NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Reja melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Celin. Jarak mereka begitu dekat hingga Celin bisa merasakan aura dingin dari jaket Reja.

"Pinter banget ya lo main sandiwara nya?" Reja berbisik, suaranya parau. "Di depan bokap gue jadi menantu teladan, di sekolah jadi korban, padahal sebenarnya lo ular yang paling licin."

Celin tidak mundur. Ia menatap tepat di manik mata Reja. "Gue cuma lakuin apa yang harus gue lakuin supaya tetep hidup di rumah ini. Jadi, besok jam tujuh malam, pastikan lo udah siap. Jangan bikin sandiwara gue sia-sia."

Celin berbalik pergi menuju kamarnya, meninggalkan Reja yang masih berdiri mematung di ruang tengah. Reja menatap punggung Celin, merasa kesal karena untuk kesekian kalinya, ia merasa berutang budi pada gadis yang seharusnya ia benci.

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar di dapur, menerangi kepulan asap dari teh hangat yang baru saja diseduh Celin.

Di atas meja, dua piring sandwich tuna segar sudah tertata rapi. Celin menghela napas pendek, mencoba mencari sedikit ketenangan di hari Minggu ini sebelum badai makan malam nanti malam dimulai.

Tak lama kemudian, Bi Ratna datang membawa peralatan bersih-bersih. Langkahnya terhenti saat melihat Celin sudah sibuk di dapur sepagi ini.

"Eh, Non Celin sudah masak? Wangi sekali, Non," sapa Bi Ratna ramah.

Celin tersenyum tipis. "Iya, Bi. Ini Celin buat sandwich tuna lebih. Bibik mau? Cobain ya, tadi Celin buat agak banyak."

Bi Ratna tersenyum sungkan sambil menggeleng pelan. "Aduh, terima kasih banyak, Non. Tapi tadi di belakang Bibik sudah sarapan nasi uduk. Kenyang sekali. Disimpan buat Den Reja saja, Non."

Baru saja Bi Ratna hendak melangkah menuju tangga untuk memulai tugasnya, suara langkah kaki berat terdengar dari arah atas. Reja turun dengan kaos hitam polos dan celana pendek, rambutnya masih berantakan namun aura ketegangannya sudah terasa sampai ke dapur.

Seketika, Bi Ratna langsung menunduk dalam, hampir tidak berani menatap mata majikannya itu. "Den... saya izin naik ke atas ya, Den? Mau bersihkan area atas," pamit Bi Ratna dengan suara bergetar karena takut.

Reja hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban, memberikan akses bagi Bi Ratna untuk segera menghilang ke lantai dua—wilayah pribadi Reja yang bahkan Celin sendiri tidak pernah berani menginjakkan kaki di sana.

Reja berjalan menuju dapur, aroma tuna yang menggugah selera sebenarnya sempat membuat perutnya yang kosong sejak semalam meronta. Celin menyadari itu. Ia menggeser satu piring sandwich ke hadapan Reja dengan gerakan lembut.

"Makan dulu. Gue buat sandwich tuna sama teh hangat. Lo belum makan dari semalam, kan?" tawar Celin dengan nada suara yang tetap terjaga, mencoba bersikap baik layaknya seorang istri di depan umum.

Reja menatap piring itu dengan pandangan muak. Ia menarik napas panjang, lalu tanpa ragu, ia meraih piring tersebut dan berjalan menuju tempat sampah di pojok dapur.

Srak!

Sandwich buatan Celin yang estetik dan penuh nutrisi itu kini berakhir di tumpukan sampah. Reja meletakkan piring kosongnya di wastafel dengan bunyi denting yang keras.

"Gue nggak sudi makan masakan ular," ucap Reja dingin sambil menuang air putih dingin ke gelasnya. "Lain kali nggak usah sok peduli. Simpan tenaga lo buat sandiwara nanti malam."

Celin hanya diam. Ia menghela napas panjang, tidak ada amarah di matanya, hanya kelelahan yang mendalam. Ia sudah terbiasa dengan adegan ini.

Baginya, melihat makanannya dibuang sudah menjadi rutinitas pagi yang hambar.

