NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:539.2k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Di koridor luar yang menghubungkan ndalem utama dengan kompleks asrama putri, desas-desus telah menyebar bagai api menyambar jerami kering.

Najwa, Ratna, dan Mawar berdiri di sudut dekat kolam ikan bersama puluhan santriwati lainnya. Suasana kasak-kusuk begitu riuh. Berita bahwa Rani menikah siri dengan Gus Reyhan dan membuat Ning Naya menuntut cerai telah menjadi pukulan telak bagi seluruh penghuni pesantren.

"Aku benar-benar tidak menyangka," bisik Ratna dengan wajah memerah menahan gusar. "Ning Naya itu kurang apa? Beliau cantik, pintar, lulusan psikologi, lembutnya luar biasa. Kurang mulia apa beliau mengajari kita di pondok?"

"Rani yang kebangetan," timpal Mawar. "Dulu waktu dia sakit parah dan tidak punya biaya, Ning Naya yang menguruskan izin dan bantu biayanya. Kenapa dibalas begini?"

Najwa menghela napas panjang, menatap ke arah mobil SUV hitam milik Arsyaka yang baru saja perlahan melaju meninggalkan pelataran ndalem utama.

"Kalian ingat tidak, beberapa bulan lalu Rani sering sekali izin keluar pondok dengan alasan mengurus dokumen perpustakaan? Ternyata tempat hinggapnya di ndalem barat... Ya Allah, sungguh tidak menyangka."

Mobil SUV hitam itu bergerak pelan menembus gerbang kayu Al-Anwar. Di dalam mobil, Naya menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Menatap bangunan pesantren yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun perlahan menjauh dan menghilang di balik bukit pegunungan Pacet yang tertutup kabut.

Air mata Naya akhirnya jatuh satu per satu—bukan karena meratapi pria yang mengkhianatinya, melainkan karena melepas sepotong masa lalu yang harus ia kubur dalam-dalam. Di balik air mata itu, ada kelegaan yang membuncah. Ia telah bebas. Impian lamanya untuk melanjutkan studi yang sempat mati kini berpijar kembali di depan mata.

**

Rani melangkah dengan kepala tertekur mendalam. Ujung gamis abunya melambai pelan seiring derap langkahnya yang tertahan di atas koridor berbatu asrama Marwah. Bisik-bisik kasak-kusuk menyeruak dari setiap ambang pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Tatapan para santriwati—yang biasa menatapnya penuh hormat sebagai santri berprestasi—kini bertransformasi menjadi sorot penuh selidik, celaan, dan rasa tidak percaya yang amat telanjang.

Kabar burung itu bukan lagi sekadar rahasia yang berhembus liar. Berita perpisahan Adskhania Nayara Malik dengan Gus Reyhan—serta pengakuan menggemparkan tentang pernikahan siri di belakang istri sah—telah meluluhlantakkan reputasi yang Rani bangun bertahun-tahun dalam semalam.

Saat jemarinya yang dingin mendorong pintu kayu kamar nomor empat, denting engselnya terdengar amat nyaring.

Tiga teman sekamarnya—Najwa, Ratna, dan Mawar—yang semula tengkurap membedah kitab di atas karpet tipis, seketika bungkam. Tawa kecil yang sempat terdengar beberapa menit lalu menguap tanpa sisa. Udara di dalam kamar terasa mendadak berat dan menyesakkan.

Rani menahan napas, enggan menatap mata siapa pun. Ia berjalan lurus menuju lemari kayu kecilnya di pojok ruangan. Jemarinya yang bergetar hebat mulai menyambar pakaian dari gantungan, menjejalkannya asal-asalan ke dalam tas kain besar.

Najwa bangkit dari dipannya. Langkah kakinya pelan, namun setiap pijakannya terasa sarat akan kekecewaan mendalam. Ia berhenti tepat dua langkah di belakang Rani.

