Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Jalan Kultivasi yang mati
Celah sempit itu berderit pelan saat ujung pisau kecilnya mencongkel sisa-sisa segel kuno yang rapuh. Lembaran debu abu-abu berguguran, mengotori jemari Ye Chan yang gemetar karena menahan lelah.
Pintu batu itu akhirnya bergeser, membuka rongga gelap di hadapannya.
Tidak ada ledakan energi spiritual yang hebat. Tidak ada pula tekanan udara yang mendadak keluar atau embusan angin kuno yang mematikan. Hanya ada keheningan dingin yang pekat.
Ketiadaan reaksi ini justru membuat Ye Chan menarik langkahnya mundur. Ia menyipitkan mata, menatap ke dalam kegelapan dengan waspada. Di dunia kultivasi, keheningan mutlak sering kali jauh lebih mematikan daripada perangkap yang bising.
Ia tidak langsung melangkah masuk.
Sambil menahan napas pelan, ia memperhatikan lantai batu di ambang pintu, mencari celah tipis yang mungkin memicu anak panah beracun. Ia mendongak, mengamati langit-langit ruangan yang retak, memastikan tidak ada sebongkah batu pun yang siap runtuh saat ia lewat.
Setelah yakin tidak ada bahaya langsung yang mengintai, ia menyelinap masuk dengan sangat hati-hati.
Ruangan di balik segel itu ternyata sangat kecil. Berbeda dengan bagian luar yang berbau tanah basah dan lapuk, tempat ini terasa sangat kering, seolah sudah ditinggalkan selama ratusan tahun.
Sebuah meja batu persegi berdiri kokoh di tengah ruangan. Di atasnya, berbaris beberapa wadah obat dari tanah liat yang sudah retak dan terbuka. Ye Chan mendekat, lalu memeriksa wadah-wadah tersebut satu demi satu.
Semuanya kosong. Sisa-sisa pil di dalamnya telah berubah menjadi abu hitam yang tidak lagi memiliki khasiat obat apa pun.
Pandangannya kemudian beralih pada beberapa gulungan perkamen kuno yang tergeletak di sudut meja. Sebagian besar kertas itu telah menguning dan hancur menjadi serpihan saat ia menyentuhnya dengan ujung jari. Namun, ada satu catatan kecil yang masih cukup utuh untuk dibaca.
Ia membawa perkamen itu mendekati celah cahaya, membaca baris demi baris tulisan tangan yang tergesa-gesa.
Itu adalah catatan milik seorang kultivator kuno yang pernah menempati ruangan ini. Isinya menceritakan keputusasaan yang mendalam setelah mengalami kerusakan meridian utama yang parah. Sang pemilik tempat menuliskan berbagai formula obat yang ia coba, namun semuanya berakhir dengan kegagalan.
Kerusakan meridian yang hancur total tidak akan pernah bisa disembuhkan hanya dengan meminum pil obat biasa, begitu bunyi kesimpulan di akhir catatan.
Ye Chan menghela napas pelan, lalu melipat perkamen tersebut dan memasukkannya ke dalam cincin ruang. Ia tidak merasa kecewa karena tidak menemukan harta karun yang berharga di sini. Baginya, catatan ini adalah sumber daya yang sangat penting.
Informasi tentang kegagalan orang lain justru memperkuat kesimpulannya sendiri mengenai kondisinya saat ini. Ia tidak bisa lagi berharap pada metode penyembuhan biasa yang beredar di dunia luar.
Rasa penasaran yang bercampur dengan kecemasan membuat Ye Chan memutuskan untuk mencoba kembali. Ia duduk bersila di atas lantai batu yang dingin, lalu memejamkan matanya perlahan.
Ia mulai melakukan teknik pernapasan dasar, mencoba menarik sisa Qi tipis yang mengambang bebas di dalam ruangan tertutup itu.
Udara dingin mulai mengalir masuk melalui hidungnya, bergerak turun menuju dada. Namun, baru saja energi spiritual itu menyentuh jalur meridian di dadanya, rasa sakit yang luar biasa tajam langsung menusuk hingga ke tulang belakang.
Tubuhnya tersentak hebat. Jalur energinya tersumbat dan patah di banyak titik, membuat Qi yang baru masuk itu langsung buyar kembali ke udara bebas sebelum sempat mengalir lebih jauh.
Ia hampir kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke samping. Dengan napas yang memburu, ia mencoba sekali lagi, kali ini dengan jumlah Qi yang jauh lebih kecil, bahkan hampir tidak terlihat.
Hasilnya tetap sama. Rasa sakit yang menusuk kembali menyerang, memaksanya untuk berhenti seketika.
Ia menyeka keringat dingin yang mengucur di dahinya, lalu memeriksa kondisi tubuhnya sendiri dengan sisa kesadaran yang ada. Keadaannya saat ini benar-benar mengenaskan.
"Intiku sudah hancur," bisiknya pada keheningan ruangan.
Luka di dalam tubuhnya jauh lebih parah daripada yang ia duga sebelumnya.
"Meridianku juga tidak bisa menampung Qi seperti dulu."
