Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Lorenzo kemudian membungkuk sedikit dan membelakangi Alina. “Ayo, naik.”
Alina berkedip. “A-apa?”
“Aku gendong.”
“Tidak mau.”
“Kamu bilang kakimu lemas.”
Lorenzo tidak menunggu jawabannya. Ia membalikkan badan, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh Alina dengan kedua tangannya.
Alina spontan memekik kecil. “Lorenzo!”
“Diam.”
“Turunkan aku!”
“Kamu tadi bilang tidak bisa jalan.” Lorenzo menatap.
Alina langsung terdiam. Wajahnya perlahan memerah ketika menyadari posisi mereka.
Satu tangan Lorenzo menopang tubuh bagian belakang Alina, sementara tangan lainnya menahan kakinya. Wajah Alina berada dekat dengan dada pria itu. Ia bisa merasakan detak jantung Lorenzo yang masih sedikit cepat.
Entah karena baru saja hampir mengalami kecelakaan atau karena sekarang sedang membopongnya, Alina tidak tahu.
Kenapa aku jadi malu begini?
Lorenzo mendengar pikirannya dan hampir tersenyum. Ia segera menahannya.
“Pegangan yang kuat,” ucap pria itu sambil menatap sang istri. “Jangan sampai jatuh.”
“Kalau kamu menjatuhkanku, aku akan menuntutmu,” balas Alina dengan bibir manyun.
Lorenzo mendengus. “Setelah aku menyelamatkan nyawamu? Tidak tahu terima kasih.”
“Terima kasih, Tuan Lorenzo.” Alina membalas dengan sepenuh hati.
Lorenzo menggeleng sambil membawa Alina masuk ke restoran. Beberapa orang sempat melirik mereka. Alina langsung menyembunyikan wajahnya di dada Lorenzo.
“Kenapa kamu sembunyikan wajah?”
“Aku malu.”
“Kenapa mesti malu?” tanya Lorenzo tanpa merasa bersalah.
“Karena semua orang melihat kita,” jawab Alina pelan, menahan rasa malu.
Lorenzo tersenyum tipis. “Biarkan saja.”
“Aku tidak mau.”
“Sudah terlambat.” Lorenzo membawa Alina menuju meja yang kosong.
Setelah mendudukkan Alina dengan hati-hati, Lorenzo menarik kursi di depannya. “Kamu duduk di sini.”
Alina mengangguk.
Beberapa saat kemudian makanan mulai berdatangan. Aroma makanan hangat memenuhi meja.
Alina yang sejak tadi tegang perlahan mulai terlihat lebih santai. Ia mengambil sendok.
“Setelah kejadian tadi, aku merasa makan apa pun akan terasa seperti makanan terakhir.”
Lorenzo hampir tersedak air. “Jangan bicara seperti itu saat kita sedang makan.”
Alina terkekeh. “Maaf.”
Malam itu mereka makan dengan tenang. Kejadian mengerikan di jalan tadi seolah terlupakan.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka tiba di rumah. Setelah memastikan Alina baik-baik saja, Lorenzo langsung masuk ke kamar mandi. Air hangat mengguyur tubuhnya. Ia berdiri cukup lama di bawah pancuran, memejamkan mata sambil mengingat kejadian sore tadi.
Lorenzo mengusap wajahnya. Ia masih tidak percaya mereka bisa selamat. “Gila.”
Setelah selesai mandi, Lorenzo mengenakan pakaian rumah yang nyaman lalu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.
Alina sudah berada di atas ranjang..Wanita itu berbaring menyamping sambil memegang ponsel. Jarinya bergerak cepat membalas pesan dari teman-temannya.
Lorenzo berhenti beberapa langkah dari tempat tidur. Ia memperhatikan Alina. Wanita itu terlihat jauh lebih santai sekarang. Tidak ada lagi wajah pucat dan tangan gemetar.
Lorenzo berjalan mendekat. “Alina.”
Alina berhenti mengetik. “Ada apa?”
Lorenzo duduk di sisi ranjang. “Ayo, kita buat anak!”
Jari Alina langsung berhenti. Matanya membesar. “Apa?”
Lorenzo menatapnya serius. “Selagi nyawaku masih ada.”
Wajah Alina perlahan berubah merah. “Apa yang kamu bicarakan?”
Lorenzo menarik napas. “Jangan sampai bibit premium keturunan Romano berakhir di aku.”
