukku, bukan memeluk Arga Bapak kandungnya, tapi memelukku Ibu tirinya.
"Ibu, Salsa sudah perkenalan, Ibu, Salsa bilang Ibu Kirana adalah Ibu Salsa, Ibu," kata Salsa sambil memeluk leherku erat.
Aku memeluk Salsa erat, mencium kening Salsa yang wangi minyak telon, meskipun bukan anak kandungku secara darah, Salsa adalah anakku secara hati, secara akte yang dirawat Ibu Kirana, secara tujuh tahun aku merawatnya dari umur dua tahun sampai tujuh tahun lima bulan dengan telur dibagi dua, dengan bubur ayam, dengan dongeng kancil dari Mbah Sarti.
Siang jam dua belas setelah acara penerimaan siswa baru selesai, kami kembali ke kontrakan cat hijau tujuh ratus ribu sebulan dengan membawa Salsa yang sudah resmi menjadi siswi SD kelas satu. Di kontrakan, Mbah Sarti memotong tumpeng kecil, ayam goreng dua potong dan telur rebus tiga butir dibagi delapan orang, seperti dulu telur dadar satu butir dibagi dua, tapi kini ayam goreng dua potong dibagi delapan, masih tradisi berbagi.
Malam jam delapan, hujan turun deras lagi seperti tujuh tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo atap bocor tiga titik suara tet tet tet air jatuh ke panci alumunium penyok, seperti lima tahun lalu di kontrakan cat hijau empat ratus ribu yang mau diusir Pak Lurah, seperti tiga tahun lalu di kontrakan lima ratus ribu, seperti dua tahun lalu di kontrakan enam ratus ribu. Genteng kontrakan tujuh ratus ribu tidak bocor, tidak ada suara tet tet tet. Kami makan malam berlima di dalam kontrakan petak tujuh ratus ribu: aku Kirana dua puluh tujuh tahun juragan daster, Arga tiga puluh dua tahun kepala satpam, Salsa tujuh tahun lima bulan siswi SD kelas satu, Aisyah empat tahun sembilan bulan balita TK A, dan Mbah Sarti tujuh puluh enam tahun tongkat bambu dua.
Lauk opor ayam kampung Bu Minah, telur dadar tiga butir dibagi lima, nasi banyak wangi, sambal terasi, krupuk. Tidak lagi telur satu butir dibagi dua seperti tujuh tahun lalu.
Jam sembilan malam, Salsa dan Aisyah tidur di kasur baru tebal yang kini sudah kasur busa, bukan kasur tipis lagi, memeluk boneka kain sobek peninggalan Wonorejo yang sudah tujuh tahun usianya dan boneka baru beruang coklat hadiah Pak Karim. Aku dan Arga dan Mbah Sarti duduk di lantai semen bersih melihat foto keluarga besar di dinding yang kini bertambah foto baru Salsa seragam SD merah putih topi merah tas ransel pink besar.
"Kir, dulu kamu diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan Kembang Kantil, sekarang kamu mengantar anak tirimu yang ternyata anak kandung suamimu masuk SD Negeri favorit. Hebat kamu, Kir, kamu Ibu Tiri terbaik yang pernah Mbah lihat," kata Mbah Sarti tujuh puluh enam tahun sambil mengelus kepala Salsa yang tidur.
Aku mengangguk, menggenggam tangan Arga kepala satpam dan tangan keriput Mbah Sarti tujuh puluh enam tahun dan tangan kecil Salsa tujuh tahun lima bulan yang tidur.
Dari diasingkan karena hamil duluan tujuh tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo, diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi, diusir warung Bu Lasmi, didobrak pagar bambu oleh Rendo yang melempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar dan kini sudah meninggal kecelakaan kerja di Kalimantan, diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA hanya kertas HVS tipis nikah siri, melahirkan Aisyah dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar dengan takut mati pendarahan seperti Mira, sampai sekarang menjadi Ibu Tiri yang mengantar Salsa Humaira Karim anak kandung Arga dan Mira almarhumah masuk SD Negeri 1 Jombang Kota dengan seragam merah putih dan tumpeng kecil.
Judul Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan telah berubah menjadi Aku Yang Dulu Diasingkan Karena Hamil Duluan Kini Menjadi Ibu Tiri Yang Mengantar Anak Tirinya Masuk SD Favorit.
Dan itu cukup untuk malam ini dan untuk selamanya.
---