Setelah Reja menghabiskan air minumnya dan kembali naik ke atas—mungkin untuk bersiap pergi bersama teman-temannya, Celin segera membereskan meja makan. Pikirannya beralih ke rencananya hari ini.

Ia sudah berjanji pada Kirei untuk bertemu di taman kota. Ia butuh menghirup udara segar, butuh bicara dengan seseorang yang tidak memandangnya dengan kebencian.

Namun, ia tahu persis, jika ia meminta izin, Reja pasti akan melarangnya hanya karena ingin melihatnya tersiksa di rumah.

"Gue harus nunggu dia pergi dulu," batin Celin sambil melirik jam dinding. Ia duduk di sofa ruang tengah, pura-pura membaca buku sambil menajamkan pendengaran.

Satu jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Celin tetap duduk di sofa, membalik halaman bukunya tanpa benar-benar membaca, sampai akhirnya suara deru motor Reja terdengar menjauh dari gerbang depan.

Begitu suasana benar-benar sunyi, Celin langsung menutup bukunya dan bergegas ke kamar untuk bersiap.

Ia mengenakan pakaian yang sederhana—cardigan rajut berwarna krem dan celana denim—berusaha agar tidak terlihat terlalu mencolok. Ia hanya membawa tas kecil berisi ponsel dan dompet.

Taman kota pagi itu cukup ramai oleh keluarga yang sedang berolahraga. Celin menemukan Kirei duduk di salah satu bangku di bawah pohon rindang.

Wajah Kirei yang tadinya cemas langsung berubah lega saat melihat Celin berjalan mendekat.

"Celin! Akhirnya lo bisa keluar juga," bisik Kirei sambil menarik tangan Celin agar duduk di sampingnya. "Gue takut Reja bakal ngurung lo di rumah gara-gara kejadian kemarin."

Celin tersenyum tipis, meski matanya terlihat lelah. "Dia nggak tahu gue keluar. Gue nunggu dia pergi dulu tadi."

Kirei mengamati wajah sahabatnya itu, memastikan luka di pipi Celin sudah tidak terlalu bengkak. "Lo oke? Gue semalaman kepikiran soal makan malam itu. Jadi beneran keluarga Rian bangkrut?"

Celin mengangguk pelan, menatap lurus ke arah anak-anak yang sedang bermain layang-layang. "Papa Reja udah ambil alih semuanya, Rei. Malam ini ada makan malam perayaan di rumah Adrian. Gue... gue ngerasa jahat banget, tapi gue juga nggak punya pilihan."

Kirei menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya di bahu Celin. "Gue jujur ya, Li. Tadi malem Rian telepon gue. Dia nangis. Gue nggak pernah liat dia sehancur itu. Dia bilang dia benci banget sama lo, tapi di sisi lain dia ngerasa kehilangan partner terbaiknya."

Celin membeku. Mendengar Rian menangis terasa lebih sakit daripada tamparan yang ia terima kemarin.

"Rei, kalau nanti Rian cari lo lagi, jangan bela gue," ucap Celin tiba-tiba. "Biarin dia benci gue. Itu lebih baik daripada dia harus berurusan sama Reja gara-gara lo terus-terusan di pihak gue."

"Nggak, Li. Gue nggak bisa gitu," protes Kirei. "Kita sahabat. Gue tahu lo lakuin ini buat ngelindungin gue juga, kan?"

Kirei sempat menatap Celin dengan raut wajah penuh tanya. Ia menggenggam jemari Celin, merasakan tekstur kulit sahabatnya yang kini terasa lebih dingin dari biasanya.

"Li," panggil Kirei lembut. "Ibu nanyain terus... kenapa lo udah beberapa hari ini nggak masuk kerja di cafe? Biasanya lo yang paling rajin, bahkan kalau lagi sakit pun lo tetep maksain dateng buat bantu Ibu."

Celin tertunduk, menatap rumput taman yang bergoyang pelan. Matanya terasa panas. Mengingat cafe milik keluarga Kirei adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa diterima sebagai manusia, dan mendapatkan kasih sayang.

"Gue... gue nggak akan balik kerja di sana lagi, Rei," bisik Celin parau.

Kirei terbelalak. "Maksud lo? Lo berhenti? Tapi kenapa? Apa karena Reja? Atau karena jadwal olimpiade lo makin padat?"

Bersambung....

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!