Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.
Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.
Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.
Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Laras Pradipta
"Ternyata kamu nggak sebegitu nggak berguna seperti yang Ayah kira," kata Ayah begitu Satria keluar dari pintu. Aku hanya menatapnya dan tidak berkata apa-apa. "Don datang sendiri untuk melamarmu, dan kamu malah berdiri di situ dengan muka begitu."
"APA?" Kata-katanya kuulang berkali-kali di kepalaku, mencoba mencernanya. Pasti aku salah dengar.
"Jaga nada bicaramu kalau mau ngomong sama Ayah, sebelum Ayah patahin semua gigi di mulut sialanmu itu." Dia bicara kasar seperti biasa. "Betul, kamu nggak salah dengar. Don datang sendiri melamarmu, dan tentu saja Ayah terima. Kalian menikah dua minggu lagi."
Aku pasti sedang berada di dunia lain, atau sedang bermimpi, tidak mungkin ini nyata. Bagaimana mungkin Satria adalah Don mafia, dan malah mau menikah denganku? Lebih parah lagi, Ayah menerimanya. Ini pasti lelucon.
Aku mau bicara, tapi baru membuka mulut Ayah sudah memotongku.
"Jangan mulai dengan drama dan rengekanmu. Kamu akan menikah dua minggu lagi. Dan semoga kamu tahu cara pura-pura masih perawan. Kalau nggak tahu, cepat belajar, karena kalau nggak, urusannya bakal runyam buatmu. Dengan watak Don itu, dia bisa saja membunuhmu kalau di malam pertama dia sadar sudah ditipu perempuan murahan kayak kamu." Dia tertawa keras, penuh ejekan. "Ayah bakal pastikan waktu bom ini meledak, Ayah sudah jauh dari sini dan nggak ada yang menimpa Ayah. Ayah nggak mau lihat muka Don waktu tahu calon istrinya cuma jalang yang tidur sana-sini dan menyerahkan diri ke laki-laki mana pun yang lewat." Dia menatapku jijik. "Setidaknya akhirnya kamu berguna juga buat Ayah. Sungguh, ini nggak Ayah sangka. Memang selera orang macam-macam." Rasa jijik terpampang jelas di wajahnya. "Ayah kira kamu nggak akan pernah menjalankan peranmu sebagai anak perempuan."
Aku tidak punya air mata dan tidak punya tenaga untuk menangis. Aku seperti sumur penuh kebingungan dan keputusasaan. Tidak ada yang masuk akal, tidak ada yang terasa nyata, seakan-akan aku menonton seluruh adegan itu, bukan aku sendiri yang menjalaninya.
"Masuk ke kamarmu dan jangan keluar lagi hari ini. Ayah nggak mau lihat mukamu berjam-jam ke depan."
"Aku lagi menyelesaikan makan malam buat..."
"Ayah nanya sesuatu? Lakukan saja yang Ayah suruh, dan tidur tanpa makan malam hari ini. Siapa tahu jadi kurus dan kelihatan layak sebagai perempuan. Jujur, Ayah nggak ngerti kenapa Don mau menikahi paus menyedihkan kayak kamu. Seperti Ayah bilang, memang selera orang macam-macam. Tapi karena kamu bakal bawa uang banyak dan menghapus utang Ayah, Ayah maafkan semua kesal yang kamu timbulkan dan Ayah tutup mata soal selera buruk Don itu. Sekarang pergi dari sini, Ayah nggak mau lihat mukamu berjam-jam ke depan."
Aku pergi dari hadapan pria itu. Meski kutelan setiap air mata yang ingin jatuh, rasa sakit itu tetap ada, bersama rasa takut dan cemas. Tapi aku tak lagi takut pada Ayah. Aku takut pada apa yang akan terjadi padaku saat Satria tahu aku sudah tidak suci. Aku sungguh tidak bisa percaya satu-satunya pria yang pernah kuimpikan, yang sudah begitu lama memperlakukanku dengan baik, sanggup mencabut nyawaku. Tapi kalau itu yang harus kulalui supaya penderitaanku berakhir, aku akan menerima kematian dengan lapang dada. Aku hanya akan minta dia tidak menyiksaku lagi, karena aku sudah tidak sanggup menerima begitu banyak kebencian dan kegilaan dari hidup. Aku akan meminta kepada calon suamiku kematian yang cepat, kematian yang membuatku lenyap dari dunia ini selamanya, tanpa penderitaan lagi.
Seperti setiap malam, aku meletakkan kursi di belakang pintu dan duduk di kursi malasku untuk menangis. Sakit yang kurasakan kali ini berbeda, mungkin sakit yang disertai kelegaan. Di tengah rasa takut, begitulah perasaanku, lega, karena untuk pertama kalinya aku merasa penderitaanku akan berakhir. Akhirnya aku akan mati dan berada dalam pelukan Ibu, dan hanya dengan begitu aku bisa tenang. Sebenarnya kalau aku tidak sepengecut ini, aku sudah mengakhiri hidupku sendiri sejak dulu. Tapi bahkan itu pun aku tak sanggup.
Bahkan sebelum perbuatan kakakku, aku sudah lupa berapa kali aku mendapati diriku berpikir untuk mati. Kadang dengan seutas tali di tangan, kadang sambil merapikan lemari obat Ayah, atau saat dia membiarkan pistolnya mudah dijangkau di ruang kerjanya waktu aku membersihkannya. Semuanya akan jauh lebih mudah kalau aku mengakhiri rasa sakit dan penderitaan ini.
Yang membuatku tidak pernah mengakhiri hidupku adalah keyakinan bahwa kalau aku mati, Ayah dan kakakku tidak akan pernah membayar semua keburukan yang mereka lakukan, bukan hanya padaku, tapi juga pada Ibu tercinta. Tapi berpikir begitu pun percuma, karena sekarang aku akan mati sebagai perempuan murahan yang menyerahkan diri ke siapa saja sebelum menikah, yang tak pantas bagi Don, bahkan tak pantas bagi lelaki mana pun. Dan dengan semua itu, Ayah dan kakakku akan lolos tanpa luka dari semua perbuatan mereka. Tapi kalau membiarkan mereka hidup dan baik-baik saja, menikmati semua kebencian yang mereka tebar di dunia ini, adalah harga yang harus dibayar, sayangnya aku rela membayar harga itu asal aku bisa beristirahat dengan tenang.
"Maafkan aku, Ibu, karena aku tidak sanggup menghormati kematian Ibu dan tidak sanggup melangkah maju sebagai perempuan baik-baik seperti yang selalu Ibu impikan. Kenyataannya aku sudah berjuang begitu keras sampai tak ada lagi tenaga untuk berjuang. Aku tidak sekuat Ibu dulu, dan bersama kelemahanku datang rasa menyerah, satu-satunya yang tersisa padaku."
Aku membiarkan diriku meneteskan beberapa air mata lagi, lalu diam bersama pikiranku sendiri. Aku kelelahan, tapi aku tidak pernah tidur selama Ayah dan kakakku masih berkeliaran di rumah. Aku tidak akan pernah menyerahkan diri pada kantuk sambil tahu bahwa kapan saja ada yang bisa menemukan cara menerobos kamarku, mampu melecehkan atau memukuliku. Meski tetap terjaga pun tidak bisa mencegah semua itu, hanya saja tubuhku tidak sanggup beristirahat dengan bahaya yang selalu mengancam di rumah ini.
* * *