NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — Satu Penghargaan Lagi

Seminggu setelah kejadian di rumah sakit, Clara berdiri di depan gedung olimpiade di Jakarta.

Udara pagi terasa dingin.

Bukan cuma karena AC gedung yang terlalu kencang. Tapi karena perut Clara rasanya mulas sejak turun dari kereta.

Tangannya dingin.

Keringat dingin mulai muncul di telapak tangan.

Nomor peserta 042 terpasang di dadanya.

Clara menarik napas pelan.

Hari ini dia harus menang.

Dia tahu Dokter Risa sudah melarangnya melakukan aktivitas berat. Dia juga tahu seharusnya dia masih banyak istirahat setelah kondisinya drop minggu lalu.

Tapi seminggu terakhir Clara terus memikirkan satu hal.

Olimpiade itu.

Kesempatan terakhir untuk membuat Mama melihatnya.

Di luar hall, Mutiara dan Seokjin menunggu. Mereka nggak boleh masuk ke ruang perlombaan.

Seokjin berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.

Wajahnya kelihatan lebih tegang dari biasanya.

Pagi tadi, sebelum berangkat, dia sempat menerima telepon dari mamanya.

Polisi kembali datang ke sekolah untuk mencari dia.

Ada laporan perkelahian yang masih berkaitan dengan kasus sebelumnya.

Seokjin cuma menjawab pendek.

"Nanti aja, Ma. Gue lagi di Jakarta."

Dia sempat diam beberapa detik sebelum menambahkan,

"Ada yang lebih penting."

Yang lebih penting itu Clara.

Clara tahu.

Dan justru karena itu, dia merasa nggak boleh gagal.

Dia harus menang.

Kalau dia menang, mungkin Mama Vania bakal melihatnya.

Mungkin Mama bakal menelepon.

Mungkin Mama bakal mengunggah fotonya seperti ketika mengunggah foto Thea.

Mungkin Mama bakal mengatakan satu kalimat sederhana.

Mama bangga sama kamu.

Satu kalimat itu.

Cuma itu yang Clara kejar sejak SD.

---

Pintu hall dibuka.

Para peserta mulai masuk.

Clara duduk di barisan paling depan.

Layar besar di depan ruangan menyala.

Soal pertama muncul.

Clara membaca.

Sekilas dia paham.

Tapi beberapa detik kemudian, kepalanya terasa berat.

Pandangan matanya sedikit kabur.

Dia menutup mata sebentar.

Semalam dia hampir nggak tidur.

Mual datang berkali-kali.

Punggungnya juga masih terasa nyeri.

Tangannya masuk ke saku rok.

Ada permen jahe pemberian Nenek Kamila.

Clara membuka bungkusnya dan memasukkannya ke mulut.

Fokus.

Dia membuka mata lagi.

Tangannya mulai bergerak.

Rumus.

Coretan.

Perhitungan.

Jawaban.

Satu soal selesai.

Lanjut soal berikutnya.

Waktu berjalan lambat.

Sangat lambat.

Beberapa jam kemudian, kepala Clara mulai berdenyut.

Pandangan di depannya kembali dipenuhi titik-titik hitam.

Dia berhenti menulis.

Menarik napas.

Sekali.

Dua kali.

Jangan sekarang.

Dia menggenggam pulpen lebih kuat.

Gue nggak boleh jatuh sekarang.

Bayangan wajah Mama muncul di kepalanya.

Kemudian wajah Thea.

Lalu piala.

Clara memaksa dirinya kembali fokus.

Dia tahu dirinya seharusnya tidak berada di sana dalam kondisi seperti ini.

Dia tahu dia sedang melanggar nasihat Dokter Risa.

Tapi dalam pikirannya, hari ini bukan cuma tentang olimpiade.

Hari ini tentang satu penghargaan lagi.

Satu penghargaan yang dia harap bisa membuat Mama melihatnya.

---

Lima jam kemudian, semua peserta mulai keluar dari hall.

Wajah mereka terlihat lelah.

Clara keluar hampir paling akhir.

Langkahnya pelan.

Begitu melihatnya, Mutiara langsung berdiri.

"Cla!"

Mutiara berlari menghampiri.

"Lo gimana?"

Clara mencoba tersenyum.

"Nggak tahu."

Seokjin datang dari belakang sambil membawa air mineral dan roti.

Dia langsung menyerahkan botol air kepada Clara.

"Minum dulu."

Clara menerima.

Tangannya masih gemetar.

Seokjin memperhatikan wajahnya.

