Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Maut di Ujung Pedang
Udara di dalam ruang bawah tanah yang lembap dan berbau apak itu terasa membeku seketika. Seringai meremehkan yang tadinya menghiasi wajah Gu Tianlang berangsur-angsur memudar, digantikan oleh kerutan keheranan bercampur rasa terkejut yang mendalam. Ia menatap pemuda di hadapannya—Gu Yan-Zhi, sepupu yang baru saja ia hajar habis-habisan hingga hampir meregang nyawa setengah jam lalu.
Bagi Gu Tianlang, pemuda di hadapannya ini seharusnya tidak lebih dari seekor anjing sekarat. Terlebih lagi, Dantian Gu Yan-Zhi telah disegel rapat sejak lahir, menjadikannya makhluk paling hina di Klan Gu yang tidak akan pernah bisa membalas perbuatan apa pun.
Namun, tatapan mata yang kini dilayangkan oleh Gu Yan-Zhi sama sekali bukan tatapan milik seorang pecundang yang putus asa. Ada kilatan dingin, tajam, dan penuh perhitungan—sebuah sorot mata predator yang sedang mengukur jarak, membaca ritme napas, serta mencari kelemahan terkecil dari mangsanya. Sorot mata itu begitu mengintimidasi, membuat Gu Tianlang merasa seolah-olah ia sedang berdiri di hadapan seorang algojo berpengalaman, bukan seorang pemuda lemah tanpa Qi.
"Bocah sialan... tatapan mata apa itu?" geram Gu Tianlang, merasa risih dan harga dirinya terluka hebat karena di hadapkan pada aura yang sama sekali tidak sesuai dengan reputasi Gu Yan-Zhi sebelumnya.
Gu Tianlang mengangkat pedang panjang di tangan kanannya dengan geram. Bilah pedang berkarat itu memantulkan cahaya temaram dari obor dinding yang hampir padam, menciptakan kilatan perak yang mematikan di ruang sempit tersebut. "Sepertinya pukulan tadi kurang keras hingga membuatmu berani menatapku seperti itu. Mari kita akhiri sandiwara bodoh ini dan kubur jasadmu di sini selamanya!"
Wusss!
Tanpa buang-buang waktu lagi, Gu Tianlang melompat menerjang maju. Ayunan pedangnya meluncur deras, membelah udara dengan kecepatan tinggi, mengincar leher Gu Yan-Zhi untuk melakukan eksekusi instan yang bersih. Serangan itu didorong oleh energi spiritual tahap awal—Pemusatan Qi Tingkat Tiga—yang meskipun masih tergolong rendah di mata para tetua klan, tetap saja jauh di luar batas kemampuan fisik manusia biasa.
Bagi orang awam yang tidak memiliki pelatihan khusus, kecepatan serangan itu terlihat bagaikan sambaran kilat yang mustahil untuk dihindari, apalagi ditangkis dengan tangan kosong. Otak manusia normal pasti akan dilanda kepanikan, membeku di tempat, atau pasrah menunggu ajal menjemput.
Namun, di dalam raga Gu Yan-Zhi bersemayam jiwa Vano, seorang aktor laga papan atas di bumi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun berlatih koreografi pertarungan ekstrem dan seni bela diri praktis bersama para stuntman profesional dunia. Ia terlatih membaca momentum tubuh lawan, menghitung milidetik pergerakan otot, dan memanfaatkan kelemahan struktur fisik musuh dalam kondisi bertekanan tinggi.
Terlalu terburu-buru. Emosinya sedang tidak stabil karena merasa terhina oleh tatapanku, sehingga kuda-kidanya sedikit terbuka di sisi kanan, analisis cepat melintas di kepala Gu Yan-Zhi dalam sepersekian detik.
Alih-alih mundur atau mencoba menangkis serangan yang kekuatannya tidak sebanding, Gu Yan-Zhi justru melakukan gerakan tak terduga. Alih-alih menghindar ke arah kiri seperti yang lazim ditebak lawan, ia merendahkan pusat gravitasinya secara drastis, membiarkan mata pedang Gu Tianlang mendesis tajam lewat tepat seper milimeter di atas helaian rambutnya, lalu melangkah maju secara agresif menembus ruang kosong di dalam jangkauan pertahanan lawan.
