NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran Hebat Pertama 21.

Jarum jam di dinding ruang tamu sudah menunjuk ke angka sebelas malam saat Ulfa memutar kunci pintu depan.

Rumah dua lantai ini sebuah hadiah pernikahan megah dari kedua orang tua mereka yang terasa lebih seperti sangkar emas—terdapat dalam keheningan yang mencekam.

Ulfa mengembuskan napas lelah. Tas ranselnya yang sarat akan berkas program kerja OSIS terasa membebani pundaknya yang mulai pegal. Sebagai Ketua OSIS, ia baru saja menyelesaikan rapat koordinasi di sebuah kafe pinggir kota yang berlangsung hingga larut.

Awalnya sempat bertemu dengan Langit, Zara dan kedua orang lainnya. Namun Langit dan Zara pulang saat magrib tadi. Sementara Ulfa memilih untuk berada di kafe itu hingga jam delapan malam. Saat itu Ulfa tidak lagi berdua dengan Elang, anggota osis lain perlahan datang ke kafe.

Begitu kakinya melangkah melewati pembatas ruang tamu dan area privat rumah, lampu lantai mendadak menyala.

Di sana, duduk di atas sofa abu-abu dengan postur tegap yang angkuh, adalah Langit. Suaminya. Cowok yang statusnya di sekolah adalah kapten tim basket sekaligus cowok paling berpengaruh, namun di rumah ini tak lebih dari orang asing yang terikat perjanjian hitam di atas putih.

Langit tidak memakai seragam sekolahnya lagi. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek, namun tatapan matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Ulfa.

Di tangan Langit, sebuah cangkir kopi yang sudah dingin diputar-putar dengan ritme yang lambat. Menakutkan.

"Jam berapa ini?" suara Langit memecah kesunyian. Nadanya datar, namun ada riak sinis yang tidak bisa disembunyikan.

Ulfa menghentikan langkahnya, menolak untuk terlihat terintimidasi. "Sebelas malam. Maaf kalau suara pintu ganggu lo."

Langit terkekeh, suara tawa yang hambar dan dingin. Ia berdiri dari sofa, berjalan lambat mendekati Ulfa. "Gua nggak peduli soal suara pintu, Ulfa. Yang gua peduliin itu lo pulang jam segini, berdua sama cowok. Di kafe. Romantis banget ya, kerja kelompok sampai tengah malam?"

Ulfa menatap Langit lurus-lurus. Lelah fisik dan batinnya berkolaborasi memicu rasa sesak di dada. "Gua sudah nggak berdua. Ada anak-anak inti OSIS yang lain juga."

"Oh, gitu," Langit kini berdiri hanya berjarak dua langkah dari Ulfa. Aroma parfum maskulinnya yang familier menguar, bercampur dengan ketegangan yang pekat. "Elang yang selalu siap sedia anter jemput lo? Elang yang selalu pasang badan kalau lo ditegur pembina? Lucu ya, statusnya Wakil Ketos, tapi perhatiannya udah kayak sepasang kekasih."

Dada Ulfa berdesir, bukan karena baper, melainkan karena rasa tidak adil yang membakar hatinya. Langit selalu seperti ini. Cowok itu tidak pernah menginginkan pernikahan ini—sama seperti dirinya. Mereka berdua adalah korban dari ambisi bisnis keluarga. Namun, entah mengapa, melihat Ulfa berinteraksi dekat dengan cowok lain selalu memicu sisi posesif Langit yang aneh dan beracun.

"Jaga omongan lo, Langit," desis Ulfa, suaranya bergetar menahan emosi. "Gua sama Elang profesional. Semua yang kita lakuin demi nama baik sekolah. Nggak ada hubungan personal apa pun."

"Profesional sampai harus pulang bareng dan dia nungguin lo masuk ke gerbang rumah ini?" Langit menunjuk ke arah jendela depan yang tirainya sedikit tersingkap. Rupanya, dari tadi Langit mengawasi dari balik jendela saat mobil Elang berhenti di depan pagar. "Lo sadar nggak sih posisi lo apa? Lo itu istri gua. Secara hukum, lo milik gua. Apa kata orang kalau ngelihat Ketua OSIS yang dikenal suci ternyata murahan, keluyuran tengah malam sama wakilnya?"

