NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Aluna mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha keras meredam gemetar di tubuhnya saat melangkah menjauh dari keramaian lobi rumah sakit menuju lorong sepi. Amarah yang membakar jiwanya tak lagi bisa dibendung.

"Kau manusia iblis, Hayden!" teriak Aluna dengan suara tertahan, air mata kemarahan menetes melintasi pipinya yang pucat. "Kenapa kau lakukan ini pada kami?! Kakakku baru saja sembuh! Kenapa kau tega menarik kembali bantuan itu secara tiba-tiba?!"

Di balik sambungan telepon, keheningan dingin menyapa luapan emosi Aluna. Hayden mendengarkan serentetan makian itu dengan tenang, tanpa ada sedikit pun getaran bersalah dalam desah napasnya.

"Aku tidak pernah memberikan bantuan, Aluna," sahut Hayden datar, suaranya tenang bagaikan es yang tak tersentuh. "Apa kau sudah lupa. Kau sendiri yang menolak belas kasih ku. Aku memberikanmu pinjaman. Dan kau secara sepihak memutus komunikasi denganku, berpura-pura lupa pada perjanjian yang sudah kau sepakati."

"Aku tidak pernah memutus apa pun!" seru Aluna penuh keputusasaan. Tangannya meremas kertas rincian tagihan hingga kusut. "Tolong... bayarkan bayaranku selama tiga sesi melukis di studiomu malam itu! Berikan uang itu padaku sekarang! Setidaknya bayaran itu bisa menutup sebagian biaya rumah sakit Romeo!"

Tawa kecil menggema pelan dari ujung telepon—sebuah tawa sumbang yang sarat akan nada ejekan dan keangkuhan mutlak.

"Bayaran?" gumam Hayden meremehkan. "Kau pikir berapa nilai tiga sesi lukisan setengah jadi dari seorang model amatir seperti dirimu, Aluna? Puluhan juta? Ratusan juta? Jangan naif. Uang itu tak akan pernah cukup untuk menutup angka seratus delapan puluh lima juta rupiah sebelum matahari terbenam."

Aluna terisak pelan, dadanya terasa sangat sesak bagai dihantam batu besar. "Lalu kau mau apa, Hayden? Kau ingin membunuh kami berdua secara perlahan?"

"Aku menawarkan jalan keluar," pangkas Hayden cepat, intonasinya bergeser menajam, mengunci ruang gerak Aluna tanpa celah. "Aku bisa melunasi seluruh tagihan itu detik ini juga. Hanya dengan satu hentakan jariku, Romeo bisa pulang dengan tenang tanpa mengetahui sedikit pun bahwa adiknya sedang terlilit utang besar."

Aluna menahan napasnya, firasat buruk langsung merayapi benaknya. "Apa syaratnya...?"

"Datang ke mansion pribadiku malam ini, tepat pukul delapan," bisik Hayden dingin dan penuh penekanan. "Tanpa alasan, tanpa kebohongan, dan tanpa melarikan diri lagi. Jika kau terlambat satu menit saja, surat penagihan fisik beserta juru sita akan langsung mendatangi Ruang Melati."

Sambungan telepon terputus sepihak sebelum Aluna sempat membalas. Aluna mematung di lorong yang dingin, Ponsel di genggaman Aluna terlepas begitu saja, jatuh membentur lantai linoleum dengan bunyi gemertak pelan. Seluruh sendi di tubuhnya serasa meloloskan kekuatan. Tangannya yang dingin gemetar hebat, menyapu wajahnya yang kini dibasahi air mata ketakutan.

Mansion pribadi...?

Pikiran Aluna berkecamuk liar. Berbagai kemungkinan buruk dan mengerikan langsung berputar di dalam kepalanya. Mengapa Hayden memintanya datang ke mansion pribadi, bukan ke studio lukis seperti biasanya? Apakah pria itu bermaksud melampaui batas? Apakah di sana, jauh dari jangkauan siapa pun, Hayden berniat melakukan hal keji itu demi memuaskan obsesi gelapnya?

Rasa panik yang luar biasa mencekat tenggorokannya. Jangankan membayangkan apa yang akan terjadi di sana, alamat tempat tinggal Hayden saja ia sama sekali tidak tahu. Selama ini, interaksi mereka selalu berpusat di studio atau rumah sakit, dan Hayden tak pernah sekalipun menyebutkan di mana ia tinggal.

Aluna berlutut perlahan, memungut ponselnya dengan jari-jari yang masih bergetar. Layar ponselnya sedikit retak, memantulkan bayangan matanya yang menyuarakan keputusasaan mutlak.

Tepat saat ia menggenggam ponsel itu, sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi dari nomor Hayden.

Satu pesan singkat berisi deretan alamat lengkap di kawasan perumahan paling elit dan terisolasi di pinggir kota, diikuti oleh sebuah pesan tambahan:

"Jika kau setuju dengan penawaranku, aku akan menyuruh sopirku untuk mengantarmu dan Romeo pulang ke rumah sekarang. Lalu pukul delapan malam, datanglah sendiri ke alamat yang kuberikan ini."

Aluna memejamkan mata rapat-rapat. Hayden telah memperhitungkan segalanya dengan amat rapi. Pria itu menyandera keselamatan dan ketenangan Romeo, memberinya bantuan semu yang manis hanya untuk menukarnya dengan kehadiran Aluna di mansionnya malam nanti.

Dengan langkah berat dan dada yang terasa terhimpit beban berintang-rintang, Aluna menghapus air matanya perlahan. Ia harus mengetik balasan persetujuan itu, kembali ke Ruang Melati dengan senyuman palsu, dan bersiap melangkah masuk ke dalam sarang sang serigala.

Dengan jemari yang dingin dan bergetar hebat, Aluna menekan tombol balasan.

“Baik. Aku terima penawaran mu..”

Hanya butuh hitungan detik hingga balasan singkat dari Hayden kembali muncul: “Keputusan yang bijak.”

Tak sampai sepuluh menit kemudian, petugas administrasi kembali memanggil nama Aluna dengan raut wajah yang berubah seratus delapan puluh derajat—jauh lebih ramah dan penuh hormat. Seluruh tagihan sebesar seratus empat puluh lima juta rupiah telah dinyatakan lunas sepenuhnya oleh pihak Mahendra Foundation, lengkap dengan fasilitas antar penjemputan mobil komersial mewah yang sudah bersiap di lobi utama.

Aluna memaksakan dirinya berjalan kembali ke Ruang Melati. Ia memoles wajah pucatnya dengan senyuman termanis yang bisa ia ciptakan, mendorong pintu perlahan.

"Na? Kok lama sekali di bawah?" tanya Romeo yang sedang duduk di tepi ranjang, sudah mengenakan pakaian biasanya.

"Maaf ya, Kak. Tadi antrean di kasir panjang sekali," kelat Aluna seraya merapikan tas pakaian Romeo. "Tapi semuanya sudah selesai. Ayo, mobil jemputan dari rumah sakit sudah menunggu di depan."

*

*

*

visual Hayden & Aluna ada di Ig : _misshalalal

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!