Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Berita penangkapan Haris Wijaya menyebar lebih cepat daripada api yang membakar padang rumput kering.
Pagi itu, suasana SMA Garuda dipenuhi dengan bisik-bisik dan tatapan mata yang mencibir.
Setiap sudut kantin, lorong, hingga ruang kelas membicarakan kasus korupsi triliunan rupiah tersebut.
Di dalam kelas sebelas IPS dua, Reno sedang duduk santai di atas meja milik Bagas.
Ia asyik bermain ponsel sambil tertawa lepas bersama beberapa murid laki-laki lainnya.
"Gila sih, bokapnya Bagas ternyata maling uang negara," ucap Reno sambil membuang bungkus permennya ke lantai.
"Pantesan aja si Bagas gayanya selangit, duit haram rupanya," timpal seorang murid bertubuh gemuk.
Kriet.
Pintu kelas tiba-tiba terbuka dengan kasar.
Semua tawa di ruangan itu seketika terhenti saat melihat siapa yang datang.
Bagas berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sangat berantakan.
Seragamnya dikeluarkan, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah bengkak seperti kurang tidur berhari-hari.
Aura kesombongan yang biasanya memancar dari dirinya kini tergantikan oleh hawa keputusasaan yang gelap.
Bagas melangkah masuk dengan langkah gontai menuju mejanya.
Ia menatap Reno yang masih duduk santai di atas mejanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Turun dari meja gue," ucap Bagas dengan suara serak dan bergetar.
Reno tidak langsung turun, ia justru tersenyum mengejek ke arah mantan bosnya itu.
"Santai aja kali, Gas, meja sekolah doang kok," jawab Reno dengan nada meremehkan.
"Gue bilang turun, bangsat!" teriak Bagas tiba-tiba sambil mendorong tubuh Reno dengan keras.
Reno terhuyung ke belakang namun berhasil menjaga keseimbangannya.
Wajah Reno langsung memerah menahan marah karena didorong di depan teman-teman lainnya.
"Lo berani dorong gue?!" bentak Reno sambil maju menantang dada Bagas.
"Lo sadar diri dong, bokap lo itu koruptor yang udah masuk penjara!"
Kata-kata Reno bagaikan pisau tajam yang menusuk tepat ke ulu hati Bagas.
Semua murid di kelas menahan napas melihat pertengkaran antara dua preman kelas tersebut.
"Gue gak peduli bokap gue di mana, gue tetep bos di kelas ini!" teriak Bagas dengan wajah memerah menahan tangis.
"Bos dari mana?" ejek Reno sambil meludah ke lantai.
"Mulai sekarang lo itu cuma anak buronan KPK, gak usah sok jagoan lagi lo di depan gue."
Bagas menggeram marah dan langsung melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Reno.
Bugh!
Pukulan itu mengenai pipi Reno hingga anak itu tersungkur ke lantai.
Suasana kelas langsung berubah menjadi sangat kacau dan riuh.
Beberapa murid perempuan mulai menjerit ketakutan dan berlari keluar kelas.
Nadin yang sedari tadi diam langsung berdiri dari bangkunya dan berlari melerai.
"Udah, berhenti kalian berdua!" teriak Nadin sambil merentangkan tangannya di antara mereka.
"Jangan ikut campur, Din, anak ini harus diajarin sopan santun!" raung Bagas dengan mata gelap karena amarah.
"Sopan santun apa? Lo sendiri yang dari dulu selalu nindas orang lain pakai kekuasaan bokap lo!" balas Nadin tidak kalah keras.
"Sekarang kekuatan lo udah hilang, terima aja nasib lo, Gas!"
Napas Bagas memburu cepat, dadanya naik turun dengan sangat tidak beraturan.
Ia menatap sekeliling kelas dan melihat semua wajah teman-temannya kini menatapnya dengan jijik dan meremehkan.
Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi rasa hormat.
Dunia Bagas benar-benar telah runtuh dalam waktu satu malam.
Di sudut belakang kelas, Tommy masih duduk diam di bangkunya mengamati pertunjukan tersebut.
Ia menyandarkan dagunya di atas telapak tangan dengan wajah datar yang tidak terbaca.
"Inilah hukum alam yang sesungguhnya," batin Tommy menganalisis situasi.
"Ketika seekor singa kehilangan taringnya, hyena yang selalu menjilatnya akan menjadi yang pertama menggigit lehernya."
Tanpa sengaja, pandangan mata Bagas yang liar menangkap sosok Tommy di sudut belakang.
Otak Bagas yang sedang dipenuhi amarah dan keputusasaan langsung mencari sasaran paling lemah untuk dilampiaskan.
Ia teringat kejadian kemarin saat Tommy mempermalukannya di panggung seleksi.
Ia butuh seseorang untuk ditindas agar ia merasa berkuasa kembali.
Dan Tommy si bodoh adalah mangsa yang paling sempurna baginya saat ini.
"Lo ngapain senyum-senyum di pojokan, hah?!" teriak Bagas tiba-tiba menunjuk ke arah Tommy.
Semua mata di kelas kini beralih menatap Tommy yang sedang duduk sendirian.
Tommy langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi panik dan kebingungan.
"A-aku tidak senyum, Gas, sumpah," jawab Tommy dengan suara bergetar dan mengecil.
"Alah, gak usah bohong lo, si bodoh sialan!" Bagas melangkah kasar menerobos deretan meja menuju bangku Tommy.
"Pasti lo seneng kan liat gue hancur kayak gini?!"
"Bagas, berhenti!" teriak Nadin mencoba menarik lengan seragam Bagas.
Tetapi tenaga Bagas yang sedang kalap terlalu kuat, ia menghempaskan tangan Nadin hingga gadis itu hampir terjatuh.
"Minggir lo, Din!" bentak Bagas.
Bagas kini sudah berdiri tepat di depan meja Tommy dengan napas terengah-engah seperti banteng marah.
"Bangun lo, Tom!" perintah Bagas sambil menarik kerah seragam Tommy dengan kasar.
Tubuh Tommy yang kurus terangkat dari kursinya dengan sangat mudah.
"A-ampun, Gas, aku beneran gak tahu apa-apa," rintih Tommy pura-pura ketakutan setengah mati.
"Lo pikir gara-gara lo menang seleksi hoki itu lo bisa ngeremehin gue?!" teriak Bagas tepat di depan wajah Tommy.
Bagas mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, bersiap untuk menghancurkan wajah polos di depannya itu.
Di dalam otaknya yang ber-IQ seratus lima belas, Tommy melihat kepalan tangan Bagas itu seperti bergerak dalam gerak lambat.
"Sistem, buka Toko Sistem," batin Tommy dengan sangat tenang di tengah situasi genting tersebut.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