Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.
Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.
Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Takut Kehilangan
Pertanyaan Leon membuat suasana apartemen mendadak sunyi.
“Apa masih ada tempat buat aku di hidup kalian?”
Alya membeku di tempat duduknya.
Tatapan pria itu berbeda malam ini.
Tidak dingin.
Tidak arogan.
Melainkan penuh sesuatu yang jarang sekali Leon tunjukkan—
Keraguan.
Dan ketakutan.
Alya langsung mengalihkan pandangan karena jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Aku nggak tahu,” jawabnya pelan jujur.
Leon menunduk kecil sambil menyandarkan tubuh ke sofa.
Jawaban itu sebenarnya sudah cukup baik dibanding penolakan langsung.
Namun tetap saja…
Dadanya terasa berat.
“Aku sadar aku nggak punya hak buat minta apa-apa sekarang,” ujar Leon lirih. “Aku bahkan nggak ada waktu Liora lahir.”
Tatapan Alya perlahan melembut sedikit.
Untuk pertama kalinya ia melihat Leon benar-benar menyesali sesuatu.
“Dia lahir jam tiga pagi,” ucap Alya tiba-tiba.
Leon langsung mengangkat kepala.
“Hujan deras banget waktu itu.”
Mata Alya perlahan berkaca-kaca mengingat malam tersebut.
“Aku takut setengah mati karena nggak ada siapa-siapa selain Om Ares dan tante.”
Suaranya mulai melemah.
“Tapi waktu pertama dengar dia nangis…” Alya tersenyum kecil. “Aku ngerasa semuanya bakal baik-baik aja.”
Leon mendengarkan tanpa menyela sedikit pun.
Setiap cerita kecil itu terasa seperti hukuman baginya.
Karena semua momen penting itu terjadi tanpa dirinya.
“Aku kasih nama dia Liora Alessa.”
“Kenapa Liora?” tanya Leon pelan.
Alya menatap kamar kecil putrinya sesaat sebelum menjawab—
“Karena artinya cahaya.”
Leon terdiam.
Dan entah kenapa nama itu terasa sangat cocok.
Liora memang seperti cahaya kecil.
Hangat.
Ceroboh.
Manis.
Dan perlahan mengisi ruang kosong dalam dirinya yang selama ini mati.
“Dia mirip kamu,” ujar Alya tanpa sadar.
Leon sedikit mengernyit.
“Bagian mana?”
“Keras kepalanya.”
Leon sampai terkekeh kecil.
Suara tawanya rendah dan hangat, membuat Alya diam sesaat.
Sudah lama sekali ia tidak melihat Leon setenang ini.
“Dia juga nggak suka makan sayur,” lanjut Alya sambil tersenyum kecil.
“Kalau itu mirip kamu.”
Alya langsung menatap tajam.
“Aku nggak separah itu.”
“Kamu dulu nangis gara-gara brokoli.”
“Leon!”
Pria itu tertawa kecil lagi.
Dan untuk sesaat…
Semua terasa seperti dulu.
Sebelum semuanya hancur.
Namun suasana hangat itu perlahan berubah canggung ketika mereka sama-sama sadar akan kenyataan tersebut.
Alya menunduk pelan.
“Kita nggak bisa pura-pura semuanya baik-baik aja.”
Senyum kecil Leon perlahan memudar.
“Aku tahu.”
“Kamu masih tinggal di Indonesia. Aku di Roma.”
“Aku bisa bolak-balik.”
Jawaban cepat itu membuat Alya langsung terdiam.
Leon sendiri sedikit terpaku karena baru sadar dirinya menjawab tanpa berpikir.
Dan yang lebih mengejutkan—
Ia serius.
“Aku nggak mau Liora kehilangan ayahnya,” ujar Leon pelan. “Tapi aku juga nggak mau maksa kamu.”
Tatapan Alya mulai rumit.
Karena inilah yang membuatnya bingung.
Leon sekarang berbeda.
Terlalu berbeda.
Pria yang dulu bahkan enggan pulang ke rumah kini rela duduk berjam-jam hanya untuk menemani Liora bermain boneka.
Dan sebagian kecil hati Alya yang masih tersisa…
Mulai goyah.
Tiba-tiba suara langkah kecil terdengar dari kamar.
“Mama…”
Liora keluar sambil mengucek mata dengan rambut berantakan lucu.
Alya langsung berdiri.
“Sayang? Kok bangun?”
Anak kecil itu berjalan sempoyongan lalu langsung naik ke sofa di antara mereka.
“Mimpi…”
“Mimpi apa?”
Liora memeluk boneka kelincinya kecil.
“Mama pergi.”
Alya langsung memeluk putrinya lembut.
“Mama nggak pergi.”
Liora masih setengah mengantuk saat menoleh pada Leon.
“Om juga jangan pergi.”
Kalimat polos itu membuat Leon diam sesaat.
Lalu perlahan…
Pria itu mengusap kepala kecil Liora lembut.
“Iya.”
Dan entah kenapa—
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Leon benar-benar ingin menetap di suatu tempat.