NovelToon NovelToon
Bos Itu Mantan Pacarku

Bos Itu Mantan Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas Dendam
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.

Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.

Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.

apakah yang akan terjadi kepada mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tsania 6

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima belas menit. Suasana di lantai teratas Pratama Tower sudah sangat sepi. Lampu-lampu koridor utama mulai diredupkan, meninggalkan ruang kerja CEO yang megah hanya diterangi oleh lampu meja dan cahaya temaram dari lanskap kota Jakarta yang basah oleh sisa hujan.

Tsania menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tenggorokannya terasa terbakar, dan pandangannya mulai kabur berpendar. Seluruh persendian tubuhnya ngilu bukan main, dampak dari membiarkan baju basah berlumpur menempel di kulitnya selama berjam-jam tadi siang.

Ia melirik Arsen yang masih duduk tenang di balik meja besarnya, mengetik sesuatu di laptop dengan wajah tanpa ekspresi. Dengan sisa tenaganya, Tsania berdiri. Langkah kakinya agak gemetar saat mendekati meja Arsen.

"Pak Arsen... seluruh draf revisi untuk proposal Bogor sudah selesai saya entry dan kirim ke email Bapak. Apa ada berkas lain yang perlu saya kerjakan malam ini?" suara Tsania terdengar serak dan sangat pelan.

Arsen tidak langsung mendongak. Ia sengaja mengulur waktu selama beberapa detik, mengetik satu kalimat terakhir sebelum akhirnya menatap Tsania. Matanya menyapu wajah Tsania yang kini pucat pasi bagai kertas, dengan bibir yang tidak lagi berwarna merah.

"Kamu sudah mau pulang?" tanya Arsen dingin, menyandarkan punggungnya santai.

"Waktu kerja resmi sudah selesai sejak jam lima sore tadi, Pak. Dan... kondisi saya sedang kurang fit," jawab Tsania jujur, berusaha menyembunyikan getaran di tubuhnya.

Arsen terkekeh sinis, menyilangkan jemarinya di atas meja. "Kurang fit? Tsania, kamu baru dua hari kembali ke kehidupan profesional, tapi ketahanan tubuhmu seburuk ini? Kemarin kamu yang bilang pada saya kalau kamu wanita mandiri yang tangguh, kan?"

Tsania memejamkan mata sejenak, mengatupkan rahangnya rapuh. "Ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu, Pak Arsen. Saya hanya menjalankan hak saya sebagai karyawan."

"Di Pratama Group, hak kamu baru berlaku kalau pekerjaanmu sempurna," potong Arsen tajam. Ia menarik sebuah tumpukan map tebal dari sisi mejanya lalu melemparkannya hingga terdorong ke hadapan Tsania.

"Analisis kompetitor untuk produk baru ini belum kamu sentuh. Saya mau laporan analisis ini tersaji di meja saya besok pagi pukul delapan tepat. Kerjakan sekarang."

Tsania menatap tumpukan berkas tebal itu dengan ketidakpercayaan yang membuncah. "Pak Arsen, ini setidaknya butuh waktu tiga jam pengerjaan! Ini sudah malam!"

"Kalau begitu, kamu punya waktu tiga jam dari sekarang," sahut Arsen datar, kembali menatap layar laptopnya seolah percakapan telah usai.

"Atau kamu mau mengundurkan diri malam ini juga? Pintu keluar selalu terbuka lebar, Tsania."

Kalimat itu berulang kali menyerang pertahanan mentalnya. Mengundurkan diri berarti menyerah, dan menyerah berarti membiarkan Arsen menang di atas penderitanya.

"Baik. Saya kerjakan," desis Tsania penuh penekanan.

Ia mengambil map tebal itu, berbalik melangkah ke mejanya. Setiap detik yang berlalu terasa bagai siksaan. Suhu AC ruangan yang dingin terasa menusuk hingga ke sumsum tulangnya. Tsania beberapa kali harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah hanya untuk menjaga kesadarannya agar tidak tumbang di atas kibor.