"Ran..." panggil Najwa. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun memiliki gema yang amat tajam.

Rani menghentikan gerakannya. Bahunya naik turun menahan napas, namun ia menolak membalikkan badan.

"Berita yang beredar di luar... itu benar?" Najwa menarik napas panjang, mencoba menetralkan getar pada suaranya. "Kamu... sudah nikah siri sama Gus Reyhan selama sebelas bulan?"

Rani menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga memucat. Tidak ada sepatah kata pun yang sanggup lolos dari kerongkongannya. Hanya isakan kecil yang tertahan yang akhirnya pecah, menggetarkan punggungnya.

"Kenapa, Ran?" Ratna yang duduk di sudut ruangan ikut bersuara. Nada bicaranya tidak lagi menyembunyikan amarah yang bergolak. "Kenapa kamu tega melakukan itu sama Ning Naya? Kamu lupa siapa yang selalu menolongmu saat keluargamu kesusahan? Siapa yang secara khusus mengajukan nama kamu ke pengurus supaya kamu dapat keringanan SPP dan beasiswa penuh?"

"Aku tak pernah berniat menyakiti Ning Naya!" Rani mendadak berbalik. Wajah polos yang biasa tampak lembut itu kini memerah penuh pertahanan. Air mata merebak di pelupuk matanya. "Aku cuma mencintai Gus Reyhan! Apa salah kalau aku cuma mau hubungan ini halal?!"

"Tapi caramu salah besar, Rani!" tegas Najwa, melangkah lebih dekat dengan tatapan menusuk. "Kamu menikah diam-diam di belakang wanita yang menyambutmu dengan tangan terbuka. Kamu memanfaatkan rasa iba Gus Reyhan di saat Ning Naya sibuk mengabdi untuk madrasah. Ini bukan cuma soal kamu dan cinta blind-mu itu, tapi kamu merusak nama baik pesantren dan menorehkan luka pada orang yang tidak pernah menzalimimu!"

"Padahal Ning Naya sedang menyiapkan berkas beasiswamu ke Mesir..." Mawar menyela, suaranya bergetar menahan ketidakpercayaan. "Seperti mimpi yang selalu kamu ceritakan pada kami tiap malam sebelum tidur. Kita semua tahu betapa baiknya Ning Naya. Beliau bukan cuma ustazah, tapi orang yang paling memperjuangkan nasibmu di sini. Dan kamu... kamu membalasnya dengan tikaman dari belakang."

Pintu kamar mendadak terbuka lebih lebar. Sinta dan Devi melangkah masuk, menyajikan aura konfrontasi yang semakin tebal di dalam ruangan yang menyempit itu.

"Salah apa Ning Naya sama kamu, Ran?" cerca Sinta tanpa tedeng aling-aling. "Apa cintamu ke Gus Reyhan lebih mulia sampai kamu merasa berhak menginjak-injak harga diri wanita lain?"

"Apa kamu pikir dengan dalih 'yang penting halal', dosa membohongi dan mengkhianati sesama wanita itu terhapus begitu saja?" timpal Devi tajam.

"Kalian tak tahu apa-apa!" jerit Rani seraya menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. "Kalian cuma tahu menghakimi aku! Kalian tak pernah tahu bagaimana posisi aku!"

"Kami tidak menghakimi kamu, Rani," balas Devi dingin, matanya menatap lurus tanpa ampun. "Kamu sendiri yang menjerat dirimu dalam penghakiman ini lewat pilihanmu sendiri."

Rani menatap wajah-wajah di hadapannya—teman-teman yang dulu saling berbagi tawa dan selimut—kini memandangnya tak ubahnya seorang pengkhianat. Dengan gerakan kalap, ia menyambar tas pakaiannya yang baru terisi separuh, mendorong tubuh Najwa hingga terhuyung, lalu berlari dari kamar asrama tanpa peduli pada seruan teman-temannya.

