Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Namun pemandangan yang menyambutnya membuat rahang CEO itu nyaris jatuh ke lantai.
Kamar yang menghabiskan dana ratusan juta untuk didesain oleh interior desainer ternama itu kini hancur lebur.
Tumpukan sampah kardus berlapis selimut tebal berdiri kokoh di tengah ruangan.
Bercak-bercak cat air berceceran di atas karpet Persia yang sangat mahal.
Urat di pelipis Raka langsung menonjol keluar menahan amarah yang mendidih sampai ke ubun-ubun.
"Apa-apaan ini? Rumahku baru saja diserang badai tornado atau bagaimana?" desis Raka dengan suara bergetar menahan marah.
Mendengar suara bariton yang khas itu, kepala Dewi langsung menyembul keluar dari pintu kardus.
Wajah Dewi penuh coretan cat warna merah dan kuning, membuatnya terlihat seperti suku Indian yang mau berperang.
"Eh, Bos sudah pulang? Cepat sekali, katanya mau lembur sampai malam?" sapa Dewi santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Raka menunjuk tumpukan kardus itu dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Dewi Anjani, apa yang kau lakukan pada kamar anakku?"
"Kau tahu berapa harga karpet yang baru saja kau kotori dengan cat murahan itu?!" bentak Raka.
Sebelum Dewi sempat menjawab, kepala Elvan ikut menyembul keluar dari sebelah kepala Dewi.
Wajah anak itu tidak kalah cemong, tapi senyumnya sangat lebar.
"Papa! Lihat, Mama buat istana buat Elvan! Papa mau masuk tidak?" ajak Elvan dengan polosnya.
Amarah Raka yang tadinya sudah berada di puncak seketika menguap begitu saja melihat senyum cerah anaknya.
Raka terdiam mematung, dia tidak ingat kapan terakhir kali Elvan tersenyum selebar itu.
"Tuh Bos, dengerin anakmu. Daripada marah-marah bikin cepat tua, mending ikut masuk ke sini," goda Dewi sambil melambaikan tangannya.
"Tidak sudi. Aku baru saja pulang dari kantor dan badanku lelah," tolak Raka cepat, gengsinya langsung mengambil alih.
Elvan yang mendengar penolakan papanya langsung memberengut sedih.
"Papa tidak suka istana Elvan ya? Ya sudah, Papa di luar saja sama Om Bram," ucap anak itu dengan nada kecewa.
Raka langsung menelan ludahnya sendiri.
Melihat wajah putranya mendung adalah kelemahan terbesarnya.
"B-bukan begitu Elvan, jas Papa ini harganya mahal, nanti kotor kena cat," kilah Raka mencari alasan yang logis.
Dewi mendengus pelan dan melempar sebuah lap bersih ke arah wajah Raka.
Pluk.
Lap itu mendarat tepat di wajah tampan sang CEO.
"Alasan saja terus. Kalau mau masuk, lepas jas mahalmu itu dan gulung kemejamu."
"Di dalam istana ini, tidak ada CEO Grup Lentera, yang ada cuma Papa Elvan," ucap Dewi tegas.
Bram yang melihat kejadian itu dari ambang pintu hanya bisa pura-pura batuk untuk menutupi senyumnya.
Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berani melempar lap basah ke wajah Raka Mahardika.
Raka menatap Dewi dengan tajam, namun tangannya perlahan melepas jas birunya dan menyerahkannya pada Bram.
"Tutup pintunya Bram. Jangan biarkan pelayan lain melihat kekonyolan ini," perintah Raka dengan wajah memerah menahan malu.
"Baik, Tuan," jawab Bram sigap lalu menutup pintu kamar rapat-rapat.
Raka menghela nafas panjang, menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku, lalu melonggarkan dasinya.
Dengan sangat canggung, pria bertinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu mulai merangkak di lantai karpet.
"Awas kepalamu mentok Bos, atapnya rendah," peringat Dewi sambil bergeser memberi ruang.
Tuk!
Terlambat, kepala Raka langsung membentur atap kardus dengan cukup keras.
"Aduh! Atap macam apa ini, rendah sekali," keluh Raka sambil mengusap kepalanya.
Dewi tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Raka yang sangat lucu itu.
"Hahaha! Sudah kubilang kan. Makanya kalau merangkak itu badannya ditundukkan lagi," ejek Dewi puas.