Alina menatapnya seperti sedang melihat orang yang baru saja kehilangan akal sehat. “Kenapa kamu bicara seperti itu?”
Lorenzo mengangkat bahu. “Ya, siapa tahu aku tiba-tiba meninggal.”
“Jangan ngomong begitu!” Nada suara Alina langsung berubah.
Lorenzo terdiam.
Alina menurunkan ponselnya. “Aku tidak suka kamu bicara tentang kematian setelah kejadian tadi.”
Lorenzo memperhatikan wajahnya. Ada kekhawatiran nyata di sana. “Aku cuma bercanda.”
“Bercandanya jangan begitu.” Alina menarik selimut sampai ke dadanya. “Lagipula, tadi kita hampir mati gara-gara truk. Sekarang kamu malah bicara soal punya anak.”
Lorenzo tersenyum kecil. “Bukankah keluargaku memang menyuruh kita meneruskan garis keturunan?”
Alina mengerutkan kening. “Iya, tapi ....”
“Tapi apa?”
Alina tidak langsung menjawab. Pipinya semakin merah. Ia memalingkan wajah.
“Aku belum siap.”
Lorenzo terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Selama ini Lorenzo terlalu sibuk memikirkan perceraian, Bianca, keluarganya, pekerjaan, dan semua kekacauan yang terjadi setelah kecelakaan. Ia jarang benar-benar memikirkan apa yang Alina rasakan.
Lorenzo kemudian bertanya lebih lembut. “Kenapa belum siap?”
Alina menggigit bibir bawah. “Karena ....” Ia berhenti.
“Karena apa?”
Alina menarik selimut sedikit lebih tinggi. “Pokoknya belum siap.”
“Memangnya orang bisa buat anak tanpa ada perasaan cinta?”
Mendengar suara hati Alina, Lorenzo tersentak. Dia baru sadar kalau Alina belum mencintainya.
Lorenzo tersenyum tipis. Ada luka yang tak tersirat. “Oke.”
Alina menoleh dengan curiga. “Kamu tidak akan memaksa?”
“Tidak.” Lorenzo menggelengkan kepala.
Alina terlihat lega. “Syukurlah.”
Beberapa detik kemudian, Lorenzo menambahkan dengan wajah serius, “Tapi kalau suatu hari kamu sudah siap, beri tahu aku. Karena aku selalu siap kapanpun dan di mana pun ”
Wajah Alina kembali memerah. “Lorenzo!”
Alina mengambil bantal lalu melemparkannya ke arah Lorenzo. “Tidur!”
Lorenzo menangkap bantal itu sebelum mengenai wajahnya. “Baik, Nyonya.”
Alina membalikkan tubuh membelakanginya. Namun, beberapa detik kemudian, suara Lorenzo terdengar lagi.
“Alina.”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti punya anak, aku mau anak perempuan.”
Alina memejamkan mata. “Kenapa?”
“Supaya ada yang membelaku kalau ibunya marah.”
Alina langsung mengambil bantal lain. “Lorenzo!”
Pria itu tertawa sambil menahan bantal sebagai tameng. “Baik, baik! Aku diam.”
Kamar kembali tenang. Alina memejamkan mata sambil berusaha mengatur napasnya. Namun, wajahnya masih terasa panas.
Di belakangnya, Lorenzo juga terdiam. Candaan tadi memang terdengar ringan, tetapi setelah beberapa saat, pikirannya justru kembali pada beberapa hal; cinta Alina, anak, dan keluarga.
Untuk pertama kalinya, bayangan tentang masa depan bersama wanita itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus Lorenzo hindari. Justru tanpa disadari, bayangan itu mulai terasa menarik.
Lorenzo menatap punggung Alina yang membelakanginya. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Sementara Alina masih sibuk menenangkan jantungnya sendiri.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keduanya berbaring di ranjang yang sama tanpa perdebatan panjang. Hanya saja, mereka sama-sama belum menyadari bahwa pembicaraan singkat tentang seorang anak telah membuka pintu menuju perubahan besar dalam hubungan mereka.
Tengah malam Lorenzo terbangun karena suara dering telepon. Ketika melihat nama yang tertera di layar, dia segera bangun dan beranjak dari ranjang.
senang nya dalam hati bila d setujuiiii 🎶🎶...
wituiiiiiiw laaah....🤭
mumpung dalam situasi dn kondisi yg memungkinkan..ayo Reen luluhkan hati nya Alina, biar pernikahan mu makin sempurna..aq dukung dr jarak jauuuh!! 😂