Sementara itu, Arsen sesekali mencuri pandang. Ia melihat bagaimana jemari Tsania gemetar saat membolak-balik halaman kertas, melihat bagaimana napas wanita itu makin memburu dan hangat. Hatinya yang keras sempat bergejolak parah, ada dorongan tak kasat mata yang menyuruhnya untuk menghentikan kegilaan ini dan menyuruh Tsania pulang. Namun, rasa sakit hati di masa lalu meracuni akal sehatnya. Biarkan dia merasakannya, batin Arsen membentengi diri.

Pukul setengah sembilan malam.

Tsania akhirnya mencetak lembar terakhir. Ia berjalan melangkah pelan, meletakkan tumpukan dokumen itu di atas meja Arsen tanpa mengucap sepatah kata pun.

Arsen melirik dokumen itu, lalu menatap Tsania. "Sudah selesai?"

"Sudah, Pak," jawab Tsania pelan, nyaris berbisik. "Bila tidak ada hal lain... saya permisi pulang."

Arsen menatap Tsania datar, lalu melambaikan tangannya acuh tanpa kepedulian. "Ya. Kamu boleh pergi."

Tsania membalikkan badan. Ia mengambil tasnya, melangkah keluar dari ruangan megah yang terasa bagai penjara dingin itu. Begitu pintu kaca tebal itu tertutup rapat, Arsen menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi, mengusap wajahnya yang mendadak terasa lelah. Pria itu sama sekali tidak tahu bahaya apa yang sedang mengintai mantan kekasihnya di luar sana.

Langkah kaki Tsania menyeret di atas lantai marmer lobi yang sepi. Angin malam yang berembus masuk lewat pintu kaca utama langsung menyapu tubuhnya, membuat badannya menggigil hebat secara konstan. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski dadanya terasa membara oleh demam tinggi.

Saat melangkah keluar dari gedung menuju area drop off untuk mencari taksi, pandangannya mendadak berbayang. Dunia di sekitarnya seolah berputar hebat. Suara bising kendaraan di jalan raya terdengar semakin jauh dan bergema.

"Ungh..." Tsania meringis, memegang kepalanya yang berdenyut parah.

Langkahnya sempoyongan. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, meliuk lunglai ke samping. Tas di genggamannya terlepas, dan Tsania ambruk ke arah trotoar basah.

"Awas! Mbak!"

Sebuah suara bariton yang asing terdengar panik seraya sebuah lengan kokoh menahan tubuh Tsania tepat sebelum wajahnya menghantam lantai semen.

Pria itu, seorang pria bertubuh jangkung dan tagap dengan kemeja kasual yang tergulung hingga siku dan kacamata berbingkai tipis dengan sigap merengkuh pinggang Tsania. Pria itu baru saja hendak memasuki gedung Pratama Tower untuk sebuah janji temu bisnis malam, namun matanya memergoki Tsania yang berjalan tak tentu arah hingga hampir jatuh pingsan.

"Mbak? Mbak, Anda tidak apa-apa?" panggil pria itu cemas. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Tsania. Tangannya langsung tersentak saat merasakan kulit pipi wanita itu panas luar biasa.

"Astaga, badanmu panas sekali! Mbak, sadar Mbak!"

Tsania mencoba membuka matanya yang berat. Di antara kesadarannya yang hanya tinggal sepuluh persen, ia melihat samar-samar wajah asing seorang pria yang menatapnya penuh rasa khawatir sebuah tatapan penuh kepedulian yang sangat ia harapkan hadir dari Arsen beberapa saat lalu.

"Ssakit..." gumam Tsania lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya yang terengah-engah, sebelum akhirnya matanya terpejam sepenuhnya. Tubuhnya terkulai pasrah di dalam dekapan pria asing tersebut.

"Mbak! Mbak!" Pria itu panik. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyapu tubuh kecil Tsania dan mengangkatnya dalam garapan gaya bridal carry.

"Pak! Tolong bukakan pintu mobil saya! Cepat!" teriak pria itu pada satpam gedung yang langsung berlari menghampirinya.

"Aduh, Mas Raihan! Itu Mbak Tsania staf baru di lantai atas! Kenapa bisa pingsan begini?" ujar satpam itu panik sambil membukakan pintu belakang sebuah mobil SUV putih yang terparkir tak jauh dari situ.

"Dia demam tinggi sekali, Pak! Saya bawa dia ke rumah sakit terdekat sekarang!" tegas pria bernama Adrian itu seraya membaringkan Tsania dengan hati-hati di kursi belakang.