"Pucat banget."

"Gue gapapa."

"Jangan bilang gapapa kalau muka lo kayak gitu."

Clara cuma tersenyum kecil.

"Gue cuma capek."

Seokjin ingin membalas, tapi akhirnya diam.

Dia tahu sekarang bukan waktunya memaksa Clara bicara.

Pengumuman pemenang baru dilakukan sore hari.

Mereka bertiga akhirnya menunggu di aula.

Clara duduk di kursi, sementara Mutiara duduk di sebelahnya dan Seokjin berdiri beberapa langkah dari mereka sambil menjaga tas.

Beberapa menit kemudian, HP Clara bergetar.

Nama Mama Vania muncul di layar.

Mata Clara langsung berbinar.

Dia buru-buru mengangkat.

"Ma!"

"Halo, Clara?"

"Iya, Ma! Gue udah selesai lombanya."

Nada suara Clara berubah cerah.

"Tadi susah banget, tapi gue jawab semuanya."

Dari seberang terdengar suara ramai.

Suara orang berbicara.

Suara roda ranjang.

Sepertinya Mama masih di rumah sakit.

"Bagus, Nak. Nanti kabarin Mama kalau hasilnya udah keluar."

Clara terdiam sebentar.

"Ma... Mama di rumah sakit?"

"Iya. Mama masih sama Thea."

Clara menggigit bibir.

"Thea kenapa?"

"Demam tinggi dari tadi pagi. Dokter lagi periksa."

Lagi.

Thea lagi.

Senyum Clara perlahan menghilang.

"Oh..."

"Yaudah, Mama tutup dulu, ya. Nanti Mama telepon lagi."

"Iya, Ma."

Telepon berakhir.

Clara menatap layar HP beberapa detik.

Mutiara mengusap punggungnya.

Seokjin yang mendengar percakapan itu hanya mengepalkan tangan.

Clara memasukkan HP ke dalam tas.

"Gapapa."

Suaranya pelan.

"Kalau gue menang, Mama pasti senang."

Seokjin menatapnya lama.

Dia nggak mengatakan apa-apa.

Karena dia tahu Clara sedang meyakinkan dirinya sendiri.

---

Jam empat sore.

Aula kembali penuh.

MC naik ke atas panggung membawa amplop.

Clara duduk di antara Mutiara dan Seokjin.

Kepalanya masih pusing.

Tangannya dingin.

"Juara tiga..."

Bukan Clara.

Tepuk tangan terdengar.

"Juara dua..."

Bukan Clara lagi.

Clara menunduk.

Dia sudah menyiapkan dirinya untuk kecewa.

Gapapa.

Yang penting gue udah berusaha.

MC membuka amplop terakhir.

"Dan juara satu Olimpiade Sains Nasional tahun ini..."

Clara mengangkat kepala.

"Perwakilan dari Bandung..."

Jantungnya berdebar.

"Clara Nagendra!"

Beberapa detik Clara cuma diam.

Seolah otaknya nggak memproses nama itu.

Lalu suara Mutiara meledak di sampingnya.

"CLARAAAA!"

Clara menoleh.

Mutiara sudah berdiri sambil menangis.

Seokjin juga berdiri.

Tepuk tangannya paling keras.

Senyumnya lebar.

Bangga.

"Naik!" teriak Mutiara.

Clara akhirnya berdiri.

Kakinya terasa lemas.

Dia berjalan menuju panggung.

Medali emas dikalungkan ke lehernya.

Piala diberikan ke tangannya.

Kamera memotret dari berbagai arah.

Flash menyala berkali-kali.

Tapi di tengah semua itu, Clara malah mencari satu wajah.

Mama.

Papa.

Nggak ada.

Matanya menyapu seluruh aula.

Tetap nggak ada.

Yang ada cuma Mutiara yang menangis karena bangga.

Dan Seokjin yang merekamnya dengan HP sambil tersenyum seperti orang bodoh.

Clara tersenyum.

Tapi entah kenapa, dadanya tetap terasa kosong.

---

Begitu turun dari panggung, Clara langsung melakukan video call.

Mama nggak mengangkat.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Akhirnya Clara mengirim pesan.

Ma, gue juara 1. Nasional.

Pesannya dibaca.

Centang dua biru.

Tidak ada balasan.

Sepuluh menit kemudian, HP Clara bergetar.

MasyaAllah, selamat ya, Nak. Mama bangga. Pialanya taruh di lemari ya. Mama masih di RS. Thea baru selesai cek lab.

