Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Malam mulai menyelimuti kota dengan keheningan yang pekat.
Lampu-lampu laboratorium lantai bawah Rumah Sakit Medika Sentosa menyala terang benderang.
Arka berdiri di depan meja mikroskop digital dengan tatapan tajam.
Di sampingnya, Siska mengenakan jas lab putih sambil menyiapkan tabung reaksi kimia.
"Sampel obat dari Nusantara Pharma sudah siap diuji, Arka," kata Siska serius.
Arka mengambil satu ampul cairan bening dari nampan steril.
"Bagus, mari kita bedah kandungan apa saja yang sengaja disembunyikan di dalam obat penurun demam ini," jawab Arka tenang.
Clara duduk di kursi pengamatan sambil merapikan beberapa dokumen laporan korporasi.
"Perusahaan sebesar itu ternyata berani mempermainkan nyawa ribuan pasien demi keuntungan bisnis," geram Clara kesal.
"Bisnis farmasi gelap selalu melibatkan uang dalam jumlah yang tidak masuk akal," timpal Arka santai.
Arka meneteskan sedikit cairan sampel ke atas kaca objek mikroskop.
Layar monitor besar di depan mereka langsung menampilkan struktur molekul zat kimia tersebut.
"Cairan ini bukan sekadar obat penurun demam biasa," gumam Arka memperhatikan layar.
"Maksudmu apa, Arka?" tanya Siska penasaran mendekatkan wajahnya ke layar monitor.
"Ada zat adiktif sintetis jenis baru yang sengaja dicampurkan ke dalam formulanya," jelas Arka dingin.
Clara berdiri dari kursinya lalu menatap layar dengan ekspresi terkejut.
"Zat adiktif? Berarti obat itu sengaja dibuat agar pasien terus ketergantungan?" tanya Clara kaget.
"Tepat sekali, itu adalah strategi bisnis busuk untuk mengikat pasien agar terus membeli produk mereka," jawab Arka.
[Sistem Mendeteksi Formula Kimia Berbahaya Jenis Baru]
[Membuka Opsi Pembuatan Penawar Toksin Sintetis]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Arka mengetuk beberapa tombol di keyboard komputer laboratorium dengan cepat.
"Siska, ambil cairan natrium klorida sepuluh mililiter dan campurkan dengan ekstrak herbal penangkal racun," perintah Arka tegas.
"Baik, Arka!" jawab Siska sigap langsung meracik bahan sesuai instruksi.
Suara peralatan kaca berdenting pelan di dalam ruangan yang sunyi.
Tring... tring...
Arka mengawasi setiap pergerakan tangan Siska dengan presisi tinggi.
"Kadar campurannya harus pas, jangan sampai kelebihan satu miligram pun," pesan Arka mengingatkan.
"Tenang saja, tanganku tidak akan bergetar," balas Siska tersenyum tipis.
Clara memperhatikan kerja sama di antara Arka dan Siska dengan perasaan kagum.
"Kalau penawar ini berhasil dibuat, kita bisa menyelamatkan ratusan pasien yang sudah terlanjur meminum obat itu," kata Clara penuh harap.
"Bukan cuma menyelamatkan, tapi kita juga bisa menghancurkan sisa aset pabrik gelap mereka," tambah Arka dingin.
Tiba-tiba, suara alarm darurat IGD berdering kencang dari koridor luar laboratorium.
Bip... bip... bip...
Siska menoleh kaget ke arah pintu penghubung ruangan.
"Ada apa itu? Kenapa alarm IGD berbunyi malam-malam begini?" tanya Siska cemas.
Seorang perawat IGD berlari masuk ke dalam laboratorium dengan napas terengah-engah.
"Dokter Arka! Gawat darurat!" seru perawat itu panik.
Arka menoleh dengan ekspresi wajah yang tetap tenang tanpa beban.
"Ada pasien baru dengan gejala overdosis obat Nusantara Pharma," lapor perawat itu cepat.
"Kondisinya kritis dan detak jantungnya hampir berhenti total!" tambah perawat tersebut ketakutan.
Arka melepas sarung tangannya lalu melangkah keluar meja lab.