Kata murahan itu telak menghantam harga diri Ulfa. Matanya terasa panas, namun ia menolak meneteskan air mata di depan cowok egois ini. Ulfa mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa lelahnya menguap, digantikan oleh keberanian yang dipicu oleh luka lama yang sengaja dikorek kembali.

Ulfa tersenyum sinis, membalas tatapan tajam Langit dengan sorot mata yang tak kalah menantang. "Gua? Murahan? Terus bagaimana dengan lo, Langit?"

Langit mengernyitkan dahi, tidak menyangka akan mendapat perlawanan sekeras itu.

"Lo bicara soal status? Soal gua yang istri lo secara hukum?" Ulfa melangkah satu kali lagi ke depan, menepis batas jarak mereka. Suaranya kini terdengar sangat tenang, namun tajam menghunjam. "Lantas, kapasitas lo interogasi gua kayak gini sebagai apa? Sebagai suami yang peduli? Atau sebagai cowok munafik yang cemburu karena mainannya disentuh orang lain?"

"Ulfa—"

"Jangan potong omongan gua!" bentak Ulfa, meluapkan emosi yang dipendamnya berbulan-bulan sejak hari pertama mereka dipaksa tinggal satu atap. "Lo nggak punya hak sedikit pun buat ngatur dengan siapa gua pergi, jam berapa gua pulang, atau seberapa dekat gua sama Elang. Kenapa? Karena lo sendiri nggak pernah menganggap pernikahan ini ada!"

Langit terdiam, rahangnya mengeras.

"Lo lupa?" lanjut Ulfa dengan nada meremehkan yang sengaja ia buat-buat untuk menutupi rasa sakitnya. "Tadi di kafe sama siapa?. Siapa yang duduk berduaan sambil suap-suapan? Siapa yang dengan bangganya ngerangkul pundak Zara di depan koridor mading, seolah-olah dunia cuma milik kalian berdua? Lo, Langit! Lo punya Zara sebagai pacar lo. Semua orang di SMA Bhineka tahu kalau Zara itu ratu di hati lo."

Suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi sangat senyap. Detak jarum jam terdengar makin nyaring. Kata 'Zara' yang diucapkan Ulfa seperti sebuah bom yang meledakkan ego Langit.

"Zara nggak ada hubungannya sama masalah ini," ucap Langit dengan suara rendah yang berbahaya.

"Ada! Jelas ada hubungannya!" Ulfa tertawa miris, matanya berkaca-kaca menatap langit-langit ruangan agar air matanya tidak jatuh. "Lo bebas bawa Zara jalan-jalan, lo bebas anter jemput dia setiap hari, bahkan lo bebas peluk dia di depan umum tanpa peduli bagaimana status lo di rumah ini. Gua nggak pernah protes, kan? Gua nggak pernah nanya kenapa baju lo wangi parfum cewek lain setiap kali pulang sekolah. Karena gua tahu diri. Gua tahu pernikahan ini cuma sandiwara."

Ulfa mengembuskan napas panjang yang bergetar, mencoba menstabilkan emosinya yang sempat meledak. Ia menatap Langit dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa lelah yang mendalam. Bukan lagi kemarahan, melainkan kepasrahan.

"Jadi, tolong," ucap Ulfa, suaranya melemah namun sarat akan penekanan. "Jangan bersikap seolah-olah lo adalah suami yang terkhianati. Jangan campuri urusan gua sama Elang. Urus aja Zara lo yang cantik itu, dan biarkan gua hidup dengan tenang di sisa waktu sekolah kita. Kita punya kesepakatan, Langit. Jangan lewati batas yang udah kita buat."

Tanpa menunggu jawaban dari Langit, Ulfa membalikkan badan. Ia menarik tali ranselnya, lalu berjalan dengan langkah tegas menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia menolak untuk berbalik.

Di bawah sana, di tengah ruang tamu yang luas dan dingin, Langit tetap berdiri terpaku. Cangkir kopi di tangannya diletakkan di atas meja dengan kasar hingga isinya sedikit terpercik.

Tatapannya menatap nanar ke arah tangga tempat Ulfa baru saja menghilang.

Ada rasa sesak yang asing yang tiba-tiba menjalar di dadanya—sebuah perasaan tidak nyaman yang tidak mampu ia jelaskan, bahkan oleh dirinya sendiri.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!