NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantan Pasukan Elit

Sore itu, cahaya matahari yang mulai meredup menyelinap masuk lewat sela-sela tirai jendela kamar utama yang tebal. Serena Amaryllis perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan.

​Saat ia mencoba bangkit dan bersandar di kepala ranjang, ia tidak mendapati keberadaan Sergio di sisinya. Ruangan itu terasa kosong dan senyap. Meskipun rasa sakit di pipinya akibat tamparan dan emosi suaminya kemarin sudah mulai mereda, rasa nyeri dan sesak di dalam hatinya justru masih tertinggal begitu dalam. Sergio benar-benar pria yang kejam, egois, dan pemaksa. Pria itu tidak pernah benar-benar mengerti betapa hancurnya mental Serena setelah apa yang terjadi di hutan terkutuk itu.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang sopan membuyarkan lamunannya. Belum sempat Serena memberikan jawaban, pintu kayu berukuran besar itu terbuka perlahan, dan sesosok wanita paruh baya melangkah masuk ke dalam kamar.

​Serena mengerutkan keningnya, menatap wanita paruh baya berwajah ramah itu dengan sorot mata penuh tanda tanya.

"Tunggu dulu... Perempuan?" batin Serena terkejut. Selama berminggu-minggu tinggal di mansion megah ini, ia belum pernah melihat satu pun perempuan selain dirinya sendiri. Semua pelayan, penjaga, dan orang-orang kepercayaan Sergio adalah laki-laki berwajah garang. Dan sekarang, tiba-tiba ada wanita asing di kamarnya?

​Wan wanita paruh baya itu membungkuk hormat dengan senyuman hangat menghiasi wajahnya.

"Selamat sore, Nyonya. Syukurlah akhirnya Anda bangun," sapa wanita itu dengan nada suara yang lembut dan menenangkan.

​Karena Serena masih terdiam dan menatapnya dengan pandangan menyelidik, wanita paruh baya tersebut tersenyum kecil maklum.

​"Perkenalkan, saya Anna, Nyonya," ucap wanita itu memperkenalkan diri sambil merapikan nampan kecil di tangannya.

"Mulai sekarang, saya dipercaya untuk melayani dan mempersiapkan segala kebutuhan Anda di mansion ini."

​Serena memiringkan kepalanya sedikit, rasa penasarannya mengalahkan rasa sakit di hatinya.

"Anna? Selama aku tinggal di sini, aku tidak pernah melihat ada wanita lain selain aku. Kenapa baru sekarang Tuan besarmu itu menyuruhmu datang ke sini?" tanya Serena dengan suara serak khas bangun tidur.

​Anna tersenyum semakin ramah. "Tuan Sergio baru memanggil saya hari ini, Nyonya. Oh ya, sebelum saya lupa..." Anna melangkah mendekati tempat tidur, lalu menyodorkan sebuah ponsel pintar berwarna hitam legam kepada Serena.

"Tuan Sergio menitipkan pesan dan salam kepada Anda sebelum beliau pergi. Beliau bilang akan keluar kota selama beberapa hari ke depan untuk urusan mendadak, dan beliau menitipkan ponsel ini khusus untuk Anda."

​Mendengar kata-kata itu, alis Serena langsung bertaut tajam. "Keluar kota? Sergio pergi ke luar kota?" ulangnya dengan nada tidak percaya.

​"Benar, Nyonya," jawab Anna sopan.

​Di dalam hatinya, Serena langsung mendengus sinis. "Wah, hebat sekali Tuan Mafia kita ini! Setelah kemarin menampaku, membuatku trauma setengah mati, lalu memaksaku dengan ciuman egoisnya, sekarang dia malah kabur ke luar kota demi menghindariku?!" batin Serena kesal setengah mati.