Clara membaca pesan itu berulang kali.

Mama bangga.

Harusnya dia bahagia.

Tapi kenapa rasanya tetap kosong?

Clara duduk di tangga aula sambil memegang piala emas.

Seokjin duduk di sampingnya.

"Bangga?" tanyanya.

Clara mengangguk.

Lalu menggeleng.

"Gue nggak tahu, Jin."

Dia menatap piala di tangannya.

"Harusnya gue seneng, kan?"

Seokjin diam.

"Tapi kenapa rasanya kosong?"

Seokjin menatapnya.

Dia tahu Clara nggak butuh nasihat.

Jadi dia cuma duduk di sana.

Menemani.

---

Malamnya mereka kembali ke Bandung naik kereta.

Clara tertidur di perjalanan.

Kepalanya bersandar di bahu Seokjin.

Wajahnya pucat.

Mutiara yang duduk di seberang mereka diam-diam mengirim pesan kepada Dokter Risa.

«Dok, Clara maksa ikut lomba hari ini. Dia sampai juara satu, tapi kondisinya pucet banget dan kelihatan lemas.»

Tidak lama kemudian, balasan masuk.

«Besok pagi bawa Clara kontrol. Jangan ditunda. Kalau kondisinya memburuk malam ini, langsung ke IGD.»

Mutiara menatap Clara.

Dia nggak bilang apa-apa.

---

Jam sebelas malam mereka akhirnya sampai di rumah.

Rumah terlihat sepi.

Cuma lampu ruang tamu yang menyala.

Nenek Kamila membuka pintu.

Begitu melihat Clara membawa piala besar, matanya langsung membesar.

"Clara?"

Clara tersenyum.

"Iya, Nek."

Dia mengangkat pialanya sedikit.

"Juara satu nasional."

Wajah Nenek langsung berubah.

Bangga.

Nenek memeluk Clara erat.

"Ya Allah..."

Pelukan itu lama.

Hangat.

Pelukan yang sejak kecil Clara cari dari Mama.

"Nenek bangga banget sama kamu, Sayang."

Air mata Clara langsung jatuh.

"Nek..."

"Hm?"

"Gue udah juara lagi."

Suaranya pecah.

"Tapi kenapa Mama tetap nggak benar-benar lihat gue?"

Nenek mengusap rambutnya.

Mereka duduk di ruang tamu.

Mutiara dan Seokjin sudah pulang.

Piala diletakkan di atas meja.

Nenek membuatkan teh hangat.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Sampai akhirnya Nenek bertanya,

"Clara."

"Iya?"

"Kamu ikut lomba terus-terusan itu sebenarnya cari piala..."

Nenek menatapnya.

"...atau cari pelukan Mama?"

Clara langsung diam.

Pertanyaan itu terasa tepat di tengah dadanya.

Nenek melanjutkan pelan.

"Kamu dari kecil selalu merasa harus sempurna supaya disayang, kan?"

Clara menunduk.

"Harus ranking satu. Harus juara. Harus nggak bikin masalah. Harus kuat."

Air mata Clara jatuh ke meja.

"Kamu pikir kalau kamu hebat, Mama bakal lebih melihat kamu."

Clara mengusap matanya.

"Nek..."

"Hm?"

"Salah ya?"

Nenek menggenggam tangannya.

"Bukan salah."

Nenek tersenyum tipis.

"Tapi kamu nggak harus membeli kasih sayang pakai piala, Nak."

Clara menatap Nenek.

"Kamu nggak harus jadi juara dunia supaya layak disayang."

Nenek mengusap pipinya.

"Kamu disayang karena kamu Clara."

Clara menangis.

"Bukan karena piala."

Clara menunduk dalam.

"Terus kenapa Mama nggak pernah sayang gue kayak sayang Thea?"

Nenek menarik napas panjang.

"Karena Mama kamu sedang terlalu takut kehilangan Thea."

Clara diam.

"Sampai dia lupa kalau dia juga punya anak lain yang sedang butuh dia."

Nenek menatap Clara.

"Itu kesalahan Mama. Bukan kesalahan kamu."

Clara menangis semakin keras.

Akhirnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat itu.

Kalimat yang selama ini nggak pernah dia dengar.

Bukan salah kamu.

Nenek kembali memeluknya.

"Udah."

Clara menyandarkan kepalanya di bahu Nenek.

"Kamu udah hebat hari ini. Sekarang istirahat."

Clara mengangguk.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia merasa boleh berhenti.