Bugh!
Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga fisiknya, Gu Yan-Zhi menghantamkan sikunya dengan keras tepat ke arah ulu hati Gu Tianlang—sebuah titik tekan vital yang terbuka lebar akibat postur sepupunya yang terlalu condong ke depan saat mengayunkan pedang terlalu bernafsu.
Prang!
Gu Tianlang terpekik kaget saat hantaman siku itu telak mengenai sasaran empuk. Walaupun Gu Yan-Zhi saat ini belum memiliki energi spiritual untuk memperkuat serangannya, hukum fisika dasar tentang transfer momentum dan titik tekan tetap berlaku di dunia mana pun. Napas Gu Tianlang mendadak tersengal hebat, cengkeramannya pada gagang pedang mengendor, dan tubuhnya terdorong mundur dua langkah ke belakang karena kehilangan keseimbangan total.
"Ukh...! Sialan... dari mana gerakan murahan itu?!" Gu Tianlang terbatuk-batuk keras, wajahnya memerah padam karena kombinasi rasa sakit yang luar biasa dan rasa malu yang membakar harga dirinya. Bagaimana mungkin seorang sampah tanpa Dantian bisa memukulnya balik dengan begitu telak?
Gu Yan-Zhi tidak menyia-siakan celah sepersekian detik yang sangat berharga tersebut. Tanpa membuang waktu untuk menarik napas, ia langsung menyambar obor yang menempel di dinding batu, lalu melemparkannya secara langsung tepat ke arah wajah Gu Tianlang untuk membutakan pandangannya sementara waktu. Bersamaan dengan itu, tangan kirinya bergerak secepat kilat untuk merampas belati kecil yang terselip di pinggang sepupunya.
Pertarungan jarak dekat yang brutal pun tak terhindarkan di ruangan yang sempit itu. Gu Tianlang yang panik dan matanya silau oleh cahaya obor mencoba mengibaskan lengan bajunya untuk menepis, namun ia terlambat sepersekian detik. Gu Yan-Zhi sudah berhasil menerjang maju, merangsek masuk ke dalam area pelukan lawan, dan mengunci pergelangan lengan kanan Gu Tianlang menggunakan teknik kuncian sendi (joint lock) yang mematikan.
"Argh! Lepaskan! Tanganku... keparat, lepaskan!" teriak Gu Tianlang histeris saat tekanan mekanis yang kuat menghantam persendian pergelangan tangannya, mengancam akan mematahkan tulangnya jika ia melawan sedikit saja.
Gu Yan-Zhi tidak membiarkan perlawanan sekecil apa pun terjadi. Dengan napas yang masih memburu dan peluh dingin bercampur darah membasahi keningnya, ia mendekatkan wajahnya ke telinga sang sepupu.
"Di dunia ini, kekuatan memang segalanya," bisik Gu Yan-Zhi tepat di telinga Gu Tianlang dengan nada suara yang begitu dingin dan menusuk, membuat darah pemuda sombong itu membeku seketika. "Tapi kebodohan, kecerobohan, dan kesombongan adalah cara tercepat bagi seseorang untuk mengirim dirinya sendiri ke neraka."
Gu Yan-Zhi tahu persis bahwa membunuh anggota klan secara terang-terangan di dalam wilayah utama Klan Gu tanpa persiapan matang adalah tindakan bunuh diri. Ia masih berada dalam kondisi yang sangat lemah dan Dantiannya masih tersegel rapat. Yang ia butuhkan saat ini bukanlah kepuasan membunuh sesaat, melainkan kesempatan emas untuk melarikan diri hidup-hidup.
Dengan sebuah dorongan tenaga yang tersisa pada kakinya, Gu Yan-Zhi menendang keras tempurung lutut Gu Tianlang hingga pemuda sombong itu kehilangan penopang dan jatuh berlutut mencium tanah dengan kasar.
Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk menoleh ke belakang, Gu Yan-Zhi langsung berbalik arah, melompat melewati reruntuhan pintu, dan berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong gelap yang mengarah langsung ke luar kompleks kediaman, menyambut malam badai yang siap menguji batas ketahanannya.