NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Siang hari, cahaya matahari terik menyinari seluruh sudut kota. Sebuah kereta api menderu pelan sebelum akhirnya berhenti di stasiun yang sesak. Asap putih mengepul membumbung tinggi dari cerobongnya, menyatu dengan hiruk-pikuk para penumpang yang berhamburan turun dengan beragam gaya pakaian. Namun, di antara kerumunan manusia itu, tampak dua sosok dengan pakaian lusuh yang begitu mencolok.

Sesosok perempuan muda bertopi berjalan mengekor di belakang seorang laki-laki setengah baya yang mengenakan kupluk hitam. Perempuan itu adalah Bella Anastasya, dan pria di depannya adalah sang ayah.

Mereka melangkah menembus keriuhan jalanan kota hingga langkah sang ayah terhenti tepat di depan sebuah bar. Bella pun menyeseuaikan langkah dan berhenti di sampingnya.

“Tunggu di sini,” bisik sang ayah ringkas.

Tanpa menunggu balasan, sang ayah mendorong pintu dan melangkah masuk, meninggalkan Bella yang berdiri sendirian sembari mengamati suasana sekitar.

Suasana di dalam bar tampak lengang, tempat itu jelas belum beroperasi. Di sudut ruangan, seorang wanita bergaun merah tengah mengepel lantai sambil menyedot pipa rokoknya santai.

“Maaf, permisi, Nyonya,” sapa ayah Bella sopan.

Wanita bergaun merah itu melirik sekilas ke arah sumber suara. “Maaf, kami belum buka.”

Asap tipis mengepul dari bibirnya saat ia kembali mengisap pipa rokok. Pria berkupluk itu terus melangkah mendekat.

“Aku datang kemari untuk mencari seseorang,” lanjutnya.

Kali ini, wanita itu menoleh sepenuhnya.

“Apakah kau mengenal pelanggan asal Jepang bernama Sachimoto?” tanya sang ayah.

Wanita itu menatapnya dalam-dalam, mencoba menggali ingatan.

“Dengarnya dia seorang seniman,” tambah ayah Bella memberi petunjuk.

“Aku kenal dua orang bernama Sachimoto, tapi mereka berdua tentara, bukan seniman,” sahut wanita itu datar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai.

“Bukannya dia pelanggan tetap di sini?” cecar sang ayah penasaran.

“Entahlah. Aku baru bekerja setengah tahun di sini dan belum pernah melihat orang yang kau maksud.”

Ayah Bella menghela napas pelan. “Baiklah kalau begitu.” Ia berbalik hendak melangkah keluar.

“Kenapa tidak kau coba tanya ke Griya Harta Emas?” cetus wanita itu tiba-tiba.

Langkah ayah Bella terhenti seketika. Ia menoleh kembali.

“Pemiliknya pria bernama Gilang Fahrezi. Kalau kau butuh sesuatu di wilayah ini, entah itu uang, tempat tinggal, atau mencari seseorang dia sumber utamanya di Jayakarta.”

****

Pada saat yang sama, Bella tengah berada di sebuah toko serba ada tak jauh dari sana. Seorang pria paruh baya pemilik toko duduk di balik meja kasir, mengawasinya.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya pemilik toko.

“Aku mau tanya, apa yang di luar itu dijual?” Bella menunjuk ke arah sepeda motor tua yang terparkir berdebu di depan toko.

Pria paruh baya itu menggelengkan kepala. “Oh, itu. Mesinnya sudah mati total.”

Mata Bella seketika berbinar cerah. “Aku mau beli. Berapa harganya?”

Pemilik toko menatap Bella dari ujung kaki hingga kepala, mengamati penampilannya “Dari gayamu, sepertinya kau dari bandoeg, benar?”

“Dua juta enam ratus?” tawar Bella langsung tanpa memedulikan tebakan si pemilik toko.

Pria itu terkekeh pelan. “Ayolah, motor itu ada sespannya. Harganya paling tidak tiga juta sembilan ratus”

“Tapi Kau sendiri yang bilang motor itu sudah rusak,” sanggah Bella cepat sambil melirik kendaraan tua tersebut. “Kalau dibiarkan terus di sana, itu cuma jadi rongsokan.”

Pemilik toko menatap Bella dengan raut wajah serius. “Berlian di dalam kotoran tetaplah berlian. Motor rusak pun tetaplah motor,” ujarnya dengan suara agak serak.

Bella mengedipkan mata, tak bergeming. Pemilik toko itu pura-pura terbatuk kecil, lalu mengangkat jarinya. “Baiklah,tiga juta sembilan ratus. Bagaimana?” tanya pemilik toko

Bella mengangguk dengan sunggingan senyum tipis. “tiga juta sembilan ratus?”

“Ya.”

Bella bergerak mengedarkan pandangan ke sekeliling toko. Jemarinya meraih sepasang kacamata motor khusus berkendara dari atas rak. Pemilik toko terus mengawasinya dengan tangan terlipat di dada dan raut wajah sulit ditebak. Bella mencoba kacamata itu sebentar, membayangkan dirinya saat mengendarai motor nanti.

Tak berhenti di situ, Bella mengambil beberapa suku cadang motor dan sekaleng bensin. Ia membawa semuanya dan menaruhnya di meja kasir dengan bunyi dentuman cukup keras.

“Bagaimana kalau tiga juta?” tawar Bella lagi, menatap tajam mata si pemilik toko. “Satu paket dengan semua barang ini.”

Pria itu tersenyum miring. “Aku tidak menerima mata uang Tiongkok.”

Tanpa banyak bicara, Bella merogoh saku jaketnya, mengeluarkan seikat uang yang dibelit karet gelang, lalu menghempaskannya ke meja. Ia segera menyambar barang-barangnya dan melangkah keluar begitu saja.

Pemilik toko hanya bisa melotot menatap gulungan uang di mejanya.

Di luar, Bella menyambar kain usang yang menutupi motor tua itu. Debu tebal seketika berhamburan ke udara. Dari tas kecilnya, ia mengeluarkan kunci T, lalu membongkar jok motor dengan lihai. Seperti perkiraannya, ada jalur kabel yang terputus. Dengan sigap, Bella menyambungkan dan melilit kabel itu menggunakan lakban tipis.

Setelah merapikan kembali bagian mesin, ia memasang corong pada mulut tangki dan menuangkan seluruh bensin dari kaleng yang baru dibelinya.

Sementara itu dari dalam toko, sang pemilik terkekeh girang sambil menghitung tumpukan uang dari Bella. “Apa dia baru saja menang lotre?” gumamnya gembira. Namun saat pandangannya beralih ke luar jendela, alisnya bertaut. “Ya ampun, dia benar-benar mengutak-atik rongsokan itu? Motor itu sudah teronggok di sana tiga tahun, kehujanan, kena es, dan salju. Mustahil mesinnya bisa...”

Brumm! Brumm

Suara raungan mesin motor mendadak memotong kalimatnya. Pemilik toko melotot kaget, tangannya berhenti menghitung uang. “Hmm?”

Ia bergegas berlari ke luar toko. Matanya melotot tak percaya menyaksikan Bella sudah melaju kencang meninggalkan pelataran dengan motor yang selama bertahun-tahun dianggapnya sebagai besi tua tak berguna.

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!