"Bawa pasien itu ke ruang bedah darurat sekarang juga," perintah Arka tegas.
"Baik, Dokter!" jawab perawat itu bergegas pergi.
Clara dan Siska ikut merapikan peralatan dan bersiap mengikuti langkah Arka.
"Sepertinya racun itu mulai bereaksi lebih cepat dari perkiraan kita," ucap Clara cemas.
"Baguslah kalau mereka datang mengantar diri, jadi kita bisa menguji formula penawar yang baru saja kita buat," balas Arka tersenyum tipis.
Mereka bertiga berjalan cepat menuju ruang operasi utama di lantai dua.
Suasana di depan ruang bedah tampak sangat kacau dan dipenuhi kepanikan keluarga pasien.
"Tolong selamatkan anak saya, Dokter!" tangis seorang ibu histeris melihat putranya terbaring lemah di brankar.
Arka menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap ibu pasien tersebut dengan lembut.
"Tenanglah, Bu, anak ibu akan baik-baik saja di tanganku," janji Arka tenang.
Ucapan penuh keyakinan itu berhasil meredakan kepanikan sang ibu seketika.
Arka melangkah masuk ke dalam ruang bedah disusul oleh Siska sebagai perawat utama.
"Siapkan jarum suntik berisi formula penawar yang baru saja kita racik di lab," instruksi Arka.
"Ini sudah kusiapkan, Arka," serah Siska menyerahkan tabung suntik steril.
Arka mengenakan masker bedah lalu menatap monitor detak jantung pasien yang nyaris mendatar.
Biiip.....
Suara garis lurus mulai terdengar dari monitor tanda jantung berhenti berdetak.
"Tekanan darah drop drastis, Arka!" seru Siska panik melihat angka di layar.
Arka sama sekali tidak panik menghadapi situasi kritis tersebut.
Ia menyuntikkan formula penawar tepat ke pembuluh darah utama di lengan pasien.
"Mari kita lihat seberapa ampuh racikan sistem ini," gumam Arka pelan.
[Sistem Mengaktifkan Reaksi Cepat Penawar Toksin]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam di ruang operasi.
Semua mata staf medis tertuju pada layar monitor utama.
Tiba-tiba...
Bip... bip... bip...
Suara detak jantung kembali berbunyi teratur di dalam ruangan tersebut.
Warna kulit pasien yang tadinya kebiruan akibat racun perlahan-lahan kembali normal.
"Luar biasa... detak jantungnya kembali stabil dalam waktu kurang dari satu menit!" teriak perawat takjub.
Siska menghela napas panjang tanda sangat lega melihat keberhasilan tindakan tersebut.
"Kamu benar-benar penyelamat sejati, Arka," puji Siska tersenyum lebar di balik maskernya.
Arka melepas sarung tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah medis.
"Pasien sudah melewati masa kritis, pindahkan ke ruang rawat inap," perintah Arka santai.
"Baik, Dokter!" jawab perawat sigap mendorong brankar keluar ruangan.
Clara yang menunggu di ruang observasi kaca tersenyum lebar melihat hasil akhir operasi tersebut.
"Formula itu terbukti sangat ampuh," kata Clara menyambut Arka keluar ruangan.
"Tentu saja, tidak ada obat buatan kartel yang bisa mengalahkan sistem kita," jawab Arka tenang.
"Langkah selanjutnya, kita serahkan sampel penawar ini ke Dinkes dan kepolisian," usul Clara serius.
"Sekaligus menggerebek pabrik utama tempat obat ilegal itu diproduksi," tambah Arka menyeringai dingin.
Siska mengepalkan kedua tangannya bersemangat mendengar rencana besar tersebut.
"Mari kita hancurkan sindikat farmasi busuk itu sampai ke akar-akarnya," seru Siska antusias.
Arka menganggukkan kepalanya pelan menyetujui semangat dari dua wanita hebat di sisinya.
Malam semakin larut, namun perlawanan Arka baru saja memasuki babak yang paling menentukan.
Kartel farmasi besar tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan monster sesungguhnya di meja medis.