​Meskipun dalam hatinya ada secercah rasa lega karena tidak harus melihat wajah dingin suaminya untuk beberapa hari ke depan, tetap saja tindakan Sergio terasa menyebalkan. Namun, Serena memilih tidak memperpanjang soal kepergian suaminya. Alih-alih membahas Sergio, perhatian Serena kini beralih sepenuhnya kepada wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya. Matanya memicing tajam, mengamati postur tubuh Anna yang terlihat tegap, sigap, dan terlatih meskipun usianya sudah tidak muda lagi.

​Serena menyipitkan matanya penuh selidik. "Tunggu sebentar... Cara berdiri dan tatapan matamu itu tidak seperti pelayan rumah tangga biasa, Anna. Kamu... apakah kamu juga bagian dari anggota organisasi mafia milik Sergio?" tanya Serena to the point.

​Pertanyaan blak-blakan itu sempat membuat Anna terkejut kecil, namun sesaat kemudian wanita paruh baya itu justru tersenyum hangat, seolah memaklumi rasa penasaran majikannya yang masih muda.

​"Dulu, saya adalah salah satu anggota pasukan elit khusus, Nyonya," jawab Anna jujur tanpa keraguan sedikit pun.

"Tapi itu cerita masa lalu. Sekarang saya sudah pensiun dari dunia lapangan. Dan hari ini, Tuan Sergio secara khusus menugaskan saya untuk bekerja di sini, mendampingi dan menjaga Nyonya."

​Mendengar jawaban itu, bola mata Serena membelalak lebar. Ia sontak menegakkan duduknya, melupakan sejenak rasa pusing di kepalanya.

"Hah?! Kamu mantan pasukan elit khusus?! Ya ampun, Anna!" seru Serena tidak percaya, lalu memegang kepalanya sendiri dengan ekspresi dramatis.

"Kepalaku pusing sekali mendengarnya! Seharusnya, di usia sepertimu ini, kamu istirahat saja di rumah yang tenang, merajut syal, atau berkebun bunga! Kenapa malah mau-maunya bekerja di bawah naungan Max yang egois, kejam, dan diktator itu?!" cibir Serena terang-terangan, melampiaskan kekesalannya pada sang suami di depan anak buahnya sendiri.

​Alih-alih tersinggung karena atasannya dicaci maki, Anna justru tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat hangat dan menenangkan hati.

​"Ini adalah murni keputusan dan keinginan saya sendiri, Nyonya," balas Anna dengan nada penuh kesopanan yang tulus.

"Merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya bisa diberi kepercayaan untuk bekerja dan mendampingi Nyonya di mansion ini. Jadi, Nyonya tidak perlu merasa khawatir atau sungkan."

​Anna melangkah lebih dekat, merapikan selimut Serena dengan sangat telaten sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Anda tenang saja, Nyonya. Saya bisa melakukan apa saja yang Nyonya perintahkan untuk membantu meringankan hari-hari Anda di sini... asalkan, Nyonya tidak meminta satu hal."

​Serena mengangkat sebelah alisnya, kembali merasa penasaran. "Satu hal? Apa itu?" tanyanya cepat.

​"Asalkan Nyonya tidak meminta saya untuk membantu atau mengizinkan Anda kabur dari tempat ini," jawab Anna dengan senyuman ramah namun menyiratkan ketegasan mutlak seorang profesional.

​Mendengar syarat terakhir itu, Serena langsung mendengus sebal, menjatuhkan kembali punggungnya ke bantal dengan wajah cemberut.

​"Yaelah, Anna... Baru juga dipikirkan dalam hati tadi, eh kamu sudah pasang benteng pertahanan duluan!" protes Serena merajuk manja, melipat kedua tangannya di dada.

"Aku kan cuma penasaran, siapa tahu mantan pasukan elit sepertimu punya trik rahasia buat melumpuhkan penjaga gerbang depan lalu membawaku kabur naik helikopter ke bandara!"

​Anna kembali tersenyum hangat mendengar keluhan jenaka dari majikannya itu. Wanita paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya pelan.

​"Trik rahasia itu tidak akan pernah mempan pada saya, Nyonya. Perintah Tuan Sergio adalah mutlak bagi kami semua di sini," tutur Anna lembut.