**

Sementara itu, di ndalem timur, Reyhan duduk membisu di sudut ruangan yang gelap. Gorden jendela sengaja dibiarkan tertutup rapat, menghalangi masuknya sinar matahari pagi Pacet.

Reyhan meraba dada dan kemejanya. Di atas meja di samping tempat tidur, tergeletak sebuah kotak kayu kecil berukir milik Naya yang tertinggal saat perempuan itu merapikan barang-barangnya semalam. Dengan jemari gemetar, Reyhan membuka kotak tersebut.

Di dalamnya tidak ada perhiasan mahal. Hanya ada sejilid buku catatan harian bercover kain cokelat dan beberapa lembar kertas resep ramuan herbal yang biasa Naya buatkan untuk meredakan migrain Reyhan.

Reyhan membuka halaman pertama buku harian Naya. Tulisan tangan rapi wanita itu terpampang di sana:

"Hari ke-100 pernikahan.

Mas Reyhan masih sering menatap jauh ke luar jendela setiap kali aku menyeduhkan teh hangat. Aku mencoba memahami—mungkin ada ruang trauma di Mesir yang belum selesai ia sembuhkan. Aku akan bersabar. Sebagai istrinya, kewajibanku adalah menjadi tempatnya pulang dengan tenang, tanpa memaksanya bicara sebelum ia siap."

Reyhan memegang dada yang serasa dihantam palu godam. Air matanya menetes meresapi lembaran kertas itu.

Ia membalik halaman berikutnya, tanggal di mana ia pertama kali beralasan "belum siap secara spiritual" untuk menyentuh Naya secara batiniah.

"Hari ke-180.

Malam ini Mas Reyhan menolakku lagi dengan alasan spiritualnya. Ada sedikit rasa sakit di dadaku sebagai seorang wanita, namun aku menepisnya. Aku berdoa semoga Allah menjaga kesucian pernikahan ini dan memberi ketenangan pada hati suamiku. Aku sangat mencintainya karena Allah."

"Naya..." bisik Reyhan serak. Suaranya pecah di tengah kegelapan kamar ndalem timur.

Setiap baris kalimat dalam buku itu bagaikan sembilu yang menguliti egonya. Pria yang selama ini merasa dirinya suci, terpelajar, dan berhak menentukan arah karena statusnya sebagai putra mahkota, kini sadar betapa kerdil dan menjijikkannya ia di hadapan kepolosan serta ketulusan cinta Naya. Wanita yang ia abaikan selama satu tahun justru wanita yang paling sabar mendoakannya di setiap sujud malam.