Ia menatap kedua telapak tangan yang gemetar, merasakan kehampaan yang teramat sangat di dalam dadanya. Tempat yang dulunya menjadi pusat kekuatannya kini hanya menyisakan rasa perih yang konstan.
Ia tersenyum kecut, menyadari kenyataan pahit yang kini berada di hadapannya.
"Jalan itu benar-benar sudah mati."
Ye Chan menyandarkan punggungnya pada dinding batu di belakangnya. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak setelah hantaman rasa sakit tadi.
Meskipun begitu, ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan atau meratapi hilangnya kekuatan yang pernah ia banggakan. Baginya, meratapi sesuatu yang sudah hilang hanyalah tindakan membuang energi yang sia-sia.
Jika ia ingin bertahan hidup di lembah yang berbahaya ini, ia harus terus berpikir.
'Kalau tubuh ini tidak bisa lagi menggunakan jalan kultivasi yang lama,' pikirnya sembari menatap langit-langit batu yang gelap, 'maka aku harus mencari cara lain untuk memperbaikinya dari dasar.'
Ia mulai menyusun rencana baru di dalam kepalanya, menghitung semua sumber daya yang saat ini ia miliki. Pikirannya bergerak cepat, menghubungkan satu kebutuhan dengan kebutuhan lainnya.
Ia membutuhkan bahan pemulih meridian yang langka. Ia juga memerlukan obat khusus untuk memperkuat kembali fondasi tubuhnya yang telah runtuh. Tidak hanya itu, ia harus mencari sumber energi yang stabil, serta metode kultivasi baru jika memang diperlukan.
"Kalau jalanku sudah mati..." gumamnya perlahan sembari menegakkan tubuhnya kembali. "Berarti aku hanya perlu mencari jalan lain."
Sifat keras kepalanya sebagai seorang kultivator miskin yang terbiasa bertahan hidup dengan cara apa pun kembali bangkit. Ia berdiri, menepuk-nepuk debu yang menempel pada jubahnya, lalu mulai memeriksa bagian terakhir dari ruangan tersebut.
Di balik meja batu yang sudah lapuk, terdapat sebuah ceruk kecil yang terpahat rapi pada dinding terdalam.
Ye Chan melangkah mendekat. Ia memfokuskan persepsi spiritualnya yang tersisa, namun tidak merasakan apa pun dari arah ceruk tersebut. Tidak ada getaran Qi, tidak ada tekanan energi, bahkan tidak ada hawa mistis yang biasanya memancar dari pusaka kuno.
Tempat itu benar-benar terasa mati.
Di dalam ceruk itu tergeletak sepotong giok berwarna putih bersih. Bentuknya sangat sederhana, persegi panjang dengan sudut-sudut yang tumpul. Permukaannya mulus, tanpa ada ukiran lambang sekte, tulisan kuno, atau pola formasi apa pun di atasnya.
Ia tidak langsung mengambilnya. Dengan menggunakan ujung pisau kecilnya, ia menyentuh permukaan giok tersebut secara perlahan dari jarak aman.
Tidak terjadi reaksi apa pun. Benda itu tetap bergeming di tempatnya.
Setelah memastikan tidak ada perangkap spiritual yang tersembunyi, ia mengulurkan tangan dan mengambil giok putih itu dengan jemarinya.
Benda itu terasa sangat dingin saat bersentuhan dengan kulitnya. Namun, tidak ada sensasi kekuatan yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Giok itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia memiliki pemilik sebelumnya, atau bahkan merupakan sebuah alat kultivasi.
"Tidak ada Qi," gumam Ye Chan sembari memutar-mutar benda itu di bawah cahaya remang-remang.
Ia mengetuk permukaan giok dengan kuku jarinya, mendengarkan bunyi ketukan yang terasa sangat biasa.
"Tidak ada tanda pemilik."
Ia menghela napas, merasakan keanehan yang teramat sangat dari benda ini. Sesuatu yang disimpan di dalam ruang tersegel sedalam ini seharusnya tidak sesederhana ini.
"Bahkan tidak terasa seperti benda kultivasi."
Ia menatap lekat-lekat pada permukaan putih yang bersih tanpa cacat tersebut.
"Kosong sekali."
Ia terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk memberi nama sementara pada benda aneh ini sebelum menyimpannya.
"Giok Kehampaan."
Ye Chan baru saja hendak memasukkan benda itu ke dalam kantongnya.
Namun, sebelum jemarinya sempat bergerak, giok putih di telapak tangannya tiba-tiba memancarkan hawa dingin yang luar biasa ekstrem.
Benda itu tidak jatuh ke lantai, juga tidak berpindah ke tempat lain. Secara tidak masuk akal, giok putih itu meleleh, lalu langsung menembus masuk ke dalam kulit telapak tangannya seolah-olah dagingnya hanyalah air.
Ye Chan membeku seketika.
Sesaat kemudian, rasa sakit yang teramat sangat menghantam kepalanya dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Rasanya seperti ada ribuan jarum es yang ditusukkan langsung ke dalam otaknya secara bersamaan.
"Apa yang kau lakukan...?" bisiknya lirih sebelum seluruh tenaganya habis.