"Lagi pula, di luar sana tidak seaman yang Nyonya bayangkan. Tinggal di sisi Tuan Sergio, meskipun terkadang keras, adalah tempat paling aman bagi seorang wanita."

​Serena mendengus pelan, membuang muka ke arah jendela kamar. "Aman kamu bilang? Hampir saja aku mati ketakutan dan jadi makanan serigala di hutan gara-gara!" gerutu Serena pelan, suaranya sarat akan kekesalan masa lalu yang masih membekas.

​Anna mendengar gerutuan itu, namun ia memilih untuk tidak berkomentar banyak mengenai apa yang terjadi di hutan. Ia tahu persis seberapa kejam dan disiplinnya dunia yang dipimpin oleh Tuan Muda mereka, dan kedatangannya di sini justru ditujukan untuk menjadi penyeimbang sekaligus teman bicara bagi Nyonya muda yang tengah terluka mentalnya itu.

​"Saya mengerti jika Nyonya masih merasa kesal dan trauma dengan kejadian beberapa hari lalu," ucap Anna dengan nada suara yang perlahan melunak, memancarkan keibuan yang sangat tulus.

"Tapi tubuh Anda butuh nutrisi yang baik agar demamnya cepat turun. Tuan Sergio memesan khusus agar saya membawakan sup ayam hangat dan teh herbal untuk Anda."

​Anna kemudian berbalik ke arah meja kecil di dekat pintu, mengambil nampan yang berisi mangkuk sup mengepulkan uap hangat dan segelas obat penurun panas. Ia membawanya mendekat ke tepi ranjang.

​Serena melirik sekilas ke arah mangkuk sup tersebut. Perutnya memang terasa kosong karena belum makan apa pun sejak kemarin, namun seleranya masih sedikit terganggu oleh bayangan-bayangan buruk yang sempat mampir di kepalanya.

​"Aku tidak nafsu makan, Anna," tolak Serena pelan, memalingkan wajahnya lagi.

​"Tidak boleh begitu, Nyonya," bujuk Anna sabar, mengambil mangkuk dan mulai menyendokkan sedikit sup hangat ke hadapan Serena.

"Kalau Nyonya terus-terusan mogok makan, nanti Tuan Sergio akan mengira saya tidak becus merawat Anda saat beliau pergi ke luar kota. Bisa-bisa saya dipecat di hari pertama kerja, dong?" canda Anna ringan, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka.

​Serena menoleh kembali, menatap wajah Anna yang tampak begitu ramah dan tulus. Sedikit banyak, candaan ringan wanita paruh baya itu berhasil membuat sudut bibir Serena terangkat membentuk senyuman kecil.

​"Mana mungkin Max memecat mantan pasukan elit sepertimu hanya karena masalah mangkuk sup ini," protes Serena setengah terkekeh, meskipun pada akhirnya ia membuka mulutnya juga untuk menerima suapan pertama dari Anna.

​"Syukurlah kalau Nyonya mau makan," ucap Anna lega dengan senyuman lebar.

"Mulai sekarang, jadikan saya teman curhat Anda di sini. Apa pun yang ingin Nyonya ceritakan, baik keluh kesah tentang Tuan Sergio yang egois itu, atau apa pun pintu saya akan selalu terbuka lebar untuk mendengarkan."

​Mendengar tawaran tulus itu, Serena merasa dadanya sedikit menghangat. Setidaknya, di tengah dunianya yang terasa asing, menakutkan, dan penuh aturan ketat dari sang suami mafia, kehadiran Anna kini memberikan secercah kenyamanan baru di dalam mansion Ziegler. Di sela-sela suapan sup hangat tersebut, Serena mulai menghabiskan makanannya sambil terus mengajak Anna mengobrol panjang lebar, melupakan sejenak beban pikiran tentang pria dingin yang kini tengah berada jauh di luar kota.

Bersambung...

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!