***

1
Rahma Inaya
nyata nya rey yg blm bisa move on dr naya sedngkan naya sdh jauh lbh lenggowo menerima perpishan dgn rey tnp beban dan perlahan ada yg jauh lbh baik yg bisa menggntikan posisi reyhan di hati naya yaitu zeyad
Rahma Inaya
gmn sih reyham ki dl malu punya istri terlalu sempurna katanya mau pnya istri yg bergantung padanya sdh di lepas naya malh menyseal sdh menyianyiakan naya .malh mengeluh dgn istri yg bergantung pada nya . sekrg naya terlepas dr nya bisa sukses dan menggapai cita2 nya yg sempat tertunda demi pengabdian dr seorang istri tp di blas dgn penghiantan
Ma Em
Reyhan merasa minder mungkin setelah bertemu dgn Naya wanita yg dulu Reyhan sia siakan sekarang makin bersinar , apalagi setelah Reyhan tau bahwa MB Aya aka menikah dgn Zeyad atau Emir pasti Reyhan makin bertambah penyesalan nya karena Rayhan sdh membuang permata yg sangat berharga demi memilih batu kerikil .
Ita Putri
dulu pas Naya masih jadi istrinya GK di gubris ,di cuekin sekarang Naya sdh pergi kamar bekas Naya aja jadi tempat suci yg tak boleh di nodai Rani
hadeeehh
falea sezi
muter doank gk sat set🤣
sunaryati jarum
Kejujuran merupakan landasan kuat dari sebuah hubungan yang serius.Sengguh romantis Zeyad.Tapi siapa mantan suaminya belum diketahui Zehad.i
evana gusani
baru mampir
dewi rofiqoh
Naya udah cerita masa lalunya, bahkan pertemuan nya dengan sang mantan. Jadi penasaran dengan masa lalu zeyad 🤔🤔
dyah EkaPratiwi
mas zeyad😍😍😍 sisain 1 kayak mas zeyad buat calon mantu
Luna
kamu sendiri juga GK mau jujur tentang masa lalu mu yad,,,, bau baunya nanti ada drama mantan nya zeyad datang ,,,diuji lagi deh hatinya Naya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
Sani Srimulyani
kayanya bentar lagi kondangan nih kita.....🤭
Sri Murtini
kapan zeyad mau cerita masa lalumu ke Naya shg saat lamaran tidak ada rahasia berdua👍👍👍
bibuk Hannan & Afnan
nyesel gak Gus nyesel pasti lah,
Mundri Astuti
kamu sendiri belum jujur zeyad
Agnezz
Yup fondasi yg kuat dalam pernikahan adalah keterbukaan dan kejujuran. Setelah Naya terbuka ttg masa lalunya kini giliranmu Zeyad. Jangan ada yg disembunyikan. Paling tidak kalian berawal dari titik yg sama. Yakni sama2 berusaha menjadikan pernikahan ini berhasil. Jangan seperti pernikahan Naya dan Rayhan dimasa lalu. Mereka menikah karena perjodohan, belum kenal satu sama lain. Ternyata mereka tiidak memulai dari titik yg sama. Hanya Naya saja yg berusaha. Rayhan tidak sepenuhnya menerima pernikahan perjodohan ini. Cenderung mengabaikan bahkan diam2 telah menikah siri dengan wanita lain.
Agnezz: dikira Naya gak akan berani minta cerai, karena selama ini menjadi istri yg diam dan menurut. Dulu Rayhan merasa diatas angin sebagai anak kyai yg berilmu tinggi dan tampan, mana ada wanita yg menolaknya, yg ada malah memujanya. Ternyata Naya ambil sikap tegas, tidak bisa dibujuk rayu oleh tangisan buaya. Good job Naya, kamu ambil langkah yg berani.
total 4 replies
Herman Lim
ne sih blom seberapa blom lagi u lihat tmn u jadi calon suami mantan istri mu u lebih bakal lebih nyesal lagi klo kamu tidak seujung kuku dari zeyad
Rini Maryani
lanjut ka yg bnyk up nya ya semangat
Agnezz
gimana sih kamu Rayhan, dulu Naya disia-siakan, dianggurin jadi istri, dianggap pajangan. Sekarang menyesal telah melepaskan, wanita cerdas yg karirnya cwmerlang. Tapi kalo Naya denganmu Rayhan, potensinya gak akan muncul. Dia cuma istri yg mengabdi suami. Sekarang ada seseorang yg mensupport kariernya yaitu calon suami. Naya bersama Rayhan bakal.tenggelam tetapi bersama Zeyad bakal cemerlang. Kamu bukan levelnya Rayhan, levelmu ya si Rani itu.
Agnezz: iya, kita tunggu saatnya tiba, Rayhan pasti kaget banget
total 3 replies
sunaryati jarum
Reyhan akan lebih menyesal lagi ketika melihat dari Naya bersama Zeyad.
Agnezz
sebentar...aku agak bingung sama kalimat "di aula almamater tempat mereka berdua mengenang masa lalu"...berarti Naya dan Rayhan kuliah ditempat yg sama. Bukannya Rayhan kuliah di mesir ya?🤔 Naya dan Rayhan bukannya hanya bertemu dipeaantren itupun dari kejauhan tanpa saling mengenal dekat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!