Adrian langsung mengitari mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan menekan pedal gas dalam-dalam. SUV putih itu melesat membelah kegelapan malam Jakarta, membawa Tsania yang terkulai tak sadarkan diri menuju ruang gawat darurat.

Sementara di lantai teratas Pratama Tower, Arsen masih berdiri di dekat jendela, menyesap kopinya yang mulai dingin. Ia menatap jalanan di bawah sana tanpa pernah menyadari, bahwa wanita yang baru saja ia siksa habis-habisan baru saja dilarikan ke rumah sakit oleh orang asing.

1
Jumi Saddah
semoga lancar deh,,tidak ada yg menggagalkan,,biar semua kembali ke tempat nya sebagai mesti nya💪💪💪arsen semangat
kymlove...
sabar nya tinggal 2 hari lagi, kalau sehari up 2 x berarti kurang 4+1 part lagi untuk menjelang malam Sabtu, kalau sehari up sekali berarti nunggu kurang 2-3 part lagi menjelang Sabtu malam... jadi harus bisa sesabar itu nunggunya aku🥲🤣
Oma Gavin
menunggu sabtu lama banget 🥺
nely_48
cinta mu begitu besar n tulus pd arsen ya tsania ☹️
nely_48
sama² terluka n hancur,,,
nely_48
semoga tsania mendengarkan curhatan mu ya arsen
nely_48
tenang tsania karna itu ada
nely_48
udh ga sabar nunggu detik² bpak nya arsen n aurelia live
nely_48
tsania km tenang, jgn histeris gtu,
nely_48
langkah yg tepat arsen,, liatt dr jauh az gpp, pastikan bpak dajjal mu itu hancur kehilangan semua harta n nama yg sll dia agung²kan
nely_48
gila bpak nya arsen jahat nya udh level dajjal
Eva Karmita
Tsania please jgn berpikir yg tidak" cukup kamu diam tenang jgn sampai membuat kesalahan dan itu bisa membuat Arsen dlm bahaya...ini demi keselamatan kamu dan Arsen 🥺
Eva Karmita
syukurlah Nia sudah mendengar semua pengakuan Arsen 🥺
Eva Karmita
bukan Arsen tidak mau mendengarkan penjelasan mu tapi kamu Nia yg ngak pernah mau menjelaskan dengan Arsen 🥺 ... kalian berdua sama"terluka dan korban ke jahat si Bisma dan keluarga Aurel, semoga kesalah pahaman ini cepat terbongkar
kymlove...
lalu kamu mau apa tsania?? pergi lagi dan berharap arsen akan tenang hidup nya?? atau mau menghalangi niat arsen untuk membongkar kejahatan bapaknya!!! trs apa lagi yang mau kamu mau?? sudah tau kalian sama2 korban kekejaman bapak nya arsen, harus nya kamu kalau bisa dukung tindakan arsen, jangan malah menghalangi dengan alasan takut arsen di hancur kan lagi, INGAT SEBELUM INI KALIAN JUGA UDAH HANCUR!! JANGAN SELALU JADI LEMAH ATAS NAMA CINTA!! CUKUP SUDAH PENDERITAAN MU INI!!
kymlove...
sabtu malam nanti segera lah tiba!! tapi ini. masih senin sore jadi kira2 kurang berapa. part lagi untuk mencapai. sabtu itu🥲 gak sabar banget. lihat para orang jahat itu hancur...
kymlove...: kayaknya kita harus sabar dulu nunggu sabtu nya kk.. soalnya sekarang masih malam selasa🤣😀
total 2 replies
Oma Gavin
kenapa menuju sabtu saja lama banget
Sri Suryati
kan Arsen nanya stania . kenapa kamu meninggalkan aku
kymlove...
kalian semua sama-sama jadi korban tapi menurut ku tsania lebih menyakitkan sampai kehilangan orang tuanya dan masih harus menerima kebencian yang mendarah daging dari keluarga arsen, jadi kalau dengan arsen menghancurkan keluarga nya dan langsung tsania maafin gitu aja, kayaknya gak terlalu adil banget buat tsania yang tersiksa terlalu lama...
gina altira
Puas kamu Arsen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!