---

Belum sempat mereka masuk kamar, HP Clara yang tergeletak di meja bergetar.

Nama Dokter Risa muncul.

Clara langsung mengangkat.

"Halo, Dok?"

"Clara? Kamu sudah sampai rumah?"

"Udah, Dok."

"Bagus."

Suara Dokter Risa terdengar serius.

"Nenek kamu ada di situ?"

Clara menoleh ke Nenek.

"Iya."

"Boleh saya bicara dengan kalian berdua?"

Nenek langsung mendekat.

"Iya, Dok. Kenapa?"

Dokter Risa menarik napas.

"Bu Kamila, hasil pemeriksaan Clara yang dilakukan sebelumnya sudah kami evaluasi. Setelah aktivitas berat hari ini, hasil laboratoriumnya menunjukkan kondisi fungsi ginjalnya memburuk dan nilai kreatininnya meningkat cukup tinggi."

Clara menatap Nenek.

"Jadi..."

"Kita perlu memeriksa Clara langsung besok pagi."

Nenek menggenggam tangan Clara.

"Seberapa serius, Dok?"

"Serius, Bu."

Suara Dokter Risa tetap tenang.

"Kita perlu menilai apakah tubuh Clara masih bisa mempertahankan kondisinya dengan pengobatan dan pengaturan cairan, atau apakah sudah perlu memulai terapi pengganti fungsi ginjal seperti hemodialisis."

Nenek langsung pucat.

"Cuci darah?"

"Kemungkinan itu harus kita evaluasi, Bu. Saya nggak mau menakut-nakuti, tapi kali ini jangan ditunda."

Clara menelan ludah.

"Besok jam berapa, Dok?"

"Jam tujuh pagi. Dan malam ini jangan lakukan aktivitas berat lagi."

"Iya, Dok."

Telepon berakhir.

Ruang tamu kembali sunyi.

Clara menatap piala emas di meja.

Beberapa jam lalu benda itu terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.

Sekarang Clara bahkan nggak tahu harus merasa bangga atau takut.

Nenek memeluknya dari samping.

"Clara..."

Clara menyandarkan kepala ke bahu Nenek.

"Nek..."

"Hm?"

"Kayaknya gue terlalu maksa."

Nenek mengusap rambutnya.

"Iya."

Nenek nggak memarahinya.

Cuma memeluknya lebih erat.

"Tapi sekarang kita hadapi sama-sama."

---

Tiba-tiba pintu depan terbuka keras.

BRAK!

Clara dan Nenek sama-sama menoleh.

Papa Faizan masuk.

Wajahnya merah.

Di belakangnya ada dua orang polisi.

Napas Clara langsung tertahan.

Papa menatap ruang tamu.

"Clara!"

Clara berdiri pelan.

"Pa?"

"Seokjin mana?"

Clara mengernyit.

"Seokjin?"

"Polisi nyari dia."

Papa menunjuk ke arah dua polisi di belakangnya.

"Katanya dia terlibat perkelahian lagi. Ada orang yang sampai harus dibawa ke rumah sakit!"

Nenek langsung berdiri.

"Faizan, jangan teriak-teriak. Clara baru pulang."

"Ma, ini bukan waktunya dibela!"

Papa menatap Clara dengan marah.

"Anak ini juara olimpiade, tapi pacarnya berandalan. Kamu pikir keluarga nggak malu?"

Clara terdiam.

Kepalanya mulai berdenyut lagi.

"Pa, Seokjin nggak—"

Belum selesai.

Salah satu polisi yang berdiri di belakang Papa tiba-tiba menoleh ke arah jendela.

"Pak."

Papa ikut menoleh.

Clara perlahan melihat ke luar.

Di balik pagar rumah...

Seokjin berdiri.

Dia belum pulang.

Tatapannya langsung bertemu dengan Clara.

Seokjin seperti baru menyadari ada polisi di dalam rumah.

Salah satu polisi langsung menunjuk.

"Itu orangnya."

Wajah Seokjin berubah.

Clara panik.

"Jangan!"

Tapi suaranya terlalu lemah.

Pandangan Clara tiba-tiba kembali dipenuhi titik hitam.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Tangannya sempat mencari meja.

Piala emas yang tadi diletakkan di ujung meja tersenggol.

BRAANG!

Piala jatuh ke lantai.

Clara ikut terjatuh.

"CLARA!"

Suara Nenek dan Seokjin terdengar bersamaan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Clara nggak tahu siapa yang lebih dulu berlari menghampirinya.

1
yonggi🐱
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!