Raka mendelik kesal, tapi dia tetap melanjutkan perjalanannya merangkak masuk ke bagian tengah benteng selimut itu.
Ruangan di dalam sana cukup luas untuk ukuran anak kecil, tapi sangat sempit jika diisi oleh dua orang dewasa.
Lutut Raka tanpa sengaja bersentuhan dengan lutut Dewi yang duduk bersila di depannya.
Suhu di dalam kardus itu tiba-tiba terasa agak panas bagi Raka.
Aroma bedak bayi bercampur wangi sabun mandi yang dipakai Dewi menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Raka buru-buru memalingkan wajahnya untuk menatap lampu bintang-bintang di atap kardus agar Dewi tidak melihat salah tingkahnya.
"Papa, ini biskuit buat Papa!" Elvan menyodorkan biskuit cokelat ke mulut Raka.
Raka yang sebenarnya tidak suka makanan manis terpaksa membuka mulut dan memakan biskuit itu.
"Nyam nyam, enak sekali," puji Raka kaku yang langsung dibalas tawa riang oleh Elvan.
"Tuh kan, Bos juga suka main di sini. Mengakui saja tidak usah gengsi," sindir Dewi sambil menyikut lengan Raka pelan.
Raka menatap Dewi dari jarak yang sangat dekat.
Wajah wanita itu cemong oleh cat, rambutnya diikat asal-asalan, dan bajunya kusut.
Tapi entah kenapa, Raka merasa ini adalah pemandangan paling indah yang pernah dia lihat di rumah ini.
"Karpet Persia itu harganya lima ratus juta. Kau harus memotong gajimu untuk membayarnya," bisik Raka mencoba mengembalikan aura dinginnya.
Dewi langsung membelalakkan matanya ngeri.
"Apa?! Lima ratus juta? Kau mau memeras darahku ya?!" protes Dewi tidak terima.
"Tadi kau bilang tidak apa-apa kotor asal anakmu senang! Dasar Bos plin-plan!" gerutu Dewi sambil memukuli bahu Raka dengan bantal.
Raka menangkis pukulan bantal itu dan untuk pertama kalinya, suara tawa pelan keluar dari bibir pria es itu.
"Hahaha, hentikan Dewi, kepangku bisa rubuh kalau kau bergerak terus."
Mendengar Raka tertawa, gerakan Dewi terhenti seketika.
Itu adalah tawa yang sangat renyah dan terdengar sangat lepas, sangat berbeda dengan senyum sinis yang biasa dia tunjukkan.
Dewi terpaku menatap wajah tampan bosnya yang kini terlihat sangat manusiawi dan hangat.
"Ternyata kau bisa tertawa juga ya Bos. Kupikir urat tawamu sudah putus dari lahir," celetuk Dewi polos.
Raka langsung berdehem dan kembali memasang wajah datarnya, meski telinganya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
"Diamlah, aku hanya menertawakan wajah bodohmu yang penuh cat itu," kilah Raka membuang muka.
Elvan yang tidak mengerti perdebatan orang dewasa itu malah ikut-ikutan memukulkan bantal kecil ke punggung papanya.
"Hajar Papa! Hajar Papa!" seru Elvan riang, memihak sepenuhnya pada kubu Dewi.
Suasana di dalam benteng kardus itu dipenuhi oleh tawa hangat keluarga yang selama ini hilang dari Mansion Mahardika.
Ding!
[Misi Harian Selesai!]
[Tuan Putri berhasil membuat markas rahasia dan mencairkan suasana kaku sang Sultan!]
[Hadiah ditransfer: Poin Kasih Sayang +15 dan Skill Dongeng Pengantar Tidur Tingkat Dewa!]
[Notifikasi Tambahan: Tingkat Afeksi Tuan Raka Mahardika melonjak drastis! Dia mulai menyukai aroma kehadiran Anda!]
Dewi membaca notifikasi tambahan itu dengan kening sedikit berkerut.
"Sistem ini lama-lama agak genit ya. Aroma kehadiranku apanya, aku bahkan belum mandi sore ini," batin Dewi merinding sendiri.
Meski begitu, Dewi tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Duduk berdesakan di dalam kardus sempit bersama pria kaku dan bocah lucu ini terasa sangat nyaman dan menyenangkan.
Mungkin, menjadi ibu kontrak bergaji fantastis di rumah ini tidak seburuk yang dia bayangkan sebelumnya.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